Tahta Surya

Tahta Surya
Hitung Mundur


__ADS_3

"Ya Tuhan..." Hanna mundur selangkah saat membuka pintu ruangan Gina.


"Anda di sini?" Gina sudah duduk di balik meja kerjanya. Memeriksa file yang kemarin belum terselesaikan. Baru saja Hanna meninggalkan ruangan itu untuk mengambil secangkir kopi di pantry, dan setelah ia kembali Gina sudah ada di dalam menempati kursinya.


"Bukankah besok Anda menikah? Kenapa hari ini masih bekerja?"


"Aku adalah seorang workaholic jadi tidak akan mudah bagiku mengambil cuti walau apapun yang terjadi." Gina masih membolak balik kertas-kertas dihadapannya.


"Nona mau kopi?" Hanna menawari.


"Coklat panas saja."


"Baik Nona." Hanna kembali ke pantry sambil menepuk jidatnya. Ia lupa bahwa atasannya itu jauh lebih menyukai coklat panas daripada minuman apapun. Ia berfikir seharusnya ia mengingat itu tadi. Karena efek kekagetannya dengan kemunculan Gina yang tiba-tiba membuatnya tidak fokus.


Beberapa saat setelah coklat panas dibuat, Hanna kembali ke ruangan Gina dengan coklat panas yang mengepulkan aroma wangi khas.


"Lain kali jangan kau yang membuat coklat panas untukku." Kata Gina saat Hanna meletakkan cangkir di atas mejanya.


"Apa coklat panas buatan saya tidak enak, Nona?"


"Bukan. Aku bukan Papa yang bisa menyuruh Surya melakukan segala hal. Jadi lain kali kau hanya perlu meminta OB untuk membuatkannya untukku." Ujar Gina masih sambil sibuk menekuni pekerjaannya.


"Baik Nona." Hanna kembali ke mejanya.


"Hanna, aku bingung dengan berkas yang ini. Bukankah seharusnya bahan yang kita sediakan sejumlah ini. Tapi kenapa di laporan penerimaan yang tertulis segini?" Hanna mendekati meja Gina.


Sedikit banyak Gina sudah mulai belajar tentang pekerjaannya.


Ditempat lain Surya sedang meninjau tempat pesta pernikahannya dengan Gina yang hanya tinggal besok. Karena Gina sama sekali hampir tidak mau terlibat pada persiapan acara penikahan itu, Surya yang melakukan semuanya sendiri. Bahkan konsep pesta kebun ini pun ia yang memilih.


"Sudah ku katakan padamu, aku tidak peduli apapun tentang pernikahan ini. Terserah pesta itu kau gelar di pasar, dijalan, disawah, dikuburan pun aku tidak mau tahu. Aku hanya akan datang karena pernikahan harus memiliki mempelai wanita. Sudah itu saja, cukup." Ujar Gina saat Surya meminta saran Gina akan dibuat seperti apa konsep pesta pernikahan mereka.

__ADS_1


Dan persiapan pesta saat ini sudah 99% terpenuhi. Semua sudah siap dan hanya memberi sedikit sentuhan-sentuhan di beberapa bagian saja untuk kebun sebuah hotel bintang lima ini. Jadi dalam hitungan mundur pesta itu sudah siap untuk digelar dengan meriah.


"Maaf Pak, bunga ini aku ingin dipadukan dengan mawar merah muda agar memberi kesan segar." Surya menunjuk rangkaian bunga di salah satu sudut kebun dengan rumput hijau dan bergantungan lampu-lampu yang akan lebih menghidupkan suasana saat malam hari.


"Baik Pak Surya. Akan saya suruh pekerja saya menambahnya dengan mawar merah muda di sini."


"Dan juga lampu yang disana tolong dipindahkan agar kesannya tidak terlalu ramai." Tunjuk Surya pada rangkaian lampu didekat pelaminan.


"Baik Pak." Orang dari Wedding Organizer itu segera memanggil seorang pekerja untuk mengerjakan keinginan Surya.


"Ada lagi yang harus kami ubah, Pak?"


"Tidak Pak, ini sempurna." Jawab Surya masih memandangi sekeliling kebun dengan puas. Tampak pengawas dari WO bernafas lega karena hasil pekerjaan para pekerjanya dinilai sempurna oleh kliennya.


Sebentar lagi babak baru dalam hidupnya dimulai. Kesempurnaan dalam acara yang dipersiapkan tidak sampai dua minggu ini bukanlah apa-apa dibanding dengan keputusan besar yang ia buat. Menikahi orang yang sama sekali tidak memiliki perasaan kepadanya bukan sesuatu yang mudah. Drama yang akan ia mainkah butuh penjiwaan. Melihat sikap Gina terhadapnya, itu akan menjadi beban untuknya. Tapi kesanggupan telah ia tegakkan, jadi tidak ada kesempatan untuk berhenti apalagi mundur menyerah. Lagi pula 'perang' ini belum dimulai, ia berfikir untuk tidak terlalu mengkhawatirkan apapun. Ia hanya harus selalu menampakkan sikap tenang seperti yang biasanya ia tampakkan. Seberkecamuk apapun batinnya, ia harus menggunakan topeng tenang itu kapanpun dan dimanapun ia berada.


Sebuah telepon berdering, Surya merogoh saku dimana ponselnya bergetar menuntut untuk dilayani. Nama yang tertulis dilayar membuatnya bergegas menerima panggilan telepon itu.


"Iya Pak..." Jawab Surya lekas.


"Saya sedang mengecek persiapan pesta, Pak."


"Apa kau sedang bersama Gina?"


"Tidak Pak, Nona Gina sedang bekerja."


"Apa? Bekerja?" Suara dari seberang terdengar sedang tergelak. Suara itu adalah Pak Rangga, atasannya secara tidak langsung dan juga besok akan secara resmi menjadi mertuanya.


"Sejak kapan ia menjadi semangat seperti itu?"


"Nona Gina terlihat mulai menyukai pekerjaannya di R-Company, Pak."

__ADS_1


"Apa? Menyukai? Yang ia lakukan hanya tidak ingin kehilangan R-Company." Suara Pak Rangga sedikit melemah.


"Seperti itulah dia, hanya akan menjadi posesif ketika sesuatu miliknya hampir hilang. Lihat saja, dia akan semakin bersemangat di R-Company karena dia memiliki maksud disana. Coba saja aku tidak melakukan ini pastilah anak itu masih asyik bermain-main di Font." Surya menyimak setiap perkataan Pak Rangga.


"Baiklah, biarkan dia melakukan apapun sesukanya. Ini terlihat baik karena ia sangat bersemangat seperti katamu. Tapi dia tidak akan dengan mudah membujukku dengan cara itu. Aku faham semua tabiatnya. Aku harus membuatnya benar-benar merasa memiliki R-Company, bukan sekedar sebagai ambisi karena ia adalah putri pemiliknya." Jelas Pak Rangga.


"Oh iya, sudah sampai mana persiapan pernikahanmu?"


"Lokasi, catering, dan segala hal sudah sempurna, Pak."


"Bagus, aku membayar mahal mereka memang untuk ini. Jangan sampai ada kekurangan atau aku akan menuntut mereka."


"Baik Pak."


"Sudah, kau pulanglah dan beristirahat. Besok adalah harimu. Besok akan menjadi hari panjang dang melelahkan bagimu."


"Baik Pak, tapi saya harus ke R-Company sebentar untuk mengurus sesuatu."


"Apapun itu sebaiknya kau bebaskan dulu dirimu dari pekerjaan. Bagaimanapun juga kau calon pengantin. Jangan merasa tidak enak karena Gina hari ini sedang bekerja. Anak keras kepala itu paling pandai dalam hal membangkang jadi kau tidak usah mempedulikannya."


"Baik Pak, saya hanya perlu melakukan sedikit hal lalu saya akan pulang."


"Bagus, temani orang tuamu. Aku tahu sejak mereka ada di sini kau sering meninggalkan mereka karena kesibukanmu."


"Iya Pak."


🌸🌸🌸


Senja mulai menampakkan keindahan. Angin sepoi-sepoi menandai udara semakin menurunkan temperaturnya. Sejuk, lembut membelai rangkaian bunga mawar di atas meja-meja. Lampu-lampu pesta yang bergelantungan menghiasi seisi kebun dan mulai terlihat berpijar seiring cahaya senja yang semakin meredup.


Para pramusaji sudah menempati beberapa meja hidangan yang telah mereka persiapkan. Berbagai hidangan berjajar rapi dan menyerukan aroma yang membuat perut terpanggil. Hidangan yang disajikan adalah hidangan pilihan. Mulai menu western hingga menu yang sangat masakan Indonesia. Mulai dari soto ayam, sate kambing, gulai kambing hingga nasi pecel ada di sana. Dan lagi-lagi itu adalah menu pilihan Surya yang menggabungkan menu western dan menu ala warung kaki lima. Surya tahu yang menghadiri pestanya tidak hanya kalangan atas tamu Pak Rangga tapi juga keluarganya yang berasal dari kampung yang lebih menyukai makanan ala kampung.

__ADS_1


Sebenarnya itu adalah sebuah pesta yang unik. Tapi Gina juga tidak mau tahu apa saja yang akan dihidangkan di pesta pernikahannya dan itu membuat Surya lebih leluasa menentukan menu hidangan pesta pernikahan mereka.


Seorang ratu berjalan menapaki rerumputan kebun dan mengedarkan pandangan. Semua mata tertuju padanya. Gaun indah yang melekat di tubuhnya mengingatkan pada gaun-gaun para putri dalam dongeng. Benar-benar senja yang sempurna.


__ADS_2