
"Kau pandai memasak ternyata." Ujar Gina kepada Sunday dengan bakwan goreng di tangannya.
"Hanya bakwan, itu sangat mudah."
"Hei, kalau aku memujimu, itu bukan berarti kau boleh membuatku minder seketika."
"Oh ya? Apakah aku melakukan itu?" Sunday cekikikan menanggapi kalimat Gina yang membuatnya merasa lucu karena ia tidak bermaksud begitu.
"Dan juga sambal ini. Aku harus order banyak darimu. Aku mau satu lusin sambal bawang level 2 kemasan 200 gram."
"Kalau rutin memesan dengan jumlah banyak begini, aku bisa menjadikan kak Gina agen Ratu Sambel." Celetuk Friday yang sedang menggendong Cena dan menciuminya gemas.
"Benarkah, berarti aku bisa mendapatkan harga khusus?"
"Tentu saja."
"Setuju." Gina menanggapi dengan semangat tapi mulut belepotan minyak dari bakwan yang ia makan bersama sambal favoritnya.
"Hei, kolesterolmu bisa naik kalau bakwannya kau habiskan sendiri begitu." Suara Faris yang baru bergabung dengan tiga wanita dan satu anak perempuan di ruang keluarga rumahnya itu.
Tapi sepertinya Gina tidak merasa terpengaruh dengan itu dan hanya terus mencolekkan bakwan pada sambal sambil merasa kepedasan.
"Kau tadi dari mana?" Tanya Farisb sambil mencocolkan bakwan pada sambel juga.
"Bekerja."
"Mana ada bos yang sudah pulang di jam segitu."
"Aku bosnya, terserah padaku harus pulang jam berapa." Jawab Gina cuek.
"Kau juga. Mana ada bos yang berbelanja popok bayi di toserba." Mendengar ucapan Gina, Sunday menahan tawa saat Faris menatap cemberut padanya.
Saat di toserba tadi Gina memang bertemu dengan Faris yang berbelanja kebutuhan bayi karena Sunday tidak sempat berbelanja karena Cena sedang demam setelah mendapatkan imunisasi kemarin.
"Berani-beraninya kau menbalasku." Faris jadi kesal karena Gina membalikkan kalimatnya begitu. Gina hanya membalas dengan memanyunkan bibirnya.
"Sunday, apa bibi masih menggoreng bakwanmu di dapur?" Tanya Gina.
"Iya." Jawab Sunday.
"Wah, aku jadi menyesal kenapa tadi mengajakmu ke sini. Kau ini mesin penggiling atau apa?" Mendengar perkataan Faris, Gina hanya cengengesan.
"Ini sempurna, benar-benar sempurna. Kalian tahu, Surya juga sangat jago dalam hal membuat bakwan. Kadang dia juga menambahkan sosis di dalamnya jadi rasanya... emm..." Tiba-tiba Gina menghentikan kalimatnya karena melihat semua orang menatapnya dengan pandangan yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Enak." Gina melanjutkan dengan satu kata yang sempat digantungnya tapi untuk menutupi rasa tidak nyamannya, ia melanjutkan makan bakwan lagi.
Semua orang termasuk Sunday yang tadinya diam lalu menyadari bahwa tidak seharusnya mereka bersikap begitu kepada Gina yang sedang membicarakan Surya dengan sangat antusias. Ia bisa melihat bagaimana binar mata Gina memperlihatkan ia masih menyukai Surya.
"Ku ambilkan lagi bakwan di dapur agar kalian tidak berebut lagi." Suara Sunday memecah kecanggungan diantara mereka.
"Dasar kau ini." Faris memelototi Gina tapi hanya ditanggapi dengan memanyunkan bibirnya lagi.
Friday yang melihat itu jadi tersenyum. Merasa kalau mereka sangat kekanak-kanakan.
Langit malam ini terlihat cerah dengan bintang yang gemerlapan. Gina duduk di gazebo samping rumah Faris dengan Sunday di sampingnya.
"Kalau sedang berdua begini aku merasa selalu menghianati Lita." Ujar Sunday dan membuat Gina tersenyum usai meminum teh hangat di cangkir itu.
"Bagaimana dia sekarang? Sudah punya pacar lagi?"
__ADS_1
"Kalau dilihat dia belum mengabarkan padaku, itu tandanya dia belum mendapatkan pengganti dari pacar yang kau banting waktu itu." Sunday tertawa kecil. Gina juga.
"Sunday, kau tidak bosan menjadi ibu rumah tangga saja?" Tanya Gina menatap ke dalam rumah Sunday yang di sana ada Friday sedang menidurkan Cena. Sedangkan setelah memakan bakwan tadi, Faris lalu menonton pertandingan bola di TV.
"Kadang. Kadang aku bosan dan rindu bekerja lagi." Jawab Sunday sambil tersenyum kepada Gina.
"Aku juga kadang iri padamu dan Lita yang menjadi wanita karier. Tapi lalu aku berfikir, kau tidak mungkin berhenti bekerja karena kau adalah pemilik R-Company. Kalau kau berhenti bekerja, lalu siapa yang akan mengelola perusahaanmu? Dan juga Lita, dia anak pertama dengan adik-adik yang masih sekolah dan ibu yang sering keluar masuk rumah sakit. Kalau dia tidak bekerja, bagaimana dia bisa membiayai pengobatan ibunya? Sedangkan aku, kalau bukan aku yang merawat Cena dan Faris yang bahkan tidak suka masakan orang lain lalu siapa yang akan mengurus mereka." Jelas Sunday.
"Jadi, aku berfikir di sinilah karierku. Aku tidak bisa berkarier di kantor tapi aku bisa memulai karierku dengan membahagiakan keluargaku. Aku tumbuh dari keluarga broken home. Dulu aku sering memimpikan keluarga bahagia sehingga saat inilah aku akan menciptakan keluarga bahagiaku sendiri. Dan, yang paling penting, kenapa aku harus bekerja? Suamiku kaya, dia sangat bisa menopang kehidupanku yang berkecukupan." Sunday tertawa setelah kalimat itu. Gina tersenyum kecut mendengar penuturannya.
"Kalau kau katakan iri padaku, justru aku iri padamu. Karena kau menjadi istri Faris." Hati Sunday mencelos mendengar itu. Ada rasa tidak nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan. Lama sekali sejak melihat Gina dan Surya terlihat harmonis menjalani pernikahan mereka. Tiba-tiba ada rasa khawatir di hati Sunday.
"Hei, kenapa menatapku begitu?" Gina merasa Sunday menatapnya tajam.
"Itu bukan berarti aku masih menyukai Faris. Aku 100% sudah move on darinya. Jangan khawatirkan apapun. Dimataku sekarang Faris hanyalah seorang pria beristri dengan pipi yang sedikit mengembang seperti bakwan. Dia sama sekali bukan lagi menjadi tipeku." Gina terbahak seolah bisa membaca fikiran Sunday.
"Itu pertanda dia menjalani kehidupan rumah tangganya dengan baik. Seorang pria yang menjadi sedikit gemuk menandakan sekarang dia lebih terurus."
"Kau benar. Sepertinya begitu." Gina mengangguk-angguk perlahan seperti mengatakan itu pada dirinya sendiri.
"Mungkin itu juga yang menyebabkan Surya memilih untuk pergi. Bukan bertahan denganku. Aku bukan istri yang baik. Aku tidak bisa memasak. Surya yang selalu membuatkanku makanan. Aku bahkan tidak tahu cara memakai mesin cuci. Apalagi menyetrika, aku sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan rumah dengan benar."
"Lagipula, kenapa kau harus bisa semua itu? Kau punya asisten rumah tangga yang bisa melakukan semuanya." Sunday merangkul pundak Gina.
"Wanita sempurna itu bukan mereka yang bisa melakukan pekerjaan rumah tangga atau ibu yang baik, bahkan istri yang membuat suaminya tidak pernah bisa berpaling darinya. Tapi wanita sempurna adalah mereka yang selalu berfikir positif tentang dirinya. Bagaimana orang lain bisa menerima kita kalau kita sendiri bahkan tidak bisa menerima diri sendiri apa adanya." Kalimat Sunday seperti sebuah angin segar yang membuat hati Gina terasa sejuk.
"Tapi itu bukan berarti kita tidak perlu berusaha yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain." Tambah Sunday saat Gina sekarang mengubah posisi duduk sambil menyandarkan kepala di pundaknya. Sunday tersenyum mendapati kebiasaan Gina terhadapnya sejak dulu belum juga berubah.
"Akhirnya aku tahu kenapa kau menjadi wanita sempurna bagi Faris. Kau baik dan selalu berfikir positif. Berbeda sekali denganku. Faris memang teliti saat memilihmu dulu, bukan aku. Padahal dulu aku mati-matian ingin sekali mendapatkannya." Kali ini tidak ada rasa cemburu dihati Sunday kepadanya. Nada bicara Gina yang terdengar tulus malah membuat Sunday merasa iba karena banyak orang menyangka kehidupan Gina sangat sempurna, dengan wajah cantik, tubuh indah dan kekayaan berlimpah, ternyata ia belum mendapatkan kebahagiaan dari itu semua.
"Dan juga Surya, aku bahkan memohon padanya untuk tetap tinggal tapi pada akhirnya dia tetap ingin pergi. Aku merasa memang tidak ada kebaikan dalam diriku. Pria-pria yang ku sukai terus menghindariku." Gina menarik nafas berat.
"Aku berfikir mungkin ini adalah karmaku. Dulu aku sering membuat patah hati pria-pria yang ku pacari karena alasan yang selau ku buat-buat saat aku merasa bosan pada mereka." Sunday tertawa kecil menertawakan apa yang sedang difikirkan oleh Gina.
"Kau tahu, selalu ada kereta di stasiun. Kalau kau tertinggal salah satu kereta, kau masih bisa menunggu kereta selanjutnya datang yang akan membawamu ke tempat tujuan. Jadi, tunggu saja. Itu hanya soal waktu." Gina memandang Sunday yang tersenyum padanya dan lalu membalas senyumnya juga.
🌸🌸🌸
Gina membuka pintu rumahnya dan berjalan masuk. Rumah besar itu tampak sepi jika sudah malam begini. Tapi saat mendekati ruang TV, ia mendengar suara-suara. Itu pasti adalah suara TV yang sedang menyala. Dan benar, Pak Rangga dan Bu Marina sedang duduk menonton acara reality show.
"Malam Pa... Ma..." Sapa Gina lalu berjalan lagi menuju ke arah tangga walaupun Papa dan Mamanya belum sempat membalas.
Kedua orang tuanya hanya menatap Gina yang sedang meninggalkan mereka.
"Aku sudah tidak tahan dengannya." Ujar Bu Marina.
"Memangnya apa yang bisa Mama lakukan?"
"Bagaimana Papa bisa menanyakan itu padaku. Seharusnya Papa yang harus bertanggung jawab. Papa sudah membuat Gina menjadi seperti itu."
"Apa? Karena aku menikahkannya dengan Surya?"
"Ya, tentu saja. Setelah Gina jatuh cinta padanya lalu dia malah pergi. Itu sudah jelas kesalahan Papa."
"Bagaimana aku tahu kalau akan seperti itu akhirnya. Ku fikir Surya benar-benar tidak memiliki pacar."
"Bisa-bisanya Papa percaya begitu saja. Mentang-mentang Surya orang kepercayaan Papa lalu seenaknya saja Papa langsung main rekrut menjadi menantu tanpa mengetahui bagaimana kehidupan pribadinya dulu."
"Dia hampir 18 jam bersamaku jadi aku tidak berfikir dia juga sempat memiliki waktu berpacaran."
__ADS_1
"Ahh, Papa ini kenapa lugu sekali. Anak jaman sekarang punya banyak cara untuk berpacaran. Memangnya Papa tidak tahu itu?" Omel Bu Marina. Pak Rangga hanya diam tertegun menyadari kebodohan yang sudah dilakukan.
"Paling tidak Gina bisa terlepas dari cinta butanya kepada Faris, bukan?"
"Iya, tapi buktinya sekarang sekali lagi dia dibuat patah hati oleh 'orang utusan' Papa. Bukannya terselamatkan, malah Gina menjadi seperti itu."
"Lalu aku harus bagaimana lagi?"
"Entahlah. Papa harus bertanggung jawab." Bu Marina ketus.
"Baiklah, mari kita atur kencan buta saja untuk Gina."
"Kemarin Papa mengatakan itu tidak efisien dan ingin Gina melakukan apapun yang ingin dia lakukan dulu. Bagaimana Papa ini? Kenapa menjadi plin plan."
"Menurutku memang seperti itu. Dia masih terluka, jadi ku fikir dia harus bisa menata perasaanya dulu sebelum ada orang lain yang datang lagi."
"Papa tahu bukan, bagaimana putri kita itu. Dia bisa berpindah dari hati yang satu ke hati yang lain dengan sangat cepat. Dari sangat menggilai Faris, Gina bisa cepat sekali merasa sangat patah hati saat Surya meninggalkannya. Itu menunjukkan bahwa dia sudah benar-benar menyukai Surya."
"Lalu Mama mau Gina menjadi petualang cinta, begitu?"
"Ya bukan begitu. Kali ini mari kita carikan dia pria-pria yang sepadan dengannya untuk kencan buta. Lalu biarkan dia memilih sendiri pria mana yang sesuai dengannya." Bu Marina menjelaskan dengan bersemangat.
"Semoga saja Gina menyetujuinya." Jawab Pak Rangga santai seperti biasanya.
"Kalau dia tidak setuju, maka aku akan membuatnya jadi mau." Bu Marina tersenyum penuh arti.
Di tempat lain, Surya menyalakan kompor dan meletakkan sebuah panci berisi air diatasnya. Memasukkan sayur kol lalu setelah matang ia tiriskan dan berganti memasukkan taoge ke dalamnya tapi lalu mematikan api kompor. Untuk membuat taoge matang ia tidak hanya butuh menyeduhnya, bukan merebus seperti sayuran lain. Di sisi tangannya yang lain ia menyendokkan sebuah bumbu kacang dari sebuah kotak ke dalam mangkuk. Lalu menuangnya dengan air panas dari dispenser dan mengaduknya hingga tercampur rata menjadi sebuah saus.
Surya menyendokkan nasi ke dalam piring, meletakkan taoge dan kol di atasnya yang kemudian ia guyur dengan saus kacang. Telur ceplok juga ia letakkan di atasnya dan kerupuk bawang putih sebagai ganti rempeyek. Surya lalu tersenyum puas melihat menu di dalam piringnya. Menyendok dan memasukkan ke dalam mulut. Lidahnya seketika merasakan nikmat. Ia melihat keluar cendela rumah barunya dari meja makan. Menikmati makan malamnya dengan hikmat yang diiringi lagu Stand by Me dari Oasis.
Di rumah barunya yang sudah terisi perabotan ini, Surya bisa mendengar binatang-binatang malam saling bersahutan menimbulkan bunyi-bunyian yang sering ia rindukan saat berada di kota. Karena dekat dengan kebun dan sawah, keriuhan malam semakin terasa di rumahnya.
"Kau baru makan?" Tanya ibunya yang baru keluar dari dalam kamarnya.
"Iya Bu, aku lapar." Jawab Surya.
"Kenapa tidak membangunkanku? Aku bisa memasak untukmu."
"Tidak Bu, masih ada bumbu pecel. Aku sedang ingin makan ini." Surya tersenyum pada ibunya.
Bu Maryam lalu duduk di kursi lain di ruang makan itu. Menatap Surya dengan pandangan penuh pertanyaan.
"Jadi, apa benar semua yang kau katakan pada ibu? Kau tidak berbohong?" Surya mengangguk.
"Itu seperti bukan dirimu yang sebenarnya, Nak. Ibu tidak percaya."
"Maafkan aku, Bu." Surya meyakinkan Ibunya.
"Nduk Gina cantik dan baik, kenapa kau malah meninggalkannya begitu saja? Apa cinta diantara kalian memang sudah benar-benar hilang begitu saja?"
"Benar, cinta kami telah hilang, Bu." Ujar Surya mengulang lagi alasannya.
Akhirnya setelah satu bulan lebih, Surya memberanikan diri untuk mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia dan Gina telah bercerai. Surya memberikan alasan bahwa dirinya tidak lagi mencintai Gina. Dan demi tidak membuat mereka saling tersiksa sehingga Surya membuat seolah ia digugat cerai oleh mantan istrinya itu.
"Ibu tidak menyayangkan pekerjaanmu di perusahaan milik istrimu, tapi ibu merasa kalian masih muda, baru saja menikah beberapa bulan, masih banyak perbedaan-perbedaan yang lama-lama pada akhirnya akan jadi persamaan. Kenapa harus membuat keputusan seberat ini?"
"Tapi, pasti akan lebih berat lagi kalau kami hidup bersama tanpa perasaan cinta. Pernikahan kami memang terburu-buru karena kami terlalu cepat menyangka kalau kedekatan kami dilandasi sebuah rasa cinta. Ternyata itu hanya perasaan sesaat saja."
"Ku lihat kalian baik-baik saja setiap bersama."
__ADS_1
"Kami memang pemain sandiwara yang baik, Bu. Tapi lama-lama kami merasa bersalah kepada kalian semua karena harus terus berbohong."
"Ibu sangat mengenalmu, Sur. Kau tidak bisa berbohong kepada Ibu. Katakanlah, ada apa sebenarnya?" Ibu Surya mendesaknya karena merasa ada yang sedang Surya tutupi saat ini.