
Surya memacu mobilnya membelah jalan raya sore ini. Wajahnya penuh senyum dengan iringan lagu I Ain't Worried milik One Republic. Ia sedang menuju ke sebuah tempat dan berharap bisa datang tepat waktu. Dan saat tiba di tempat yang ia tuju, Surya lalu membelokkan mobil mewahnya ke dalam area parkir basement yang dulu sangat akrab dengannya. Ia lalu melihat jam di tangannya hampir pukul 5 sore. Seharusnya sebentar lagi Gina muncul di sini untuk pulang. Surya masih berada di dalam mobilnya sambil menunggu Gina.
Tidak lama kemudian Gina benar-benar muncul. Ia berjalan diiringi oleh Hanna dengan stileto kesayangannya yang menimbulkan bunyi detak di lantai basement. Surya lalu membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobilnya untuk menyapa Gina. Dari arah Gina berjalan, Surya melihat Gina pun akhirnya tahu dirinya ada di sana. Surya menyambut Gina dengan senyuman. Itu semakin membuat Surya tampak sempurna di mata Gina. T-Shirt berwarna putih dengan kemeja flanel bermotif kotak sebagai outer serta celana denim warna biru muda. Gina merasa Surya mulai bisa berpenampilan casual sekarang.
"Nona, saya permisi pulang." Pamit Hanna yang terlihat sekali ingin memberi ruang atasannya agar bisa berdua dengan Surya yang juga adalah sahabatnya.
"Ya." Jawab Gina sambil mengulas senyum mempersilakan.
"Mari, Pak." Tidak lupa Hanna berpamitan juga dengan Surya dan menggunakan bahasa formal. Surya mengangguk dan tersenyum sebelum Hanna lalu memasuki mobilnya sendiri.
"Ku rasa kau belum bisa benar-benar move on dari R-Company." Kalimat sambutan dari Gina setelah ia dan Surya hanya berjarak beberapa langkah saja sekarang.
"Atau karena bertahun-tahun selalu berkantor di sini sehingga kau masih sering berhalusinasi untuk bekerja di sini." Kali ini kalimat Gina membuat Surya tertawa kecil. Bagaimana tidak, ucapan Gina memang mengandung kelucuan bagi Surya.
"Anda benar, Nona. Saya memang belum bisa move on dari tempat ini dan membuat saya sering berhalusinasi yang membuat saya selalu datang ke sini. Hati saya seperti tertinggal di sini. Hati saya yang terbawa oleh Anda."
Cess, seperti ada sesuatu yang membasahi hati Gina. Cukup menyegarkan dan membuatnya sekilas tersenyum karena perasaan senangnya seolah tumpah hingga ia tidak bisa mengendalikam ekspresinya.
"Semakin hari kemampuan menggombalmu semakin menakutkan." Ujar Gina setelah mulai menguasai perasaannya lagi.
"Apa itu artinya Anda takut jika terpikat oleh kemampuan menggombal saya?" Ujar Surya sambil tersenyum dengan memamerkan deretan gigi rapi dan mata coklat terang diterpa lampu basement. Gina jadi semakin salah tingkah dibuatnya.
"Ahh sudahlah, apa yang kau lakukan di sini?"
"Menunggu Anda." Jawaban Surya membuat Gina mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Sepanjang hari ini saya gelisah. Saya merindukan Anda." Kalimat Surya kali ini benar-benar membuat Gina semakin gemas kepadanya.
"Sekarang sudah bertemu. Jadi sudah cukup, bukan?" Ujar Gina sambil berlalu meninggalkan Surya untuk menuju ke mobilnya.
"Belum, Nona. Sebenarnya saya juga ingin mengajak Anda ke suatu tempat."
"Kemana?" Gina berbalik badan.
Dan disinilah Gina berada sekarang. Di warung Angkringan Rejo milik Surya dengan keramaian pengunjung yang memanjang. Gina masih berdiri di area luar warung dengan mata tidak percaya oleh pemandangan di depannya. Sayup-sayup Gina mendengar alunan musik dari dalam sana.
"Lalu, apa maksudnya ini? Kau 'menculikku' untuk datang ke sini?" Gina bingung kenapa mengajak ke warungnya yang sangat ramai ini.
"Hari ini adalah hari peresmian warung, Nona. Jadi antrian memanjang seperti ini." Ujar Surya yang berdiri di sisi Gina.
Di salah satu sisi warung ada sebuah spanduk dengan bertuliska 'Beli 1 gratis 1'. Lalu Gina merasa itu menjadi masuk akal. Itu adalah salah satu trik marketing yang dipakai Surya juga di R-Company setiap pembukaan R-Store baru. Dan hingga saat ini, trik marketing itu juga masih ia pakai.
Kemudian ada yang sedari tadi menyita perhatian Gina. Seorang penyanyi dan seorang pemain organ sedang berada di depan warung. Mereka tampak sedang menyajikan hiburan bagi para pengunjung yang datang terutama untuk mereka yang masih mengantri. Surya memang selalu pandai dalam hal ini. Ia memiliki ide-ide kreatif untuk menarik minat pelanggan sehingga bisa mengembangkan usahanya juga. Gina memperhatikan mereka dan Surya tahu itu.
"Saya ingin membuat pengunjung yang sedang mengantri menjadi terhibur, Nona. Agar dalam penantian mereka seolah sedang menyaksikan konser kecil-kecilan. Mereka juga boleh meminta lagu yang mereka inginkan atau bahkan bernyayi disana. Berduet dengan penyanyinya juga boleh. Anda mungkin ingin menyanyi?" Tawar Surya menggoda Gina.
"Tidak terima kasih, aku akan terlihat terlalu sempurna jika harus bisa menyanyi juga." Surya tertawa mendengar lelucon Gina yang memiliki unsur narsis itu.
"Kalau begitu, mari kita masuk, Nona." Ajak Surya dengan menarik tangan Gina. Gina merasa seperti sedang tersengat listrik ketika jemari Surya menyentuh jemarinya. Sentuhan tangan mereka sekarang lebih bisa didefinisikan sebagai bergandengan tangan. Hampir semua orang yang sedang mengantri di depan warung melihat mereka. Gina merasa tidak nyaman ketika seolah dirinya menjadi pusat perhatian. Ia berjalan sambil menundukkan kepala untuk sedikit menutupi wajahnya.
Surya lalu membawa Gina duduk di sebuah meja kosong. Gina merasa heran karena di luar banyak yang mengantri tapi di dalam masih tersisa sebuah meja yang bisa ia tempati.
"Silakan duduk, Nona. Saya akan meminta anak-anak membawakan hidangan. Saya akan membantu di sana." Ujar Surya kepada Gina dan memutar badan untuk meninggalkannya.
"Apa maksudnya coba? Dia membawaku kemari hanya untuk makan sendiri sambil melihatnya melayani pembeli? Dasar tukang pamer." Gumam Gina yang berfikir bahwa Surya membawanya untuk memberitahukan padanya bahwa dia membuka warung angkringan baru lagi. Sehingga semakin jelas betapa suksesnya Surya walau tidak perlu bekerja di R-Company lagi.
Gina lalu duduk sambil menikmati keramaian di sekitarnya. Para pengunjung makan dengan lahap. Mulai dari anak muda hingga orang-orang dengan usia lanjut berada di sana menikmati angkringan Rejo diiringi dengan lagu-lagu dari penyanyi wanita dan penyanyi pria yang ada di depan warung. Gina juga jadi ikut menikmati lagu yang mereka nyanyikan secara berduet itu. Kali ini mereka sedang menyanyikan lagu yang berjudul Sampai Akhir, yaitu lagu milik Judika yang dinyanyikan bersama Duma Riris.
__ADS_1
"Kasih ku berjanji selalu menemani
Saat kau bersedih saat kau menangis"
Lagu itu rasanya sangat enak didengar dan membuat Gina tanpa terasa turut menyanyikan di beberapa bait yang ia ingat liriknya.
"Selama nafasku masih berdesah
Dan jantungku terus memanggil indah namamu
Takkan pernah hati ini mendua
Sampai akhir hidup ini"
Dari tempatnya duduk, Gina melihat Surya berjalan ke arahnya. Sambil membawa sebuah nampan berisi segelas teh hangat dan sepiring kerupuk beras.
"Silakan Nona, sambil menunggu hidangan utama, silakan menikmati camilan dulu."
"Kau mau membuatku gemuk ya?" Gina menatap Surya tajam.
"Saya menyukai Anda apa adanya. Jadi, menjadi gemuk pun tidak mengurangi rasa suka saya kepada Anda." Mendengar kalimat Surya itu Gina jadi salah tingkah.
"Bicara apa kau ini." Gina benar-benar tidak bisa menyembunyikan ekspresi tersipunya walaupun ia tahu itu adalah rayuan yang sangat receh.
"Baiklah, silakan menikmati camilan dulu."
"Kau mau meninggalkanku lagi?"
"Hanya membantu mereka, Nona. Sepertinya mereka cukup kerepotan."
"Kalau begitu seharusnya kau tidak usah membawaku kemari kalau hanya akan menjadi pajangan di sini."
"Jadi, tetaplah Anda disini. Anda juga boleh memantau saya. Awasi saya saat sedang sibuk bekerja. Saya senang mendapatkan itu." Gina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Perasaannya benar-benar dikuasai oleh setiap kalimat manis Surya.
Surya pun kembali ke meja angkringan dan turut membantu pegawainya untuk melayani para pembeli. Mereka tampak melayani secepat mungkin agar para pembeli bisa segera bergantian dengan yang masih mengantri di luar. Bahkan Surya pun memberi bonus minuman lagi selain beli 1 gratis 1 untuk para pembeli yang membeli untuk dibawa pulang.
"Kenapa kau memberi mereka kelebihan-kelebihan yang bahkan mungkin akan membuatmu rugi pada penjualan hari pertama?" Tanya Gina tadi saat melihat spanduk bertuliskan 'Beli 1 Gratis 1' di depan warung Surya begitu tiba.
"Nona, itu saya buat dengan sebuah tujuan."
"Apa?"
"Selain sebagai pembukaan, saya juga menjadikannya sebagai acara syukuran. Sehingga, satu porsi bonus itu adalah syukuran dari warung yang saya buka. Jadi, bukan semata-mata untuk saya jadikan sebagai penarik minat pembeli saja, Nona."
Gina menyimak penjelasan Surya dengan pandangan kagum. Ternyata Surya bahkan berfikir hingga hal itu yang dia tidak pernah memikirkannya. Dan saat melihat Surya melayani pembeli saat ini membuatnya teringat bagaimana ketika Surya berjumpa dengan investor atau dengan relasinya. Kesan ramah dan cerdas selalu adalah yang paling menonjol darinya. Menurut Gina, bakat pengusaha Surya sudah bisa ia implementasikan dalam berbagai sektor. Entah itu adalah perusahaan besar atau adalah sebuah warung angkringan.
"Menurutmu, siapa dia?" Suara seorang wanita dibelakang Gina yang bisa ia dengar.
"Sepertinya dia adalah pacarnya." Ujar wanita lain yang ada di meja belakang Gina. Tapi Gina berusaha tidak menghiraukan dan duduk dengan tenang seperti tidak mendengar suara mereka.
"Tapi aku pernah mendengar kalau pemilik warung itu..."
"Pak Surya, namanya." Celetuk temannya memberi tahu namanya. Mendengar nama Surya disebut, Gina jadi mulai menajamkan pendengarannya.
"Hei, kau bahkan tahu nama pemilik warung ini?" Tanya temannya.
"Aku tahu dari media sosial Angkringan Rejo. Ada di salah satu posting yang mewawancarainya. Dari situ tertulis nama pemiliknya itu adalah Surya."
"Wah, namanya saja sudah bisa menghangatkanku. Apalagi senyumnya... lihatlah senyumnya... ahh, hatiku menghangat demi melihatnya." Apa yang wanita itu katakan membuat Gina ikut melihat Surya juga.
__ADS_1
Ternyata di meja angkringan, Surya sedang melayani pengunjung wanita dan tampak berbincang dengannya. Surya memang tampak sedang tersenyum pada wanita itu. Dan wanita itu dengan wajah sumringahnya seolah ingin berlama-lama di sana.
"Hei, apa yang mau kau katakan tadi?" Tanya wanita di belakang Gina tadi dan masih bisa di dengarnya. Gina heran, apakah ia sengaja melakukannya. Atau mereka tidak tahu bahwa suaranya terlalu jelas dan membuat Gina bisa mendengar itu.
"Oh iya, ku dengar sebenarnya Pak Surya sudah menikah."
"Benarkah?"
"Tapi, ada kabar lain bahwa dia sekarang sudah menduda. Dia bercerai dari istrinya."
"Benarkah? Tapi kenapa?"
"Entahlah. Ku rasa istrinya pasti bodoh jika melepaskan pria semapan dan setampan Pak Surya." Mendengar itu, Gina mengepalkan tangannya karena merasa mereka seenaknya sendiri saja membuat kesimpulan tanpa dasar. Ingin sekali Gina membantah apa yang wanita dibelakangnya itu katakan.
"Hei, belum tentu seperti itu. Siapa tahu mereka bercerai karena memang ada hal yang tidak kita tahu."
"Atau jangan-jangan mereka bercerai karena Pak Surya ternyata adalah seorang flamboyan? Lihatlah, bagaimana dia menebar pesona pada pengunjung wanita itu." Lagi-lagi Gina melihat ke arah Surya yang masih berbincang-bincang dengan wanita tadi.
Gina benar-benar merasa terbakar sekarang. Bagaimana bisa dari tadi Surya sepertinya sangat nyaman berbincang dengan wanita berambut pendek dan baju bergaris mendatar yang ia padukan dengan celana palazzo itu. Sepertinya apa yang wanita-wanita itu katakan benar. Mungkin saja Surya sedang menebar pesona kepada wanita itu.
"Sebentar, sepertinya aku tidak asing dengan wanita ini." Gina mendengar lagi kalimat seorang wanita di belakangnya.
"Oh ya? Apakah dia benar-benar pacar Pak Surya? Apa Pak Surya pernah memposting fotonya di akun media sosial pribadinya?"
"Bukan... entah dimana tapi... Hei, lihatlah di sana. Di depan Swalayan R-Store itu. Bukankah dia orangnya?" Gina turut melihat keluar warung dan memang menemukan wajahnya di dalam baliho besar di depan R-Store itu. Gina lalu menundukkan wajah berusaha menyembunyikan wajahnya agar orang lain yang ada disana tidak turut mengenalinya.
"Wah, ternyata dia adalah model R-Store. Pak Surya sangat hebat bisa membawa model R-Store itu datang kemari. Apakah dia juga akan menjadi model Angkringan Rejo?" Gina tersenyum kecut mendengar perbincangan dua wanita itu.
Lalu Gina melihat ke arah Surya lagi dan ternyata ia masih melayani wanita tadi. Kali ini Gina tidak tahan dan berdiri dari duduknya untuk mendekati Surya. Tepat saat itu salah seorang pegawai suruhan Surya berjalan ke arah Gina sambil membawa nampan berisi pesanan Surya.
"Nona, Anda mau kemana?" Tanya pegawai yang mendapat instruksi dari Surya kepada Gina yang berpapasan dengannya.
"Aku harus ke toilet. Berikan ini kepada pelanggan lain dulu. Dan juga, berikan juga meja itu."
"Tapi, Pak Surya ingin Anda makan di sana."
"Berikan dulu kepada pelanggan lain." Gina lalu berjalan meninggalkan pegawai itu yang kebingungan.
Dari tempatnya berdiri saat ini, ia bisa melihat pegawainya berdiri bingung dan lalu kembali ke meja angkringan di tempat Surya.
"Kenapa dibawa ke sini lagi?" Tanya Surya kepada pegawainya.
Lalu pegawainya mengatakan apa yang Gina katakan padanya. Surya pun melanjutkan menata angkringan di meja agar pelanggan lebih mudah mengambil. Tapi sebentar kemudian Gina kembali dan kali ini mendekati Surya.
"Surya..." Panggil Gina.
"Iya Nona. Anda sudah selesai?" Tanya Surya melihat Gina mendekatinya.
"Toilet penuh. Tapi aku sudah tidak tahan." Bisik Gina seperti sedang menahan sesuatu. Surya lalu memandang Gina dan ia memang mendapati wajah Gina yang sudah pucat karena sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan.
"Baiklah, silakan pakai toilet di kamar atas, Nona. Di kamar dengan pintu warna putih. Ini kuncinya." Surya menyerahkan sebuah kunci kepada Gina yang lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
Surya masih tampak sibuk membantu pegawainya melayani pembeli. Tapi kemudian ia mengingat sesuatu dan lalu bergegas pergi untuk naik ke lantai dua warung. Ia dengan setengah berlari berusaha menuju ke suatu tempat. Ia pun akhirnya sampai di lantai dua dan segera menuju satu-satunya ruangan dengan pintu berwarna putih seperti yang ia katakan kepada Gina tadi diantara ruangan lain yang memiliki pintu berwarna kayu alami. Dan saat membuka pintu, Surya menemukan Gina sedang berdiri di salah satu sudut ruangan dan menghadap ke dinding. Melihat seseorang membuka pintu, Gina menoleh dengan pandangan yang tidak mau Surya tebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Itu... itu hanya... Maafkan saya, Nona. Saya akan melepaskan semuanya." Ujar Surya dengan suara rendah penuh rasa sesal.
"Surya... ayo kita berpacaran." Kalimat Gina membuat Surya mengerutkan kening dan hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Perlahan Surya melangkahkan kaki mendekati Gina.
"Nona?" Sekarang Surya hanya ada selangkah di depan Gina.
__ADS_1
"Mari kita mengulangnya kembali dari awal." Jawab Gina dengan menatap sekilas kepada Surya tapi setelah itu ia menatap ke arah tembok lagi.