Tahta Surya

Tahta Surya
Model


__ADS_3

"Baiklah, mari kita masuk, Nona. Aroma tenderloin steak-nya sudah sampai sini." Surya membuka pintu mobil dan keluar. Gina masih memikirkan apa yang dikatakan Surya baru saja.


"Nona..." Panggil Surya dari luar mobil. Mendengar itu Gina tersadar lalu turun juga.


Restoran favorit Gina memiliki interior yang nyaman. Dengan pemandangan kebun di luar, pengunjung bisa menikmati hijaunya rerumputan dan warna-warni bunga. Untuk restoran dengan lokasi di tengah kota, ini adalah restoran yang bisa dijadikan sebagai tempat melepas penat. Sangat mampu merefresh kembali fikiran-fikiran yang penat.


"Kau tahu Surya, kebun itu mengingatkanku pada halaman rumahmu di kampung." Ujar Gina sambil memotong daging tenderloin di depannya. Ia lalu menyuapkan sepotong dan menikmatinya.


"Iya Nona."


"Kapan kita bisa ke sana lagi?"


"Entahlah, Nona. Masih banyak yang harus kita lakukan di sini." Surya meminum air putih di sampingnya.


"Kampungmu benar-benar menyenangkan. Sungai di bawah jembatan itu airnya jernih sekali. Aku bahkan bisa melihat ikan-ikan kecil berenang di sana. Sayangnya Ayu melarangku berenang. Katanya sungai itu ada buayanya." Gina merengut mengatakan itu.


"Apa benar sungai sejernih itu ada buayanya?" Gina meminta jawaban dari Surya.


"Tidak ada, Nona. Sungai itu terlalu jauh dengan muara jadi tidak mungkin ada buaya sampai situ."


"Sudah ku duga Ayu membohongiku. Lagi-lagi aku berhasil ditipu oleh anak kecil itu." Surya tersenyum melihat ekspresi wajah kesal Gina.


Potongan daging terakhir sudah masuk kedalam mulut Gina. Ia tersenyum puas dengan apa yang ia makan siang ini. Sudah lama ia tidak datang ke restoran ini karena jaraknya jauh dari R-Company sehingga ia tidak mau kehilangan banyak waktu istirahat hanya untuk makan siang di sini. Tapi kali ini bos R-Company yang mengajak jadi ia bisa apa selain harus dengan senang hati mengiyakan. Tidak hanya itu, kebiasaan Surya yang selalu memotongkan steak untuknya membuat Gina merasa tersanjung.


"Ahh, kenyang sekali." Gina mengusap bibirnya dengan tisu.


"Ini benar-benar enak dan membuatku merasa hidup kembali." Lagi-lagi Surya tersenyum melihat tingkah Gina.


"Surya, apa makanan kesukaanmu?" Tanya Gina tiba-tiba.


"Entahlah, Nona. Saya suka semua makanan." Surya tersenyum lebar.


"Oh iya, aku juga melihat kau memakan semua makanan tanpa pantangan apapun."


"Benar Nona. Apalagi sayuran. Saya sangat menyukai sayur. Segala macam sayuran saya menyukainya."


"Wah, pasti sangat mudah bagimu untuk menjadi vegetarian."


"Tapi saya tidak berminat menjadi seorang vegan, Nona. Saya adalah penganut makan makanan empat sehat lima sempurna." Surya lalu terkekeh setelah mengatakan itu.


"Itu bagus untukmu. Agar kau tumbuh sehat dan kuat bertambah tinggi dan besar." Gaya bicara Gina dibuat lucu. Itu membuat Surya tertawa karena ia merasa Gina seperti sedang berbicara dengan anak kecil. Gina ikut tertawa melihat Surya menertawakannya.


"Kau Surya kan?" Sapa seorang wanita muda tiba-tiba didepan Surya.


"Hai, Helen." Balas Surya menyapa.


"Ya Tuhan... aku hampir tidak bisa mengenalimu. Tapi begitu mendengar suaramu akhirnya aku yakin ini benar-benar adalah kau." Wanita itu lalu menempelkan pipi kanan dan kirinya di pipi Surya. Melihat itu Gina memelototkan matanya. Tiba-tiba ruangan itu seketika menjadi gerah. Ia merasa kepanasan.


"Apa kabarmu?" Wanita itu masih terfokus pada Surya.


"Seperti yang kau lihat, aku baik."


"Ya, tentu saja. Kau terlihat sangat baik." Lalu Wanita itu tertawa kecil.


"Sudah berapa lama kita tidak berjumpa? Rasanya lama sekali ya." Wanita itu menjawab pertanyaannya sendiri.

__ADS_1


"Iya, sejak pesta kelulusan kita tidak pernah saling jumpa lagi."


"Benar." Wanita itu tidak menoleh sama sekali kepada Gina.


"Jadi sepertinya benar yang ku dengar dari teman-teman. Kau sekarang adalah pengusaha sukses. Kau adalah presdir di R-Company? Pabrik alat rumah tangga terbesar di negeri ini." Surya tersenyum menanggapi wanita itu.


"Saya masih hanya karyawan juga, Helen."


"Oh ya? Tapi sejak dulu aku sudah melihat bagaimana kau akan sukses nantinya. Kau rajin dan tekun belajar. Kau tidak mau berhenti hanya kuliah. Kau masih saja membuka bisnis. Berjualan, menjadi tukang parkir, menjadi cleaning service, kau melakukan banyak sekali pekerjaan paruh waktu. Ku kira saat itu kau adalah robot pekerja keras." Helen tertawa sambil menepuk lengan Surya. Gina sudah meremas tisu yang dari tadi masih ada di tangannya.


"Ngomong-ngomong aku merindukanmu." Ucap Helen yang membuat seketika Gina meluap.


"Eheemm... ehemm..." Gina berdehem berharap mereka tidak melupakan keberadaannya. Dan benar Helen yang berrambut sepundak itu menoleh kepadanya. Gina menyunggingkan senyum walaupun hatinya sangat dongkol. Itu semua demi terlihat manis di depan Surya.


"Hei, siapa ini? Apa dia istrimu?" Helen melihat Gina dengan mata berbinar. Surya mengangguk.


"Kau benar-benar seperti menemukan keberuntunganmu. Ahh, tidak. Kau mendapatkan imbalan dari kerja kerasmu dulu. Seorang presdir beristri cantik adalah label yang sangat tepat untukmu saat ini." Helen yang terlihat sebagai orang yang suka berbicara itu menatap Gina ramah.


"Kenalkan, ini Gina istriku." Surya memperkenalkan mereka berdua.


"Hai, kau sangat beruntung mendapatkan Surya. Pria yang baik dan juga pekerja keras." Puji Helen terang-terangan. Lalu seorang anak menarik-narik tangan Helen. Anak dengan rambut pirang yang manis.


"Mami..." Anak itu seperti mengajak Helen untuk segera beranjak dari situ. Helen menganguk dan memberinya senyum.


"Baiklah, aku harus pergi. Suamiku juga sudah menunggu." Pamit Helen tiba-tiba dan lalu meninggalkan mereka berdua.


Gina sempat melihat di arah pintu seorang pria bule menunggu Helen. Mungkin itu yang ia maksud sebagai suaminya.


"Ayo kita kembali." Kemudian ajak Gina. Ia merasa mendadak tidak nyaman.


"Baik Nona." Surya lalu memanggil pelayan untuk meminta bill mereka.


Apa karena terlalu banyak makan sehingga Nona Gina sekarang jadi mengantuk? Pikir Surya.


Karena itulah ia membiarkan Gina diam dan menikmati waktunya sendiri. Tidak ingin mengganggu karena bisa-bisa Gina malah akan marah padanya. Ia sangat tahu Gina cepat berubah sikap jadi Surya merasa harus pandai-pandai menjaga sikap dan menempatkan diri.


Hingga memasuki pelataran parkir R-Company, Gina tidak tidur. Dia juga tidak berbicara sepatah katapun. Itu membuat Surya sangat heran dan mulai memberanikan diri berbasa-basi.


"Sudah sampai, Nona." Gina masih diam tidak ingin membalas kalimat Surya. Ia hanya lalu membuka pintu tanpa menoleh sedikitpun pada Surya. Surya menjadi sangat bingung ada apa sebenarnya dengan Gina.


Melihat Gina yang berjalan lebih dulu membuat Surya ingin buru-buru mengikutinya. Bahkan setelah menutup pintu mobilnya, dengan setengah berlari Surya menghampiri Gina.


"Nona, Anda sedang tidak enak badan?" Tanya Surya dengan wajah penuh rasa khawatir. Gina masih berjalan.


"Tidak."


"Anda yakin merasa baik-baik saja?"


"Ya tentu saja. Aku merasa sangat kenyang sehingga aku malas melakukan apapun." Jawab Gina dingin. Sikapnya kembali seperti seorang Gina sejati yang biasa ia temui dulu sebagai putri bosnya, bukan Gina yang ia temui akhir-akhir ini yang ceria dan ramah.


"Baiklah kalau begitu, silakan Anda beristirahat di ruangan Nona." Gina tidak menjawab lagi dan tetap bersikap dingin serta tidak mempedulikan Surya yang mengikuti langkahnya. Surya hanya bisa pasrah dengan perubahan sikap Gina. Memang seperti itulah Gina yang ia kenal sehingga ia kebal dengan segala bentuk perubahan suasana hatinya.


Memasuki lobi R-Company tampak ada sebuah kesibukan yang tidak biasa bagi Gina. Saat keluar untuk makan tadi belum ada kesibukan macam ini. Gina berjalan mendekati kerumunan itu.


"Oh pemotretan untuk katalog bulan ini sedang disiapkan." Ujar Surya seperti tahu apa yang Gina ingin tahu.

__ADS_1


"Kenapa melakukan pemotretan di sini?" Gina akhirnya menanggapi Surya karena penasaran.


"Kenapa bukan di studio? Bukankah R-Company memiliki studio khusus untuk pemotretan produk?" Gina masih memandang kesibukan para pekerja yang mempersiapkan pemotretan.


"Konsep pemotretan kali ini adalah ruang publik jadi agar terlihat alami mereka menggunakan lobi untuk latar pemotretan dengan keramaiannya. Produk yang akan terbit adalah kursi tunggu, Nona."


"Kursi tunggu?" Ulang Gina. Lalu pandangannya tertuju pada sederet kursi tunggu yang tiba-tiba ada di sana sedang di sorot oleh lampu untuk keperluan pemotretan.


"Selamat Siang Pak Surya, Nona Gina." Sapa seorang wanita berkaca mata.


"Siang, Wenny." Sapa Surya. Gina hanya tersenyum padanya. Ia tidak mengenal siapa Wenny. Tapi ia yakin wanita itu adalah bagian dari tim pemotretan kali ini.


"Aku selalu suka idemu, Wenny. Segar dan antimainstream." Surya memuji Wenny.


"Terima kasih, Pak." Wenny tampak senang dipuji oleh presdir R-company secara langsung seperti itu.


Tiba-tiba seseorang mendekati penanggung jawab pemotretan itu dan membisikkan sesuatu. Mendengar itu wajahnya tampak terkejut dan menjadi pucat.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Harus kemana kita mencari penggantinya? Waktunya sudah sangat mepet. Fotografer bahkan sudah datang." Ucap Wenny lirih kepada asistennya tapi Surya dan Gina bisa mendengar itu.


"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Surya.


"Ahh tidak Pak. Hanya saja... begini... kami mendapat kabar bahwa model yang akan ikut bagian dalam pemotretan ini mengalami kecelakaan saat akan menuju kemari. Dan juga keadaannya cukup serius sehingga pihak agency memastikan dia tidak bisa mengikuti pemotretan siang ini."


"Pakai saja model yang lain." Jawab Surya.


"Iya Pak, pihak agency akan mengganti dengan model yang lain. Tapi masalahnya setelah ini fotografer juga harus melakukan pemotretan di tempat lain sehingga kita tidak memiliki banyak waktu." Wenny tampak panik.


"Kalau membatalkan pemotretan hari ini kita akan mengalami kerugian pada budget dan juga perlambatan dalam penerbitan katalog, Pak." Surya tampak diam ikut berfikir.


"Baiklah, saya akan mencoba menghubungi agency lain jika ada model yang bisa kita pakai secepatnya." Tapi asisten Wenny membisikkan sesuatu padanya. Kemudian wajahnya berubah dan pandangannya tertuju pada Gina yang masih berdiri di samping Surya.


"Apa yang kau katakan. Kau ini mengawur saja." Omel Wenny pada asistennya.


"Ada apa?" Tanya Surya melihat keributan antara atasan dan bawahan itu.


"Tidak ada, Pak." Jawab dua orang itu bersamaan.


"Kalian ingin aku menjadi modelnya?" Ujar Gina tenang namun penuh percaya diri kepada kedua orang di depannya. Surya menoleh menatap Gina. Gina melihat Wenny memandangnya saat asistennya membisiki. Ia jadi merasa mungkin saja mereka sedang membicarakannya.


"Maaf Nona... asisten saya hanya asal bicara." Wenny terlihat tidak enak kepada Gina.


"Mari kita lakukan." Gina menatap Wenny serius.


"Benarkah, Nona?" Wenny menatap Gina tak percaya. Begitu pula dengan Surya dan asisten Wenny.


"Aku adalah bagian dari R-Company. Jadi apa salahnya aku membantu proses pemotretan ini agar berjalan dengan lancar." Jelas Gina. Surya yang mendengar itu tersenyum. Ternyata Gina tidak sekaku apa yang difikirkannya.


"Hanya berfoto untuk katalog, bukan?"


"Sebenarnya ini juga untuk baliho, Nona." Ujar Wenny ragu-ragu karena takut dengan reaksi Gina selanjutnya yang mungkin tidak ia harapkan.


"Baiklah, kalian hanya harus menambahkan bayaranku berkali-kali lipat saja."


"Apa, Nona? Jadi Anda tetap bersedia?"

__ADS_1


"Ya, aku akan melakukan apapun untuk kebaikan R-Company. Jadi siang ini aku adalah model bayaran kalian. Perlakukan aku dengan baik atau aku akan mengacaukan pemotretan ini."


"Oh baik, Nona. Baik..." Wenny dan asistennya sangat bersemangat membimbing Gina untuk melakukan make up dan mengganti pakaiannya.


__ADS_2