Tahta Surya

Tahta Surya
Bazar


__ADS_3

Hanna berdiri di balik pintu ruangan Gina. Feby mengangkat kedua tangannya memberi semangat. Hanna benar-benar berusaha agar Gina tidak marah lagi padanya karena hingga hari ini atasannya masih belum berbicara apapun dengannya sehingga itu sangat membuat Hanna tidak nyaman.


"Aku harus bagaimana?" Hanna bersandar di kursi depan meja Feby.


"Nona Gina benar-benar menghukumku dengan tidak mengajakku bicara sama sekali. Dia bahkan makan siang sendiri tanpa mengajakku. Aku merasa ini sangat buruk." Keluh Hanna kepada Feby yang menyimak dari tadi.


"Sepertinya aku harus bersiap mencari lowongan pekerjaan." Ucap Hanna sambil menopang dagunya.


"Kenapa bingung? Pak Marco bisa menempatkanmu di posisi paling bagus diperusahaanya."


"Tidak, aku tidak mau bekerja satu tempat dengannya."


"Kenapa? Bukankah itu jauh lebih baik karena kalian bisa bertemu setiap saat."


"Bayangkan saja jika 24 jam kita selalu bersama lalu kapan aku sempat merindukannya? Sedangkan indahnya sebuah hubungan adalah jika sempat saling merasa merindukan."


"Benarkah seperti itu?" Feby memikirkan kalimat Hanna dan tiba-tiba ia menjadi punya ide.


"Bagaimana kalau kau mengambil cuti beberapa hari agar Nona Gina merindukanmu?" Celetuk Feby.


"Mana mungkin aku meninggalkannya mengerjakan semua hal tanpaku?"


"Justru itu, setelah dia merasa kerepotan sendirian, maka Nona Gina akan merindukanmu dan kalian akan bisa berbaikan setelah bertemu nanti."


"Iya, tapi dengan alasan apa aku mengajukan cuti?"


"Hei, permohonan cutimu yang 2 minggu itu bahkan hanya baru kau nikmati belum sampai 1 minggu. Kenapa kau tidak mengambil sisanya sekarang?" Hanna tampak memikirkan ide dari Feby yang sudah mulai akrab dengannya.


"Tapi... bagaimana kalau Nona Gina lebih marah lagi karena aku meninggalkannya disaat dia marah?" Mendengar kalimat Hanna, Feby lalu berfikir. Hanna juga tampak diam memikirkan itu.


Tapi sekarang ia berdiri di balik pintu ruangan Gina sambil berharap rencana meminta maafnya kepada atasannya itu bisa berjalan lancar. Ia mulai mengetuk pintu dengan perasaan yang tidak menentu. Dan saat Gina mempersilakannya masuk, Hanna segera membuka pintu lalu memasuki ruangan itu. Melihat Hanna sudah masuk ke dalam dan pintu di tutup kembali, Feby kembali duduk di kursinya dan mulai mengerjakan pekerjaannya lagi.


Hanna berjalan mendekati meja atasannya dengan berusaha terlihat santai agar kegugupan yang sedang ia alami tidak bisa dilihat oleh Gina. Gina masih mendiamkannya seperti hari-hari kemarin.


"Nona... ada acara bazar kuliner hari ini di alun-alun kota." Ucap Hanna dengan sangat hati-hati. Gina masih memeriksa sebuah file di mejanya dan belum ingin memandang ke arah Hanna.


Akhirnya itu yang keluar dari mulut Hanna, bukan izinnya untuk meminta cuti. Dirinya benar-benar tidak berani kalau harus meninggalkan Gina untuk berlibur lagi. Sehingga, ia ingat saat berangkat tadi sempat melihat sebuah baliho besar yang memberitahukam bahwa pada sore ini digelas bazar kuliner di alun-alun kota. Beberapa saat Gina masih mendiamkannya seperti beberapa hari belakangan ini dan Hanna menjadi lebih khawatir.


"Ada banyak makanan enak dan juga menarik, Nona. Pasti sangat menyenangkan kalau pergi ke sana." Tambah Hanna lagi untuk menarik perhatian Gina.


"Pergilah, jangan lewatkan itu." Jawab Gina masih belum memandang ke arahnya. Itu membuat Hanna menjadi gelisah.


"Tapi saya ingin mentraktir Anda semua makanan di sana." Kali ini Gina meletakkan penanya di atas meja dan memandang Hanna.


"Kau ingin menyuapku?" Tatap Gina tajam kepada Hanna.

__ADS_1


"Menyuap?" Hanna mengulang kata itu karena tidak faham maksud Gina.


"Bukan, Nona. Bukan. Saya tidak bermaksud menyuap Anda."


"Kau menyuapku agar menerima permintaan maafmu." Hanna mengerjapkan matanya mendengar tebakan Gina yang sangat benar itu.


"Itu... ehhemmm, sebenarnya. Begini Nona..." Hanna mendekati Gina di mejanya.


"Rasanya sudah lama kita tidak makan bersama. Lalu tadi pagi saya melihat sebuah baliho acara itu, saya jadi ingat kalau Nona suka berwisata kuliner sehingga kita harus mencoba untuk datang ke sana." Hanna tersenyum manis saat mengatakan itu.


"Aku sedang tidak ingin pergi ke mana-mana hari ini." Jawab Gina kembali membolak-balik file di hadapannya.


"Ayolah, Nona..." Hanna mulai merengek. Gina merasa ada yang aneh pada Hanna kali ini. Tidak biasanya dia bersikap begitu. Hanna yang sangat tegas tidak pernah bersikap manja kepadanya seperti itu. Gina jadi berfikir apa Marco biasa memanjakannya sehingga Hanna menjadi seperti bukan dirinya begini sekarang.


"Nona... Maafkan saya. Biarkan saya menebus kesalahan saya dengan mentraktir Anda."


"Kau fikir aku apa sampai akan menerima suapmu semacam ini."


"Saya fikir Anda adalah orang yang sangat baik. Anda juga bukan tipe pendendam. Anda sangat cantik, semesta sudah tahu itu. Anda juga..."


"Sudah hentikan." Ujar Gina memotong kalimat Hanna.


"Telingaku sakit mendengar rayuanmu yang receh itu. Tunggu aku di mobil. Sebentar lagi aku akan turun."


"Sudah pergilah, sebelum aku berubah fikiran." Wajah Hanna langsung berubah cerah begitu memahami kalimat Gina. Ia pun segera berhambur keluar untuk menyiapkan mobil Gina dan menunggunya untuk pergi bersama.


Wajah cerah Hanna yang baru keluar dari dalam ruangan Gina bisa dilihat juga oleh Feby. Dan dari situ Feby bisa menebak bagaimana kali ini Hanna berhasil mengambil hati Gina.


"Berhasil." Ujar Hanna setengah berbisik saat ia sudah berada di depan meja Feby.


"Bagus..." Feby ikut senang.


Gina menutup file yang dibacanya lalu meletakkan di sisi lain meja bersama file-file yang lain.


"Apa Marco yang mengajarinya bersikap begitu?" Ujar Gina sambil menatap arah pintu yang baru saja ditutup oleh Hanna.


"Benar-benar ajaran sesat."


🌸🌸🌸


Senja sudah hampir berganti malam saat Hanna membawa mobil Gina ke tempat parkir di salah satu sisi alun-alun kota. Malam ini alun-alun tampak sangat ramai. Banyak sekali pedagang berjualan di tepi alun-alun. Mulai dari jajanan, balon dan mainan anak-anak. Berlalu lalang orang yang datang juga membuat suasana menjadi meriah.


Dari tempat Gina dan Hanna menghentikan mobilnya, terdengar sayup-sayup suara live music dari bagian dalam alun-alun. Sepertinya ada sebuah konser kecil-kecilan yang sedang diadakan di sana. Gina dan Hanna sudah turun dari mobil sekarang dan mulai berjalan memasuki bagian dalam alun-alun. Karena banyaknya pengunjung, beberapa kali Gina harus bersenggolan dengan pengunjung lain yang berjalan berlawanan arah. Itu membuat Gina sedikit risih tapi ia tidak memiliki pilihan karena memang suasana di tempat itu sedang ramai sehingga ia harus tetap berjalan dengan hati-hati. Tidak lupa ia menempatkan tasnya di depan badannya untuk berjaga-jaga bila ada copet yang sedang beroperasi juga di sana.


Akhirnya setelah berjalan beberapa saat, Gina sampai di dalam bazar. Gina terperangah melihat deretan stand yang menyediakan berbagai makanan berjajar di depannya. Mulai dari makanan lokal hingga western ada di sana. Mulai dari soto hingga pizza terpampang di banner-banner stand bazar. Gina semakin tertarik untuk terus berjalan mendekati stand-stand itu.

__ADS_1


"Hanna, kau yakin ingin mentraktirku?" Ujar Gina memandang Hanna yang berdiri si sampingnya.


"Benar, Nona."


"Siapkan dompetmu. Mungkin gajimu bulan ini hanya akan habis di sini." Gina berjalan mendekati stand bakso ikan.


Hanna yang menyadari arti kalimat Gina hanya bisa melongo di tempatnya. Ia sangat tahu bagaimana saat bosnya itu makan. Ia akan memakan semua yang ia inginkan dan ia sukai. Hanna jadi sedikit menyesal sudah menarik hati Gina dengan cara ini. Ia lalu mendekati Gina yang sedang memakan bakso-bakso ikan di sebuah mangkuk plastik.


"Hanna, ini enak. Cobalah." Ujar Gina kepada Hanna.


"Iya Nona." Hanna mengambil bakso di mangkuk salah satu stand.


"Benar, ini enak." Gumam Hanna. Gina melihat Hanna dan tersenyum.


Melihat bagaimana beberapa hari ini Hanna tampak merasa bersalah setelah bekerja sama dengan Surya waktu itu, Gina menjadi yakin bahwa Hanna adalah pegawai yang baik. Ia merasa tidak tenang ketika melakukan kesalahan sehingga berusaha menebusnya dengan berbagai cara agar bosnya memaafkan.


Dari stand satu ke stand lain, Gina hampir mencoba semua makanab dan juga camilan. Hanna merasa sudah tidak bisa lagi makan sejak empat stand sudah ia datangi. Tapi Gina seperti ingin mencoba semua makanan yang ada di sana. Dan dengan riang selalu memberi review setiap makanan yang ia cicipi. Hanna hanya mengiyakan saja setiap ucapan Gina.


Tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan dari salah satu stand dan setelah itu dari tempat Gina dan Hanna berdiri terlihat api menjulur ke atas salah satu stand bazar. Orang-orang yang panik mulai berlarian untuk menjauhi stand itu untuk menyelamatkan diri dari kebakaran yang merambat ke stand lain dan bertambah besar. Melihat itu Gina menatap sekeliling untuk mencari sumber air dan mengabaikan Hanna yang mengajaknya pergi dari tempat itu.


"Kau pergilah dulu dan hubungi petugas pemadam kebakaran. Oh iya, panggil ambulan juga. Aku harus tetap di sini." Ujar Gina melepas genggaman tangan Hanna di lengannya.


"Tapi, ini sangat berbahaya, Nona."


"Sudah, lakukan saja perintahku." Seru Gina sambil berlari ke suatu tempat dimana ada kran di sana setelah sebelumnya sempat menyahut sebuah selang panjang milik salah satu stand.


"Pak, ku pinjam selangnya." Kata Gina meminta izin tadi. Hanna hanya berdiri mematung melihat tindakan Gina.


"Cepat pergilah." Gina berteriak menyuruh Hanna pergi yang berjarak beberapa meter dari tempatnya. Sehingga mau tidak mau, Hanna pun pergi dari sana bersama pengunjung lain sambil menombol nomor darurat untuk memanggil petugas pemadam kebakaran.


Gina berlari mendekati kran air dan menarik selang yang ia bawa menuju stand yang terbakar. Ternyata selang itu kurang panjang. Gina menjadi gemas. Tapi kemudian seseorang mengambil alih selang dari tangannya dan menyambung dengan selang miliknya lalu mengikatnya dengan tali karet. Orang itu tidak menghiraukan Gina sama sekali. Ia terlihat sibuk melakukan persiapan pemadaman api sementara sambil menunggu petugas pemadam kebakaran datang.


Gina tidak berkata apapun dan hanya bisa memandang orang itu melakukan semua usahanya.


"Nona, tolong buka krannya." Ujar Surya menyadarkan Gina yang sejak tadi menatap dirinya bengong.


"Oh, iya, baiklah." Gina segera berlari untuk menyalakan kran yang tadi belum sempat ia putar.


Air mulai mengalir dan keluar dari selang itu. Surya berjalan dari jarak yang bisa ia jangkau dengan aman untuk menyemprotkan air ke arah api. Beberapa orang juga membantu dengan menyiramkan air dari ember-ember yang mereka isi dengan air persediaan mereka. Hingga tak lama kemudian terdengar sirine petugas pemadam kebakaran berbunyi semakin jelas. Lalu dari arah luar alun-alun para petugas pemadam kebakaran mulai menyemprotkan air sehingga api bisa dipadakam dengan cepat. Dua buah mobil pemadam kebakaran yang ada di sana akhirnya bisa memadamkan api yang merambat hingga membakar tiga stand bazar. Gina berdiri tidak jauh dari tempat Surya membantu memadamkan api dan terus memandangnya. Surya masih selalu terlihat sama dimatanya. Meskipun kali ini hanya memakai T-shirt warna gelap, warna favoritnya, dan celana blue navy jeans tapi jantung Gina tidak berhenti berdebar kencang sejak ia datang menghampirinya tadi. Surya masih tampak menawan bagi Gina walau tidak memakai setelan jas sekalipun.


Akhirnya setelah setengah jam dilakukan pemadaman oleh tim petugas pemadam kebakaran, api pun sudah benar-benar padam. Beberapa korban juga sudah dievakuasi oleh para petugas medis dan sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan. Kebakaran yang disebabkan oleh kebocoran tabung gas LPG itu membuat orang yang ada di sekitar stand bazar yang terbakar mengalami luka bakar dibeberapa bagian tubuh mereka.


Api sudah tidak terlihat lagi tapi karena kebakaran itu, listrik yang dialirkan di area bazar sengaja dipadamkan agar tidak terjadi korsleting dan menyebabkan kecelakaan lebih lanjut. Oleh karena itu saat ini suasana di area bazar menjadi gelap. Hanya penerangan dari area luar alun-alun yang memberi sedikit cahaya di tempat itu. Tapi walaupun begitu, Gina tahu seseorang yang sedang berjalan ke arahnya sekarang adalah Surya. Dengan siluet wajahnya yang tegas dan tangan yang sedang mengacak-acak rambut bagian depannya yang basah menjuntai di di dahinya karena percikan air dari selang pemadam kebakaran selama ia turut berupaya memadamkan api, Gina berdebar melihat semua itu. Jantungnya tetap memainkan irama indah yang pernah ia rasakan dulu. Irama yang masih sama, tidak berubah sedikitpun.


"Anda baik-baik saja, Nona?" Tanya Surya setelah berada di dekat Gina.

__ADS_1


__ADS_2