
Surya berada di dalam ruangan yang sudah sangat akrab baginya. Ia pandangi kursi dibalik meja. Terbayang Pak Rangga yang tersenyum padanya seperti biasa. Entah apa yang membuat atasannya kini mempercayakan posisi tertinggi itu kepadanya. Saham terbesar di R-Company kini beralih menjadi namanya. Perusahaan sebesar ini kini secara tertulis menjadi miliknya. Kenapa orang seperti Pak Rangga sangat percaya kepadanya. Apa Pak Rangga tidak takut Surya akan benar-benar menguasai perusahaan ini dan menjadi serakah kemudian? Pertanyaan itu pernah ia lontarkan juga kepada Pak Rangga.
"Aku tahu kau bukan orang seperti itu. Usiaku sudah senja. Aku sudah pernah bertemu berbagai macam orang hampir dibelahan bumi manapun. Aku sudah memiliki pegawai dan relasi dari berbagai tipe manusia. Bukan aku bisa membaca watak tapi aku percaya kau bisa memegang amanatku." Jawab Pak Rangga santai.
"Jangankan perusahaan ini. Saham dan aset yang semuanya adalah benda mati. Aku bahkan mempercayakan putriku satu-satunya kepadamu. Jadi kau pasti tahu sebesar apa kepercayaanku padamu."
Mendengar itu tiba-tiba Surya seperti memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dari apapun. Rasanya seperti memikul gunung tertinggi di dunia, begitu batinnya, walaupun dia bahkan tidak tahu seberat apa gunung itu. Tapi Surya merasa ini adalah babak baru dalam hidup yang harus ia jalani. Bagaimanapun juga untuk menjadi seperti sekarang kalau bukan karena Pak Rangga, Surya mungkin bukanlah siapa-siapa. Dari seorang anak petani miskin hingga mendapat gelar master di kuliah S2-nya, dia merasa sangat berhutang budi kepada Pak Rangga. Bahkan ia bisa mendapatkan gelar S3 kalau dia tidak menolaknya. Surya merasa apa yang didapatkannya dari Pak Rangga sudah lebih dari cukup. Lalu ia teringat sebuah kejadian bertahun-tahun yang lalu.
Suatu pagi buta, seperti biasa Surya harus mengambil air di sungai. Di tempat tinggalnya jika musim kemarau tiba akan sangat sulit mendapatkan air. Sumur-sumur akan mengering dan sungai-sungai pun seolah seirama mengikuti tak bisa memberi air kepada penduduk. Satu-satunya sungai yang masih bisa menghasilkan air pun letaknya sejauh hampir 1 km dari rumah Surya. Sebelum ibunya memasak, Surya biasa mengambil air terlebih dulu dengan ember bekas tempat cat ukuran besar yang dipikul disebelah kanan dan kiri sisinya.
Tapi pagi itu bukan pagi yang biasa bagi Surya. Ia menemukan seseorang terkapar dijalan setapak yang biasa ia lewati. Jalan setapak itu tepat berada dibawah jalan raya menuju ke kota. Seseorang yang penuh luka. Surya menduga laki-laki malang yang masih menggunakan perlengkapan berkendara itu adalah korban kecelakaan yang jatuh ke jurang.
Surya membalikkan badan laki-laki yang helmya ada dibeberapa meter tempat laki-laki itu berada. Saat melihatnya, ia adalah pemuda yang mungkin seumuran dengannya. Tampak tidak sadarkan diri dan meski pagi masih sangat gelap ia bisa melihat dari hidung serta mulutnya mengeluarkan darah.
Tidak ada siapapun di sana. Surya sangat panik. Jika ia memanggil warga untuk meminta bantuan, itu akan memakan waktu yang lama dan bisa-bisa nyawa pemuda itu akan melayang segera. Lalu tanpa pikir panjang, Surya mulai mengangkat tubuh pemuda itu dan menaikkan diatas punggungnya. Ia berjalan kaki sedikit berlari menuju puskesmas terdekat yang jaraknya sejauh hampir 3 km dari tempat kejadian.
Surya memang harus menggendongnya karena tidak ada angkutan pedesaan yang lewat sepagi itu. Nafas Surya terengah-engah tapi ia tahu ada nyawa yang harus ia selamatkan saat itu. Sehingga meski semakin jauh langkahnya semakin gontai dan peluh sudah membasahi hampir seluruh tubuhnya tapi ia berusaha segera sampai di puskesmas.
__ADS_1
Akhirnya sampai juga di puskesmas. Ada seorang perawat yang berjaga. Puskesmas yang mirip rumah sakit kecil di tempat ini. Karena jarak dengan rumah sakit daerah sangat jauh jadi puskesmas ini dibuat untuk melayani masyarakat dengan sistem mirip rumah sakit tapi dalam bentuk kecil.
Korban kecelakaan sudah ditangani oleh seorang perawat. Dan setelah pertolongan pertama yang dilakukan oleh perawat itu, kemudian ia tampak menelepon seseorang yang sepertinya adalah dokter. Sayup-sayup Surya mendengar percakapan perawat itu seolah melaporkan bagaimana keadaan pemuda yang ia tolong.
Surya masih menunggui pemuda itu. Perlahan pemuda itu membuka matanya sambil menggerakkan jari-jarinya memberi isyarat kepada Surya untuk mendekat kepadanya. Surya membungkukkan badan dan mendekatkan telinganya ke wajah pemuda yang berbaring lemah itu.
"Papaku... telepon papaku." Ucapnya lirih memaksakan suaranya.
"Baik, nanti akan ku telepon. Kau tenang saja dulu."
"Sekarang. Se... karang." Paksanya dengan suara terbata seperti menahan rasa sakit.
"Papa... Papa..." Surya jadi tahu mungkin yang dimaksud pemuda itu adalah dia harus menelepon papanya. Ponsel mahal yang retak di bagian casing luarnya pasti akibat benturan saat pemuda itu jatuh ke jurang. Tapi saat memencet salah satu tombol, benda itu masih bisa memendarkan cahaya. Tampak di layar ponsel fotonya bersama seorang gadis.
Surya masih tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Seumur hidup ini adalah kali pertamanya memegang benda itu. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara memakainya. Pemuda itu kembali meraih ponselnya karena melihat Surya hanya menimangnya sejak tadi. Ia berusaha dengan sangat keras untuk mengoperasikan ponselnya sendiri dengan mendekatkan ke wajah tanda ia memaksakan penglihatannya. Sebenarnya Surya merasa sangat iba tapi apalah daya, ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menggunakan ponsel.
Setelah beberapa saat, pemuda itu kembali menyodorkan ponselnya kepada Surya. Tampak ada suara dari jauh terdengar dari ponsel. Ragu-ragu Surya meletakkan ponsel mendekat pada telinganya. Sekarang tampak terdengar suara seorang pria dengan jelas di telinganya. Surya mulai membuka suaranya.
__ADS_1
"Pak... anak bapak mengalami kecelakaan." Suara diseberang tampak kaget dan panik. Dan pembicaraan Surya dengan orang tua pemuda itu berakhir saat Surya memberitahukan bahwa pemuda itu akan di rujuk ke rumah sakit daerah karena alat kedokteran di puskesmas ini sangat terbatas. Surya pun harus menemani pemuda itu hingga rumah sakit daerah karena permintaan orang tuanya.
"Aku mohon padamu ikutlah kemanapun anakku dirawat. Aku akan segera menyusulnya. Bawalah ponselnya karena aku akan sering menghubungimu. Aku mohon. Tolong." Orang tua pemuda itu tampak sangat berharap kepadanya. Surya pun menyanggupi karena disana tidak ada siapapun yang bisa dimintai tolong kecuali dirinya.
Pemuda itu sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit daerah saat seorang pria mendekatinya.
"Kau, Surya?" Tebak pria itu. Surya berdiri dari duduknya dan meyakini bahwa pria di depannya adalah orang tua pemuda yang ia tolong.
"Benar Pak."
"Terima kasih sudah menjaga anakku."
"Tidak apa-apa, Pak."
Karena orang tua pemuda itu sudah sampai jadi Surya berpamitan untuk pulang. Tapi orang tua pemuda yang memperkenalkan namanya sebagai Pak Rangga itu tidak membiarkan Surya pulang sendirian. Ia meminta seorang sopir untuk mengantarnya. Awalnya Surya hendak menolak karena sungkan menerima bantuan itu tapi kemudian ia ingat tidak membawa uang sepeserpun jadi akhirnya menerima niat baik Pak Rangga.
Surya masih tenggelam dalam lamunannya saat pintu ruangannya diketuk dari luar. Ia mempersilakan masuk. Gina muncul dari balik pintu. Sekarang, gadis ini akan menjadi tanggung jawabnya. Ia tahu dia bukan gadis yang mudah ditundukkan. Tapi kehidupannya yang mapan sekarang ini adalah balasan dari budinya telah menyelamatkan anak Pak Rangga, kakak laki-laki Gina. Sedangkan sampai sekarang Surya menganggap apa yang sudah dilakukannya dulu tidak sebanding dengan apa yang diberikan pak Rangga dalam jumlah yang sangat lebih ini. Jadilah Surya menjadi sangat patuh terhadap Pak Rangga dan menyanggupi untuk menjadikan Gina wanita yang baik. Meskipun itu pasti sangat sulit tapi Rangga akan berusaha.
__ADS_1
Gina semakin mendekat. Dengan blazer warna hitam dan setelan rok selutut tampak kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Rambutnya yang bergelombang tergerai bergerak mengikuti gerakan langkah kakinya yang berstileto hitam berbahan suede.
"Jadi, kenapa menyuruhku ke sini? Mau memberikan kursi itu secepat ini?" Ujar Gina sinis setelah tepat berada di depan meja kerja Surya.