
Gina sedang keluar dari dapur untuk mengambil air minum saat ponsel ditangannya bergetar. Ia melihat layar dan membiarkannya berbunyi beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat karena mulai lelah dengan panggilan yang selalu dilakukan oleh Marco. Itu benar-benar sangat mengganggunya.
"Kau ini memang tidak tahu malu. Setelah apa yang kau lakukan kepada Hanna, berani-beraninya kau menghubungiku. Kau benar-benar menyebalkan. Kau fikir aku mengangkat teleponmu kali ini karena aku kasihan padamu? Tidak, aku lelah melihat namamu dari layar ponselku." Omel Gina bahkan sebelum Marco membuka suara.
Kalimat selanjutnya adalah percakapan diantara keduanya yang berisi banyak cacian dari Gina karena sangat marah kepada Marco yang mengingkari janjinya dengan membuat Hanna bersedih seperti itu.
"Temui aku di sanggar taekwondo. Jangan lupa pakailah dobok (baju taekwondo). Sudah lama aku tidak berlatih dengan lawan." Ujar Gina kemudian ia menutup teleponnya.
"Berani sekali dia mengajakku bertemu dan menyanggupi tantanganku." Gumam Gina yang sudah duduk di meja makan sekarang.
"Sepertinya dia sangat putus asa sampai siap mati ditanganku." Gina tersenyum kecut membayangkan bagaimana saat nanti bertemu Marco.
Gina membuka pintu mobilnya yang sudah terparkir di garasi rumahnya. Ia membawa tas yang berisi perlengkapan untuknya di sanggar taekwondo nanti. Gina mulai menyalakan mesin mobilnya dan memasang seatbelt. Kemudian perlahan ia melajukan mobil mewahnya meninggalkan gerbang. Jalan raya tampak ramai lancar. Itu membuat Gina bisa menikmati perjalanannya dengan santai. Sampai akhirnya ia pun membawa masuk mobilnya pada area parkir sanggar taekwondo. Setelah menghentikan mobil dengan baik, Gina lalu membuka pintu belakang tempatnya meletakkan tas yang ia bawa.
Tapi saat Gina menenteng tas yang ia bawa, tidak sengaja ia menjatuhkan ponsel di tangannya ke dasar mobil. Saat Gina mengambilnya, di sela bawah jok terlihat sesuatu olehnya yang kemudian ia pungut. Gina memegangnya sekarang. Sebuah amplop putih panjang. Ia tidak pernah merasa memiliki amplop semacam itu.
Dengan didasari rasa penasaran, Gina lalu membuka amplop. Ia melihat didalamnya ada sebuah kertas. Tanpa pikir panjang Gina lalu menngambil dan lalu membaca tulisan yang ada di atas kertas itu. Terdapat kop surat sebuah rumah sakit tertulis dibagian paling atas kertas yang sedang ia pegang. Ada nama pasien yang disitu adalah nama Hanna. Dari situ Gina akhirnya tahu itu adalah milik Hanna. Tapi kemudian ia membelakakkan matanya saat melihat diagnosis yang ditulis oleh dokter bahwa Hanna sekarang sedang positif hamil.
Gina mengerjapkan matanya berkali-kali melihat isi kertas itu. Melihat bahwa Hanna sedang mengandung. Gina merasa semakin marah kepada Marco yang masih saja suka bermain dengan wanita lain. Ia lalu melipat kembali kertasnya dan memasukkan ke dalam tas yang ada di pundaknya.
Dari tempat ia berjalan menuju arena latihan taekwondo, Gina melihat Marco sudah menunggunya. Tangan Gina mengepal semakin erat seiring kamarahan yang saat ini sedang ia rasakan. Gina bahkan sangat malas menatap wajah Marco, ia sudah gatal ingin melayangkan tinjunya di sana. Saat sudah semakin dekat, Gina enggan menyapanya dan hanya melewatinya saja. Ia sedang berusaha menahan diri untuk tidak menghajar Marco sebelum ia mengganti pakaiannya dengan Dobok. Gina tahu saat ini Marco juga berjalan mengikutinya dari belakang dan menuju arena latihan.
Marco menunggu di tepi arena sementara Gina pergi ke ruang ganti untuk menukar pakaiannya. Gina diam beberapa saat di dalam ruang ganti sambil menatap amplop milik Hanna. Tapi kemudian ia memasukkan amplop itu ke dalam doboknya dan berjalan menghampiri Marco yang menatapnya dari tempat ia berdiri.
"Kenapa kau tidak memakai Hogo (pelindung badan)?" Tanya Gina saat berhadapan dengannya dan melihat sepertinya Marco tidak memakai pelindung badan karena badannya tidak terlihat bervolume dibalik baju taekwondonya.
"Aku siap menerima semua pukulanmu sebagai hukuman." Ujar Marco dengan mata sendu seolah ia memasrahkan dirinya malam ini untuk dihabisi oleh Gina demi menebus rasa bersalahnya.
"Kau yakin tidak akan mengulangnya lagi?"
"Kau boleh membunuhku kalau aku mengingkari janji lagi." Jawab Marco tegas.
"Waw, aku merinding mendengarnya." Gina meledek. Ia tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh Marco karena ia bukan tipe pria setia sehingga berbohong untuk mendapatkan apa yang ia mau pasti bukan hal sulit untuknya.
"Baiklah, ku pegang janjimu. Tapi aku ingin perjanjian kita memiliki kekuatan hukum agar tidak terulang lagi kejadian seperti kemarin. Aku ingin kau menandatangani surat perjanjian kita ini. Sehingga selanjutnya aku tidak perlu memberi hukuman dengan mengotori tanganku untuk menghajarmu. Biarkan pihak berwajib yang akan menanganimu." Gina menyodorkan sebuah amplop putih kepada Surya.
Ragu-ragu Surya menerima amlop putih yang diulurkan oleh Gina. Ia tidak menyangka jika Gina setegas ini sekarang. Apakah karena ia sekarang adalah pimpinan perusahaan besar, Gina terlihat lebih keras dari sebelumnya. Marco berfikir sepertinya Gina mulai terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara menggunakan hukum sebagai ukurannya.
"Ini." Gina menyodorkan pena kepada Marco untuk membuatnya segera menandatangani surat perjanjian itu.
"Cepat tanda tangani." Desak Gina. Itu membuat Marco segera membuka amplopnya.
Tapi saat membuka kertas yang ada di dalam amplop itu, Marco memandang Gina tak mengerti. Sekali lagi ia membacanya dan sekali lagi Marco memandang Gina. Tapi kali ini dengan senyum yang berkembang di bibirnya.
"Jangan senang dulu. Seharusnya tanyakan pada dirimu, apa kau berhak merasa sebahagia itu." Tanya Gina dengan nada sinis.
"Ya, aku berhak untuk itu. Bagaimana aku tidak bahagia ketika sebentar lagi akan ada yang memanggilku Papa." Jawab Marco dengan wajah bahagia yang tidak bisa ia kendalikan. Gina tersenyum melihat tingkah Marco.
"Baiklah, sekarang aku sudah lebih dari siap untuk kau hajar." Tantang Marco setelah melipat kembali kertas yang ada di tangannya.
"Aku harus segera bertemu Ibu dari anakku. Kau tidak boleh mengingkari janji dengan merahasiakan keberadaannya."
Hingga beberapa saat yang lalu Gina masih merasa sangat marah kepada Marco. Tapi melihat wajah bahagia yang ditampakkan oleh suami Hanna itu, Gina menjadi berubah fikiran. Ia merasa jika menghajar Marco sekarang hingga babak belur lalu bagaimana nanti perasaan Hanna jika Marco menemuinya dengan keadaan yang menyedihkan? Mungkin Hanna akan sedih melihat ayah dari bayinya datang dengan wajah yang berantakan dan cara berjalan yang tidak seperti sebelumnya. Gina tahu, meskipun Hanna sedang marah, tapi ia masih mencintai Marco. Terlihat sekali untuk sementara waktu ini Hanna ingin menghindari suaminya. Hal itu hanya akan dilakukan oleh seseorang yang sedang marah besar. Dan Hanna tidak akan marah sebesar ini jika ia sedang tidak dikuasai oleh rasa cemburu. Dan kecemburuan adalah bentuk dari implementasi cinta yang ia rasakan kepada Marco.
"Pergilah. Aku muak melihat wajah senangmu itu." Gina memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.
"Mana bisa aku menghajarmu dengan wajah secerah itu. Aku tidak bisa melakukannya. Itu hanya akan mengotori tanganku saja. Sudah, pergilah." Usir Gina dengan wajah pura-pura marah.
__ADS_1
"Benarkah? Kau serius?"
"Ya. Cepatlah pergi sebelum aku berubah fikiran." Marco yang mendengar pernyataan Gina lalu mengembangkan senyum lebarnya. Dan dengan penuh semangat ia lalu pergi dari arena latihan taekwondo. Tapi baru beberapa langkah ia berlari, Marco lalu berhenti dan berbalik badan.
"Dimana alamatnya?" Tanya Marco dengan terkekeh menertawakan dirinya sendiri yang terlalu bersemangat hingga lupa pada tujuan awalnya bertemu Gina di tempat itu.
"Dasar." Gumam Gina sambil menahan tawa melihat kekonyolan Marco.
Setelah mengganti doboknya dengan baju yang ia pakai saat berangkat tadi, Gina keluar dari dalam kamar ganti. Tapi ia kaget setengah mati saat melihat seseorang yang bersandar di samping pintu.
"Ya Tuhan..." Gina mundur satu langkah untuk menghindari dirinya menabrak orang itu. Surya tersenyum kepadanya.
Gina memandang Surya lekat yang berdiri di depannya. Surya menatap Gina dengan pandangan aneh karena telah menatapnya seperti itu.
"Ada apa, Nona?" Tanya Surya masih berdiri di tempatnya menunggu Gina.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Gina balik bertanya karena merasa heran dengan keberadaan Surya sekarang.
"Saya sedang menunggu Anda."
"Kenapa menungguku?" Gina heran dengan tindakan Surya.
"Lagipula, darimana kau tahu aku ada di sini?"
"Mbak Yuyun mengatakan Anda pergi latihan." Jawab Surya santai.
"Mbak Yuyun?" Gina memang mengatakan pada Mbak Yuyun akan pergi kemana tadi sebelum keluar rumah.
"Kau memata-mataiku?"
"Tidak, saya merindukan Anda. Jadi, saya menanyakan padanya apa yang sedang Anda lakukan." Mendengar itu Gina mengerjapkan matanya berkali-kali karena Surya secara terbuka mengatakan merindukannya.
"Hei, kau fikir aku buronan?" Surya terkekeh melihat Gina cemberut. Wajahnya jadi lucu dengan bibir meruncing itu.
"Entahlah, tapi saya selalu ingin menemukan dimana Anda berada." Gina malah memelototi Surya sekarang.
"Mari pergi dengan saya, Nona." Ajak Surya sambil tertawa kecil melihat ekspresi Gina.
"Tidak mau." Jawab Gina ketus sambil berjalan meninggalkan Surya.
"Saya ingin mengajak Anda ke tempat yang pasti Anda sukai." Surya mensejajari langkah Gina.
"Tidak mau." Gina masih ketus.
"Saya yakin Anda akan menyukai tempat itu. Jadi, saran saya, sebaiknya Anda menerima ajakan saya." Gina masih melanjutkan langkahnya.
"Kemana?" Tanya Gina mulai penasaran tapi masih berlagak tidak peduli
"Nanti Anda akan tahu."
"Tidak mau." Gina masih berusaha untuk jual mahal.
"Bagaimana saya bisa merayu Anda kalau Anda menolak ajakan saya." Gina memejamkan matanya sebentar lalu memandang Surya. Ia mendapati Surya yang tersenyum memandangnya sambil menggerakkan kedua alisnya.
"Awas kalau kau hanya membuang waktuku saja."
"Saya selalu berusaha untuk tidak mengecewakan Anda, Nona."
__ADS_1
"Baiklah. Jangan sampai kau mengecewakanku." Jawab Gina yang dibalas anggukan oleh Surya.
"Silakan, Nona." Ajak Surya menuju ke arah mobilnya terparkir.
Gina lalu memasuki mobil setelah Surya membukakan pintu. Ia lalu berjalan ke belakang membuka bagasi untuk memasukkan tas Gina. Setelah itu ia pun memasuki mobil dan mulai berkendara meninggalkan sanggar taekwondo.
Surya menyetir dengan santai seperti biasanya. Gina juga tidak berbicara apapun. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia mulai berfikir kembali apakah yang dilakukannya ini benar atau tidak. Benarkah ia boleh memberi Surya kesempatan semacam ini? Apakah itu membuatnya terlihat ingin membalas dendam atau malah sebaliknya hanya semakin terlihat jika ia sebenarnya menunjukkan bahwa dirinya masih menyukai Surya. Karena memikirkan itu, tanpa ia sadari, Gina menarik nafasnya berat. Dan Surya bisa mendengar itu. Ia lalu tersenyum.
"Saya bertemu Pak Marco di depan. Apakah dia juga salah satu member di sini?" Tanya Surya memecah keheningan.
Saat memarkir mobilnya tadi, Surya melihat Marco keluar dai gedung dan memasuki mobilnya.
"Bukan."
"Anda tahu itu?" Tanya Surya dengan wajah heran.
"Jadi, kenapa dia ada di sini?" Surya berfikir lagi.
"Jangan katakan Anda sengaja bertemu dengannya di sini." Kalimat Surya selanjutnya seperti menunjukkan bahwa dirinya sedikit gelisah. Tapi Gina menganggu tanda mengiyakan.
"Apa Anda bermaksud 'memberinya pelajaran' di sini?" Tebak Surya.
"Awalnya iya. Tapi setelah ku fikir lagi, itu hanya akan mengotori tanganku saja. Dia bukan tandinganku jadi ku suruh dia pergi." Surya tersenyum mendengar kalimat Gina yang menyombong.
"Bagaimana kabar Hanna? Apa dia menghubungi Anda?" Lanjut Surya.
"Tidak. Kau?" Gina balik bertanya dan Surya menjawab dengan gelengan kepala pertanda Hanna juga tidak menghubunginya.
"Semoga mereka menemukan jalan terbaik."
"Mereka akan kembali bersama." Jawab Gina yakin. Mendengar itu Marco mengerutkan kening. Entah apa yang Gina dan Marco bicarakan tadi, tapi Surya merasa itu pasti ada hubungannya dengan Hanna.
Marco mengendarai mobilnya menyusuri jalan raya malam. Sejak keluar dari sanggar taekwondo tadi, Marco langsung menuju ke alamat yang Gina berikan. Itu adalah sebuah alamat yang tidak Marco kenal dan bukan rumah orang tua Gina. Entah di rumah siapa Hanna sekarang, tapi Marco ingin segera sampai dan memeluk Gina dengan erat. Ia merasa harus meminta maaf telah membuatnya semarah itu hingga pergi dan menghindari dirinya. Ia tidak sabar ingin bertemu wanita yang sedang mengandung bayinya.
Hingga akhirnya Marco tiba di depan rumah dengan alamat yang diberikan oleh Gina. Ia melihat sebuah rumah tanpa di sebuah komplek perumahan. Marco lalu turun untuk memastikan keberadaan Hanna di sana. Marco lalu memencet bel di samping pintu. Beberapa saat kemudian pintu terbuka tapi wanita yang membuka pintu bukan Hanna. Wanita itu menatap Marco lekat.
"Siapa yang datang?" Mendengar suara itu Marco yakin ia tidak salah rumah. Itu adalah suara Hanna. Terlebih saat Hanna muncul dari balik gorden pemisah antara ruang tengah dengan ruang tamu. Dari situ Marco bisa melihat Hanna dengan jelas. Ia lalu menyunggingkan senyumnya. Hanna diam terpaku mengetahui Marco tiba-tiba ada di hadapannya. Ia yakin telah ada yang mengingkari janji untuk merahasiakan keberadaannya, entah Gina atau Surya.
"Hei, kau mau membawaku kemana?" Tanya Gina karena Surya seperti hanya berputar-putar di dalam kota sejak tadi.
"Sebentar, Nona." Surya masih berkonsentrasi dengan jalan didepannya sambil menjawab Gina.
"Kau mengajakku mencari apa? Uang recehmu yang jatuh?" Gina meninggikan nada suaranya karena mendengar jawaban Surya yang menurutnya mengesalkan. Surya tertawa kecil mendengar itu.
"Sebentar Nona, tunggu sebentar lagi."
"Kau benar-benar sudah bosan hidup ya?" Gina mulai kesal sekarang.
"Anda boleh membunuh saya jika apa yang saya berikan kepada Anda nanti tidak bisa membuat Anda puas."
"Baiklah, ku pegang ucapanmu. Berdoalah mulai dari sekarang agar apa yang ku lakukan kepadamu tidak terasa terlalu menyakitkan."
"Apapun yang Anda lakukan, saya akan menerima dengan senang hati." Kalimat Surya percaya diri.
Benar, sebentar kemudian Surya mulai menepikan mobilnya di tepi jalan. Sedangkan di depannya tampak sebuah warung kopi.
"Kita berhenti disini? Bukankah kita sudah melewati tempat ini sebanyak dua kali?" Gina memandang lurus ke depan.
__ADS_1
"Tadi masih banyak antrian, Nona. Saya tidak ingin membuat Anda menunggu terlalu lama di sana." Jelas Surya sambil tersenyum lebar telah menyembunyikan hal itu sejak tadi.
"Mari kita turun, Nona." Gina hanya mandang Surya yang ternyata tidak pernah berubah sejak dulu. Ia masih memiliki perhatian yang besar padanya bahkan pada hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah terfikirkan olehnya. Perlahan jantungnya berdegup lagi. Gina lalu menarik nafas panjang demi mengendalikan perasaannya agar tidak bisa Surya lihat. Hatinya benar-benar meleleh lagi.