
Surya memacu mobilnya membelah jalan raya. Yang ada di dalam fikirannya sekarang adalah Gina yang sedang kebingungan dengan situasi yang terjadi di R-Company. Kehilangan dana yang sebesar itu tentu saja akan sangat mempengaruhi proses produksi dan juga operasi perusahaan. Dan itu tidak bisa dipecahkan sendirian. Surya merasa turut bertanggung jawab atas hal itu karena sebelum Gina menjabat sebagai presdir, dia adalah presdir sebelumnya.
"Pak Surya..." Begitu tiba di R-Company, seorang security langsung mengenalinya dan menyapanya ramah.
"Anda datang ke sini?" Tanya security yang mengenalnya dengan baik itu.
"Iya Pak, ada sedikit keperluan." Jawab Surya sambil lalu membawa mobilnya memasuki tempat parkir di basement.
Surya sekarang sedang menuju ke kantor divisi keuangan. Saat membuka pintu, kepala divisi keuangan menghampirinya dan kaget karena tiba-tiba saja mantan presdir R-Company datang.
"Pak Surya... bagaimana... Anda..." Kepala divisi keuangan tertegun dan terbata mendapati Surya ada di sana.
"Saya mendengar bahwa sesuatu terjadi pada divisi keuangan R-Company. Bisakah Anda menjelaskan situasinya?" Kemudian Kepala Divisi Keuangan menjelaskan apa yang timnya temukan.
Ternyata penggelapan dana itu sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu dan bahkan sejak Surya masih menduduki jabatan sebagai presdir. Tapi itu benar-benar dikerjakan dengan sangat rapi sehingga kepala bagian keuangan saja sampai merasa kecolongan.
"Maafkan saya, Pak. Saya memang tidak becus menjadi kepala divisi ini." Pria paruh baya itu menundukkan kepala dalam-dalam.
"Anda yakin tidak ada orang lain lagi yang terlibat kecuali dua orang yang mengundurkan diri itu?"
"Saya secara pribadi belum begitu yakin, Pak. Tapi yang jelas baru dua orang pegawai tersebut yang keluar dan itu memperkuat dugaan keterlibatan mereka. Salah seorang sudah mengakui dan memberitahukan semuanya. Tapi, Pak Manajer menghilang tanpa kabar." Jelas Kepala Divisi Keuangan.
"Baiklah, saya memang bukan presdir lagi di R-Company, tapi saya akan tetap membantu dalam masalah ini. Bagaimanapun juga, penggelapan itu dilakukan sejak masa jabatan saya sehingga saya juga harus turut bertanggung jawab selain Nona Gina."
"Baik Pak." Surya lalu meninggalkan ruangan tim divisi keuangan.
Sebenarnya Surya bermaksud menemui Gina terlebih dahulu tapi sekretarisnya mengatakan bahwa Gina sedang ada sedikit urusan sehingga ia semakin yakin harus membantu Gina yang sedang sendirian sekarang. Meskipun Gina belum menyetujuinya, tapi ia merasa harus membantu meringankan bebannya apapun yang terjadi.
Pintu lift terbuka, Surya keluar dari sana. Tapi, diujung pandangan matanya ia melihat seorang gadis berambut sepunggung yang tergerai bergelombang. Dengan sepatu stiletto hitam favoritnya ia berjalan gontai menuju ke arahnya. Kemudian pandangan mereka saling bertemu dari jarak yang semakin mendekat dan mendekat.
Surya ingin sekali memeluk Gina dengan wajah penuh mendung hitam itu. Tapi tentu saja ia harus menahannya karena mereka tidak bisa melakukan hal itu.
"Apa kabar, Nona?" Surya menyapa Gina dan memberikan senyum terbaiknya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Saya mendengar bahwa R-Company..."
"Itu bukan urusanmu." Seperti yang sudah Surya duga, itu adalah reaksi yang sangat wajar dari Gina.
"Tapi, saya merasa turut bertanggung jawab dengan hal ini karena kejadian ini terjadi sejak masa jabatan saya, Nona."
"Tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Aku bisa menyelesaikannya sendiri."
"Saya akan tetap membantu Anda." Mendengar Surya tetap bersikeras ingin membantunya, Gina mendengus kesal.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Seperti yang saya katakan tadi, saya ingin membantu Anda."
"Terima kasih atas niat baikmu. Tapi aku menolaknya."
"Anda tidak akan bisa menyelesaikan ini sendirian. Saya akan bersama Anda." Gina menatap Surya lekat.
"Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan? Kau pergi dan datang lagi sesuka hatimu. Kau pikir kau bisa melakukan segalanya semaumu?" Kalimat Gina terdengar sangat dingin dan membuat Surya tahu semarah apa Gina padanya.
"Pergilah, aku tidak butuh bantuan apapun darimu." Gina melangkah pergi hendak meninggalkan Surya di lobi R-Company tapi Surya menahan dengan meraih lengannya.
"Nona, maafkan saya telah mengingkari janji, tapi saya mohon sekali ini saja. Saya berjanji setelah ini tidak akan menampakkan diri saya lagi dengan sengaja." Gina mendengus kesal lalu memandang lengannya. Surya mengerti maksud gadis itu dan melepaskan tangan dari lengan Gina.
__ADS_1
Gina tidak berbicara apa-apa lagi dan meninggalkan Surya di tempatnya untuk menuju ke ruangannya berada. Sebelum pintu lift tertutup, Gina masih sempat bertemu pandang dengan Surya yang masih melihatnya di tempat ia berdiri. Gina merasakan debaran jantungnya semakin cepat sehingga tubuhnya menjadi gemetar. Saat pintu lift tertutup, saat itulah Gina lalu menyandarkan tubuhnya di dinding lift sambil mengatur nafasnya kembali.
"Jantungku... Aduh, rasanya hampir lepas." Gina masih memegang dadanya dengan debaran jantung yang masih belum stabil.
🌸🌸🌸
"Selamat pagi, Nona." Tanya Hanna saat membuka pintu ruangannya dan sudah menemukan Gina duduk di balik mejanya.
"Kenapa ada di sini?" Tanya Gina heran melihat Hanna yang seharusnya masih berbulan madu, bukan malah ada di depannya sekarang.
"Jangan katakan kau sengaja mempercepat bulan madumu karena R-Company?"
"Ehmm... iya, Nona. Terlebih lagi, saya tidak akan bisa menikmati bulan madu ketika Anda bahkan berjuang sendiri di sini."
"Kau ini apa-apaan meremehkanku seperti itu." Gina tersenyum kecut.
"Saya tidak bermaksud meremehkan Anda tapi saya adalah asisten pribadi, sehingga saya harus selalu ada bersama Anda."
"Tapi, kau jadi tidak bisa menikmati bulan madumu dengan baik."
"Tidak apa, Nona. Ini adalah risiko pekerjaan saya."
"Wah, Surya memang sangat jeli sudah memilihmu sebagai asisten pribadiku. Loyalitasmu sangat tinggi." Gina tersenyum lebar kepada Hanna.
"Ku pikir kau dipilih karena hubungan pertemanan saja diantara kalian, tapi aku memang tidak bisa meragukan lagi kualitas kerjamu."
"Terima kasih, Nona. Tapi memang seperti itulah Surya, oh maksudku Pak Surya bersikap. Dia akan membedakan masalah pekerjaan dan masalah pribadi." Hanna meralat panggilannya kepada Surya karena memang akhir-akhir ini ia lebih sering mamanggil namanya langsung karena mereka tidak berada pada sebuah hubungan pekerjaan lagi.
"Tapi, ngomong-ngomong, apa kau yang memberi tahu Surya tentang masalah yang sedang R-Company alami saat ini?" Hanna tidak langsung menjawab tapi Gina melihat matanya yang seperti sedang berfikir mencari alasan.
"Benar, Nona." Jawab Hanna akhirnya dan siap dengan segala yang akan Gina lakukan padanya. Entah marah atau apapun itu, Hanna sudah mempersiapkan diri. Dia hanya merasa harus memberitahu Surya di saat seperti itu karena Hanna sangat mengkhawatirkan Gina.
"Sepertinya aku harus mendisplinkan kalian berdua setelah ini. Feby juga, bagaimana bisa dia menghubungimu tanpa meminta izinku terlebih dahulu."
"Ya Tuhan, kenapa R-Company dipenuhi orang-orang yang sangat kompeten seperti kalian. Itu membuatku jadi minder." Gina tertawa. Hanna tersenyum melihat tingkah atasannya itu yang masih bisa tertawa di saat situasi perusahaannya sedang tidak baik. Tapi itu juga membuat Hanna sedikit lega karena paling tidak Gina masih bisa bersikap sedikit santai saat ini.
"Ini, Nona. Silakan ganti baju Anda. Saya membawakannya." Hanna meletakkan dua buah paperbag di atas meja Gina.
"Kau, membawakanku baju ganti? Baju baru? Dan juga alat make up?" Gina merogoh isi paper bag yang dibawakan oleh Hanna.
"Jangan katakan kau masih sempat membawakan aku oleh-oleh dari bulan madumu yang terganggu." Gina memandang Hanna menyelidik.
"Tapi, apa ini?" Gina berpindah melihat paperbag yang lain.
"Kau bahkan membawakanku bubur ayam? Kau masih sempat melakukan ini semua untukku?" Gina mendongak memandang Hanna yang masih tersenyum padanya.
"Ya Tuhan, aku sangat terharu." Gina tersenyum senang.
"Seorang asisten harus tahu apa yang dibutuhkan oleh atasannya, Nona." Ujar Hanna dengan tersenyum memandang Gina.
"Ngomong-ngomong, dari mana kau tahu aku semalaman ada di sini?"
"Saya bertemu security di bawah dan mengatakan Anda ada di sini sejak semalam jadi, saya berbalik untuk membawakan semua itu." Hanna tersenyum sebiasa mungkin untuk menutupi kebohongannya.
Tadi saat Hanna memarkir mobilnya di area parkir, ia lalu menemui Surya yang sudah menunggunya di sana. Surya sudah memberitahunya bahwa ia menunggunya di tempat itu.
"Ini, bawalah. Berikan kepada Nona Gina. Dia belum pulang sejak semalam." Surya menyerahkan paperbag yang ada di tangannya.
"Kau menunggu di sini sejak semalam?" Tanya Hanna.
__ADS_1
"Ya." Jawab Surya yang sudah keluar dari dalam mobilnya saat melihat Hanna berjalan mendekat.
"Terima kasih." Jawab Hanna memandang Surya dengan pandangan tidak mengerti. Tapi sebanyak apapun pertanyaan yang saat ini sedang ada di kepalanya, Hanna memilih untuk tidak menanyakannya kepada Surya.
Selesai mengganti pakaian setelah tadi sudah menghabiskan sarapannya terlebih dulu, Gina kembali duduk di kursi kerjanya. Feby juga sudah mengantar beberapa berkas yang diminta oleh Hanna untuk ia pelajari.
"Nona, sambil menunggu para detektif mendapatkan informasi tentang Pak Indrawan, sebaiknya kita mulai mempersiapkan untuk produksi saja dengan dana yang ada. Meskipun tidak memenuhi target seperti yang telah dibuat diawal bulan tapi kita harus tetap berproduksi. Saya akan menghubungi divisi keuangan dan divisi produksi mengenai hal ini."
"Ya, lakukanlah." Hanna baru akan menelepon divisi terkait tapi Gina menyelanya.
"Tapi usahakan kita masih memiliki dana untuk gaji karyawan. Jangan sampai mereka tidak mendapatkan haknya." Hanna memandang Gina lekat lalu mengiyakan.
"Sistem gaji karyawan akan tetap diatur oleh masing-masing R-Store dan keuntungan yang diperoleh setiap bulan salah satunya adalah untuk penggajian karyawan R-Store sehingga Anda tidak perlu meresahkan itu. Sementara kita hanya akan berkonsentrasi dengan karyawan R-Company pusat dulu." Jelas Hanna secara detail dan Gina mengangguk mengerti atas penjelasan anak buah yang tahu banyak hal itu daripada dirinya yang masih orang baru di perusahaannya.
Gina sudah mendapatkan rincian produksi yang baru setelah rapat mendadak yang baru saja ia lalukan dengan divisi terkait. Kemudian ia mengkomandokan kepada para divisi untuk mulai bekerja seperti biasa walaupun dengan jumlah produksi yang tidak seharusnya. Gina berharap Pak Indrawan segera diketahui keberadaannya sehingga dia bisa bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan serta mengembalikan sekian banyak dana perusahaan yang telah digelapkan.
Ada sebuah telepon masuk pada ponsel Hanna dan langsung ia angkat.
"Benarkah?" Suara Hanna tampak antusias. Itu membuat Gina menjadi penasaran.
"Ada apa?" Tanya Gina setelah melihat Hanna selesai dengan percakapannya di telepon.
"Syukurlah, Nona. Surya sudah menemukan keberadaan Pak Indrawan. Orang-orangnya akan membawa Pak Indrawan pulang ke tanah air. Anda harus bersiap untuk datang ke kantor polisi siang nanti." Hamna berbicara dengan sangat girang.
"Apa? Surya?" Tanya Gina heran ketika Hanna menyebut nama itu.
"Maaf, Nona?" Hanna sendiri bahkan tidak sadar telah menyebut nama itu karena saking senangnya orang yang sudah menggelapkan uang perusahaan telah diketemukan.
Diam-diam Hanna lalu menyadari hal itu dan menyesal telah keceplosan menyebut nama Surya yang telah membantu menemukan Pak Indrawan. Padahal Gina telah terang-terangan menolak segala macam bantuan yang ingin Surya berikan.
"Jadi, dia bersikeras untuk melakukannya?"
"Benar, Nona." Jawab Hanna lemah karena merasa telah membongkar sendiri rahasianya bersama Surya.
"Dan kau tahu hal ini?" Hanna hanya mengangguk, tanpa berani menjawab lagi. Gina menatapnya tajam dengan penuh kemarahan.
"Kenapa denganmu, Hanna? Kau fikir kalian adalah pahlawan dan bisa melakukan ini padaku?" Nada suara Gina benar-benar dingin hingga membuat Hanna merinding mendengar suaranya.
"Sekarang, tolong keluar dari ruanganku." Perintah Gina dan membuat Hanna terpaksa keluar dari ruangan itu setelah lagi-lagi meminta maaf karena merasa bersalah.
Hanna menutup pintu ruangan Gina kembali saat keluar dari sana. Sekretaris Gina menatap Hanna heran karena melihat wajahnya tampak suram seperti itu. Feby menduga pasti sesuatu telah terjadi diantara mereka. Tapi sebagai pegawai baru, Feby tidak berani menanyakannya dan hanya bisa menduga-duga kira-kira ada apa sebenarnya. Pandangan Feby hanya mengikuti Hanna yang berjalan menjauhi ruangan dan menyusuri koridor sendirian.
Di dalam ruangannya, Gina bersandar pada kursinya yang nyaman. Ia tidak menyangka jika kehadiran Surya kembali kemarin benar-benar ingin membantu walau Gina telah mentah-mentah menolaknya. Itu membuatnya marah karena Surya pasti melihat Gina dengan penuh rasa iba sekarang. Dan itu membuat Gina terlihat lebih menyedihkan sehingga ia merasa sangat kesal.
🌸🌸🌸
Surya menutup telepon yang baru saja masuk lalu bergabung dengan para pegawainya melayani para pembeli. Dua orang gadis muda yang sedang memilih sate-satean tampak berbisik-bisik sambil memandang Surya. Karena merasa diperhatikan, Surya lalu memalingkan wajah pada mereka berdua. Mereka yang sedang memandang Surya menjadi salah tingkah karena terpergok sedang memperhatikannya. Surya memberikannya senyum dan kedua gadis itu membalas senyumnya sumringah. Lalu keduanya pergi sambil masih sesekali memandang Surya dari meja sambil memakan angkringan. Surya tidak memperhatikan itu dan kembali sibuk dengan menata sate-satean di hadapannya.
Tanpa Surya sadari, sebenarnya sejak Gina merubah penampilannya, banyak wanita yang memandangnya dengan kagum. Badannya yang tinggi tegap, kulitnya yang tidak putih tapi itu menjadi daya tarik tersendiri darinya, dan juga matanya yang kecoklatan membuatnya terlihat sangat rupawan. Tutur katanya yang baik dan tingkah lakunya yang sopan, Surya benar-benar nyaris sempurna.
Itu membuat setiap kedatangannya di setipa warung angkringan miliknya selalu dinanti oleh pelanggan tetapnya. Seperti dua orang gadis yang tadi membicarakannya dan memandang dirinya penuh kekaguman, itu adalah salah sedikit pelanggan yang menjadi pengagumnya.
"Ton, aku akan pergi sebentar. Beri tahu Anjar untuk memeriksa persiapan katering untuk acara klien besok."
"Baik, Pak." Jawab pegawai Surya yang masih sangat muda itu.
Surya meninggalkan tempatnya dan sempat melewati dua gadis tadi. Kedua gadis itu tidak berkedip mengikuti gerak langkah Surya di dekat mereka.
"Benar bukan, kalau dia pemiliknya." Ujar salah satu gadis itu.
__ADS_1
"Iya, tapi untuk seorang pengusaha kuliner sesukses dia, kenapa hanya memakai motor?" Pandangan kedua gadis itu masih mengikuti Surya hingga ke pelataran parkir di depan warung.
"Aku yakin dia adalah seorang pria yang low profile." Gadis satunya memandang Surya yang mulai meninggalkan tempat parkir dengan masih penuh kekaguman.