Tahta Surya

Tahta Surya
Teman


__ADS_3

Terdengar suara tirai dibuka. Surya mengalihkan pandangan dari ponsel untuk memandang Gina. Mata Surya mengamati dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gina jadi salah tingkah saat Surya memandangnya seperti itu. Perlahan Surya mendekati Gina. Sangat dekat dan semakin dekat.


Gina mematung saat Surya meraih veil yang ada dirambut bagian belakangnya. Hal itu membuat mereka hampir tanpa jarak.


"Sempurna..." Ujar Surya begitu veil itu menutup wajah Gina.


"Bagus, sekali lagi kau menolaknya, mati kau." Setelah ucapannya, Gina berbalik ke dalam ruang fitting untuk mengganti gaun dengan bajunya sendiri. Surya hanya menanggapinya dengan senyuman.


🌸🌸🌸


"Haahhh... Aku benci keadaan ini." Gina meletakkan pulpen dengan keras ke meja yang ia hadapi. Di depannya ada setumpuk berkas-berkas katalog produk. Hanna yang sedang menghadapi laptop di mejanya mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Hanna mendekati Gina. Bukan hanya menjadi asisten pribadi Gina, Hanna adalah mentor baginya. Semua hal yang harus Gina tahu, Hanna adalah sumber pengetahuannya.


"Hanna... apa kau sudah menikah?"


"Maaf Nona?" Hanna mengangkat kedua alisnya tidak faham maksud Gina.


"Ya, kau sudah menikah?" Ulang Gina menatap lurus. Beberapa hari menjadi asisten, Gina memang belum tahu banyak tentang dirinya.


"Saya belum menikah, Nona."


"Sudah ku duga. Kau terlihat masih sangat muda." Mendengar itu, Hanna memberi senyum simpul pada penilaian Gina.


"Tapi pernikahan faktor utama yang menentukan bukan tentang berapa usia kita, Nona."


"Benarkah?"


"Pernikahan seringkali didasari oleh keinginan dua orang yang saling mencintai untuk bersepakat menjalani hidup bersama dalam suka maupun duka."


"Hahh, yang benar saja saling mencintai dan sepakat demi hidup bersama." Ujar Gina seperti tidak percaya pada sudut pandang Hanna. Hanna menunjukkan wajah heran. Bagaimana bisa atasannya mengatakan hal itu sementara sebentar lagi ia akan melangsungkan pernikahan. Gina tidak peduli jika Hanna berfikiran macam-macam tentang apa yang diucapkannya.


Bagaimanapun juga rencana pernikahannya bukan didasarkan karena seperti apa yang difahami oleh Hanna. Pernikahan Gina dan Surya adalah syarat yang mengharuskan Gina untuk menjalani itu.


"Kau punya pacar?" Tanya Gina kemudian.


"Mmm... Pu-nya, No-na." Jawab Hanna sedikit gagap karena seperti ada keraguan pada nada bicaranya.


"Kalau punya, kenapa kau ragu untuk mengatakannya padaku?" Gina bisa menangkap itu.


"Kau punya pacar atau tidak, sama sekali tidak akan mempengaruhi posisimu di R-Company." Gina lalu tertawa melihat kegugupan Hanna pada pertanyaan Gina yang sangat pribadi itu.


"Aku rasa selain asisten, kau bisa menjadi temanku. Kita sama-sama wanita, kita selalu bersama, aku harap aku tidak akan jatuh cinta padamu jadi ku tanyanyakan itu. Aku tidak mau menyukai pacar orang."


"Maaf Nona???" Hanna melotot menanggapi ucapan Gina. Melihat itu Gina pun tertawa sejadi-jadinya.


"Hahaha... Aku hanya bercanda, Hanna." Masih dengan sisa tawanya. Hanna yang tadinya kaget, kini menjadi bingung. Seorang Gina bercanda dengannya.

__ADS_1


"Aku wanita yang benar-benar wanita. Aku bukan penyuka sesama jenis. Aku wanita normal. Aku suka pria-pria tampan." Gina mengusap air mata yang meleleh, kebiasannya jika ia tertawa. Ia termasuk orang dengan keadaan itu karena saat tertawa otot wajahnya jadi mengerut sehingga memberi tekanan pada kelenjar air mata yang menyebabkan air mata keluar pada saat tertawa.


"Kau lucu juga. Mudah sekali percaya padaku."


"Tentu saja saya percaya kepada Anda. Anda mengatakannya dengan wajah yang sangat serius. Saya sempat takut awalnya. Saya berfikir sedang dalam bahaya bekerja bersama seorang penyuka sesama jenis."


"Aku sangat normal dan sedang menyukai seseorang."


"Hmmm... aroma pengantin sangat kuat setiap saya berada di dekat Anda." Gurau Hanna yang mulai merasa akrab setelah Gina mengerjainya.


"Tahu apa kau ini." Gina menutup berkasnya.


"Kau, mencintai pacarmu?" Tanya Gina dan lagi-lagi membuat Hanna bingung karena itu adalah hal yang pribadi. Ia berfikir mungkin itu adalah bentuk interview kehidupan pribadi untuknya. Atau mungkin Gina benar-benar ingin berteman dengannya sehingga mereka harus membicarakan hal-hal pribadi untuk menjadi akrab.


"Iya Nona. Sebuah hubungan pacaran pada umumnya pastilah didasari dengan cinta."


"Beruntung sekali mereka yang memiliki pacar dan juga saling mencintai." Hanna mengerutkan kening karena lagi-lagi ia bingung dengan ucapan Gina yang bisa menimbulkan berbagai anggapan.


"Semua orang merasakannya, Nona. Saya juga bisa melihat itu pada Anda."


"Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Tidak ada yang tahu tentangku." Gina memalingkan wajahnya yang diliputi mendung ke arah cendela ruang kerjanya di lantai 10.


"Berapa lama kau menjalin hubungan dengan pacarmu?"


"Aku rasa hampir 2 tahun, Nona."


"Ehhmm... " Pertanyaan Gina lebih dalam dan membuat Hanna bingung harus menjawab apa.


"Kami, oh maksudku aku dan pacarku belum membicarakan itu. Kami hanya masih menjalani hubungan kami selangkah demi selangkah."


"Iya, nikmati saja dulu hidup kalian yang bebas. Masih banyak waktu menentukan siapa yang tepat sebagai teman hidup." Ujar Gina dengan wajah serius.


"Kau tahu, hidup terlalu singkat untuk dilalui bersama orang yang salah."


"Ya, Anda benar, Nona. Sebenarnya saya tidak keberatan jika harus menikah muda, asalkan yang saya nikahi adalah orang yang saya cintai dan juga mencintai saya." Tambah Hanna.


"Tapi kami memang belum sampai pada tahap itu saat ini."


"Itu sangat manis. Saling mencintai..." Pandangan Gina menerawang jauh seperti sedang memikirkan seseorang.


"Ahh, sudah lewat 5 menit." Gina melihat arloji ditangannya.


"Ayo kita pulang. Aku akan melanjutkan pekerjaanku besok."


"Tapi lusa adalah hari pernikahan Anda, Nona."


"Siapa yang peduli dengan hari pernikahan. Semua orang juga menikah, bukan hanya aku. Apa istimewanya. Anggap saja aku seorang workaholic, sangat mencintai pekerjaanku sehingga aku bahkan tidak ingin libur walau memiliki acara sepenting apapun."

__ADS_1


"Tidak ku sangka Nona sangat pekerja keras. Anda benar-benar adalah pemilik R-Company sejati."


"Tentu saja, aku memang adalah pemilik R-Company. Hanya saja Papa sedang marah kepadaku dan meminjamkan posisiku kepada Surya." Gina berbicara lebih terbuka karena ia yakin Hanna memiliki pertanyaan besar tentang yang terjadi di R-Company akhir-akhir ini. Anak tunggal pemilik R-Company yang menjadi pegawai biasa dan 'pesuruh' seperti Surya mendapatkan jabatan tertinggi. Gina juga berfikir mungkin juga Hanna tahu apa yang yang sedang terjadi sehingga berucap seenak lidahnya tidak akan memberi efek samping apapun padanya.


"Iya Nona. Pertikaian antara orang tua dan anak memang sudah banyak terjadi. Jadi, Anda harus menunjukkan kepada Pak Rangga bahwa Anda juga bisa menjadi pemilik R-Company sebagaimana mestinya. Bukan Pak Surya."


"Kau mendukungku?" Gina memandang Hanna mencari kejujuran itu dikedalaman matanya.


"Tentu saja."


"Bukankah kau orang suruhan Surya untuk mengajariku? Kau tidak mendukung Surya untuk tetap di posisinya sekarang?"


"Maaf Nona, ini memang agak rumit untuk dijelaskan. Tapi saya bekerja sesuai apa yang ditugaskan. Dan saya senang melakukan ini karena saya akan membuat sesuatu yang baik berjalan sebagaimana mestinya. Anda menjadi presdir di R-Company, perusahaan milik keluarga Anda."


"Surya tidak mengatakan apapun padamu saat memberimu tugas sebagai asistenku?" Tanya Gina dengan sedikit menyelidik.


"Mengatakan apa?" Pertanyaan Hanna pada dirinya sambil berusaha mengingat-ingat sesuatu.


"Jadilah asisten pribadi Nona Gina. Tunjukkan bagaimana ia harus bekerja di R-Company." Ujar Surya kepada Hanna saat menunjuknya menjadi asisten Gina waktu itu.


"Kira-kira seperti itu, Nona."


"Dia tidak mengatakan bahwa kau harus membantuku hingga bisa menjadi presdir?"


"Tidak Nona."


"Ahh, bodoh sekali aku. Mana mungkin Surya melakukan itu. Menjadi presdir sangat baik untuknya. Kenapa harus secepat itu menyerahkan jabatan kepadaku." Gina tersenyum kecut.


"Aku bingung kenapa dia menjadikamu asisten pribadiku dengan dalih agar aku bisa cepat merebut posisinya. Sedangkan bisa saja ia membiarkan aku tetap pada ketidakbecusanku di R-Company dan dia bisa menikmati segala yang ia punya saat ini."


"Entahlah, Nona."


"Tentu saja dia tidak akan mengatakan isi kepalanya padamu. Kenapa dia menjadi sok baik? Apa dia ingin menunjukkan sebodoh apa aku jika menjadi presdir R-Company." Gina masih dengan fikiran-fikirannya sendiri.


"Bisa jadi, Nona."


"Memusingkan sekali dia." Gina bangun dari duduknya.


"Sudah sore, mari kita pulang. Aku sudah mengulur waktu pulangmu setengah jam. Catatlah sebagai lembur hari ini."


"Tidak perlu Nona, saya pegawai dengan loyalitas tinggi." Jawab Hanna dengan senyum lebarnya.


"Oh ya?" Gina berbalik badan memandang Hanna dibelakangnya yang sedang menutup pintu setelah keluar ruangan.


"Awalnya ku kira kau gadis yang pendiam tapi ternyata kau bisa bergurau juga." Hanna hanya membalasnya dengan senyum lalu mengikuti langkah Gina menuju pintu lift.


"Gina..." Tiba-tiba seseorang memanggil namanya dari arah belakang. Serentak Gina dan Hanna menoleh.

__ADS_1


Seorang pria dengan pantulan cahaya dibelakang kepalanya. Seperti malaikat yang turun ke bumi yang cahayanya menyilaukan mata setiap manusia yang memandang. Seperti ada lantunan lagu milik Beyonce yang berjudul Halo mengalun dikepala Gina.


__ADS_2