Tahta Surya

Tahta Surya
Beristirahat


__ADS_3

"Jadi, ada apa?" Tanya Bu Marina kepada suaminya yang duduk di meja makan dan menunggu piring berisi nasi goreng yang mulai di isi olehnya.


"Ku rasa Gina mengambilkan nasi goreng untuk Surya." Pak Rangga menerima piringnya dan tersenyum mengingat apa yang baru saja Gina lakukan.


"Kenapa?" Tanya Bu Marina heran. Ia merasa tidak mungkin Gina melakukan hal itu. Sedangkan Pak Rangga hanya mengangkat pundaknya.


"Kurasa mereka sudah mulai saling beradaptasi sekarang."


"Apa?" Bu Marina setengah berteriak mendengar penuturan Pak Rangga.


"Kenapa kau berlebihan seperti itu? Bukankah bagus mereka menjadi pasangan normal?" Pak Rangga menyendokkan nasi gorengnya.


"Bagus?" Bu Marina sepertinya masih tidak bisa menerima perkataan suaminya.


Pak Rangga tahu memang sebenarnya istrinya itu kurang menyetujui ide perjodohan dan pengalihan perusahaan yang dipatenkan olehnya kepada Surya. Bu Marina merasa Surya kurang sederajat dengan mereka. Surya hanya pemuda dari kampung yang bisa seperti sekarang karena Pak Rangga yang membuatnya seperti itu. Mulai dari biaya pendidikan hingga ditarik sebagai pegawai di perusahaan mereka, Surya seperti bisa mendapatkannya dengan mudah.


Bu Marina juga merasa Pak Rangga sangat berlebihan. Hanya karena berusaha membantu putra mereka saat mengalami kecelakaan waktu itu, Pak Rangga merasa telah banyak berhutang budi. Sementara itu Roby pun tetap akhirnya tidak bisa diselamatkan dan meninggalkan mereka semua.


Tak jarang Bu Marina juga merasa perlakuan Pak Rangga yang berlebihan itu disebabkan karena ia masih belum bisa menerima jika harus kehilangan Roby, anak laki-laki mereka. Sehingga menganggap Surya seperti anaknya sendiri seperti sebuah obat baginya yang telah ditinggalkan oleh Roby. Sedangkan Bu Marina tetap tidak bisa menerima itu. Ia tetap tidak bisa menyamakan Roby, putra mereka dengan Surya yang hanya adalah seorang anak dari kampung.


"Papa benar-benar ingin Gina menjadi istri Surya? Bukan hanya sebagai alat untuk membuat Gina berpaling kepada R-Company?"


"Melihat mereka seperti itu aku jadi memiliki harapan yang lebih dari pada sebelumnya."


"Apa Papa sudah gila?"


"Tidak, aku cukup waras untuk menginginkan hal itu." Pak Rangga santai.


"Gina tidak akan pernah bisa berada di R-Company tanpa adanya Surya di sana. Dia seorang wanita. Aku tidak ingin dia menjadi seperti Mama."


"Apa maksud, Papa?" Bu Marina memicingkan mata meraba kira-kira apa yang sedang difikirkan oleh suaminya.


"Aku ingin kelak dia benar-benar menjadi ibu untuk anak-anaknya. Aku tidak mau cucu-cucu kita nanti seperti Gina yang kurang perhatian dari kedua orang tuanya dan memiliki sikap yang tidak baik dan semaunya sendiri." Ujar Pak Rangga dengan memandang wajah istrinya lembut.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu, Ma." Pak Rangga menggenggam tangan istrinya.


"Seharusnya aku tidak membiarkanmu terlibat terlalu banyak di dalam perusahaan sehingga membuatmu tidak bisa melakukan tugasmu sebagai wanita seutuhnya. Maafkan aku." Mata Pak Rangga berkaca-kaca saat mengatakan apa yang sudah lama ingin ia katakan itu.


"Aku tahu sekarang sudah terlambat, tapi mari kita perbaiki ini untuk penerus kita selanjutnya, Ma. Cucu-cucu kita." Bu Marina melihat kesungguhan dari setiap ucapan suaminya.


"Tapi kenapa harus Surya, Pa? Dia sangat berbeda dengan kita."


"Kalau alasannya masih tentang latar belakang Surya, mari kita tidak menilai orang dari apa yang ia punya tapi kita lihat saja bagaimana dia. Dia baik. Dia sangat baik untuk putri kita. Kau bisa melihatnya sendiri bukan bagaimana Gina sekarang mulai berubah karena Surya ada di balik semua itu. Aku yakin tidak ada pria yang akan tahan bersama Gina. Bahkan Faris yang sudah lama mengenalnya saja tidak bisa jatuh cinta padanya walaupun putri kita memiliki wajah yang sangat cantik. Karena Gina bukan orang yang mudah untuk dihadapi. Dan aku rasa Surya sangat mampu membuat Gina menjadi baik."


"Ahh, entahlah..." Bu Marina menarik nafas berat saat menanggapi penjelasan suaminya. Ia merasa masih belum bisa menerima itu semua begitu saja. Ia lalu beranjak dari kursinya dengan membawa piring yang baru saja ia isi dengan nasi gorengnya.


"Kau mau ke mana dengan piring itu?" Tanya Pak Rangga melihat istrinya berdiri.


"Sepertinya sesekali aku harus makan di kamar."


"Hei, lalu apa gunanya memiliki rumah besar dengan meja makan besar yang kayunya ku datangkan langsung dari Afrika ini." Ucap Pak Rangga menirukan Bu Marina tadi. Hanya saja ia menggunakan sedikit perbedaan kalimat untuk membuat Bu Marina ingat semahal apa meja makan mereka yang ia beli.


"Aku akan mengantar sarapan kepada Gina. Menjadi istri yang baik dan benar itu butuh tenaga." Jawab Bu Marina lalu meninggalkan Pak Rangga untuk menuju ke kamar putrinya di lantai dua.


Pak Rangga tersenyum kecut melihat tindakan istrinya. Ia berharap istrinya benar-benar ingin mengantar sarapan untuk Gina. Ia hafal bagaimana sifat istrinya jadi kalau bukan karena itu, mungkin saja ia sengaja ingin hadir diantara mereka untuk suatu maksud.


Bu Marina sudah sampai di depan kamar Gina. Awalnya ia sudah bersiap untuk mengetuk tapi kalau seperti itu, mereka mungkin saja akan menyembunyikan sesuatu darinya saat ia berada di balik pintu. Jadi, ia sengaja membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dulu. Dan saat pintu terbuka, ia melihat Gina yang mengarahkan sendok berisi nasi goreng kepada Surya. Ia merasa pemandangan itu mengganggunya.


"Kalian sedang apa?" Melihat mamanya tiba-tiba muncul dari pintu yang barusan di bukanya membuat Gina mengurungkan niat untuk menyuapi Surya. Surya juga menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang membuka pintu.

__ADS_1


"Mama... kenapa tiba-tiba masuk?"


"Ku lihat kau ingin sarapan di kamar jadi ku bawakan satu piring lagi. Kalian sedang berdua jadi jangan berhemat dengan makan sepiring berdua. Romantis dan hemat itu hal yang berbeda." Ucap Bu Marina menyindir.


"Ahh, ada apa dengan Mama?" Ucapan Gina terdengar lebih mirip seperti keluhan.


"Aku akan mengambilnya sendiri nanti." Gina menghampiri Bu Marina dan mengambil piring di tangan mamanya itu.


"Ngomong-ngomong, terima kasih, Mama." Gina memberinya senyum manis dan berharap agar mamanya segera keluar.


"Tapi, kenapa tiba-tiba Surya harus makan di kamar? Apa Surya sedang sakit?"


"Iya, sebenarnya dia... Mmm..." Gina tampak sulit menjelaskan kepada mamanya ada apa dengan Surya.


"Tidak Ma, saya baik-baik saja." Surya mendekati Gina dan Mamanya.


"Tidak, dia tidak baik-baik saja. Lihat bahunya." Gina memicingkan salah satu lengan baju Surya dan menunjukkan sebuah perban yang memutari lengannya.


"Itu kenapa?" Bu Marina melihat bahu dengan perban Surya.


"Saya terjatuh dan terluka, Ma." Jawab Surya cepat agar mendahului Gina. Ia tidak ingin ibu mertuanya tahu apa yang dilakukan Gina semalam.


"Tidak, Surya tidak jatuh. Tapi aku yang menyebabkan dia terluka." Bantah Gina. Surya tampak membuat kode saat Gina menatapnya dan Bu Marina melihat itu.


"Maksud saya..."


"Semalam aku bertemu preman yang ingin memalak seorang gadis jadi aku memberinya pelajaran tapi salah satu preman membawa senjata tajam dan melukai Surya. Lukanya cukup lebar dan membutuhkan jahitan. Jadi Surya tidak boleh melakukan banyak hal dengan tangan kanannya, Ma." Jelas Gina memotong ucapan Surya yang pastinya akan menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


"Kau seorang pria, kenapa malah terluka? Seharusnya kau lebih bisa menjaga Gina karena dia wanita. Ini malah kau yang menjadi korban."


"Maafkan saya, Ma. Lain kali saya akan lebih berhati-hati."


"Bukan salah Surya, aku yang mengajaknya melawan preman itu. Padahal aku tahu benar Surya tidak memiliki ilmu bela diri. Seharusnya aku tidak melibatkan Surya atau seharusnya aku melindunginya karena aku lebih tahu bahaimana caranya berkelahi, bukan Surya."


"Maafkan saya, Ma." Lagi-lagi Surya meminta maaf. Saat ini ia semakin bisa melihat bagaimana ibu mertuanya menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Surya.


"Sudahlah, Ma. Itu benar-benar salahku. Jangan salahkan dia." Gina membela Surya dari cercaan mamanya.


"Ada yang sedang membutuhkan dokter disini?" Suara lain dari arah pintu yang adalah Pak Rangga. Ketiga orang itu lalu mengalihkahn pandangngan kepadanya.


"Dokter Feri sudah datang, katanya kau yang memanggilnya." Pak Rangga memandang Gina lurus.


"Ku rasa kau terlalu aktif untuk dikatakan sedang sakit saat mengambil sarapan tadi."


"Bukan, aku memanggil dokter Feri untuk Surya." Jawab Gina.


"Surya? Kenapa?" Tanya Pak Rangga mengalihkan pandangan kepada Surya.


"Itu karena semalam mereka berkelahi dengan preman. Bahu Surya terluka." Jawab Bu Marina ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah tahu lebih dulu daripada suaminya.


"Kalau tidak bisa ilmu bela diri seharusnya tidak perlu sok jagoan." Gumam Bu Marina. Tapi itu bisa di dengar dengan jelas oleh semua orang di sana. Termasuk dokter Feri yang adalah dokter yang biasa melayani keluarga mereka.


"Mama, mari kita lanjutkan sarapan kita. Biarkan dokter Feri memeriksa Surya." Ajak Pak Rangga untuk membuat suasana bisa lebih terkendali. Tapi Bu Marina seperti tidak mendengarkan itu tetap berdiri di tempatnya.


Melihat itu, Pak Rangga jadi berinisiatif untuk menggandeng Bu Marina dan mengajaknya keluar dari dalam kamar Gina sementara Surya harus diperiksa oleh dokter Feri.


"Mari, Pak Surya." Dokter Feri meminta Surya agar bersedia diperiksa. Surya berjalan menuju sofa.


"Maaf, lebih baik di tempat tidur. Saya harus memeriksa tekanan darah Anda juga. Hasilnya akan sangat akurat saat Anda berbaring." Ujar dokter Feri sopan. Surya lalu memandang Gina seolah dirinya meminta izin akan menggunakan fasilitasnya. Gina menatap kembali Surya dan seperti mengerti isyarat darinya. Gina memberi isyarat dengan matanya agar Surya menuju tempat tidur. Mendapat kode itu, Surya pun berjalan mendekati tempat tidur.

__ADS_1


Ini pertama Surya kali meletakkan tubuhnya di tempat tidur Gina dan rasanya sangat aneh. Bantal yang ada di kepalanya terasa sangat empuk. Dan seprei yang tersentuh oleh kulitnya terasa sangat lembut. Surya sangat menikmati itu hingga tanpa ia sadari telah memejamkan mata dengan sendirinya. Saat itu ia seperti menghirup aroma yang tidak asing baginya. Aroma Gina.


"Surya, kenapa malah tidur. Dokter harus memeriksamu." Suara Gina menyadarkan Surya dan membuatnya kembali membuka mata. Dengan salah tingkah ia memandang Gina dan Dokter Feri bergantian.


"Tidak Nona, saya hanya berusaha untuk tenang agar Dokter mendapat hasil tensimeter terbaik." Alasan Surya. Gina hanya menganggukan kepala mengerti apa yang dimaksud oleh Surya.


Akhirnya Dokter Feri memulai dengan memeriksa tekanan darah Surya menggunakan tensimeter digital. Angka yang ditunjuk oleh layar LCD tensimeter menunjukkan angka normal.


"Sekarang saya akan memeriksa luka Anda." Dokter Feri perlahan melepas perban yang ada pada bahu Surya dan melihat luka yang telah dijahit itu terlihat agak bengkak.


"Tidak apa-apa. Proses pemyembuhan lukanya normal. Kenaikan suhu pada Anda disebabkan karena proses inflamasi yang sedang terjadi pada luka." Dokter Feri membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa alat untuk menutup kembali luka Surya.


"Saya harap Anda memiliki posisi tidur yang baik agar luka Anda tidak mendapat tekanan dan menyebabkan pembengkakan karena peredaran darah pada luka tidak lancar. Setelah ini saya akan memberi Anda resep obat anti nyeri dan anti infeksi." Dokter sudah selesai dengan pemeriksaan luka. Lalu ia menuliskan pada sebuah kertas berisi resep obat. Setelah itu ia memberikan resep itu kepada Gina.


"Saya harap untuk sementara waktu luka Pak Surya tidak terkena air lebih dulu. Saya sudah memasang plaster anti air. Jadi akan tetap aman walaupun digunakan untuk mandi. Saat badan Anda sedikit demam seperti ini demam, Anda masih boleh mandi dengan air hangat. Dan yang paling penting adalah Anda harus banyak beristirahat dan tidak melakukan aktifitas berat terutama yang menggunakan lengan."


"Baik, Dokter. Terima kasih." Ujar Surya kepada Dokter Feri.


Dokter Feri lalu berpamitan untuk undur diri. Gina mempersilakan dan mengantarnya hingga pintu kamarnya. Setelah mengucapkan terima kasih, ia lalu menutup pintu kembali. Saat berbalik badan, ia melihat Surya mulai bangun dari tidurnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Gina sambil menghampiri Surya yang sudah dalam posisi duduk.


"Saya akan berpindah ke sofa, Nona."


"Kau ini bandel sekali. Dokter mengatakan kau harus beristirahat dengan nyaman tapi kenapa malah mau kembali ke sofa?"


"Iya Nona, saya lebih suka berada di sofa."


"Oh, kau ingin aku menghajarmu sampai kau bahkan tidak bisa merasakan sakit lukamu lagi?" Gina duduk di samping Surya di tepi tempat tidur.


"Tidak Nona."


"Kalau begitu tetap saja disini dan jangan melakukan apapun. Aku sedang berbaik hati padamu jadi jangan tolak kebaikanku yang sangat langka ini. Aku tidak akan sering-sering melakukan kebaikan padamu. Kau tahu itu, bukan?"


"Iya, Nona."


"Oh iya, kau harus melanjutkan sarapanmu. Setelah ini aku akan meminta jasa belanja online untuk membeli obatmu di apotek." Gina berdiri mengambil piring nasi goreng milik Surya.


"Nasi gorengnya sudah dingin, aku akan meminta Mbak Yuyun memanasinya lagi." Gina bermaksud keluar.


"Tidak apa-apa, Nona. Sudah dingin juga namanya tetap nasi goreng." Gina menghentikan langkah dan berbalik pada Surya.


"Tapi rasanya tidak seenak saat masih hangat."


"Saya tetap mau meskipun nasi gorengnya sudah dingin, Nona."


"Dasar kau ini. Kenapa selalu doyan apapun." Gina berjalan mendekati Surya.


"Begitulah seharusnya seorang omnivora, Nona." Gina tidak membalas perkataan Surya dan hanya memanyunkan bibirnya saja menanggapi itu. Ia lalu menyendokkan nasi dan menyuapi Surya. Terlihat Surya sangat canggung mendapatkan perlakuan Gina. Ini benar-benar bukan sesuatu yang biasa terlihat dari seorang Regina Puspa Ranggahadi. Dibalik sikap seenaknya Gina terselip rasa peduli juga padanya. Walaupun itu hanya berawal dari sebuah rasa bersalah seperti yang dikatakan oleh Gina kemarin, tapi setidaknya Gina juga memiliki rasa peduli padanya. Dan itu cukup menenangkan Surya. Entah kenapa tapi rasanya menyenangkan dilayani seperti ini. Sehingga tanpa sadar Surya menarik ke atas bibirnya membentuknya menjadi sebuah senyuman.


"Hei, kenapa kau tersenyum sambil memandangku seperti itu?" Tanya Gina sambil memandang Surya penuh selidik.


"Apa sangat menyenangkan ku suapi seperti ini?"


"Iya Nona, saya menyukainya." Jawab Surya jujur tanpa memberi pengalihan apapun.


"Jangan berfikir aku akan melakukan ini kepadamu terus ya. Aku hanya sedang merasa bersalah kepadamu sekarang. Jadi aku akan memperlakukanmu dengan baik untuk sementara waktu." Gina menekuni sendok yang ia pakai untuk mengambil nasi didalam piring di tangannya.


"Saya tahu Nona. Meskipun saya ingin, saya bahkan tidak pantas memimpikan hal yang lebih dari ini." Ucapan Surya mengutip apa yang pernah Gina katakan waktu itu.

__ADS_1


Tapi mendengar itu Gina merasa ada yang aneh. Kalimat Surya seperti mengandung sesuatu yang ambigu baginya. Ia lalu memandang Surya.


"Apa maksudmu dengan 'meskipun kau ingin'?"


__ADS_2