
Mendung mulai merambat meneduhi kota. Angin yang semula bertiup lembut berubah menjadi lebih kencang. Dedaunan dengan warna yang menguning mulai berjatuhan. Kelopak bunga flamboyan pun turut berguguran. Gina masih menikmati udara yang berubah menjadi dingin karena tiupan angin sampai titik air hujan mulai jatuh semakin lama semakin deras. Akhirnya Gina berdiri dari duduknya meninggalkan bangku di taman untuk menghindari hujan. Tapi saat baru beberapa langkah tiba-tiba seseorang memayunginya. Gina memperlambat langkahnya sambil menoleh ke sisi kirinya.
"Bayu..." Pria yang disebut namanya itu tersenyum.
"Mari saya antar sampai ke dalam, Nona." Gina tidak menjawab tapi ia terus melanjutkan langkahnya dan kali ini dengan lebih santai karena hujan tidak jadi membasahinya.
"Terima kasih, Bayu." Gina memijakkan kaki di teras samping lobi.
Bayu mengangguk sopan menerima ucapan terima kasih dari Gina. Sekarang ia mulai melipat payungnya dan mengusap lengan kirinya yang basah oleh air hujan karena payung yang dipegangnya hanya menutup sebagian tubuhnya saja.
"Kau dari mana?" Tanya Gina pada Bayu yang masih memegang payung di tangannya.
"Saya dari makan siang di kantin, Nona." Jawab Bayu hormat.
"Maafkan aku hari ini harus membuat Hanna makan siang denganku." Ucap Gina dengan perasaan tidak enak.
"Besok kau bisa makan siang lagi bersamanya." Tambah Gina.
"Tidak apa-apa, Nona. Itu tidak masalah."
"Kau tahu, aku rindu makan siang bersama Hanna sambil mengobrol tentang banyak hal. Dan kesempatan ini datang, jadi aku tidak akan melewatkannya."
"Itu bagus sekali, Nona. Silakan makan siang bersama Hanna jika Anda memang menginginkannya. Kami bisa memilih waktu lain untuk bersama."
"Wah, kau adalah pacar yant sangat pengertian. Hanna pasti senang memiliki pacar dirimu."
"Ya, sepertinya begitu, Nona."
"Baiklah, aku akan ke ruanganku. Sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama, Nona." Bayu menganggukkan kepalanya dan Gina lalu pergi meninggalkan tempat itu.
🌸🌸🌸
Senja menjelang malam saat Gina berada di dalam mobil sepulang ia bekerja. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran headrest. Ia hanya duduk diam menikmati perjalanan yang harus memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai rumahnya.
Rasanya ada yang aneh. Ia biasa bersama Surya dan sekarang seorang sopir harus mengantarkannya kemanapun ia pergi. Biasanya ia akan mengobrol dengan Surya tapi rasanya tidak akan etis kalau dirinya mengajak sopir Surya untuk mengobrol. Ia bukan tipe si peramah yang bisa berbicara dengan sembarang orang. Sehingga duduk diam selama perjalanan pulang adalah yang terbaik untuknya. Saat melewati R-Store yang beberapa waktu lalu Surya buka bersamanya, Gina tiba-tiba kembali teringat padanya.
Sedang apa dia sekarang. Apa dia masih sibuk? Dia belum menelepon kembali sampai sekarang. Atau ponselnya rusak sehingga panggilan tak terjawab dariku tidak terlihat diponselnya? Gina memandang layar ponselnya yang memperlihatkan nomer ponsel Surya.
Menyebalkan sekali. Padahal aku sedang merindukannya. Gina menarik nafas berat.
"Tolong berhenti di toserba itu." Ujar Gina kepada sopir di depannya.
"Baik Nona."
Di dalam toserba, Gina langsung menuju ke tempat makanan ringan. Ia memilih keripik kentang kesukaannya.
"Apa saja yang habis? Oh iya, kecap." Seorang pria membawa keranjang penuh barang belanjaan.
"Tisu juga." Wanita di sebelahnya lalu pergi ke tempat dimana tisu ditempatkan. Lalu sebentar kemudian ia kembali dengan sekotak besar tisu.
"Apa lagi?" Pria yang sepertinya adalah suami wanita itu memandang istrinya sambil memberinya senyum.
"Ku rasa ini sudah cukup."
"Baiklah."
"Oh tunggu. Kita harus membeli jagung pop corn ini untuk camilan kita menonton film." Ujar wanita dengan rambut sepunggung yang dikepang itu.
"Kenapa tidak membeli pop corn yang sudah jadi ini saja?" Pria itu mengambil pop corn caramel kemasan besar di dekat Gina berdiri. Gina yang berada di situ jadi menyimak percakapan pasangan muda itu.
"Tidak, kita harus membuat sendiri pop corn caramelnya agar saat memakannya masih hangat."
"Tapi itu akan membuatmu repot."
"Tidak apa, itu tidak merepotkan. Hanya pop corn saja. Sangat mudah membuatnya."
"Baiklah, kau memang selalu yang paling bisa kuandalkan. Pandai memasak dan juga baik hati. Aku mencintaimu." Puji pria itu.
"Aku juga mencintaimu." Balas istrinya seperti tidak mempedulikan keberadaan Gina yang masih di dekat mereka.
__ADS_1
Mendengar itu semua Gina jadi tersenyum kecut. Sambil membatin bagaimana bisa mereka berbincang mesra tanpa peduli orang disekitarnya. Itu membuatnya jadi iri. Sepertinya menyenangkan berbelanja kebutuhan rumah bersama, memasak bersama, makan bersama, menonton tv bersama. Melakukan banyak hal bersama-sama pasangan pastilah seru. Sepertinya lain kali ia harus mencoba hal itu dengan Surya agar bisa merasakan keseruan itu juga.
Memikirkan hal itu Gina lalu tersenyum sendiri sambil meninggalkan pasangan yang masih memilih apa lagi yang harus mereka beli. Gina mengambil air mineral lalu membayar belanjaannya di kasir.
Saat keluar dari toserba Gina tidak segera memasuki mobilnya tapi ia duduk di meja yang disediakan oleh toserba. Ia meminum air mineral kemasan botol itu lalu membuka keripik kentangnya. Memakannya perlahan sambil menikmati jalan raya di depannya. Hari sudah gelap, lampu-lampu dari kendaraan yang berlalu lalang bergantian menyinari tempatnya duduk. Gina merindukan Surya hingga malas melakukan apapun. Ia hanya ingin membiarkan fikirannya dipenuhi oleh Surya, Surya dan Surya.
Tiba-tiba sebuah mobil memasuki pelataran toserba dengan sinar lampu yang menyinari wajahnya. Gina memicingkan mata berusaha menghindari cahaya silau yang mengenai matanya.
"Gina..." Seseorang yang keluar dari dalam Corolla Altis itu menyapa Gina. Sepertinya wanita itu mengenali dirinya sejak memasuki pelataran parkir.
"Sunday..." Balas sapa Gina.
Sunday yang juga sedang sendirian datang ke toserba dengan diantar sopir itu mengambil tempat duduk di depan Gina.
"Nasib kita memiliki suami seorang pengusaha, kita jadi sendirian seperti ini." Ujar Sunday sambil memandangnya dengan senyum lebar.
"Kau benar. Kau juga bahkan diantar sopir juga."
"Bagaimana aku bisa mengendarai mobil sendiri, aku tidak bisa menyetir." Sunday tertawa di akhir kalimatnya.
"Ahh, iya aku lupa itu." Gina juga mengikutinya tertawa.
"Tapi, kau mulai manja sekarang? Kau bersama sopir juga." Sunday menggodanya.
"Inilah akibat memiliki suami yang over protective." Jawab Gina dengan mengangkat dagunya.
"Waw... benar kata Faris. Pak Surya memang keren."
"Keren? Memangnya apa yang Faris ceritakan padamu tentangnya."
"Dia orang yang baik, lembut, penyayang dan sangat perhatian."
"Bagaimana dia tahu?" Gina mengerutkan kening mendengar penuturan Sunday.
"Sepertinya Faris pernah diperlakukan seperti itu juga olehnya." Sunday lalu tertawa lagi. Gina tidak bisa untuk tidak ikut tertawa karena kekonyolan yang diucapkan oleh teman yang sempat merenggang dengannya itu.
"Pantas saja Surya juga terlihat sangat dekat dengan Faris." Mereka lalu tertawa bersamaan.
"Kau sendirian saja? Mana Cena?" Gina celingukan melihat Sunday hanya pergi sendiri ke toserba.
"Ya Tuhan, aku lupa." Tiba-tiba Sunday berdiri dari duduknya dengan gelisah.
"Aku harus membeli popok untuk Cena. Kenapa aku malah duduk denganmu." Sunday lalu masuk ke dalam toserba. Gina menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sunday yang kebingungan sendiri seperti itu.
Ia melihat Sunday yang berbelanja di dalam toserba. Tempat yang pertama ia tuju adalah deretan popok bayi dari berbagai merk dan ukuran. Gina jadi berfikir apa setelah menikah dan memiliki anak seorang wanita akan seperti Sunday. Pergi keluar rumah dengan hanya berpenampilan sederhana dan membeli kebutuhan anaknya selalu menjadi tujuan paling utama.
Gina masih memperhatikan Sunday yang sekarang sudah membawa sekeranjang penuh belanjaan yang berisi hampir semua barang kebutuhan bayi menuju ke kasir. Gina meneguk air mineralnya lagi dan mengalihkan pandangan menuju ponselnya. Surya masih belum juga kembali menghubunginya. Bahkan mengirim pesan singkat pun tidak.
"Ini ku ganti." Sunday sudah ada di depan mejanya sekarang.
"Apa ini?" Gina menunjuk makanan ringan yang Sunday letakkan didepannya.
"Aku sudah menghabiskan keripik kentangmu. Jadi aku harus menggantinya." Sunday tersenyum lebar.
"Apa-apaan ini. Kau pikir aku keberatan kau melakukannya?"
"Tidak. Aku tahu kau sedang kesepian dan butuh ditemani keripik kentang saat ini." Sunday lalu tertawa setelah mengatakan itu.
"Kau ini, dasar!!!" Gina pura-pura akan memukul Sunday. Itulah kenapa Sunday jadi bergegas untuk pergi dari situ sambil tertawa. Sunday lalu masuk ke dalam mobilnya setelah melambaikan tangan padanya. Gina membalasnya. Tapi baru juga Sunday keluar dari pelataran parkir toserba, ponsel Gina berbunyi.
"Kenapa lagi dia." Gumam Gina melihat nama yang tertera di ponselnya adalah Sunday.
"Gina, mainlah ke rumahku kalau kau kesepian." Kalimat Sunday saat Gina mengangkat teleponnya.
"Mari kita bermain bersama. Sebagai sesama istri yang ditinggal suami bekerja diluar kota, kita harus saling menghibur. Jangan bersama keripik kentang. Itu hanya akan menambah berat rindumu dan juga menambah berat badanmu." Sunday menambahkan tawa di akhir kalimatnya.
"Baiklah, kalau aku merasa kesepian, aku akan bermain bersama Cena."
"Baguslah, aku menantikannya."
Saat ini Gina menuruni mobil dan segera masuk ke dalam rumah begitu ia sampai di teras. Sekali lagi, rumah menjadi terasa sepi. Tidak akan ada lawan bicara yang bisa menenangkannya. Tidak ada pandangan teduh ketika menatapnya dan tidak ada senyum lembut yang mengantarnya sesaat sebelum tidur. Semua itu tidak ada ketika Surya tidak bersamanya. Ia merasa inilah yang dinamakan dengan rindu.
__ADS_1
Benar yang orang katakan, rindu itu berat. Seorang yang sedang merindu bisa merasakan seolah waktu berjalan lambat. Sehari terasa seperti sewindu. Gina menghela nafas berat sambil menaiki tangga. Sayup-sayup terdengar suara musik dari arah belakang. Itu pasti mbak Yuyun yang sedang memutar musik dangdut.
Gina menghentikan langkahnya. Lagu itu pernah diputar oleh Surya saat mereka sedang di rumahnya di kampung. Mendengar itu tiba-tiba Gina menghentikan langkah dan berbalik menuju sumber suara. Ia mulai mendekati bagian belakang rumahnya.
Benar, disalah satu kamar di bagian belakang rumahnya, Mbak Yuyun sedang menyetrika sambil manggut-manggut mengikuti irama musik dari portable wireless speaker miliknya. Speaker itu adalah pemberian Gina. Ia tahu Mbak Yuyun suka mendengarkan musik sehingga Gina membelikannya speaker yang bisa dibawa kemana-mana. Saat memasak di dapur, menyetrika, menjemur cucian bahkan saat menyapu halaman.
Gina tahu bekerja di rumah sebesar itu pasti Mbak Yuyun juga pernah merasa kesepian. Sehingga ia akan menghibur diri dengan mendengarkan lagu-lagu kesukaannya sembari dia bekerja. Bahkan ponsel yang dipakai mbak Yuyun sekarang juga Gina yang membelikan. Gina ingat saat Gina memberinya kejutan dengan memberikan smartphone pada Mbak Yuyun.
Saat itu Gina membeli ponsel yang diberikan pada Mbak Yuyun melalui sebuah situs belanja online yang ditujukan dengan nama Mbak Yuyun. Seorang kurir datang, Gina yang sedang duduk di ruang tengah tahu sepertinya itu adalah paket kiriman untuk Asisten Rumah Tangganya itu. Gina sengaja tidak beranjak dari duduknya dan membiarkan Mbak Yuyun menerima sendiri paketnya.
"Apa? Saya? Saya tidak belanja online kok, Mas. Serius. Saya saja tidak bisa caranya apalagi cara belinya. Sepertinya ini salah kirim, Mas." Mbak Yuyun menolak.
"Tapi ini benar alamat ini dan juga benar nama Anda, bukan?"
"Iya Mas, tapi saya benar-benar tidak membeli itu." Tunjuk Mbak Yuyun pada paket yang masih dibawa oleh kurir.
"Berarti ini memang milik Anda, Mbak. Ini silakan di terima, saya juga masih harus mengantar paket lain. Jadi saya buru-buru. Terima kasih." Kurir itu sudah memberikan paksa paket milik Mbak Yuyun dan pergi bersama motor dengan banyak paket dikeranjang jok belakangnya.
Gina yang melihat Mbak Yuyun terlihat masih bengong itu jadi menahan tawa. Ketika mbak Yuyun membawa masuk paketnya masih dengan penuh keheranan, Gina menghampirinya.
"Paketku ya, Mbak?" Tanya Gina pura-pura santai.
"Tidak tahu, Nona. Ini ada paket tapi atas nama saya. Padahal saya tidak pernah belanja beginian." Mbak Yuyun masih dengan wajah bingung.
"Mbak Yuyun lupa mungkin." Jawab Gina santai.
"Nona, bagaimana saya bisa lupa kalau memang tidak pernah melakukan. Saya saja tidak tahu caranya berbelanja online. Saya tahunya belanja dipasar. Sambil nawar-nawar lalu bayar. Sudah, begitu saja." Jelas Mbak Yuyun.
"Ya sudah, biar saja itu nama pemesannya memang mbak Yuyun. Buka saja."
"Jangan Nona. Saya tidak merasa membeli."
"Kalau Mbak Yuyun tidak mau, sini biar aku saja yang buka." Gina menyahut paket itu dari tangan Mbak Yuyun dan lalu membawa ke dapur untuk mencari gunting.
"Tapi Nona, itu kan bukan milik saya. Nanti kalau yang punya sebenarnya mencari bagaimana?" Mbak Yuyun membuntuti Gina.
"Salah sendiri memberi nama dan alamat yang tepat di sini." Gina mengabaikan perkataan asisten rumah tangganya dan masih membuka paket itu.
"Ya Tuhan, sebuah ponsel." Gina berpura-pura kaget. Mbak Yuyun melongkok ke arah Gina membuka paket. Seketika mata Mbak Yuyun membulat.
"Apalagi ponsel, saya tidak mungkin bisa membeli ponsel sebagus itu, Nona."
"Tapi bagaimana kalau ada yang ingin membelikan untuk Mbak Yuyun?" Gina mengerling.
"Mana ada orang yang memberikan barang mahal kepada orang lain apalagi saya. Itu tidak mungkin, Nona. Teman-teman saya tidak akan mampu membelikan itu untuk saya."
"Jadi Mbak Yuyun pikir aku tidak akan bisa?" Ujar Gina sambil berkacak pinggang.
"Maksud Nona?"
"Ini untuk Mbak Yuyun." Gina menyodorkan ponsel baru itu kepada Mbak Yuyun.
"Tapi, Nona. Bagaiamana bisa?"
"Mbak Yuyun, sayalah teman yang bisa membelikan ponsel ini."
"Apa? Jadi... Ini... dari Nona?" Gina mengangguk.
"Kenapa, Nona? Ini mahal sekali. Saya tahu dari iklan di TV."
"Mbak Yuyun, karena kita best friend maka itu tidak ada artinya bagiku. Pakai saja ponsel ini dan buang ponsel lama mbak Yuyun yang suara nada alarmnya membuat aku sakit kepala saat mendengarnya."
"Ya Tuhan, terima kasih, Nona." Mbak Yuyun langsung menghamburkan pelukan kepada Gina karena sangat senang mendapatkan ponsel sebagus itu.
"Tapi, bagaimana cara memakainya, Nona?" Gina tersenyum lebar memandang wajah Mbak Yuyun yang polos.
Gina memang sangat dekat dengan Mbak Yuyun dan sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Memang sejak dulu hanya Mbak Yuyun temannya di rumah dan selalu ada untuknya. Oleh sebab itu Gina merasa Mbak Yuyun sudah seperti saudaranya sendiri.
Gina menghampiri mbak Yuyun yang masih serius menyetrika sambil manggut-manggut. Gina lalu duduk di kursi yang ada tidak jauh dari mbak Yuyun bekerja. Karena merasa seperti ada orang lain yang juga ada di tempat itu, Mbak Yuyun menoleh kepada Gina.
"Ya Tuhan..." Mbak Yuyun terkaget.
__ADS_1
"Saya fikir hantu. Ternyata Nona Gina. Mengagetkan saja."
"Mbak Yuyun. Aku kangen Surya." Ucap Gina dengan suara lemah. Mbak Yuyun mengangkat alisnya mendengar kalimat langka yang diucapkan tiba-tiba oleh Gina.