
Surya masih menyetir dengan santai saat Gina mulai menunjukkan gerakan. Sepertinya ia mulai terbangun sekarang. Surya bisa mendengar Gina mendesah seperti menahan sesuatu.
"Anda sudah bangun, Nona?" Sapa Surya sambil melirik Gina yang menggeliat dalam duduknya.
"Surya, bisakah kita berhenti di suatu tempat?" Ujar Gina menjawab Surya.
"Dimana, Nona?"
"Toilet umum." Gina memandang Surya dengan pandangan seperti memohon. Gina tahu Surya merasa aneh dengan permintaanya.
"Cepatlah, aku hampir tidak tahan. Perutku sakit." Mendengar itu Surya akhirnya faham dan segera mempercepat laju mobilnya.
"Sebentar Nona, sebentar lagi sampai." Kata Surya dengan sedikit panik.
Gina melihat sekeliling. Ia tahu tempat mereka sekarang masih terlalu jauh dari rumah. Gina menjadi gelisah.
"Aku tidak bisa kalau harus sampai rumah." Suara Gina tertahan karena menahan perutnya yang mules.
"Tidak Nona, tinggal di depan itu." Bujuk Surya.
"Ayolah Surya..." Gina benar-benar memohon. Dan setelahnya, Surya sudah membelokkan mobilnya ke dalam sebuah SPBU. Gina jadi tahu maksud Surya saat mengatakan mereka sudah dekat. Ia jadi sedikit lega. Surya lalu memarkir mobilnya tepat di depan toilet. Dan begitu mobil berhenti, Gina segera turun dan setengah berlari menuju toilet dengan gaya yang aneh. Gaya menahan tapi ingin cepat sampai tempat yang sudah diimpikannya sejak tadi. Dari dalam mobilnya, Surya tersenyum lucu melihat tingkah Gina yang konyol. Tepat saat itu sebuah telepon masuk, Surya lalu mengangkatnya.
Setelah menuntaskan semua yang sempat ditahannya tadi, Gina akhirnya bisa berjalan dengan lega saat keluar dari dalam toilet. Dari kejauhan ia melihat Surya yang sedang bertelepon di dalam mobil yang kaca cendelanya terbuka.
Surya tampak tersenyum sambil berbincang dengan ponselnya. Gina penasaran siapa yang berbincang dengannya di telepon sehingga wajah Surya terlihat bahagia seperti itu. Ia masih berjalan menuju mobil sambil mengawasi Surya.
"Baiklah, aku tutup dulu." Ujar Surya mengatakan kepada orang di seberang yang sedang berbincang dengannya saat Gina membuka pintu mobilnya.
Gina lalu duduk di jok mobil Surya. Ia tidak ingin membuka suara ataupun berbicara apapun. Tiba-tiba saja ia merasa dongkol melihat Surya berwajah ceria begitu saat menerima telepon.
"Sudah, Nona?" Tanya Surya sambil meletakkan ponsel di sakunya kembali.
"Hmm." Jawab Gina singkat karena sedang malas berbicara dengan Surya.
"Anda baik-baik saja?" Tanya Surya karena melihat Gina murung seperti itu.
"Hmm." Jawab Gina lagi.
Melihat Gina seperti itu, Surya berfikir lagi apa yang sudah diperbuatnya sampai Gina berubah sikap lagi. Baru saja ia bisa melihat Gina yang ceria dan terlihat senang, tapi sekarang sudah kembali menjadi Gina yang jutek.
"Kita makan dulu, Nona?"
"Tidak, aku mau langsung pulang."
"Tapi Anda belum makan malam."
"Aku ingin pulang." Jawab Gina tegas sambil menatap Surya tajam.
"Baik, Nona." Surya sudah tidak berani lagi berkata apa-apa. Gina tampak sedang dalam suasa hati yang tidak baik lagi.
Surya jadi berfikir. Apa itu karena Gina merasa tidak enak badan setelah sakit perut. Atau, mungkin Gina kelelahan setelah seharian ini menghabiskan waktu dengan bermain di atas wahana bermain si taman hiburan. Tapi Surya memilih diam dan tak banyak bicara lagi. Ia hanya harus mengedarai mobilnya dengan kecepatan sedang hingga sampai rumah agar Gina segera bisa beristirahat.
Akhirnya setelah kebisuan diantara mereka yang terasa begitu panjang selama dalam perjalanan, mobil Surya sampai juga di rumah. Pak Eko, security di rumah Gina membukakan pintu gerbang sambil memberi senyum hormat saat Surya membawa mobilnya masuk. Dari dalam mobil, Gina melihat seorang gadis sedang duduk didepan pos security sambil melihat mobilnya yang berjalan lambat. Sempat terlintas tanya siapa gadis yang ada di situ. Tapi kemudian Gina berfikir mungkin dia adalah putri Pak Eko.
Mobil Surya berhenti di teras rumah. Gina segera membuka pintu dan hendak keluar dari dalam mobil. Tapi Pak Eko segera menghampirinya.
"Maaf, Nona. Ada yang ingin bertemu dengan Nona." Ujar Pak Eko kepada Gina yang sekarang sudah keluar dari dalam mobil Surya. Pak Eko mengalihkan pandangan gadis yang sekarang sedang berdiri di depan pos security itu, bukan lagi duduk. Gina juga mengikuti arah pandang Pak Eko.
"Siapa dia, Pak?"
__ADS_1
"Gadis itu mengatakan dia seseorang yang ingin berterima kasih kepada Anda." Mendengar itu Gina mengerutkan kening dan mencoba mengingat-ingat apa dia mengenal gadis itu. Tapi sejauh ini Gina seperti tidak memiliki memori apapun tentang gadis itu.
"Siapa, Nona?" Tanya Surya yang mendengar pembicaraan Gina dengan Pak Eko yang masih berada di dalam mobilnya.
"Entahlah." Jawab Gina sambil memandang Surya.
"Suruh saja dia kemari, Pak." Akhirnya Gina meminta Pak Eko untuk membawa gadis itu mendekat. Pak Eko segera berjalan menghampiri gadis yang membawa sebuah paper bag itu.
Gina sedang berdiri di teras rumahnya sekarang sambil menunggu gadis itu berjalan menuju kepadanya. Surya sudah berlalu membawa mobilnya untuk diparkirnya di garasi di belakang rumah.
Gadis itu berjalan mendekati Gina. Semakin dekat semakin jelas garis wajahnya. Tapi Gina penasaran apakan ia mengenal gadis itu? Rasanya ia tidak pernah tahu ataupun bertemu dengan gadis ini. Lalu bagaimana bisa gadis itu mengatakan kalau dirinya mengenal Gina.
"Malam, Kak Gina." Sapa gadis itu. Gina terkejut karena gadis itu bahkan bisa tahu namanya sedangkan dirinya bahkan tidak mengingat sama sekali siapa sebenarnya dia.
"Kita saling kenal?" Tanya Gina kepada gadis yang tersenyum padanya itu.
"Secara teknis kita belum saling kenal. Tapi saya tahu tentang Kak Gina."
"Bagaimana?" Gina bertambah bingung.
"Aku yang Kak Gina selamatkan sepulang dari rumah Kak Sunday."
"Sunday?" Gina heran saat gadis itu menyebut nama Sunday.
"Aku Friday, adik Kak Sunday."
Sunday sedang mengemasi piring-piring di atas meja makan membantu asiste rumah tangganya usai teman-temannya pulang. Seseorang masuk ke dalam rumahnya dan langsung memasuki dapur. Sunday yang melihat adiknya tiba-tiba masuk tanpa permisi itu lalu mengikutinya. Terlihat dari tempatnya berdiri, Friday mengambil air dan meminumnya sampai habis.
"Apa kau dehidrasi?" Tanya Sunday yang sekarang sudah ada di dapur juga.
"Kak... aku... aku hampir saja dimakan oleh kucing garong." Ujar Friday dengan pandangan menerawang jauh.
"Terimalah saja nasibmu sebagai ikan asin." Timpal Sunday asal.
"Kau ini sebenarnya sedang bicara apa?"
"Kak, aku hampir saja dirampok di jalan." Friday memegang lengan Sunday yang berjalan melewatinya. Sunday memandang wajah Friday lekat memastikan apa yang diucapkan adik tirinya itu benar.
"Dirampok?" Tanya Sunday serius karena memang tampak masih ada sisa rasa gemetar di nada bicara Friday yang kemudian menganggukan kepalanya meyakinkan.
"Saat aku menuju kemari tadi, setelah persimpangan jalan itu, jalan masuk ke area ini, ada tiga pria yang menghadangku. Mereka bertubuh tinggi besar dan menghalangi jalanku. Tentu saja aku harus berhenti. Lalu mereka berusaha meminta motorku, Kak. Nah, tepat setelah itu ada mobil lewat. Ku fikir mereka tidak memperhatikan. Tapi mobil itu kembali. Dua orang didalamnya lalu turun dan membantuku sampai bisa kabur."
"Benarkah?" Friday mengangguk lagi.
"Kau tidak sedang terbawa alur cerita film yang baru saja kau tonton, bukan?" Sunday menanggapi masih dengan santai karena melihat adiknya baik-baik saja. Dan memang itu sudah cukup bagi Sunday. Yang terpenting Friday tidak terluka setelah mengalami kejadian itu.
"Hei, film yang baru saja ku tonton adalah film humor, Kak. Bukan film action." Friday mengikuti Sunday yang keluar dari dalam dapur untuk menghampiri Faris yang menggendong bayi Cena yang tertidur sambil melihat ponselnya.
"Dia tertidur pulas." Ucap Sunday sambil mengusap pipi putri kecilnya yang terlelap dengan sangat nyaman dalam dekapan Papanya. Faris memandang wajah putrinya juga dan tersenyum.
"Mau ku gantikan?" Tawar Sunday.
"Boleh. Dia sangat berat, tanganku mulai kram."
"Ahh, kau ini. Hanya 3,5 kg saja kau katakan berat. Kau bahkan kuat menggendongku dan Cena saat masih berada di dalam perut saat menuju mobil waktu itu."
"Itu cerita yang berbeda. Bagaimana mungkin aku membuatmu berjalan sambil kesakitan. Di saat seperti itulah para pria akan tiba-tiba menjadi super hero dan memiliki kekuatan super untuk melindungi orang-orang yang dicintai."
"Hmmm... pembual." Jawab Sunday sambil mulai meraih Cena dari tangan Faris. Tapi saat mengalihkan Cena kepada Sunday, ternyata ponsel Faris yang berada di tangan satunya terjatuh di lantai.
__ADS_1
Friday memungut ponsel kakak iparnya yang terjatuh.
"Ehh, apa ini?" Friday memandang ponsel Faris. Faris menoleh kepadanya begitu pula dengan Sunday.
"Ada apa?" Sunday menyipitkan matanya melirik Faris penuh curiga. Faris jadi merasa terintimidasi oleh pandangan Sunday. Sunday berfikir ada sesuatu di ponsel Faris yang mungkin saja bisa membuatnya marah.
"Apa memangnya?" Sekarang Faris melongok ponselnya yang masih di pegang oleh Friday karena tidak tahu apa yang sedang ia lihat di sana.
"Kenapa?" Tanya Faris kepada Friday karena tidak menemukan kesalahan apun pada gambar yang tampak di layar ponselnya.
"Siapa dia?" Tanya Friday pada foto yang ada di ponsel Faris. Sekarang Friday malah memperbesar salah satu wajah yang ada di foto itu. Sunday penasaran lalu ikut melihat juga.
"Gina?" Sunday memelototi Faris saat tahu ternyata gambar terakhir yang dilihat oleh Faris saat ponselnya jatuh tadi adalah foto Gina.
"Hei, sebenarnya ada apa dengan kalian?" Faris yang merasa diintimasi oleh dua bersaudara itu mulai memprotes.
"Kenapa kau melihat foto Gina?"
"Aku melihat foto-foto yang baru saja kita ambil. Apa yang salah?"
"Tapi itu foto Gina. Kau suka melihat fotonya?" Sunday cemberut melihat tingkah suaminya.
"Itu foto kita berlima. Bagaiamana bisa kau menuduhku hanya melihat foto Gina?" Faris terlihat gelisah dan menjelaskan agar Sunday tidak salah faham seperti itu.
"Siapa yang tahu maksud hatimu." Sunday cemberut mengatakan itu.
"Ayolah, aku tidak begitu." Rayu Faris.
"Sudahlah... hentikan drama rumah tangga kalian." Lerai Friday yang berada di antara pasangan suami istri itu.
"Jadi, dia bernama Gina?" Tanya Friday.
"Iya." Jawab Sunday dan Faris bersamaan.
"Siapa dia?"
"Mantan pacar Faris." Jawab Sunday ketus.
"Hei, itu tidak benar. Kau tahu aku tidak pernah berpacaran dengan Gina."
"Tidak pernah pacaran apa? Kalian..."
"Stop, silakan lanjutkan pertengkaran kalian setelah ini saja. Yang jelas aku harus berterima kasih kepadanya. Dan juga... pria ini. Ya, ini pria yang bersamanya tadi." Tunjuk Friday masih pada foto di ponsel Faris.
"Kau ini dari tadi membicarakan hal yang tidak jelas. Sebenarnya apa yang kau katakan ini sebenarnya?" Tanya Faris bingung dengan celoteh Friday.
"Merekalah yang menyelamatkanku tadi."
"Oh ya?" Tanya Sunday memastikan. Friday menganggukan kepala dengan senyum cerahnya. Sunday jadi tahu bahwa dua orang yang dimaksud oleh Friday ternyata Gina dan Surya yang baru saja pulang dari rumahnya dan bertemu dengan Friday di jalan saat hampir dirampok.
"Menyelamatkan apa?" Tanya Faris tidak mengerti apa yang dibicarakan kakak beradik itu.
Gina akhirnya tahu bahwa gadis itu adalah gadis yang ia selamatkan dari preman yang hendak merampas motornya. Tentu saja ia tidak begitu mengingat bagaimana wajah Friday. Saat itu disana cukup gelap karena tidak ada lampu jalan yang menerangi sehingga ia tidak bisa melihat wajah Friday dengan jelas kalau bukan dari lampu kendaraan yang lewat.
"Jadi, kau adik Sunday?" Tanya Gina masih berdiri di teras rumahnya.
"Benar, Kak."
"Kau punya saudara lagi selain Sunday?"
__ADS_1
"Iya kak, aku punya seorang adik laki-laki." Jawab Friday merasa aneh dengan pertanyaan Gina.
"Apa namanya Saturday?" Mendengar itu Friday jadi faham apa yang sedang difikirkan oleh Gina. Friday lalu tersenyum lebar.