
Gina duduk di samping Hanna yang sedang mengemudikan mobilnya. Mereka sedang menuju ke kantor polisi atas tertangkapnya Pak Indrawan. Dan Gina sebagai pelapor akan dimintai keterangan sekali lagi oleh pihak kepolisian. Tapi ia belum ingin berbicara dengan Hanna sepatah katapun. Gina masih marah padanya. Ia berfikir Hanna adalah orang yang selalu berada di pihaknya tapi ternyata dia dan Surya malah bekerja sama dibelakangnya. Walau dengan alasan untuk membantu dirinya, tetap saja Gina tidak suka kerja sama mereka yang tanpa sepengetahuannya seperti itu.
Hanna memasukkan mobil Gina ke dalam pelataran parkir kantor polisi. Setelah itu Gina turun dari dalam mobilnya. Tapi tepat saat itu sebuah motor berhenti tepat disampingnya. Pengendara motor itu melepas helm yang dipakainya. Surya yang tahu bahwa Ginalah yang baru saja turun dari dalam mobil lalu memberinya senyum. Gina terpaku di tempatnya. Senyum itu masih terlihat sangat menawan baginya.
"Selamat siang, Nona." Sapa Surya.
"Kenapa kau datang juga?"
"Saya ada sedikit urusan di sini, Nona."
"Benarkah?" Gina masih sinis terhadap Surya.
"Sudah ku katakan padamu untuk tidak ikut campur dengan urusanku. Kenapa kau tetap melakukannya?" Gina berjalan mendekati Surya.
"Saya hanya perlu turut bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di R-Company saat ini, Nona."
"Mulai sekarang, jangan ikut campur apapun yang terjadi pada R-Company. Biarkan aku melakukannya sendiri dan berhenti mendikteku dengan semua caramu itu."
"Maaf Nona, saya tidak bermaksud begitu."
"Cukup sampai di sini saja. Berhenti melakukan apapun." Kalimat itu diakhiri Gina dengan lalu meninggalkan Surya di sana. Hanna yang juga ada di sana hanya bisa mengikuti Gina yang berjalan menuju pintu masuk kantor polisi tanpa bisa mengatakan apapun pada Surya.
Gina yang masih marah kepada Hanna juga tidak ingin berbicara apapun padanya. Ia lalu memasuki ruang penyidik dan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan sebagai pihak pelapor. Hanna menunggu di luar ruangan. Surya berjalan menghampirinya setelah keluar dari ruangan lain.
"Bagaimana Nona Gina?" Tanya Surya yang duduk di samping Hanna. Hanna melihatnya sekilas lalu memandang ke arah depan lagi.
"Nona Gina marah sekali. Aku benar-benar bodoh." Rutuk Hanna pada dirinya sendiri. Surya tersenyum menanggapi temannya itu.
"Paling tidak, sekarang sudah tidak ada rahasia lagi."
"Tetap saja, rasanya tidak nyaman ketika Nona Gina marah padaku."
"Tenang saja, semarah-marahnya Nona Gina padamu, dia tidak akan memberikan tendangan mautnya. Lihatlah, sebentar lagi marahnya akan segera hilang."
"Rasanya waktu berjalan sangat lama saat orang yang ada di dekatmu sedang marah padamu. Itu yang aku rasakan sekarang. Canggung sekali saling diam walau berada dalam satu tempat."
"Kau tahu, dia bahkan lebih marah padaku dan aku tidak tahu sampai kapan dia akan melakukannya."
"Ya, kesalahanmu sangat besar padanya. Nona Gina mungkin akan membencimu seumur hidupnya." Hanna masih sempat tersenyum mengatakan hal itu. Surya menanggapinya dengan hal serupa.
Tak lama kemudian Gina keluar dari ruang penyidikan. Ia melihat Hanna dan Surya yang duduk berdua. Itu membuatnya semakin merasa sebal. Entah apa yang mereka rencanakan lagi tapi yang jelas Gina harus waspada. Ia tidak mau Surya melalukan apapun lagi untuknya. Baginya sudah cukup kejahatan yang dilakukan Surya padanya dan ia tidak ingin rasa kasihan Surya terhadapnya semakin membuatnya terlihat buruk.
"Hanna, ayo pergi." Ujar Gina sambil terus berlalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kantor polisi.
Hanna segera bangkit dari duduknya dan menyamakan langkah dengan Gina. Detak sepatu mereka terdengar seperti sebuah irama yang saling bersahutan memenuhi koridor kantor polisi. Surya masih di tempatnya memandang dua wanita yang menjauhinya. Tanpa ia sadari ia menarik nafas berat.
🌸🌸🌸
Gina memasuki kamar rawat inap Pak Rangga. Ia melihat Papanya sedang bersandar ranjang rumah sakit menonton acara TV dengan Bu Marina yang duduk di sebelahnya. Melihat Gina datang, kedua orang tuanya itu serentak memandang ke arahnya.
"Kau baru pulang kerja?" Tanya Pak Rangga. Gina mengangguk sambil mendekati Papanya.
"Bagaimana keadaan Papa?"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." Jawab Pak Rangga sambil memindah chanel TV.
"Tentu saja dia baik-baik saja. Aku yang tidak baik-baik saja."
"Kenapa, Ma?" Tanya Gina sambil menatap Mamanya yang manyun seperti itu.
"Papamu benar-benar cerewet. Minta ini, minta itu, maunya begini, maunya begitu." Celoteh Bu Marina.
"Bagaimana menurutmu? Apa kau fikir aku bisa menggaruk punggungku sendiri. Tanganku sedang diinfus jadi aku tidak bisa melakukannya." Pak Rangga membela diri.
"Tapi apa itu tadi? Papa bahkan meminta bubur ayam, setelah datang, dia ganti mau sate kambing, setelah sate kambing habis, 5 menit kemudian ingin makan kolak pisang katanya. Apa benar yang seperti itu benar-benar sakit?" Mama Gina mengomel.
"Aku memang harus banyak makan agar cepat sembuh. Kau tidak dengar apa kata dokter?"
"Tapi makananmu itu bisa memicu sakit yang lain."
"Ahh, tidak. Aku sangat sehat untuk penyakit yang lebih parah lagi."
"Sangat sehat apanya? Papa baru saja pingsan kemarin." Balas Bu Marina sengit.
"Itu karena aku terlalu syok saja. Buktinya sekarang aku baik-baik saja. Apalagi sekarang si Indrawan itu sudah ada di kantor polisi. Aku bahkan sudah sangat tenang. Hanya tiggal mengikuti proses hukum dan dia harus mengembalikan semua yang telah diambil dari R-Company." Jelas Pak Rangga dengan antusias.
"Oh iya, untuk operasional dan produksi R-Company bagaimana?" Tanya Pak Rangga pada Gina yang dari tadi tidak bersuara saat kedua orang tuanya berdebat dan memilih duduk di sofa kamar VVIP rumah sakit.
Tidak ada sahutan dari Gina, Pak Rangga lalu menoleh padanya. Bu Marina juga penasaran kenapa Gina terlihat tenang. Ternyata pemandangan yang mereka lihat saat ini adalah Gina yang tidur di atas sofa masih lengkap dengan sepatu di kakinya. Ia meluruskan badan hingga kaki di atas sofa panjang itu.
"Kasihan sekali dia." Gumam Bu Marina menatap Gina yang tenang dalam lelapnya.
"Baru saja menikmati jabatannya, sesuatu sudah terjadi dengan R-Company." Pak Rangga pun turut memandang Gina yang sudah tidur dan tidak menghiraukan perdebatan kedua orang tuanya.
"Kita sudah terlalu lama mengabaikannya. Aku tidak tahu bagaimana jika Surya tidak segera membantunya."
"Surya lagi..." Gumam Bu Marina malas ketika Pak Rangga menyebut nama itu.
"Coba Papa tidak jatuh sakit begini, aku pasti lebih bisa membantu Gina daripada dia."
"Kira-kira, apa Gina sudah bisa melupakan Surya?" Kalimat Pak Rangga seolah tidak menghiraukan ucapan istrinya.
"Entahlah." Jawab Bu Marina ketus karena tidak suka dengan topik pembicaraan mereka.
"Tapi dilihat dari sifat wanita yang pendendam, dia pasti belum melupakannya dalam waktu secepat ini."
"Aku yakin Gina bahkan hampir tidak ingat nama pria itu lagi. Dia orang yang mudah jatuh cinta jadi tidak akan menjadi masalah kalau hanya dikecewakan oleh Surya."
"Benarkah? Ku rasa tidak untuk kali ini." Pak Rangga menebak-nebak apa yang terjadi pada putrinya. Bu Marina tidak ingin melakukan itu dan berharap Gina bahkan tidak akan pernah mengingat lagi pernah menyukai Surya.
"Lagipula kenapa Papa selalu membanggakan Surya. Papa tahu bukan, dia sudah mematahkan hatinya. Dia lebih memilih sekretaris itu daripada putri kita yang cantik dan kaya. Apa Papa fikir itu normal? Seharusnya pria manapun akan memilih Gina dengan semua kelebihan yang ia miliki." Omel Bu Marina.
"Justru itulah sisi lain Surya yang tidak semua orang punya. Kesetiaannya patut diacungi jempol. Dia bahkan tidak tergoda paras cantik dan harta yang melimpah. Dia tetap bertahan demi kekasihnya dan menjaga kesetiaannya." Pak Rangga menatap kosong layar televisi seperti pandangannya sedang menuju ke suatu tempat.
"Aku selalu berharap dia juga bisa mencintai Gina. Karena ketika Gina bersama orang sepertinya, aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Dia akan menjadikan Gina sebagai seseorang yang penting melebihi segala hal dalam hidupnya."
"Nanti pasti ada orang yang seperti itu untuk Gina. Kita tunggu saja. Putri kita memiliki segalanya dan cinta hanyalah soal perasaan, dia akan mudah menemukannya setelah ini." Ujar Bu Marina seperti ingin menghibur suaminya.
__ADS_1
Ruangan terasa sepi sekali. Gina terbangun dari tidurnya dan merasa matanya kabur. Kantuknya masih sangat terasa tapi fikirannya ingin segera bangun. Tubuhnya terasa pegal tidur di sofa seperti itu. Ia mengeliat menarik sebagian besar tubuhnya ke atas dan kebawah secara bersamaan. Ia benar-benar ingin membebaskan tulang-tulangnya setelah terkungkung saat tidur di atas sofa rumah sakit. Ia jadi ingat, bagaimana selama berbulan-bulan Surya tidur di sofa dan tidak pernah mengeluh betapa tidak nyamannya itu.
Tiba-tiba indra pembaunya mencium sesuatu yang menenangkan. Gina merasa dirinya pasti sudah sangat gila karena hanya dengan memikirkan Surya saja ia bisa mencium aroma parfumnya seperti ini. Dia lalu melepas selimut yang menutupi tubuhnya. Mengingat selimut, Gina bangun dari tidurnya dan melihat selimut yang saat duduk di sofa tadi ia ingat tidak memakai apapun.
Sebuah jaket pria. Ya, yang menyelimuti tubuhnya tadi adalah sebuah jaket pria dengan bau khas parfum Surya. Gina meyakinkan dirinya dan mengendus-endus jaket itu. Benar, ini adalah bau parfum Surya. Itu menandakan jaket berwarna hitam dan terdapat hodie itu adalah milik Surya. Tapi dimana dia sekarang? Apakah Surya datang saat ia tertidur? Sepertinya memang iya. Gina terdiam di tempatnya dan memikirkan bagaimana bisa Surya datang tanpa membangunkannya. Dia benar-benar tidak ingin Gina melihatnya. Ada rasa sedih di hati Gina karena melewatkan bisa bertemu Surya. Sebenarnya ia sangat merindukan pria itu dan cukup senang telah beberapa kali secara tidak terduga bertemu dengannya. Tapi tentu saja itu harus ia sembunyikan karena tidak ingin Surya menjadi besar kepala bila mengetahuinya.
Surya mengendarai motornya malam ini dengan udara dingin yang menyentuh lengan terbukanya. Ia meninggalkan rumah sakit dengan tanpa jaket yang semula ia pakai. Saat memasuki ruang rawat inap Pak Rangga, Surya tidak menemukannya di sana. Tepat saat itu seorang perawat hendak masuk ke kamar itu sehingga Surya menanyakan padanya.
"Oh, Pak Rangga sedang melakukan general check up." Jawab perawat itu.
Tapi, Surya harus tetap masuk untuk meletakkan sekeranjang buah-buahan segar yang ia bawa. Dan saat mendekati sofa di ruang VVIP itu, Surya menemukan Gina yang sedang tidur sambil bersedekap. Surya memandangnya cukup lama. Wajah yang sudah lama tidak ia pandang ketika sedang terlelap. Wajah damai yang saat terbangun menjadi berubah arogan tapi sebenarnya manja itu masih semenawan sebelumnya. Tanpa ia sadari, Surya menarik kedua sudut bibirnya untuk naik ke atas. Tersenyum.
Surya lalu melepas jaket yang sedang ia pakai dan meletakkan di atas tubuh Gina. Entah karena merasa lebih nyaman atau bagaimana, Gina malah menarik jaket itu hingga menutupi setengah wajahnya. Sekali lagi Surya tersenyum melihat gaya tidur Gina kali ini. Wajah dengan kulit yang sangat lembut itu sekarang hanya terlihat setengahnya saja. Surya menjadi gemas karena Gina membuat dirinya tidak bisa memandang wajahnya secara penuh sekarang. Akhirnya disepanjang perjalanan pulangnya kali ini Surya hanya memikirkan bagaimana ia bisa sering sekali mengingkari janjinya dengan menemui Gina seperti itu.
Masih di kamar Pak Rangga, Gina duduk sambil memeluk jaket Surya saat Pak Rangga masuk dengan menggunakan kursi roda yang di dorong oleh seorang perawat. Bu Marina pun turut memasuki pintu setelah Pak Rangga masuk.
"Akhirnya kau bangun juga." Ujar Bu Marina sambil melintas didepan Gina dan mengikuti Pak Rangga untuk membantunya naik ke atas tempat tidur.
Bu Marina merasa heran saat tidak mendengar apapun dari putrinya yang sedang bengong itu.
"Hei, apa kau mendapatkan mimpi buruk?" Tanya Bu Marina lagi sambil menoleh kepada Gina. Sekarang Pak Rangga juga ikut melihat padanya.
"Oh, tidak." Jawab Gina sambil memandang Mamanya.
"Lalu kenapa kau bengong begitu?"
"Tidak apa-apa." Gina masih berusaha untuk menutupi perasan galaunya sudah melewatkan kehadiran Surya.
"Tadi ada yang datang?" Tanya Bu Marina yang membuat Gina terkesiap. Ia bingung, bagaimana Mamanya tahu kalau Surya sempat datang. Gina merasa Mamanya sangat sakti.
"Entahlah, aku tidur." Jawab Gina menutupi. Ia juga perlahan menggeser letak jaket Surya dan menutupnya dengan bantal sofa agar Mamanya tidak banyak bertanya tentang jaket itu.
"Kau benar-benar tidak tahu?" Gina mengangguk. Bu Marina mendekatinya lalu duduk di sofa tunggal di dekat Gina dan meraih sekeranjang buah yang ada di atas meja.
"Tidak ada kartu ucapan atau semacamnya." Ujar Bu Marina dan membuat Gina menjadi melongo karena tidak menyadari ada keranjang berisi buah di depannya.
Gina terlalu fokus pada jaket Surya sehingga tidak memperhatikan sekitarnya. Gina masih diam walau Bu Marina penasaran siapa yang membawa buah tangan itu.
"Kau ini sebenarnya tidur atau pingsan sampai tidak tahu ada orang yang datang. Untung saja pasti bukan orang jahat yang masuk. Kalau tidak, pasti kau akan menjadi korban. Ponselmu diatas meja. Tasmu yang harganya puluhan juta ini. Dompet di dalamnya dengan sejumlah uang yang kau punya pasti akan hilang semua." Omel Bu Marina.
"Memangnya ada maling di tempat sebagus ini?" Balas Gina membela diri.
"Hei, kejahatan terjadi kadang bukan karena ada niat dari pelakunya tapi karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah." Ujar Bu Marina menirukan seorang host sebuah acara berita kriminal. Mendengar celoteh istrinya, Pak Rangga menahan tawa.
"Apa-apaan Mama ini." Gina tidak menjawab Mamanya dan berjalan mendekati Papanya di atas tempat tidur pasien.
"Bagaimana hasilnya, Pa?"
"Besok pagi baru keluar hasilnya tapi aku yakin aku baik-baik saja." Ujar Papanya sambil memberi senyuman agar Gina yakin dengan ucapannya.
"Tapi Papa harus tetap menjaga kesehatan. Mama..." Panggil Gina pada Mamanya yang langsung menoleh padanya.
"Pastikan Papa berada dalam pengawasan Mama selalu."
__ADS_1
"Kalau Papamu berani macam-macam, akan ku pastikan dia akan tinggal di sini lebih lama dan juga sendirian. Aku akan pulang karena cukup melelahkan merawat pasien yang rewel." Ancam Bu Marina. Pak Rangga tertawa.
"Bagus." Gina memberi dukungan pada Mamanya sambil mengerling. Papanya yang merasa tidak memiliki sekutu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.