Tahta Surya

Tahta Surya
Gaun


__ADS_3

"Nona?"


"Oh itu, aku suka memanggilnya begitu. Nona manis. Begitulah aku biasa memanggilnya. Ya, itu panggilan sayangku kepadanya." Jelas Surya dengan berbohong. Gina memalingkan muka antara muak dan merasa lucu menjadi satu. Bagaimana bisa Surya memiliki panggilan sayang itu untuknya.


"Ya Tuhan... Anda manis sekali. Panggilan yang sangat indah. Saya pasti langsung meleleh andai ada yang memanggil seperti itu dengan penuh kasih sayang." Penjaga toko memuji Surya dan memandang Gina dengan mata berbinar.


"Baiklah, Nona Manisku, apa aku yang harus memilih untukmu?" Tutur Surya dengan nada suara lembut. Gina menjadi mual sekarang. Ada kata 'Ku' di akhir panggilan sayang Surya kepadanya.


"Pilihlah sesukamu." Gina agak ketus. Penjaga butik benar-benar dibuat bingung olehnya. Bagaimana mungkin pasangan yang akan menikah bersikap seperti itu.


"Bagaimana kalau saya membantu? Saya punya beberapa gaun yang sangat saya rekomendasikan. Dengan cutting yang elegan dan bahan pilihan membuat Anda tampil sangat mengagumkan saat acara pernikahan." Saran penjaga butik.


"Boleh. Biarkan kami melihatnya." Surya sopan.


"Mari ikut saya." Ajak penjaga butik. Surya berdiri dari duduknya. Tapi melihat Gina belum beranjak, Surya kembali duduk.


"Anda ingin drama ini cepat berakhir bukan?" Gina meliriknya sekilas.


"Mari kita ikuti skenarionya." Ucap Surya setengah berbisik. Dan ampuh, Gina dengan segera berdiri dan melangkahkan kaki menuju penjaga butik itu berada. Surya tersenyum menyaksikan tingkah Gina.


Surya menunggu di depan ruang fitting sambil membuka majalah mode. Banyak referensi gaun dan setelan untuk mempelai. Mulai dari gaun internasional hingga busana pengantin dengan tema adat. Semua tampak indah.


Surya memang tidak pernah membayangkan akan seperti apa pernikahannya. Karena selama ini di dalam hidupnya, ia hanya berfikir tentang bagaimana menjalani hidupnya dengan baik. Bagaimana menghidupi keluarganya dengan layak. Bagaimana mengerjakan pekerjaannya dengan sempurna.


Berasal dari keluarga miskin membuatnya harus berjuang penuh untuk bisa mengubah nasibnya, terutama demi kehidupan bapak dan ibunya. Dan, ketika Pak Rangga datang menawarkan kemudahan-kemudahan itu, ia berfikir bahwa kesempatan mungkin tidak datang dua kali sehingga sejak saat itu ia mengabdikan dirinya untuk Pak Rangga.


Kadang ia berfikir apa selama ini ia menjual jiwanya kepada Pak Rangga? Dengan menjadi asisten pribadi Pak Ranggga, ia bahkan memiliki kehidupan yang hampir tidak normal. Harus selalu menjalankan perintahnya tanpa terkecuali, memiliki jam kerja hampir 24 jam perhari dan sering juga hari libur pun ia masih bersama Pak Rangga walaupun itu bukan untuk acara bekerja. Entah pergi ke suatu tempat untuk menemani Pak Rangga atau hanya di rumah Pak Rangga sepanjang hari dan berjaga jika ia dibutuhkan.

__ADS_1


Tidak mengherankan jika Gina menjulukinya sebagai pesuruh Pak Rangga. Karena memang sebegitu patuhnya ia kepada bosnya. Tapi kemudian Surya berfikir bahwa ia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Tidak ada makan siang gratis. Semua hal yang didapatkan harus membutuhkan pengorbanan. Asalkan bukan harga dirinya yang tergadai, ia akan tetap melakukan pekerjaannya dengan totalitas tinggi.


Masih sibuk dengan fikirannya, tirai tempat dimana Gina melakukan fitting gaunnya terbuka. Dari balik tirai terlihat Gina mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan potongan krah sabrina dan menampilkan keindahan bagian depan tubuhnya yang hampir terbuka. Taburan bebatuan swarovski berkerlap kerlip memantulkan keindahan dan membuat Gina tampak menakjubkan. Dengan bahan yang sangat mewah dan entah membutuhkan berapa banyak bahan sehingga tampak sangat mengembang. Terlihat sangat indah.


"Bagaimana, Tuan?" Penjaga butik menyapa Surya yang masih mengamati gaun itu sewajarnya calon mempelai pria biasa melakukan hal itu.


"Sangat indah."


"Ini gaun yang paling istimewa yang kami buat. Sangat cocok untuk Nona Manis Anda saat acara pernikahan yang tinggal sebentar lagi. Kami sengaja menyediakan gaun yang siap pakai untuk pasangan pengantin yang sudah tidak sabar ingin berada di pelaminan seperti Tuan dan Nona." Jelas penjaga butik itu ramah dan tidak pernah melepas senyumnya.


Surya mendekati Gina. Gina mundur satu langkah bermaksud menghindar.


"Tapi, bagian depan gaun ini terlalu terbuka." Ujar Surya sambil masih meneliti gaun itu dihadapan Gina.


"Apa? Yang benar saja? Ini sangat indah. Lihatlah lagi dengan saksama. Kau tidak tahu mod... ahh, maksudku, model ini sangat bagus untukku." Bantah Gina sengit dan meralat ucapannya sebelum ia mengatakan sesuatu yang tidak pantas di dengar oleh orang lain.


"Tidak, aku rasa ayah mempelai wanita tidak akan setuju dengan hal ini."


"Maksudmu Papa?" Tanya Gina. Surya mengangguk.


"Sejak kapan Papa peduli pada caraku berpakaian? Papa tidak akan peduli dengan hal ini."


"Tapi itulah yang Pak Rangga katakan sebelum kita berangkat tadi. Beliau berpesan agar Nona memilih gaun yang tidak terlalu terbuka."


"Benarkah?" Gina masih tidak percaya.


"Tamu yang datang dari berbagai kalangan kelas atas, Pak Rangga tidak mau Anda terlalu menjadi sorotan dengan gaun yang terlalu terbuka."

__ADS_1


"Omong kosong apa ini." Gina menggerutu sambil berbalik badan dan diikuti penjaga butik untuk menggantinya dengan gaun lain.


Sebentar kemudian Gina muncul dari balik tirai lagi. Kali ini dengan gaun berpotongan mermaid. Dengan payet bunga-bunga dibagian atas hingga tengah. Sangat cantik dan anggun. Gaun itu sangat indah dipakai oleh Gina. Postur Gina yang tinggi semampai ditambah dengan pinggang ramping tapi pinggul lebar membuat gaun itu sangat sempurna. Penjaga butik berkali-kali memuji Gina dengan gaun yang satu ini.


"Baru kali ini aku melihat gaun dengan potongan ini terlihat sangat sempurna pada pemakainya." Puji penjaga butik lagi. Entah itu hanya pujian manis berisi promosi atau memang begitu adanya. Tapi gaun itu memang secantik itu pada Gina.


Gina menatap Surya seolah meminta pendapatnya. Sebenarnya ia tidak butuh itu tapi pilihan Surya adalah poin penting untuk Papanya, jadi Gina terpaksa melibatkannya dalam hal ini.


"Gaun ini terlalu membentuk lekuk tubuhmu, Nona. Aku bisa cemburu jika semua mata pria tertuju padamu." Komentar Surya.


"Hahh?" Gina memelototkan mata, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Cemburu? Pasti kau sudah gila. Gina tidak habis pikir tapi ia tahan pertanyaan itu dalam kepalanya. Ia harus menjaga rahasia dari orang lain bahwa pernikahan mereka adalah pernikahan rekayasa, walaupun sikap Gina benar-benar menampakkan ketidaknormalan hubungan calon pengantin.


"Ahh, manis sekali... Anda memang kekasih yang sangat posesif." Penjaga butik itu menggoda Surya.


"Anda sangat beruntung memiliki calon suami sebaik dia." Ganti menggoda Gina. Gina hanya tersenyum kaku dan masuk kembali.


Gina mengganti kembali gaunnya dan ini adalah gaun ketiga. Gina sudah tidak peduli lagi jika Surya masih memberi komentar buruk pada apa yang dia pakai kali ini.


Masa bodoh dengan ucapannya. Aku sudah lelah. Terserah apa maunya, pokoknya ini harus jadi gaun terakhir yang aku coba. Kalau Surya masih mengatakan gaun ini buruk, aku akan pergi dari sini. Lama-lama dia sangat menjengkelkan. Gerutu Gina dalam hati menuju tempat Surya berada. Gina membuka tirai dan Surya masih menunggunya di sana.


"Yang ini bagaimana?" Tanya Gina sebal.


Surya mengalihkan pandangan dari ponsel untuk memandang Gina. Mata Surya mengamati dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gina jadi salah tingkah saat Surya memandangnya seperti itu. Perlahan Surya mendekati Gina. Sangat dekat dan semakin dekat.


Kenapa lagi dengan gaunku? Katakan kau tidak setuju, aku akan membunuhmu. Ancam Gina yang tentu saja hanya dalam hati. Tapi Surya malah semakin dekat, lebih dekat dari sebelumnya. Dan, Gina terjingkat saat kedua lengan Surya mengurung Gina dalam dekapannya. Tubuh mereka saling melekat sekarang.

__ADS_1


__ADS_2