
Surya sedang memakai tuksedonya. Gina merapikan lipstiknya dan meyakinkan dirinya bahwa penampilannya malam ini terlihat luar biasa. Faris akan ada di sana jadi ia harus terlihat cantik. Meski selama ini dia berusaha terlihat cantik di depan Faris dan pada akhirnya Sunday lah yang membuat Faris jatuh cinta, Gina hanya akan melakukan yang terbaik. Karena akan terasa aneh jika wajahnya pucat tanpa make up seperti yang sering ia lihat pada Sunday. Gina berfikir Sunday hanya sedang beruntung sehingga bisa dengan mudah menarik perhatian Faris walau tanpa usaha yang berarti. Sangat berbeda dengan dirinya yang harus mati-matian menarik hati Faris untuk mencintainya, menerimanya lebih dari sekadar teman. Dan walau memang sudah terlambat, tapi Gina masih berharap Faris akan melirik dengan penampilannya yang mempesona.
"Mari Nona..." Surya mendekati Gina. Aroma parfum Surya langsung mengisi rongga hidungnya. Sangat lembut dan seperti membelainya untuk terus terbuai.
"Nona..."
"Iya, turunlah lebih dulu. Aku harus melakukan sesuatu." Jawab Gina ketus.
"Baik, Nona." Surya keluar dari kamar.
"Aku tidak tahan lagi. Parfum apa yang dipakai Surya. Itu benar-benar menggangguku. Kalau itu parfum pelet, aku bersumpah akan membuangnya. Ahh, tidak, bagaimana kalau aku akan memakainya saja untuk memikat Faris." Gumam Gina sambil bangkit dari duduknya dan mulai membuka laci meja didekat sofa, tempat biasa Surya tidur. Ada beberapa benda keperluan Surya. Gel rambut, deodoran, dan entah apa tapi barang-barang itu tidak banyak. Surya memang bukan pria metroseksual sehingga ia tidak memiliki benda-benda untuknya berdandan.
Gina tidak menemukan apapun yang ia cari. Botol parfum atau cologne, Gina tidak mendapatkannya.
"Aku semakin yakin itu adalah parfum pelet. Dia menyembunyikannya dengan sangat baik agar tidak ada yang tahu perbuatan busuknya." Gina yang kesal akhirnya keluar dari dalam kamarnya dan bersumpah tidak akan menyerah mencari tahu keberadaan parfum pelet itu lalu menendang Surya dari rumah ini karena sudah melakukan kejahatan busuk secara mistis seperti itu.
Setelah menuruni tangga, Gina bisa melihat Surya menunggunya di teras dengan mobilnya yang terparkir dan siap berangkat.
Kau pikir aku tidak tahu kebusukanmu. Karena aku sudah tahu semuanya, walau kau mandi dengan parfum itu pun, aku tidak akan pernah jatuh karena peletmu. Batin Gina berjalan mendekati Surya yang selesai menerima telepon. Surya memandang Gina dengan penampilannya yang sangat menawan. Rambut panjang sepunggunya yang bergelombang dibiarkannya tergerai. Gaun panjang berwarna maroon favoritnya membungkus tubuhnya yang indah dan ditambah sepatu hak tinggi membuatnya terlihat sempurna. Surya memandang Gina yang berjalan ke arahnya tanpa berkedip.
Jangan senang dulu, dasar Tukang Pelet. Aku berpenampilan secantik ini bukan untukmu. Bukan karena peletmu telah berhasil menjeratku. Tapi, aku ingin meninggalkan kesan saat bertemu Faris nanti. Gina yang melihat Surya memandangnya lurus.
"Ayo..." Ajak Gina yang mendekati mobil. Surya tidak membukakan pintu untuknya dan hanya berdiri di tempatnya.
"Maaf Nona, saya rasa kita tidak bisa datang ke tempat pertemuan malam ini." Suara Surya lirih.
"Apa?" Gina berbalik badan dan memelototi Surya.
"Maafkan saya, Nona." Surya menundukkan pandangan.
"Kita harus pergi ke rumah saya di kampung."
"Hahh???" Kalimat lanjutan Surya membuat Gina membelalakkan matanya lebar karena tidak percaya.
"Iya Nona, Bapak sedang berada di rumah sakit. Saya harus pulang. Bersama Anda." Kepala Gina mendadak berputar-putar mendengar perkataan Surya.
Apa? Bapaknya yang sakit, kenapa aku yang ikut pulang?
__ADS_1
"Bagaimanapun juga Anda istri saya saat ini. Apa yang akan Bapak fikirkan kalau tahu Anda tidak ikut pulang bersama saya." Seperti tahu apa yang difikirkan oleh Gina, Surya menjelaskan kenapa mengajaknya ikut serta untuk pulang. Lemas sudah badan Gina. Riasan diwajahnya yang ia buat minimalis tapi ingin bisa meninggalkan kesan pada Faris itu ia rasa menjadi sia-sia. Gaunnya yang sangat istimewa pun pasti sedih harus kembali lagi ke lemari tanpa sempat ia perlihatkan pada siapapun selain Surya.
Beberapa saat lalu...
Surya memarkir mobilnya di teras rumah dan keluar dari dalamnya sambil menunggu Gina menyelesaikan apa yang katanya belum selesai. Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ibu?" Surya merasa aneh ketika ibunya menghubungi di jam seperti ini. Demi rasa penasarannya Surya segera menerima telepon dari ibunya.
"Iya Ibu."
"Surya, Bapakmu sakit dan sekarang ada di rumah sakit." Suara ibu Surya dari jauh. Dari nada suaranya, Surya tahu ibunya berbicara sambil menangis.
"Bapak sakit?" Surya kaget, tapi ia lalu berusaha meredam kekhawatiran demi ibunya agar tidak semakin panik.
"Baiklah ibu, aku pulang malam ini." Tanpa bertanya sakit apa, Surya memutuskan untuk segera pulang. Ia tahu bagaimana perasaan ibunya melihat bapaknya sakit jadi yang terpenting adalah ia harus ada di sisi ibunya saat ini.
🌸🌸🌸
Gina membawa koper sedang dengan sebuah cover berwarna marun yang berisi pakaian dan beberapa keperluannya yang sangat penting saja. Karena jika ia membawa semua barang yang penting baginya, puluhan kontainer pastilah tidak akan cukup.
"Sudah." Gina cemberut di teras rumahnya. Ia harus mengganti pakaian dan mengemasi barang-barang bawaannya dengan sangat cepat agar mereka tidak tertinggal pesawat. Surya segera memesan tiket pesawat dengan jadwal keberangkatan paling cepat agar ia bisa segera sampai ke rumahnya di luar kota sesaat setelah mengatakan pada Gina bahwa mereka tidak jadi pergi ke malam pengusaha malam ini.
Surya dan Gina sudah masuk ke dalam taksi yang sudah Surya pesan. Semua serba cepat dan sigap. Memang Gina harus mengakui untuk urusan darurat seperti ini Surya cepat sekali bergerak. Ia sangat tanggap harus melakukan apa. Bahkan tanpa berkoordinasi dengan orang lain, ia bisa menyediakan semua yang dibutuhkan seorang diri. Dan dalam perjalanan mereka kali ini seperti direncanakan dengan sangat baik walaupun terjadi secara mendadak.
Sejak menaiki taksi, Surya tidak membangun pembicaraan sama sekali. Tidak seperti biasanya yang selalu mencoba mencari topik agar perjalanan mereka tidak terlalu sepi. Sepertinya Surya sangat khawatir terhadap bapaknya sehingga fikirannya seolah sudah melayang jauh ke rumahnya di kampung.
Gina berkali-kali memperhatikan dan itu membuatnya menjadi iba. Rasa kemanusiannya terpanggil untuk mencoba menenangkan Surya. Ragu-ragu Gina meraih tangan Surya yang ada disampingnya. Surya yang tidak menduga Gina akan melakukan hal itu jadi terkesiap dan menoleh ke arah Gina. Tapi Gina mencoba tidak menghiraukan dengan masih memasang pandangan ke depan. Surya menyunggingkan senyum. Ia menyadari bahwa seculas dan secueknya seorang Gina, ia masih bisa menunjukkan rasa empatinya.
Pesawat sudah tinggal landas. Kelas eksekutif maskapai penerbangan nasional adalah tempat duduk yang Surya pesan untuk penerbangan mereka. Gina sudah duduk di kursi penumpang yang sangat nyaman. Ini memang sudah lewat tengah malam sehingga ia sudah tidak tahan dengan kantuk yang menyergapnya sejak tadi. Setelah menguap berkali-kali, akhirnya Gina benar-benar tertidur. 2 jam perjalan pastilah cukup untuknya mengusir kantuk yang sudah tak tertahankan.
Sebaliknya, Surya bahkan tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak. Ia ingin sekali lekas tiba di tempat bapaknya dirawat dan melihat secara langsung bagaimana keadaannya. Walaupun ibunya sempat mengabarkan bahwa bapaknya sudah keluar dari ruangan unit gawat daurat dan dipindahkan ke kamar inap pasien, tapi Surya masih belum bisa tenang. Belum lagi saat membayangkan ibunya yang panik karena bapaknya tiba-tiba pingsan seperti itu, ia ingin sekali melompat ke sana dan menenangkan ibunya.
"Ibu sendirian di situ?" Tanya Surya tadi saat masih terhubung dalam sambungan telepon dengan ibunya.
"Tidak Sur, ibu bersama Joko."
Joko adalah anak dari tetangga orang tua Surya. Joko juga yang selalu membantu bapak Surya bekerja di sawah. Kadang jika dibutuhkan, Joko juga mengantar ibu Surya ke pasar. Karena kedekatannya dengan keluarga Surya, Joko sudah dianggap keluarga sendiri oleh Surya dan orang tuanya. Sehingga bersama Joko pun mereka merasa sangat nyaman.
__ADS_1
"Bu, tolong berikan teleponnya kepada Joko." Pinta Surya selanjutnya.
"Iya Mas." Suara Joko di ponsel ibunya.
"Joko, tolong temani ibu disana. Paling tidak sampai aku datang."
"Iya mas. Saya akan menemani Bude Yam di sini." Panggilan Joko pada ibu Surya.
"Keadaan Bapak bagaimana?"
"Pakde sudah mulai sadar, Mas."
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Bapak?"
"Menurut dokter yang memeriksa, Pakde itu mengalami darah rendah, Mas."
"Mungkin Bapak kelelahan, Ko."
"Sepertinya iya, Mas. Pakde ikut ndaut (mencabut bibit padi untuk ditanam di lahan sawah yang sudah disiapkan) kemarin."
"Bukannya sudah ada orang-orang yang bekerja untuk Bapak?"
"Iya Mas, aku dan Aryo sudah bersama-sama ndaut. Tapi Pakde masih ingin ikut. Aku sudah melarang tapi Pakde mengatakan kalau dia ingin melakukannya sambil olah raga."
"Oh ya sudah kalau begitu." Surya sekarang tahu apa penyebab Bapaknya jatuh pingsan dan itu hanya karena kelelahan. Bukan penyakit parah seperti apa yang ia khawatirkan.
Meskipun begitu ia tetap tidak bisa tenang sebelum bertemu langsung dengan bapaknya dan melihat bagaimana keadaanya. Tiba-tiba Surya menyesal karena jarang bisa pulang dan berkumpul dengan orang tuanya. Ia tahu semakin lama orang tuanya semakin tua dan membutuhkannya untuk merawat mereka. Tapi ternyata sampai saat ini Surya belum bisa melakukan apapun untuk orang tuanya kecuali mengirimkan uang untuk mereka. Padahal orang tua juga butuh kasih sayang anak-anaknya, bukan selalu uang yang harus mereka berikan.
"Mas, biar ku jemput di bandara?"
"Tidak usah, kau temani ibu saja. Ibu jangan dibiarkan sendiri di sana."
"Sebenarnya tadi Ayu ikut menemani, Mas. Tapi karena sudah malam, ku suruh dia pulang. Besok dia sekolah, kasihan kalau sampai malam di sini."
"Iya, tidak apa-apa, Ko."
Surya menghela nafas berat lagi. Ia harap ia bisa segera sampai kampung halamannya. Ia sudah sangat ingin menemui bapaknya. Ia melihat ke arah Gina yang sedang tidur dengan pulas. Selimut yang ia pakai turun sampai ke pangkuannya sehingga Surya berinisiatif untuk menariknya lagi ke atas hingga menutupi dadanya.
__ADS_1
Sebenarnya Surya sempat ragu Gina akan bersedia ikut dengannya untuk pulang tapi diluar dugaan Gina bersedia ikut dan tanpa perlawanan. Entah ia sedang mencari poin tambahan untuk penilaian Papanya atau memang ia memiliki rasa empati untuknya. Yang jelas Surya cukup senang dengan tindakan Gina. Padahal tadi sebelum mengajak Gina Surya sudah menyiapkan jawaban juga untuk orang tuanya jika bertanya kenapa Gina tidak turut serta bersamanya. Mungkin Surya akan memberi alasan pada orang tuanya bahwa Gina sedang menggantikannya mengurus perusahaan selama ia tidak ada. Tapi karena rencana awalnya berjalan lancar, ia hanya perlu menempatkan asisten pribadinya untuk mengawasi semua hal di R-Company.