Tahta Surya

Tahta Surya
Menghianati?


__ADS_3

"Mbak Yuyun, kapan Papa dan Mama akan pulang?" Tanya Gina kepada Mbak Yuyun yang sedang menuangkan minum untuknya.


"Entahlah, Nona. Mungkin satu minggu lagi." Mbak Yuyun lalu kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Wah, mereka sangat menikmati hari libur setiap hari mereka." Gumam Gina lalu meminum airnya.


"Biarkan saja, Nona. Mereka senang berkumpul dan bermain. Banyak waktu mereka yang tergunakan untuk bekerja selama ini. Saatnya mereka menikmati hari bersama teman-teman." Jawab Surya yang juga menyelesaikan sarapan.


Tapi kemudian Surya memandang Gina yang diam dengan pandangan menerawang  jauh. Entah apa yang sedang difikirkannya, itu membuat Surya jadi penasaran.


"Nona..." Panggil Surya.


"Iya." Gina seperti tersadar dari lamunannya dan memandang Surya.


"Apa?"


"Mari kita berangkat." Ajak Surya dan disambut anggukan oleh Gina. Mereka berjalan menuju mobil.


"Aku iri pada Mama dan Papa yang bisa menginap di vila dan melakukan apapun yang mereka inginkan." Ujar Gina dengan masih duduk di tempatnya.


"Walaupun tidak ke vila, paling tidak aku ingin pergi ke suatu tempat dan itu bukan rumah. Aku bosan selalu berada di rumah. Surya, kapan kita pulang kampung lagi?"


"Saya juga berfikir tentang hal itu, Nona. Di kampung sekarang pasti sedang musim panen padi, jadi akan ada yg namanya sedekah bumi yang acara itu sangat ramai." Gina hanya dengan mendengar cerita Surya saja sudah membayangkan bagaiamana serunya acara itu.


"Tapi, pekerjaan kita sedang banyak-banyaknya dan tidak bisa pergi ke tempat sejauh itu."  Wajah Gina jadi mendung lagi.


"Oh, kita masih bisa melakukannya di akhir pekan ini, Nona."


"Mana mungkin. Pekerjaanku juga sedang banyak-banyaknya. Aku tidak mau setelah pulang dari vila aku malah malas untuk bekerja." Lagi-lagi kalimat Gina membuat Surya heran. Awalnya ingin berlibur tapi Gina takut setelah berlibur malah akan lelah.


"Serahkan semua pada saya."


"Apa? Bagaimana? Kemana?" Tanya Gina pada Surya yang hanya menjawabnya dengan senyuman. Itu membuat Gina menjadi gemas padanya.


Sekarang mereka sudah ada di dalam mobil dan bersiap untuk keluar dari gerbang rumah.


"Kenapa kita tidak menggunakan sopir saja? Kau seorang bos, kenapa harus repot menyetir sendiri?" Ujar Gina saat sudah berada di dala mobil.


"Tentu saja akan menyenangkan berkendara dengan sopir, tapi itu pasti akan kurang nyaman." Gina menoleh pada Surya sambil memasang wajah heran.


"Saat berdua saja kita bisa membicarakan banyak hal tanpa ada orang lain yang mendengarnya, Nona."


"Dia hanya seorang sopir, kenapa kita harus merasa tidak nyaman?"


"Tapi sopir juga memiliki telinga, Nona."


"Kau fikir aku tidak tahu itu?" Jawab Gina sambil memanyunkan bibirnya.


"Karena itulah, pembicaraan kita jangan sampai ada yang mendengarnya."


"Memangnya apa yang kita bicarakan? Kita tidak akan berbicara tentang sesuatu yang tidak nyaman saat di dengar orang lain."


"Mungkin saja tanpa kita sadari kita akan bicara hal-hal yang saat orang lain mendengarnya malah akan merasa tidak nyaman, Nona?"

__ADS_1


"Apa misalnya?"


"Anda cantik dengan lipstik warna itu. Saya suka." Surya memandang Gina saat mengatakan itu dan memberi senyum di akhir kalimatnya.


"Apa?" Gina terperanjat oleh kalimat Surya yang tiba-tiba seperti itu.


"Seperti itu salah satunya, Nona." Jelas Surya.


"Rasanya tidak apa-apa untuk kita, tapi yang mendengar itu pasti akan merasa tidak enak karena telah berada di antara kita."


"Benarkah? Apakah memang seperti itu?" Gina tampak berfikir. Kenapa juga Surya perlu mengatakan hal-hal seperti itu. Dia bukan tipe pria yang akan memperhatikan dandanan orang lain.


"Saya pernah berada di posisi itu, Nona."


"Oh iya, kau sangat berpengalaman dalam hal itu." Gina tersenyum lebar menanggapi Surya dan faham apa yang dimaksudnya.


"Menjadi asisten pribadi pasti kau sering menjadi obat nyamuk antara Papa dan Mama." Surya lalu mengangguk mengiyakan tebakan Gina.


"Oleh sebab itu Nona, jika tidak ada urusan yang harus mengajak sopir, maka saya lebih senang berkendara sendiri."


"Tapi kenapa kemarin kau menyuruh sopir untuk mengantar jemputku? Padahal aku cukup mahir dalam hal menyetir."


"Karena ketika saya tidak ada, Anda lebih baik bersama sopir. Anda tidak akan lelah menyetir sendiri."


"Oh ya? Bukan karena kau takut aku pergi kemanapun aku suka jadinya selama kau tidak ada?"


"Tentu saja itu adalah salah satu alasan lainnya."


"Kenapa?" Gina penasaran dengan jawaban Surya yang tidak berisi penyangkalan.


Mendengar itu mendadak Gina jadi tersipu. Wajahnya memerah. Ada perasaan senang saat Surya mengatakan padanya. Kalimat itu seperti sebuah kalimat rayuan yang mengandung mantra romantis. Ya, Gina merasa seperti itu. Apa yang diucapkan Surya seperti mengandung arti bahwa Gina hanya boleh pergi bersenang-senang bersamanya.


Demi menahan perasaannya agar tidak diketahui oleh Surya, Gina lalu memalingkan wajah ke arah kaca cendela yang masih tertutup itu sambil menahan senyumnya.


🌸🌸🌸


Gina menyelesaikan pekerjaannya di file terakhir lalu menarik tangannya ke atas untuk meregangkan otot yang kaku setelah melakukan pekerjaan dengan laptop di depannya. Ia melihat ke meja Hanna dan dia belum kembali. Hanna berpamitan untuk keluar sebentar tadi. Karena merasa bosan, Gina bermaksud keluar untuk berjalan-jalan sekaligus membuat coklat panas untuk dirinya di pantry.


Tapi baru saja menuju pantry, ia melihat seseorang berjalan di ujung koridor. Pria berwajah indo yang sangat ia kenal.


"Selamat siang, Nona." Sapa pria itu ramah memamerkan senyum dengan deretan gigi rapi dan kulit wajah kemerahan khas ras kaukasoid. Melihatnya, Gina menjadi malas.


"Janganlah seperti itu, Nona. Kita ini relasi." Bujuk Marco masih dengan senyumnya yang menurut Gina terlihat menjengkelkan. Walaupun jika orang lain yang memandangnya pasti menyatakan bahwa Marco punya senyum yang menawan. Tapi karena terlanjur membenci Marco, itu membuat apa yang ada padanya terlihat memuakkan.


"Kenapa kau selalu berkeliaran di sini?" Ujar Gina dengan tatapan tajam.


"Kau tidak punya pegawai yang bisa mengurus urusan perusahaanmu?"


"Aku lebih senang datang langsung. Dengan begitu aku bisa menjalin hubungan lebih erat dengan presdir secara langsung agar kami bisa terus bekerja sama dengan baik." Dalih Marco.


"Tunggu saja sampai aku yang menjadi presdir. Aku pastikan kau tidak bisa seenaknya menemuiku."


"Wah, sombong sekali calon presdir yang baru ini. Bagaimana bisa niat baikku untuk dekat dengan partnerku tidak disambut baik."

__ADS_1


"Itu karena hal itu sangat tidak penting."


"Hei, jangan libatkan urusan pribadi dengan menggunakan perasaan didalamnya. Kita harus tetep profesional bukan?" Marco mengerling. Gina seperti mual melihatnya.


"Siapa yang menggunakan perasaan? Apa sangat penting pertemuan secara langsung antar pimpinan perusahaan? Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain hal itu?"


"Tentu saja ini adalah hal penting yang sangat ku junjung tinggi. Peran antar kedua pimpinan perusahaan sangat mempengaruhi kesejahteraan pegawai."


"Oh ya?" Gina mencibir.


"Aku selalu datang ke sini selain untuk menjaga hubungan baik dengan pimpinan perusahaan, aku juga harus melihat secara langsung bagaimana pegawaiku bekerja. Apa mereka bekerja dengan baik, apa hak mereka terpenuhi, apa perusahaan tempat mereka bekerja nyaman dan menjaga mereka."


"Oh, jadi kau tidak mempercayai perusahaanku? Kau berfikir mungkin kami akan mencelai pegawai dari outsourcingmu?"


"Bukan, bukan begitu. Itu hanya umpama. Aku tahu R-Company sangat baik terhadap para pegawai. Baik pegawai tetap ataupun pegawai outsourcing. Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun."


"Kalau begitu berhentilah sering-sering datang ke sini. Aku tidak suka melihatmu berkeliaran di perusahaanku."


"Aku tidak bisa berjanji. Lagi pula tidak ada larangan tertulis agar aku tidak berkunjung di sini." Kilah Marco.


"Baiklah, kalau nanti kau masih ingin melanjutkan kerja sama kita, kau harus menerima satu pasal lagi dalam kontrak yaitu kau tidak boleh seenaknya datang ke sini."


"Hei, poin apa itu. Sangat tidak penting." Protes Marco.


"Sepakat atau tidak, itu tergantung padamu. Aku tidak keberatan kalau harus tidak memperpanjang kontrak lagi dengan perusahaanmu. Banyak perusahaan outsourcing yang akan dengan senang hati bersedia menjalin kerja sama dengan perusahaan sebesar R-Company."


"Beraninya mengancam." Cibir Marco.


"Terserah padamu." Gina masih dengan suara dingin dan pandangan bekunya.


"Kenapa kau jadi kejam begini. Padahal aku ke sini hanya karena sedang merindukan seseorang."


"Ya Tuhan. Kau benar-benar sudah gila. Berhentilah merindukan wanita yang bahkan sudah menikah." Gumam Gina sambil berlalu meninggalkan Marco.


Marco memandang Gina yang sekarang berjalan menjauhinya sambil mengangkat kedua alisnya. Gina memang belum bisa memisahkan masalah pekerjaan dan masalah pribadi. Kemarahannya kepada Marco belum mereda sama sekali. Harga dirinya yang sudah dilukai oleh Marco membuatnya masih terus menyimpan kebencian padanya.


"Tunggu saja saat aku menjadi presdir R-Company, saat itu aku akan memutuskan kontrak dengan perusahaannya. Di negeri ini banyak perusahaan out sourcing yang lebih baik dari milik Marco." Gerutu Gina sambil berjalan menuju pantry.


"Bagaimana bisa dulu Papa melakukan kerja sama dengannya. Padahal Papa adalah orang yang teliti. Kenapa bisa bekerja sama dengan orang seperti dia." Gina masih menggerutu. Padahal ia tahu itu tidak akan berguna. Ia juga tahu Papanya adalah seorang profesional yang hanya akan menilai sesuai objek bukan sesuatu berdasarkan subjeknya. Perusahaan Marco memang baik sehingga Papanya selalu memperpanjang kontrak kerja sama antar perusahaan mereka bahkan hingga saat ini berpindah Surya yang memegang kekuasaan tertinggi di R-Company.


Gina masih berjalan santai menuju pantry. Tapi saat melihat ke lantai dasar, ia melihat Hanna menuju ke pintu basement dimana tempat mobilnya terparkir. Dan di sampingnya adalah orang yang sangat ia kenal. Surya. Gina penasaran mau kemana mereka. Hanna tidak mengatakan akan kemana dan akan melakukan apa tadi saat pamit keluar sehingga tanpa disadari Gina melangkahkan kakinya mengikuti kedua orang yang dilihatnya barusan.


Gina memasuki lift untuk sampai di basement. Dan sesmpainya di sana Gina tidak menemukan keduanya. Tapi Gina melihat kedua mobil mereka masih terparkir di parkir basement. Gina penasaran kemana perginya mereka berdua. Gina berjalan perlahan ke sudut lain tempat parkir dan akhirnya menemukan bayangan dua orang disana. Masih mengendap-endap Gina mendekati bayangan yang dilihatnya. Semakin dekat sayup-sayup ia mendengar suara Hanna dan Surya sedang berbincang.


"Jujurlah padanya. Kau tidak bisa melakukan ini terus menerus. Begitu pula denganku. Bagaimana bisa aku menahan semuanya?" Suara Hanna berbicara dengan bahasa santai yang tertangkap indra pendengaran Gina.


Gina mengerutkan kening mendengarnya. Bagaimana bisa Hanna berbicara dengan bahasa dan nada yang sangat tidak sesuai jika dilakukan oleh seorang bawahan kepada atasannya.


"Entahlah, Hanna." Suara Surya seolah sedang mengeluh.


"Kau tidak bisa membuatmu semakin terjebak dalam perasaanmu sendiri. Kau harus sadar dengan posisimu." Jelas Hanna.


"Aku tahu."

__ADS_1


"Kau tidak berniat untuk menghianati cinta, bukan?"


Menghianati? Cinta? Siapa? Apa yang mereka bicarakan? Batin Gina.


__ADS_2