Tahta Surya

Tahta Surya
Wahana Ekstrem


__ADS_3

Gina memangdang Surya lurus.


"Beberapa hari tidak melihat Anda yang suka marah-marah, mengambek, mengomel rasanya ada yang kurang." Surya lalu terkekeh. Gina jadi lebih kesal. Ternyata itu yang Surya rindukan darinya, bukan hal lain yang sekarang ia fikirkan. Itu membuat Gina benar-benar ingin pergi dari situ dan mencoba melepaskan pegangan Surya di lengannya.


"Maafkan saya Nona, tapi sikap ngambek Anda memang menggemaskan." Masih dengan tersenyum karena terlalu gemas melihat Gina yang cemberut.


"Kau ini." Gina melayangkan tangan satunya memukul bahu Surya.


"Awww..." Surya lalu memegang bahunya dan kesakitan.


"Lukaku..."


"Ya Tuhan, maafkan aku. Aku lupa. Bagaimana ini?" Gina jadi panik melihat Surya kesakitan memegang bahunya. Ia ingin menyentuh bahu Surya tapi takut itu akan membuatnya lebih sakit. Gina jadi tidak tahu harus melakukan apa.


"Ayo kita ke dokter saja."


"Tidak usah, Nona."


"Hei, aku tahu pukulanku tadi sangat keras. Itu pasti sakit. Atau jangan-jangan jahitannya bisa saja terlepas. Atau... bagaimana ini? Ayolah..." Gina berusaha membujuk Surya karena merasa bersalah sudah memukulnya.


"Tidak perlu Nona, saya baik-baik saja."


"Kau selalu mengatakan baik-baik saja."


"Saya memang baik-baik saja, Nona. Luka saya juga baik-baik saja karena ada di bahu sebelah yang lain." Surya tersenyum memandang Gina yang sekarang jadi tampak bodoh. Bagaimana bisa ia begitu saja percaya pada Surya bahwa yang dipukul oleh Gina adalah bahu yang terluka. Karena saking panik dan terlalu perhatian kepada Surya, Gina hingga tidak bisa berfikir dengan benar. Ia hanya takut sudah menyakiti Surya.


"Ya Tuhan... Kau ini." Gina memanyunkan bibirnya lebih panjang.


"Apa sangat menyenangkan mengerjaiku dan membuatku marah? Apa kau pikir ini menyenangkan juga bagiku?" Gina benar-benar marah sekarang. Surya jadi gelagapan karena candaanya malah membuat Gina marah.


"Maafkan saya, Nona. Bukan begitu maksud saya."


"Kau ingin aku marah agar kau merasa terhibur, bukan? Itulah sebabnya selama kau pergi yang kau rindukan adalah kemarahanku padamu. Karena kau menyukainya. Kau suka melihatku marah-marah dan bagimu itu terlihat lucu." Gina menarik nafas sebentar.


"Kau tahu, ini bukan lagi tampak lucu bagiku. Tapi ini buruk. Buruk dan melelahkan." Gina seperti sedang meluapkan semua emosi yang dipendamnya beberapa hari ini karena kesal kepada Surya yang seperti mengabaikannya.


"Aku lelah sampai aku..." Gina tidak melanjutkan kalimatnya karena sekarang Surya sudah mendekapnya. Memeluknya dan membuat Gina sesak nafas. Bukan karena Surya terlalu erat mendekapnya tapi karena jantung Gina yang mendadak seperti sedang berpacu kencang dan mungkin saja menimbulkan bunyi-bunyian nyaring karena saking kencangnya.


"Saya merindukan Anda, Nona. Saya benar-benar merindukan Anda." Bisik Surya diatas kepala Gina. Gina belum bisa berkata-kata. Ia masih merasa debaran didadanya sangat menguasai sehingga otaknya tidak bisa memikirkan apapun kecuali merasa nyaman didekap seperti itu. Tiba-tiba Gina merasa hangat, rindunya seperti mencair.


"Tapi kenapa kau memelukku? Aku sedang marah padamu." Pertanyaan Gina yang sepersekian detik kemudian lalu ia sesali. Gina memejamkan matanya kuat-kuat merasa pertanyaan itu seharusnya tidak pernah ia tanyakan kepada Surya secara langsung seperti itu.


Surya lalu melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Gina sambil menatapnya.


"Itu karena saya pernah membaca sebuah artikel bahwa wanita yang sedang marah akan segera mereda ketika dipeluk." Surya menatap Gina lembut dan tidak tertinggal sembari menyunggingkan senyum.


"Dan benar, sepertinya Anda tidak marah lagi sekarang."

__ADS_1


"Aku tetap marah. Aku tetap sangat marah padamu." Suara Gina sudah tidak sekuat tadi dan terdengar seperti menjadi manja.


"Maafkan saya, Nona."


"Bukankah kau rindu marahku? Jadi nikmati saja kemarahanku. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot untuk meredamnya." Gina mulai bersikap dingin lagi.


"Baiklah kalau itu mau Anda, apa boleh buat. Saya harus memeluk Anda lagi agar Anda berhenti marah."


"Hei, jangan coba-coba." Gina mundur dua langkah menghindari Surya.


Sebenarnya Gina sudah tidak marah lagi tapi ia terlalu gensi kalau harus mengakui bahwa apa yang dilakukan oleh Surya tadi benar-benar ampuh. Sehingga ia akan tetap berpura-pura marah terhadapnya.


"Saya sudah cukup membuat Anda marah. Jadi saya harus bertanggung jawab dan membuat Anda senang sekarang." Ucap Surya dengan langkah semakin dekat kepada Gina. Gina mundur lagi tapi kemudian yang ada di belakangnya adalah daun pintu.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Mari kita pergi ke suatu tempat." Gina mengerutkan kening. Ternyata Surya cukup gigih untuk membuatnya tidak marah lagi.


Dan di sinilah mereka sekarang berada. Gina mendongak memandang roller coaster di hadapannya penuh takjub.


"Aku ingin menaiki itu." Gina menunjuk wahana favoritnya dengan wajah berbinar. Surya lalu berjalan mendekati antrian yang lumayan panjang itu. Akhirnya Gina dan Surya bergabung dengan para pengunjung di sana. Cuaca lumayan panas. Gina mengusap kepalanya yang terasa hangat.


"Sebentar, Nona." Surya meninggalkan Gina dalam antrian.


"Kau mau kemana?" Gina melongo melihat Surya pergi begitu saja.


Antrian Gina mulai berkurang dan setelah putaran terakhir ini akan tiba gilirannya. Tapi Surya belum juga kembali. Gina mulai gelisah kemana sebenarnya Surya. Kenapa dia lama sekali pergi. Gina celingukan dengan sepasang mata yag mencari-cari dimana kira-kira keberadaan Surya saat ini. Tinggal satu putaran lagi roller coaster di depannya, tiba-tiba ada sesuatu yang terpasang di kepalanya. Gina mendongak ke atas lalu merabanya. Sebuah topi baseball berwarna putih dengan logo taman bermain.


"Maafkan saya yang mengajak Anda secara mendadak sehingga Anda tidak membawa persiapan apapun termasuk topi."


"Tidak apa-apa." Gina jadi memaklumi itu karena Surya dengan sigap membelikan topi untuknya agar tidak kepanasan. Sedangkan Surya juga membeli untuk dirinya sendiri topi berlogo sama tapi berwarna hitam. Gina merasa tidak bisa menahan senyumnya karena perasaan berbunga-bunga. Surya selalu perhatian padanya dalam banyak kesempatan.


"Oh, sekarang giliran kita, Nona." Surya mengomando Gina untuk mengikuti orang-orang yang sudah mengantri di depannya untuk berjalan menuju roller coaster.


Gina sangat girang dan sangat bersemangat. Surya tersenyum melihat sikap Gina dan mengikutinya.


"Setelah ini, aku mau lagi." Ucap Gina kepada Surya di sebelahnya yang sedang menuggu sabuk pengamannya terpasang dengan sempurna.


Mendengar itu Surya mengerutkan alisnya. Roller coaster yang mereka naiki bahkan belum berjalan, tapi Gina sudah yakin akan mengulang satu putaran lagi.


"Kenapa? Kau tidak mau?" Gina tersenyum lebar melihat ekspresi wajah Surya.


"Kita bahkan belum melalui satu putaran, Nona."


"Aku bisa melalui ini walau seribu kali putaran lagi." Gina mengatakan dengan penuh percaya diri. Tepat saat itu roller coster mulai berjalan. Gina membulatkan matanya sambil berseru riang. Lagi-lagi Surya hanya bisa tersenyum melihatnya yang sangat bersemangat. Seperti anak kecil yang sudah lama tidak pergi ke taman bermain.


Sepanjang roller coaster berjalan, Gina tidak berhenti berseru dan berteriak. Ia benar-benar melepaskan semua teriakannya dan tidak ingin menahan diri. Surya juga melakukan hal yang sama pada saat roller coaster menanjak dan menurun. Sesekali ia menoleh ke arah Gina yang juga lalu menoleh kepadanya. Surya melihat dari ekspresi Gina, wanita disebelahnya itu terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Surya, aku akan naik satu kali lagi." Ujar Gina saat roller coaster mulai memelankan rodanya dan hampir berhenti. Surya diam saja seperti menahan sesuatu. Dan begitu roller coaster berhenti, Surya segera turun sesaat setelah sabuk pengaman terbuka.


"Nona, saya akan menunggu di sana." Tunjuk Surya pada sebuah bangku dibawah pohon tidak jauh dari wahana roller coaster.


"Oh, baiklah." Gina tersenyum.


Gina tahu Surya tidak bisa ikut lagi. Gina tertawa kecil melihat wajah pucat Surya selama berada di atas roller coaster. Ternyata Surya yang terlihat kuat dan serba bisa, ia takut saat menaiki roller coaster.


Dari tempatnya duduk, Surya melihat Gina yang berteriak-teriak saat roller coaster melewatinya. Tapi Gina tidak lupa melambaikan tangan kepada Surya dengan riangnya seolah ingin memberi tahu kepadanya bahwa itu sangat seru, ia sangat menyukainya. Surya tertawa sendiri melihat tingkah Gina. Bagaimana bisa ada seorang yang sangat menyukai wahana-wahana ekstrem semacam itu. Sebelumnya Gina sudah menaiki wahana yang bernama ranger, yaitu sebuah wahana yang diayunkan ke atas dan bisa berbalik hingga 180°, drop zone yaitu wahana yang hanya naik turun tapi wahana yang kadang melawan grafitasi itu cukup mengocok perut. Mereka juga sudah sempat menaiki space suttle, yaitu wahana yang diayun ke depan dan ke belakang dan lagi-lagi perut bisa saja mual karena menaiki itu. Hampir semua wahana ekstrem sudah Gina naiki dan setelah roller coaster ini, Surya sudah menyerah. Perutnya terasa diaduk-aduk dan memilih untuk duduk sambil meminum minuman ringan yang baru saja dibelinya di kedai dekat ia duduk.


Surya melihat Gina turun dari roller coaster dengan wajah ceria dan senyum lebarnya lalu mendekatinya yang sedang duduk.


"Seru sekali. Sangat menyenangkan. Setelah ini aku mau lagi." Ujar Gina setelah berada di depan Surya. Surya hanya menanggapinya dengan tersenyum sambil menyodorkan sebotor minuman ringan ditangannya. Gina langsung membuka dan meminum hingga setengahnya.


"Kau takut ya?" Tanya Gina dengan meledek.


"Anda benar, Nona." Mendengar Surya yang tidak melakukan penyangkalan, Gina langsung tertawa.


"Kau ini berbadan besar tapi takut yang seperti itu." Gina sekarang duduk disebelah Surya sambil melepas topinya dan mengipaskan ke wajahnya demi rasa gerah yang ia rasakan.


"Iya Nona, saya tidak begitu suka wahana ekstrem."


"Lalu kenapa kau mengajakku ke sini kalau kau sendiri bahkan tidak suka wahana yang seperti itu." Gina menoleh kepada Surya.


"Itu karena Anda menyukainya, Nona." Mendengar itu, Gina memandang Surya lekat.


"Lagipula saya juga sudah berjanji kepada Anda waktu itu untuk membawa Anda ke taman hiburan sungguhan."


"Hei, kau mengatakan akan mengajakku ke Disney Land. Bukan di sini." Protes Gina mengingat janji Surya waktu itu.


"Iya Nona, tapi karena ini adalah acara yang mendadak jadi cukup di sini dulu. Saat kita punya banyak waktu, mari kita ke Disney Land."


"Baiklah, aku tunggu saat itu datang." Gina sangat senang mendengarnya. Dia memang sangat suka bermain. Diusiannya yang bukan lagi anak-anak, ia tahu masih sangat menyukai hal-hal yang berbau permainan.


"Iya Nona." Surya menyanggupi.


Angin bertiup mejatuhkan dedaunan pohon tempat mereka berteduh. Mata Gina tidak ingin teralihkan. Ia hanya ingin berlama-lama memandang Surya yang ada di sampingnya yang juga menatapnya. Semakin lama Gina merasa perasaannya semakin bertumbuh saja untuk Surya. Ia semakin merasa bahwa Surya tidak boleh jauh darinya dan harus selalu ada untuk menemaninya.


"Hei, aku mau wahana yang itu. Kita belum mencobanya." Tunjuk Gina pada wahana ekstrem lain di kejauhan mencoba mengalihkan perhatiannya agar perasaanya tidak semakin menguasainya. Terdengar teriakan dari pengunjung-pengunjung yang sedang menaikinya. Sebuah wahana yang bisa berputar di udara hingga 360°.


"Anda mengatakan akan menaiki roller coaster lagi." Tanya Surya pada Gina yang sudah bangun dari duduknya.


"Tidak jadi. Aku mau menaiki yang itu. Itu juga sangat seru."


Surya menarik nafas berat karena harus berhadapan lagi dengan wahana berbahaya itu. Gina yang melihat Surya belum beranjak dari duduknya, lalu berbalik dan menarik tangannya untuk mengajaknya menuju wahana yang diinginkan oleh Gina.


Dengan setengah berlari Gina mengajak Surya bergegas. Surya memandang tangannya yang digandeng oleh Gina. Tangan itu menggenggamnya dengan sangat erat. Tiba-tiba muncul rasa takut dari dalam hatinya. Bagaimana jika genggaman tangan Gina selanjutnya tidak ingin Surya lepaskan. Ia tahu ini bukan sesuatu yang benar. Ia merasa perlahan namun pasti mulai tergoyahkan oleh Gina. Hatinya dan segenap perasaannya mulai berpihak kepada wanita yang sekarang menariknya untuk berlari, bukan lagi berjalan. Dengan sesekali menoleh kepadanya, senyum Gina selalu membuatnya goyah secara perlahan, namun pasti.

__ADS_1


__ADS_2