Tahta Surya

Tahta Surya
Fakta Baru


__ADS_3

"Aku kenyang sekali." Keluh Gina sambil bersandar di jok mobil Surya yang nyaman.


Surya sempat melirik Gina yang membuat dirinya semakin nyaman dan menempelkan kepalanya pada headrest. Entah karena kelaparan atau memang ia sedang ingin makan nasi padang, siang ini Gina sangat lahap menghabiskan makanannya. Rendang, ayam bakar, dendeng batokok dan sayur daun singkong adalah lauk dan sayur yang ia pilih dari deretan piring yang tertata di atas mejanya. Menyelesaikan semua itu, Gina lalu memindahkan kepala Kakap dalam sayur gulai ke dalam piringnya juga. Tanpa malu-malu atau canggung Gina menikmati daging dari kepala kakap itu dengan kedua tangannya.


Melihat Gina yang sangat brutal saat makan seperti itu sangat menyenangkan bagi Surya. Gina hampir tidak pilih-pilih makanan. Ia menyukai semua jenis makanan asalkan tidak memberi rasa terlalu pedas. Gina tidak menyukai makanan dengan tingkat kepedasan tinggi. Menurutnya, makanan pedas membuatnya tidak bisa menikmati rasanya karena lidahnya hanya akan fokus pada rasa pedas, sehingga ia tidak bisa menikmati rasa lainnya.


Gina meminum air putih di sampingnya dan lalu tersenyum puas setelah menghabiskan semua itu. Tapi ia lalu terkesiap saat Surya menyentuh bibirnya dengan tisu.


"Kenapa? Aku belepotan?" Tanya Gina dan dijawab dengan anggukan oleh Surya sambil tersenyum.


"Seharusnya kau tidak perlu melakukan itu. Kau cukup memberitahuku saja." Gina mengusap sendiri bibirnya setelah Surya menarik tangannya. Ia tahu pasti wajahnya sudah tidak ada sisa makanan sekarang tapi itu ia lakukam untuk menutupi kegugupannya telah diperlakukan seperti itu oleh Surya.


Gina mengingat hal itu dan merasa Surya selalu membuatnya ingin melewati batas terus dan terus. Apa Surya sengaja melakuan itu untuk merayunya atau karena Surya memang hanya perhatian, yang jelas semuanya membuat Gina nyaman. Dan kenyamanan itu semakin membuatnya semakin menyukai Surya. Gina tersenyum kecut pada dirinya sendiri yang merasa mungkin sudah gila karena membiarkan perasaan sukanya menjalar begitu saja. Dan bahkan setelah tahu Surya memiliki kekasih yang berjumlah lebih dari seorang malah membuatnya merasa tertantang untuk memenangkan hati Surya.


Gina berpisah dengan Surya di lift dan ia keluar lebih dulu di lantai ruangannya berada. Surya melanjutkan ke lantai tempat ruangannya sendiri di lantai lebih atas. Perlahan Gina berjalan mendekati ruangannya. Tapi saat hendak memegang gagang pintu, ia mendengar percakapan dua orang. Gina heran, siapa yang berbincang di ruangannya. Ia mulai menempelkan telinganya lebih dekat pada pintu dan semakin lebih jelas suara itu. Salah satunya adalah suara Hanna dan satunya lagi suara pria yang sepertinya Gina kenal. Mereka sepertinya sedang berdebat. Gina semakin menajamkan pendengarannya tapi kemudian terdengar suara sesuatu dilempar ke arah pintu. Gina melompat karena kaget dan yakin telah ada keributan di dalam sana yang mungkin saja bisa mengakibatkan pertumpahan darah.


Tanpa pikir panjang Gina lalu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Benar, setumpuk file berserakan di lantai dekat kakinya berdiri begitu Gina sudah ada di dalam ruangan.


"Ada apa ini?" Tanya Gina pada dua orang yang sedang memandangnya lurus.


"Dan kau, kenapa kau ada di sini? Di ruanganku?" Gina memandang Marco tajam.


"Apa yang kau lakukan di sini dan membuat kekacauan ini?" Suara Gina meninggi.


"Hanna, kau tidak apa-apa?" Gina mendekati Hanna yang berdiri di balik meja kerjanya berhadapan dengan Marco yang mematung di depan mejanya.


"Maafkan saya, Nona. Sayalah yang membuat kekacauan di ruangan ini." Mata Hanna berkaca-kaca.


Baru kali ini Gina melihat Hanna seperti itu. Wajahnya menyiratkan kegelisahan sekaligus kemarahan. Tapi Gina kemudian mengabaikan Hanna dan mengalihkan pandangan kepada Marco.


"Kau... apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau mengganggu Hanna? Ini bahkan bukan perusahaanmu dan kau membuat kekacauan di ruanganku." Omel Gina. Tapi Marco tidak bergeming.


"Pergilah dari sini sebelum aku memanggil security. Pergilah, saat aku masih menghormatimu sebagai relasi R-Company." Suara Gina mulai meninggi.


"Maafkan aku telah membuat keributan di ruanganmu." Ujar Marco tenang.


"Aku hanya sedang ada sedikit urusan dengan pacarku." Kalimat Marco kali ini membuat Gina membelalakkan matanya bergantian memandang Marco dan Hanna.


"Pacar?" Ulang Gina tidak percaya dengan telinganya saat menangkap kalimat itu dari bibir Marco.


Gina duduk dibalik meja kerjanya sambil memperhatikan Hanna yang memunguti ceceran file di lantai. Marco sudah keluar dari ruangannya setelah Hanna memintanya untuk keluar dan berjanji akan menemuinya setelah jam kerjanya habis. Gina masih memandang setiap gerakan Hanna dan itu membuatnya tidak nyaman.


"Sekali lagi saya minta maaf, Nona." Hanna yang merasa sedari tadi Gina memperhatikan, lalu meminta maaf lagi kepadanya.


"Sayalah yang melempar file-file ini, Nona."


"Kenapa kau lempar ke arah pintu? Kenapa tidak kau lempar kewajahnya saja? Pria brengsek seperti dia pantas mendapatkan itu." Ujar Gina dingin karena merasa kesal kepada Marco yang sudah bertengkar dengan Hanna.


Saat Marco mengatakan bahwa dirinya adalah pacar Hanna, rasanya Gina ingin pingsan mendengarnya. Bukan hanya Surya yang memiliki banyak wanita tapi Hanna bahkan berpacaran dengan tiga pria sekali jalan. Itu sangat menakjubkan bagi Gina.


"Tidak Nona, saya yang bersalah. Saya tidak ingin malah menyakitinya."


"Benarkah? Kenapa kau menyakitinya? Ku pikir dia pasti yang lebih berpotensi bersalah padamu daripada sebaliknya."


"Benar, Nona. Ini kesalahan saya sehingga Marco menjadi marah dan saya harus meluapkan kekesalan saya karena dia tidak bisa menerima penjelasan saya. Sehingga saya harus melempar semua ini agar Marco berhenti menyudutkan saya."

__ADS_1


"Ahh, entah apa yang sedang terjadi pada kalian tapi rasanya aku tidak percaya kau berpacaran dengan Marco." Gina bersandar pada kursinya.


"Ku pikir kau berpacaran dengan Bayu. Benar bukan?" Gina memandang Hanna yang jadi salah tingkah setelah mendengar penuturan Gina.


"Jadi, kau berpacaran dengan keduanya?" Cecar Gina. Hanna malah terseyum menanggapi Gina.


"Tidak Nona, sebenarnya saya tidak berpacaran dengan Bayu. Kami hanya berteman."


"Benarkah?" Gina menegakkan punggungnya dan melipat kedua tangannya di atas meja karena ingin memandang Hanna lebih dekat. Hanna mengangguk menjawab Gina tanpa suara.


"Jadi, pacarmu adalah Marco?"


"Iya, Nona. Maafkan saya karena telah mengiyakan saja ketika Nona mengira saya dan Bayu berpacaran. Saya tidak bermaksud membohongi Nona tapi saya tahu Nona mungkin akan merasa tidak nyaman kepada saya kalau Anda tahu saya adalah pacar dari mantan pacar Anda yang paling Anda benci." Gina menyimak baik-baik penjelasan Hanna dan merasa asisten pribadinya telah jujur mengatakan itu semua.


"Sayang sekali. Padahal aku bisa sangat merestui ketika kau mengaku berpacaran dengan Bayu ketimbang saat aku tahu sebenarnya kau adalah pacar Marco." Gumam Gina.


"Ngomong-ngomong, kau yakin hanya berpacaran dengan Marco?" Gina memastikan. Ini adalah kesempatannya mencari tahu tentang hubungannya dengan Surya.


"Maaf, Nona?" Hanna tidak yakin dengan maksud Gina sebenarnya.


"Oh iya, maaf." Gina sadar bahwa pertanyaannya mungkin bisa menyinggung perasaannya karena itu bisa berarti Gina menuduh Hanna adalah seorang playgirl jika berfikir ia memiliki pacar selain Marco.


Gina diam sambil mendengarkan musik yang diputar oleh Surya dari perangkat audio di mobilnya. Itu agak terasa aneh bagi Surya. Gina menjadi pendiam kali ini. Entah ada yang salah dengannya atau ada hal lain yang sedang difikirkannya dan itu membuat Surya tidak nyaman.


"Nona, Anda ingin berbelanja sesuatu?" Tanya Surya ingin memecah kesunyian diantara mereka.


"Tidak." Jawab Gina singkat.


"Makan malam kita, Anda ingin apa?"


"Anda baik-baik saja, Nona?"


"Ya... Oh tidak..." Surya menoleh kepada Gina yang meralat jawabannya itu.


"Anda sakit?"


"Tidak juga, tapi aku sedang bingung."


"Kenapa?"


"Aku tidak percaya Hanna dan Marco berpacaran."


"Oh tentang itu." Jawab Surya santai. Dan itu membuat Gina merasa aneh.


"Kau... tahu tentang ini?"


"Benar, Nona."


"Apa??? Kau... tahu? Apa kau dan Marco sedekat itu?" Sekali lagi Gina mengambil kesempatan untuk mencari tahu hubungan antara Surya dan Hanna. Tapi kali ini ia menggunakan nama Marco sebagai umpannya.


"Sebenarnya saya dan Pak Marco tidak terlalu dekat, kami hanya relasi bisnis saja, seperti yang Anda tahu. Tapi kemudian Hanna berpacaran dengannya sehingga Pak Marco pun menjadi teman saya juga."


"Temanmu juga?" Tanya Gina menangkap suatu kejanggalan dari kalimat Surya pada kata 'juga'.


"Iya, Nona."

__ADS_1


"Apa maksudmu kau dan Hanna adalah teman?" Gina menatap Surya yang masih berkomsentrasi memegang setir.


"Benar, Nona. Hanna adalah junior saya selama di kampus."


"Oh ya?" Gina membelalakkan matanya mendapati fakta baru tentang Surya dan Hanna. Surya hanya menjawabnya dengan mengangguk.


"Ada berapa banyak lagi rahasia yang tidak ku tahu tentangmu?"


"Maaf, Nona?" Suara Surya sedikit ragu-ragu.


"Bukankah kita telah sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing." Lanjut Surya dengan suara semakin rendah setengah berbisik. Sepertinya ia menyesal mengatakan itu pada Gina karena itu pertanda ia menegaskan pada hubungan mereka saat ini.


"Ahh iya, kau benar. Kita memang tidak berada pada hubungan untuk saling mengenal satu sama lain. Kita bahkan tidak bisa berteman. Kita berada pada hubungan yang nanti aku harus menggantikan posisimu di R-Company dan kau harus bersedia menyerahkannya."


"Benar Nona, seperti itulah kita." Jawab Surya masih melajukan mobilnya menuju rumah.


Gina menarik nafasnya berat. Setelah mengatakan itu semua, perasaanya jadi kacau. Hatinya menjadi sakit menyadari bahwa memang sejak awal ia tidak boleh menyukai Surya. Surya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi tambatan hatinya. Pertama, ia adalah orang yang dijadikan Papanya untuk menggantikan dirinya saat ini di R-Company karena Pak Rangga menganggap dirinya belum layak berada di posisi tertinggi. Kedua, Mamanya tidak menyukai Surya dan akan menentang perasaannya andai Mamanya benar-benar tahu itu. Ketiga, Surya ternyata bukan pria single. Dibalik kehidupannya yang tertutup, ia memiliki hubungan asmara yang ia rahasiakan selama ini dengan sekretarisnya.


Berhari-hari Gina berfikir itu adalah alasan yang cukup masuk akal untuk menghapus perasaan sukanya kepada Surya. Tapi nyatanya hatinya terlalu berat untuk melepaskan perasaan itu begitu saja. Ia merasa Surya adalah pria yang bisa menenangkan hatinya, pria yang paling memahaminya, paling mengenalnya lebih dari siapapun. Bahkan Surya tahu kebiasaan-kebiasaanya yang orang tuanya saja tidak tahu. Bagaimana caranya membujuk saat ia marah, bagaimana Surya menghibur saat ia sedih, bagaimana ia menenangkan saat Gina merasa gelisah pada suatu hal. Gina mulai jatuh cinta karena itu semua yang pada dasarnya adalah perhatian yang Surya tunjukkan padanya. Perhatian yang tidak ia dapatkan dari siapapun.


"Tapi ngomong-ngomong, dari mana Anda tahu Hanna berpacaran dengan Pak Marco?"


"Kita tidak terlalu dekat untuk kau tahu dari mana aku tahu tentang hal itu." Jawab Gina cuek.


Surya tersenyum kecut mendengarnya. Ia tahu Gina sedang membalasnya dengan menunjukkan posisi hubungan mereka saat ini.


Sedangkan di sebuah restoran Marco melihat Hanna memasuki pintu dan berjalan menuju ke tempatnya menunggu. Hanna duduk di salah satu kursi lalu meletakkan tasnya di kursi yang lain.


"Maafkan aku." Kalimat pembuka Marco sambil memandang Hanna dengan wajah mendungnya.


"Ku akui aku tidak suka melihatmu bersama Bayu pergi bersama seperti itu."


"Harus ku katakan berapa kali Bayu hanyalah teman." Jelas Hanna.


"Tapi aku melihat dia tidak melihatmu sebagai teman. Dimatanya kau adalah seorang wanita dan sebagai sesama pria, aku tahu itu."


"Sudahlah. Kalau itu lagi yang kau bicarakan, aku akan pergi." Hanna meraih tasnya dan beranjak dari duduknya. Tapi secepat kilat Marco meraih tangan Hanna untuk menahannya. Hanna memandang lengannya didalam cengkraman tangan Marco.


"Baiklah, maafkan aku." Kali ini Hanna melihat sepertinya Marco menyesali perkataannya dan itu membuatnya kembali ke tempat duduknya lagi.


"Bisakah kita melupakan kejadian tadi dan memulai makan malam romantis ala kita?" Bujuk Marco kepada kekasihnya yang sedang marah itu.


"Aku sudah memesan chicken katsu kesukaanmu. Dengan strowberi cake sebagai penutupnya." Hanna memandang Marco dalam-dalam.


"Ini adalah risiko yang harus ku tanggung. Memacari seorang playboy yang sangat piawai merayu wanita." Ujar Hanna pura-pura masih marah. Padahal kemarahannya sudah mereda sejak beberapa saat lalu.


"Ayolah, aku bukan playboy lagi. Jangan percaya apa yang dikataan bosmu. Gina tidak mengenalku sekarang. Dia memang selalu saja berfikiran buruk tentangku."


"Benarkah?" Hanna pura-pura tidak percaya pada ucapan Marco.


"Kau tahu, sepertinya aku terkena batunya. Sepertinya aku telah mendapatkan karmaku. Setelah bertemu denganmu aku merasa tidak ada wanita yang lebih menarik daripada dirimu. Kau benar-benar telah membuatku buta pada semua hal sehingga yang terlihat indah hanyalah kau, tidak ada hal lain lagi."


"Kau benar-benar playboy sejati yang pandai merayu. Kau berbakat sekali dalam hal ini." Gumam Hanna melihat bagaimana Marco merayunya dengan penuh kesungguhan, berusaha keras untuk membuatnya tidak marah lagi.


Hanna lalu tersenyum. Melihat itu Marco menjadi lega. Itu menandakan kekasihnya sudah tidak marah lagi. Ia meraih tangan Hanna di atas meja dan menggenggamnya lembut. Marco tidak habis fikir bagaimana bisa begitu menyukai gadis di depannya. Sejak pertemuan pertamanya beberapa tahun lalu di R-Company saat Hanna baru saja diterima menjadi pegawai R-Company, Marco merasa gadis itu telah menawan hatinya. Matanya yang tajam tapi menenangkan itu sangat menarik hatinya untuk mengenalnya lebih dekat dan seperti gayung bersambut, Hanna pun menerima cintanya.

__ADS_1


__ADS_2