Tahta Surya

Tahta Surya
Hujan di Bulan Juli


__ADS_3

Sebuah pesta yang indah. Gina mengakui itu. Ia tahu Surya bekerja keras untuk pesta ini meski terlalu gengsi untuk Gina mengatakannya. Dan sejujurnya ia mengagumi pesta yang Surya buat untuk mereka malam ini.


Seleranya bagus juga. Tapi aku yakin dia mencari banyak referensi di internet untuk pesta sebaik ini. Pria cupu dan kampungan seperti dia mana mungkin memiliki ide sebaik ini. Walaupun pihak Wedding Organizer mengatakan ini adalah project terbesar dan terbaik tahun ini, tapi tentu saja Surya tidak mungkin memiliki inspirasi sesempurna ini. Batin Gina saat melihat sekeliling taman disela-sela perbincangannya dengan Sunday dan Lita.


Dari tempat Surya berada, ia bisa melihat Gina berbincang dengan kedua sahabatnya. Sahabat saat masih menjadi pegawai Font, perusahaan Faris, orang yang ada di hadapannya sekarang, yang sedang berbincang dengannya. Wedding singer kali ini menyanyikan lagu Tonight I Celebrate My Love For You milik Peabo Bryson. Itu membuat suasana menjadi sangat romantis. Para tamu pun tampak sangat menikmati pesta. Hidangan yang lezat dari koki terbaik di hotel ini melengkapi pesta yang Surya persiapkan hanya dalam waktu singkat itu.


Seperti apa yang Gina lihat, Surya pun melihat sisi indah Faris secara objektif. Wajah tampan, penampilan menarik dan kecerdasannya membuat wanita manapun pasti tertarik. Tidak mengherankan jika Gina menggilai Faris sampai saat ini. Sampai Gina tidak peduli meski Faris sudah menikah sekalipun.


"Aku menitipkan Gina kepada Anda." Ujar Faris tiba-tiba setelah berbicara tentang banyak hal. Saat ini mereka sedang berbincang hanya berdua saja.


"Aku memang tidak memiliki hubungan keluarga dengannya tapi aku mengenalnya sejak dia remaja. Alasan klasik kenapa aku harus menitipkannya karena aku mengangga Gina seperti adikku sendiri. Kehilangan satu-satunya saudara dan orang yang paling peduli padanya membuatku merasa perlu untuk melindunginya dan menempatkan diriku untuk menggantikan kakaknya." Faris menghela nafas berat seolah ada yang membebaninya.


"Tapi setelah saya menikah saya seperti memiliki jarak dengannya."


"Saya tahu itu hal yang wajar. Bagaimanapun juga keluarga baru pasti menjadi prioritas bagi Anda." Sambung Surya seperti mengerti posisi Faris.


"Ya... tapi saat tahu Gina akan menikah, saya sedikit lega. Bukan hanya karena beban saya jadi berkurang, walaupun saya tidak memungkiri bahwa memang itu ada benarnya. Tapi Gina tidak akan sendiri lagi. Akan ada orang yang selalu bersamanya. Gina bukan orang yang bisa sendiri walaupun dia terbiasa selalu sendiri. Itu karena dia tidak memiliki pilihan selain memang harus sendiri."


"Saya sangat tahu hal itu." Surya tersenyum menanggapi ucapan Faris.


"Ahh iya, Anda sudah cukup lama menghabiskan waktu bersama Om Rangga, tentu saja Anda sangat hafal hal itu." Faris tertawa kecil mengingat bahwa Surya orang yang tahu segala hal tentang keluarga Gina.


"Semoga Anda dan Gina selalu bahagia. Jangan pernah biarkan dia merasa kesepian. Dia paling benci sepi, karena sepanjang hidupnya hanya kesepian yang ia jalani."

__ADS_1


"Baik, Pak." Surya menyanggupi.


Surya merasa ada yang menetes tepat di dahinya. Ia meraba seraya mendongak ke atas. Tempatnya berdiri adalah tempat terbuka yang tidak diteduhi oleh apapun. Perasaannya tidak enak akan air yang menetes itu. Bagaimana bisa ada air jatuh ditempat ia berdiri. Belum sempat ia berpindah tempat, serbuan air dari langit semakin rapat.


"Apa ini hujan?" Gumam Faris seperti kepada dirinya sendiri sambil menengadahkan tangan.


"Ya Tuhan, Sunday." Faris segera berlari menghampiri Sunday sambil melepas jas seiring langkahnya. Sudah berada didekat Sunday, Faris lalu memayungkan jasnya pada Sunday dan membimbingnya untuk berjalan ke tempat berteduh. Berjalan sedang karena tidak ingin membuat Sunday lelah dengan perut yang membuncit itu. Apalagi tempat mereka berpijak adalah rerumputan, yang saat terkena air akan menjadi licin. Jadi Faris sangat berhati-hati mensejajari langkah Sunday.


"Terima kasih, Sayang." Sunday memasang senyum manisnya memandang Faris yang sigap menyelamatkannya dari serbuan hujan saat mereka sudah sampai di teras hotel.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini." Jawab Faris.


"Ya Tuhan, memangnya kau ojek payung?" Faris tersenyum kocak.


"Baiklah, aku akan memberimu ganti rugi. Kemarilah..." Faris menarik lengan Sunday lalu memeluknya.


"Hei, apa yang kau lakukan? Banyak orang melihat kita."


"Biar saja. Kita juga masih pengantin baru jadi orang lain harus memaklumi."


"Dasar kau ini." Sunday melepas pelukan Faris tapi lalu melingkarkan tangan ke pinggang suaminya itu sambil tersenyum mendongak demi memandang wajah Faris. Perbedaan tinggi badan diantara mereka membuat Sunday harus sering-sering mendongak jika ingin memandang wajah suaminya. Dan saat ini wajah Sunday terlihat merona karena malu bercampur bahagia.


Tidak mereka sadari ada seseorang yang sejak tadi memandang setiap pergerakan mereka. Gina mengusap wajahnya yang basah. Hatinya sakit. Melihat sikap manis Faris kepada Sunday hatinya seperti terbakar.

__ADS_1


Surya yang melihat Gina belum beranjak dari tempatnya berdiri pun segera kembali menghampiri. Ia sahut sebuah nampan di atas meja lalu ia gunakan untuk melindungi dirinya dari gerimis yang lebih rapat dari sebelumnya. Setelah menjangkaunya, Surya memindahkan nampan yang ia bawa untuk meneduhi Gina. Beberapa saat Gina tidak bergeming. Pandangannya lurus tertuju disuatu titik.


Melihat Gina yang masih mematung ditempatnya dan memandang ke satu arah, Surya mengikuti arah pandangan mata Gina. Kemudian yang ia temukan adalah Sunday dan Faris sedang saling tatap mesra serta saling dekat. Surya tahu apa yang membuat Gina seperti itu lalu menggeser tubuhnya ke depan Gina untuk menutupi pandangannya. Kali ini berhasil, pandangan Gina teralihkan kepadanya. Dari situ Surya tahu bahwa Gina menangis. Meski air hujan menyamarkan air matanya yang meleleh tapi dari jarak dekat dan sinar lampu tepat diatas mereka membuat mata Gina yang memerah jadi terlihat jelas.


Perlahan Surya melangkah lagi untuk lebih dekat kepada Gina. Lebih dekat dan semakin dekat setiap detiknya. Selanjutnya Gina sudah berada didalam pelukan Surya.


Setiap mata yang memandang itu lalu menyunggingkan senyum. Melihat kedekatan kedua mempelai di bawah hujan membuat mereka seolah sedang melihat sebuah adegan yang biasa ada di dalam film romantis. Melihat kejadian itu, personil band serta wedding singer yang sudah berada di tempat teduh pun seperti sigap untuk mengiringi adegan romantis mereka dengan menyanyikan lagu Ed Sheeran yang berjudul Perfect sebagai backsound.


"Seperti sedang menonton syuting film romantis." Celetuk salah seorang tamu.


Mendadak suasana disekitar pesta yang terguyur hujan menjadi terasa lebih hangat melihat Gina dan Surya bersama, meskipun gerimis menjadi lebih deras dan Gina belum ingin beranjak. Ia seperti menemukan tempat yang aman untuk menangis. Hatinya selalu sakit setiap melihat Faris memperlakukan Sunday dengan manis. Terbakar cemburu sangatlah menyakitkan. Dan ia merasa tubuhnya seperti hangus setiap merasakannya.


"Dasar, hanya butuh sehari saja untuk membuatnya luluh kepada Surya." Gumam Pak Rangga sambil tersenyum memandang Gina dan Surya yang masih berpelukan dibawah hujan.


"Apa secepat itu?" Bu Marina memandang mereka heran. Ia tahu putrinya tidak mudah berpaling seperti itu.


"Apa Surya juga mengguna-gunai Gina?" Gumamnya dengan suara mirip bisikan.


"Apa yang kau katakan?" Tanya Pak Rangga karena suara Bu Marina tidak terdengar dengan jelas.


"Tidak ada... Sepertinya hujan sengaja khusus turun malam ini untuk memberi kesempatan mereka lebih dekat satu sama lain. Hujan turun di bulan Juli. Sangat mengesankan." Bu Marina berbohong dan memamerkan senyumnya semanis mungkin.


Gina masih membenamkan wajahnya dalam pelukan Surya karena saat ini hanya itu yang ia bisa. Ia tidak mungkin menampakkan tangisnya dihadapan semua orang.

__ADS_1


__ADS_2