Tahta Surya

Tahta Surya
Melewati Batas


__ADS_3

"Jadi, aku akan menjadi orang yang akan melewati semua batasan itu."


Surya berdiri mematung di tempatnya setelah mendengar itu sebelum akhirnya ia mengambil jarak dari Gina untuk mengaduk semur ayam yang dibuatnya.


"Makan malam sudah siap, Nona. Mari kita makan." Surya menyendok sayur itu dan memasukkannya ke dalam mangkuk sayur untuk selanjutnya di bawa ke meja makan. Melihat itu Gina menyudutkan bibirnya karena merasa diabaikan oleh Surya. Tapi kemudian ia berfikir satu hal.


Dia menghindar. Itu bagus. Dia mungkin belum tahu dengan apa yang harus dilakukan. Dia mungkin juga butuh waktu untuk memutuskan. Itu baik. Karena paling tidak aku ada dalam pertimbangannya. Surya adalah orang yang cukup cerdas untuk mengerti maksudku. Jadi, dia pasti akan menentukan sikapnya nanti. Harus tetap pada batasan itu atau menyambutku untuk meniadakan semua batasannya. Gina tersenyum memandang Surya yang sedang menata meja makan.


🌸🌸🌸


Surya berbaring di atas sofa memandang ke kamar dengan pintu tertutup itu dimana Gina berada.


"Aku akan menjadi orang yang akan melewati semua batasan itu."


Terngiang kembali kalimat Gina yang sangat tiba-tiba. Ingin sekali Surya mengartikannya sebagai sebuah pernyataan perasaan Gina tapi ia tidak mau sepercaya diri itu untuk mendapatkannya. Gina adalah gadis yang pernah menolaknya sedemikian rupa mana mungkin sekarang menyatakan perasaan kepadanya.


Surya mengubah posisi tidur dengan memiringkan tubuhnya. Ia mencoba memejamkan mata dan bermaksud untuk tidur. Tapi wajah Gina saat memandangnya tadi hingga saat ini masih saja bisa membuat dadanya menghangat. Ia tahu itu sebuah kesalahan. Seharusnya ia tidak boleh merasakan hal itu. Ada hati yang harus ia jaga dan perasaan yang ia lindungi agar tidak pernah tersakiti. Tapi, Gina begitu jelas memperlihatkan kesungguhannya. Ketakutan Surya semakin nyata sekarang.


Di dalam kamar, Gina pun belum bisa tidur. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada Surya besok. Surya pasti bisa membaca maksudnya. Ia sudah terlanjur memberi Surya kode, jadi Gina tidak bisa menarik kembali sikapnya menjadi berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa. Jika menjadi berubah manis layaknya orang jatuh cinta, itu pasti akan memalukan karena Gina pernah menolak keberadaan Surya dalam pernikahannya. Tapi jika Gina bersikap seolah jual mahal, itu pasti akan membuat Surya bingung dan menganggap Gina tidak serius dengan apa yang diucapkannya. Tentu saja itu juga berbahaya karena Surya akan benar-benar mengabaikan perasaan Gina dan tetap menjaga hatinya untuk Hanna tanpa bisa terusik dengan pernyataannya tadi.


"Entahlah..." Gina akhirnya menutup selimut sampai ke atas kepalanya dan berusaha untuk memejamkan mata berharap bisa segera terlelap.


🌸🌸🌸


Pak Rangga meletakkan kaca mata bacanya di atas meja nakas dan setelah itu ia juga menutup buku yang sedari tadi dibacanya. Ia melihat Bu Marina yang memasuki kamar dengan wajah cemberut.


"Ada apa?" Tanya Pak Rangga yang melihat wajah istrinya menandakan sebuah hal buruk terjadi padanya.


"Tidak ada apa-apa." Bu Marina lalu berbaring di sampingnya.


Pak Rangga tidak lantas percaya begitu saja dengan jawaban istrinya. Ia telah mengenal wanita itu puluhan tahun sehingga sangat tahu apapun perubahan yang terjadi pada dirinya, pun juga mimik wajahnya malam ini yang menyiratkan ada sesuatu yang sedang mengganggunya.


Bu Marina masih berpura-pura tidak terjadi apa-apa padanya walaupun hatinya masih kebat-kebit melihat bagaimana Gina dan Surya berbelanja bersama di supermarket tadi.


Bu Marina memasuki supermarket dengan Mbak Yuyun yang mengikuti di belakangnya. Mereka langsung berjalan menuju rak sembako setelah Mbak Yuyun menarik salah satu troli. Tapi saat mereka memasukkan beberapa kebutuhan pokok ke dalam troli, Mbak Yuyun berseru kepada majikannya.


"Nyonya, bukankah itu Nona Gina?" Tunjuk Mbak Yuyun ke suatu arah. Bu Marina mengikuti jari telunjuk asisten rumah tangganya mengarah.


Tanpa sadar Bu Marina berjalan mengikuti Gina dan Surya yang berbincang sambil berjalan mengambil bahan-bahan makanan yang mereka butuhkan. Mereka tampak bahagia bersama seperti itu. Sesekali Gina tersenyum memandang Surya sambil mengatakan sesuatu. Surya juga membalasnya dengan senyuman dan juga anggukan. Sesekali Surya juga mengambil sesuatu yang ada di rak dan dimasukkan ke dalam troli. Mereka benar-benar seperti pasangan normal lainnya.


Hingga akhirnya Gina melewati meja tester sebuah makanan olahan dan berhenti di sana. Itu adalah tester makanan olahan sejenis sosis, nugget, bakso dan banyak lagi macamnya.


"Silakan dicoba, Nona." Seorang penjaga tester makanan itu mempersilakan. Gina lalu mengambil potongan kecil sosis dengan tusuk yang disiapkan disana dan memakannya.


"Bagaimana, Nona?" Tanya penjaga tester makanan meminta pendapat Gina. Surya juga menunggu komentarnya.


"Enak." Ucap Gina masih dengan sisa sosis di mulutnya.


"Surya, cobalah." Gina mengambil satu potong lagi tapi kali ini untuk diberikan kepada Surya. Gina menyodorkan ke mulut Surya dan membuatnya harus membuka mulut untuk menerimanya. Surya seperti sedang merasakan sesuatu di dalam mulutnya dengan teliti layaknya seorang chef mencicipi sebuah masakan.


"Enak." Komentar Surya.


"Apakah ini terbuat dari bahan dengan campuran ikan bandeng?" Tanya Surya pada penjaga meja tester itu.


"Benar, Pak." Jawab penjaga tester dengan ramah.

__ADS_1


"Wah, indra perasamu benar-benar baik." Puji Gina dengan senyum lebar menatap Surya kagum.


"Ku pikir itu hanya sosis biasa berbahan daging sapi."


"Tidak Nona, rasanya lebih kuat dan aromanya juga berbeda."


"Ya, aku memang tidak sejeli dirimu." Gina sekarang mencoba potongan lain yang adalah nugget.


"Ini juga enak. Apa ini juga dari bahan dasar ikan?" Tanya Gina pada penjaga meja tester.


"Benar, Nona. Semua yang diolah oleh produk ini berbahan dasar ikan."


Surya turut mencoba tapi kali ini ia mengambil sendiri dengan tusuk yang ia ambil di atas meja.


"Kali ini ikan apa?" Tanya Gina kepada Surya karena ia tidak bisa merasakan sebaik Surya.


"Ini dari ikan nila."


"Wah, Anda bisa tahu itu." Penjaga meja tester girang melihat Surya bisa menebaknya juga.


Surya lalu mengambil bakso dengan tusuk yang ada ditangannya. Gina menatap Surya yang sedang mengunyah dan menunggu kali ini bahan dasar ikan apa yang dipakai untuk makanan olahan itu. Ini seperti sebuah kuis yang harus menebak rasa. Gina dengan serius menunggu jawaban Surya dari apa yang ditangkap oleh indra perasanya.


"Ini sepertinya ikan bandeng juga." Komentar Surya sambil memandang Gina untuk memberitahunya.


"Iya, itu benar." Penjaga meja tester membenarkan analisa Surya.


"Hei, kenapa kau tidak menjadi koki saja." Gina mencibir dan ditanggapi senyum lebar oleh Surya yang lalu mengambil lagi satu bakso oleh tusuknya.


"Cobalah, Nona. Ini enak." Surya menyuapkan bakso itu kemulut Gina.


"Mari kita ambil ini juga." Surya mengambil beberapa kemasan makanan olahan itu dan dimasukkan ke dalam troli.


Setelah itu mereka berjalan menuju rak makanan ringan. Bu Marina dan Mbak Yuyun yang menyaksikan mereka dari deretan rak yang tidak jauh masih mengawasi hingga mereka tidak terlihat oleh rak yang menghalangi jarak pandang. Bu Marina sengaja tidak menyapa Gina dan Surya hanya cukup mengawasi mereka saja. Mbak Yuyun yang seperti tahu apa yang sedang dilakukan majikannya itu hanya mengikuti saja. Padahal dalam hati ia ingin sekali menyapa Gina dan berbincang dengannya. Beberapa hari tidak tinggal di rumah membuatnya rindu pada Gina yang sering usil tapi juga sangat baik kepadanya.


"Manis sekali." Mbak Yuyun tersenyum memandang Gina dan Surya yang sudah tak terlihat lagi setelahnya. Tapi kemudian Mbak Yuyun berpura-pura mengambil sekantong gula pasir didekat ia berdiri saat Bu Marina memelototinya.


"Gula ini manis sekali, Nyonya. Kita ambil saja yang ini." Mbak Yuyun mengalihkan perhatian karena akan bisa gawat kalau majikannya marah padanya karena memuji Gina dan Surya seperti itu.


Pemandangan yang dilihatnya itu sungguh mengganggu fikirannya saat ini. Gina dan Surya yang semakin hari semakin dekat membuat Bu Marina semakin khawatir. Khawatir jika mereka berdua pada akhirnya akan merasa saling memiliki dan tidak ingin berpisah. Maka R-Company akan selamanya berada ditangan Surya dan Gina hanya akan selalu menjadi nomor dua di sana. Bu Marina benar-benar tidak rela jika putri satu-satunya yang seharusnya menjadi pewaris tunggal malah hanya akan menjadi orang asing di R-Company.


"Mama merindukan Gina?" Tanya Pak Rangga kepada Bu Marinya yang tidur memunggunginya.


"Iya, rumah ini sangat sepi tanpa Gina." Ujar Bu Marina lemah sambil membalik badan.


"Segera suruh dia pulang."


Benar, itulah jawaban dari pertanyaan dikepala Pak Rangga sejak tadi. Ternyata memang benar ada yang istrinya fikirkan saat ini.


"Biarkan saja dulu dia disana." Jawab Pak Rangga santai sambil menyalakan TV dengan remot di tangannya setelah tahu apa yang sedang difikirkan istrinya hingga membuat suasana hatinya tidak baik.


"Bagaimana bisa Papa dengan santai mengatakan hal itu."


"Tentu saja. Memangnya aku harus apa?"


"Dulu Papa bahkan tidak membiarkan Gina tidur terpisah dengan Surya, tapi kenapa sekarang malah membiarkan tinggal di tempat lain? Bukankah itu akan membuat mereka malah melakukan semua hal semau mereka?" Bujuk Bu Marina untuk mempengaruhi suaminya.

__ADS_1


"Karena sudah saatnya mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka juga sudah menikah, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun pada mereka. Malah seharusnya aku membiarkan mereka tinggal bersama sejak dulu."


"Papa bena-benar tidak mengkhawatirkan apapun?"


"Tidak. Aku malah berharap banyak pada mereka."


"Papa yakin itu sesuai dengan apa yang Papa harapkan?"


"Aku sedang ingin mereka melakukan apapun yang mereka inginkan jadi, biarkan saja mereka." Pak Rangga masih santai saat mengatakan itu.


Bu Marina kesal mendengar komentar Pak Rangga sesantai itu. Ia tahu apa yang membuat Pak Rangga begitu. Itu pasti karena Pak Rangga pun menyadari apa yang terjadi pada Gina. Bahwa sekarang Gina telah jatuh cinta kepada Surya sehingga apa yang diharapkan Pak Rangga untuk Gina akhirnya menyukai Surya. Bu Marina sudah menduga Pak Rangga akan senang seperti itu sehingga mau tidak mau ia akan membuat rencana rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun agar bisa memisahkan Gina dari Surya. Bagaimanapun juga putrinya yang sangat berharga tidak boleh bersanding dengan Surya.


🌸🌸🌸


"Nona, ini masih gelap." Ujar Surya saat melihat keluar cendela dengan mata yang masih terasa gelap untuk membuka.


"Tapi ini sudah pukul 5 pagi." Ujar Gina yang berdiri di samping Surya tidur dan berusaha membangunkannya.


"Benarkah?" Surya melihat jam ditangannya dan benar jam sudah menunjukkan pukul 5. Tapi entah kenapa pagi ini masih terlihat redup. Ia lalu bangun dan berjalan mendekati teras samping. Menggeser pintu kaca dan keluar memandang langit pagi ini.


"Langit agak redup pagi ini." Gumamnya sendiri.


"Ayo kita berlari pagi. Ini hari minggu jadi kita harus berolah raga ke luar." Surya membalik badan lalu memandang Gina.


Ada yang aneh pada Gina pagi ini. Surya heran karena ia terlihat sangat bersemangat. Gina yang biasanya suka menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan saat hari libur, kali ini tiba-tiba ingin berlari pagi keluar.


"Hei, apa yang kau lakukan disitu? Cepat ganti bajumu." Gina berjalan mendekati Surya.


"Apa kau mau berlari pagi dengan baju ini?" Tunjuk Gina pada T-Shirt dan celana panjang Surya.


"Baik Nona, saya akan mengganti baju." Akhirnya Surya menurut juga dan berjalan menuju kamarnya.


Gina dengan pakaian olah raga miliknya berdiri di depan pintu rumah Surya menunggunya keluar. Setelah beberapa saat menunggu, Surya akhirnya keluar dari dalam rumah dengan pakaian olah raga dan wajah segar setelah cuci muka. Rambut bagian depannya yang sempat tersentuh air terlihat agak basah. Entah kenapa pemandang itu menjadi sesuatu yang menarik bagi Gina. Seperti ada pesona tersendiri setiap Surya tampak seperti itu.


"Mari Nona." Ajak Surya. Gina mengangguk mengiyakan dan mulai melangkah meninggalkan teras rumah Surya.


Gina berlari kecil saat Surya mengunci pagar rumahnya. Tapi ia lalu mendongak menatap langit yang tampak semakin gelap dan sekarang malah disertai dengan menjatuhkan rintik air gerimis.


"Gerimis, Nona." Seru Surya sambil memandang Gina yang juga menengadah memandang air-air kecil yang membasahinya sekarang.


"Iya." Jawab Gina sambil meletakkan kedua telapak tangannya di atas kepala.


"Bagaimana?" Isyarat Surya meminta pendapat Gina apakah olah raga pagi berlanjut atau dihentikan.


"Hanya gerimis. Ku rasa..." Belum selesai Gina bicara, hujan mulai turun dengan deras.


Kali ini Surya tidak meminta pendapat Gina lagi dan kembali mengunci pintu pagar agar terbuka sehingga mereka bisa kembali masuk ke dalam rumah. Saat pintu pagar terbuka Surya dan Gina berlarian menuju teras rumah untuk menyelamatkan diri dari keroyokan hujan. Tapi sayangnya hujan yang terlalu deras sudah berhasil membuat mereka basah kuyup dalam waktu hanya sekejap.


Sesampainya di teras rumah, Surya mengusap rambutnya yang basah dan juga baju olah raga yang tidak kalah basahnya. Ia mengusap-usap rambutnya yang basah berharap air yang menempel bisa segera hilang.


"Sulit dipercaya. Bagaimana bisa pagi hari akhir pekan diterpa hujan seperti ini. Benar-benar membuat kecewa saja." Ucap Gina sambil masih sibuk mengibas-ngibaskan bagian depan bajunya yang basah. Tidak terdengar sahutan dari Surya tapi yang Gina rasakan malah percikan air yang berasal dari rambutnya sebagian mengenai Gina yang sedang berdiri disebelahnya.


Merasakan itu Gina lalu menoleh pada Surya dengan wajah manyun karena telah membasahi wajahnya. Tapi saat melihat Surya, wajah manyun Gina berubah menjadi wajah bengong. Rambut basah yang menjuntai di wajah Surya membuatnya terlihat menawan. Hati Gina berdesir-dersir melihat itu. Cinta memang bisa membuat sesuatu yang biasa saja terlihat menjadi sangat istimewa. Mungkin orang lain akan biasa saja melihat penampilan Surya saat ini, tapi itu tidak berlaku untuk Gina. Gina selalu menyukai Surya dengan rambut basah seperti itu.


Surya, kau membuatku ingin melanggar batasan lagi. Batin Gina.

__ADS_1


__ADS_2