
Hanna melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam 6 sore. Lobi R-Company hanya berisi beberapa pegawai yang juga akan pulang. Ia tampak menunggu seseorang di sana. Dan benar, tak lama kemudian seseorang berjalan menghampirinya. Hanna yang tahu itu seketika mengembangkan senyum.
"Sudah lama menungguku?" Tanya pria itu.
"Iya, aku menyelesaikam pekerjaanku dengan sangat cepat ku pikir agar kita bisa cepat pulang. Tapi ternyata kau belum juga keluar."
"Maafkan aku. Ada pekerjaan yang harus ku kerjakan hari ini. Besok adalah akhir pekan jadi aku tidak ingin menundanya."
"Baiklah, kau ku maafkan. Tapi sebagai gantinya, traktir aku makan malam enak."
"Oke, kau mau makan apa?" Tanya pria itu sambil memulai langkah dan Hanna mengikutinya.
"Gurami asam manis?"
"Boleh. Ayo kita makan gurami bakar saus asam manis yang pedas." Hanna menanggapi dengan wajah sumringah senang.
Sementara itu Gina berjalan disamping Surya dengan tangan kanan yang melingkar di lengannya. Saat tiba di restoran, Surya dan Gina disambut oleh para pengawal Surya yang sudah menunggu mereka di depan pintu. Saat tiba di ruangan VIP restoran itu Tuan Adskhan dan istrinya belum tiba. Surya menarik salah satu kursi dan mempersilakan Gina duduk. Lalu dirinya mengambil kursinya sendiri dan duduk di sisi Gina. Seorang pelayan restoran masuk dengan membawa minuman. Setelah menuang teh hangat seperti yang sudah dipesan oleh Surya, pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Coklat?" Gina melihat isi cangkirnya setelah mencium aroma kesukaannya.
"Iya Nona." Surya memandang Gina sekilas lalu memalingkan wajahnya kembali ke layar ponselnya.
"Sejak kapan ada coklat panas di restoran seperti ini?"
"Sepertinya ini menu baru di restoran ini, Nona." Jawab Surya masih sambil menatap layar poselnya.
"Sejak kapan? Terakhir aku makan di sini belum ada." Gumam Gina lalu mencicipi coklat panasnya. Aroma coklat itu sangat membuatnya candu sehingga tidak sabar ingin menghabiskan isinya.
Tak berapa lama kemudian pintu ruang VIP itu dibuka dan Tuan Adskhan serta istrinya memasuki ruangan.
"Selamat malam, Tuan, Nyonya." Sapa Surya menyambut tamunya. Mereka mengangguk dan mengambil duduk di hadapan Surya. Tapi saat Surya melihat ke arah Gina ada setitik coklat di ujung bibirnya.
"Nona, itu di bibirmu." Surya setengah berbisik. Gina yang tidak bisa mendengar perkataan Surya hanya memberi isyarat tidak mengerti.
__ADS_1
"Di bibirmu, Nona." Bisik Surya lagi tapi Gina masih juga tidak faham walaupun Surya sudah memberi isyarat dengan jarinya yang menunjuk ujung bibirnya sendiri. Tidak sabar dengan Gina yang belum bisa mengerti maksudnya, Surya mengambil tissu dan mengelap bibir Gina. Gina tersentak dan memelototi Surya.
"Apa-apaan kau ini?" Bisik Gina marah karena Surya tiba-tiba menyentuh wajahnya.
"Ada sisa coklat di ujung bibir Anda, Nona." Jawab Surya dengan berbisik yang kali ini Gina bisa mendengarnya karena jarak mereka lebih dekat dari sebelumnya. Gina lantas merabanya.
"Sudah tidak ada lagi, Nona."
"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi." Jawab Gina lagi. Surya hanya tersenyum menanggapi Gina.
"Ehheemm..." Suara Tuan Adskhan membuat Surya dan Gina spontan menoleh padanya.
"Oh, maafkan kami, Tuan." Ucap Surya menyadari bahwa Tuan Adskhan memperhatikan mereka.
"Apa kami datang terlalu cepat?" Goda Tuan Adskhan.
"Bukan Tuan, bukan begitu." Surya menjadi tidak enak karena seperti mengabaikan kehadiran tamunya.
"Maafkan kami, itu tadi hanya..." Gina mencoba membantu menjelaskan.
"Kami juga pernah muda jadi kami tahu sekali bagaimana rasanya."
"Maaf..." Gina mengerjap-ngerjapkan matanya memandang wajah cantik Nyonya Adskhan karena tidak mengerti apa yang dimaksudnya. Nyonya Adskhan hanya memberi senyuman kepada Gina yang bingung.
"Baiklah, hari mulai malam dan para koki sudah tidak sabar memberi kita kejutan dengan masakan mereka yang sangat lezat." Surya lalu memberi kode pada anak buahnya. Itu pastilah isyarat agar pelayan restoran segera menyajikan menu yang mereka pesan. Terbukti setelah beberapa saat para pelayan memasuki ruangan dengan nampan-nampan berisi makanan.
Setelah hidangan pembuka lalu berganti menu utama yang disajikan oleh para pelayan. Sebuah steak dengan saus lada hitam telah siap dihadapan masing-masing penghuni meja. Gina mulai memotong daging yang sangat empuk itu. Disuapan pertama, tiba-tiba Surya menukar piringnya dengan piring Gina. Gina memandang Surya dengan pandangan aneh. Kenapa harus bertukar makanan, padahal Gina sudah memotong sebagian kecil dari steaknya. Surya seperti tidak terpengaruh dengan pandangam aneh Gina dan memotong steak yang tadi adalah miliknya dan mulai menyuap juga. Tapi saat melihat steak didepannya, Gina kembali memandang Surya. Steak yang sekarang ia hadapi ternyata sudah dipotong-potong oleh Surya hingga menjadi bagian siap suap. Tanpa sadar bibir Gina melengkungkan senyum.
Acara makan malam banyak diisi dengan obrolan-obrolan ringan. Sejak siang tadi Gina bersama Surya, pembicaraannya dengan Tuan Adskhan sama sekali tidak berada di topik bisnis. Gina tidak tahu apa yang sebenarnya Surya rencanakan. Kenapa melakukan pendekatan bisnis tapi tidak pernah membicarakan bisnis sama sekali saat bertemu seperti ini.
"Bagaimana kabar Nyonya Marina?" Tanya Nyonya Adskhan.
"Baik sekali." Jawab Gina.
__ADS_1
"Ku dengar Tuan Rangga dan Nyonya Marina sedang melakukan perjalanan berkeliling dunia sekarang."
"Benar, Nyonya. Papa dan Mama sedang menikmati masa istirahat mereka."
"Aku ingat saat pertama bertemu Nyonya Marina. Waktu itu kami masih sangat muda. Dia masih baru sekali mengawali bisnis tapi aku tahu dia sangat gigih dalam bekerja. Baru kali ini aku melihat wanita setangguh dia. Dia melakukan perjalanan bisnis, melakukan berbagai pertemuan di luar negeri dan juga bahkan melakukan negosiasi dengan investor. Tapi sayang waktu itu kami hanya melakukam kerja sama beberapa waktu saja. Karena krisis moneter yang melanda negara ini waktu itu membuat nilai tukar mata uangnya menurun drastis. Dan kami tidak berani melanjutkan rencana kerja sama kami." Kenang Nyonya Adskhan.
"Ya, seperti itulah Mama saya, Nyonya." Jawab Gina dengan hati agak gondok. Mamanya memang sangat tangguh dalam bekerja tapi dia bukan ibu rumahan yang Gina harapkan selalu ada untuknya waktu itu.
Perbincangan mereka masih berputar-putar dengan kehidupan pribadi masing-masing. Gina semakin penasaran kapan Surya akan mengajukan pertanyaan apakah Tuan Adskhan mau berkerja sama dengan R-Company. Kenapa ia masih saja berbasa basi seperti itu. Gina menjadi bosan dan tanpa sadar menguap begitu saja. Tuan Adskhan yang melihat itu jadi tersenyum.
"Sebagai mantan pengantin baru kami seharusnya menyadari hal itu." Kalimat Tuan Adskhan.
"Menyadari apa, Tuan?" Tanya Surya ingin mengerti maksud kalimat Tuan Adskhan.
"Kalian seharusnya sudah pulang dan berada diperaduan. Membicarakan banyak hal dan saling bercanda satu sama lain diatas bantal yang sama."
"Ahh, iya..." Surya akhirnya mengerti arti perkataan Tuan Adskhan.
"Dulu aku lebih suka menjadikan bahunya sebagai bantal. Aku merasa sangat nyaman seperti itu." Nyonya Adskhan memandang suaminya.
"Tapi sekarang sudah tidak lagi. Dia mengatakan itu melelahkan." Nyonya Adskhan pura-pura merajuk. Sebaliknya Tuan Adskhan menganggapi dengan tertawa. Surya dan Gina ikut tersenyum melihat pasangan dengan usia senja itu.
"Usiaku sudah tua, tulangku tidak sekuat dulu jadi lebih gampang pegal kalau harus menahan beban berat sekarang." Jelas Tuan Adskhan membela diri.
"Itu pasti hanya alasanmu saja." Balas Nyonya Adskhan lagi.
"Kau tahu, meskipun usiaku sudah tua itu membuatku semakin mencintaimu." Rayu Tuan Adskhan kepada istrinya dan tidak canggung sekali walaupun disana ada Surya dan Gina.
"Kau ini." Nyonya Adskhan memukul bahu suaminya.
"Kau tidak malu? Kita sedang tidak sendirian di sini." Nyonya Adskhan terlihat canggung kepada Surya dan Gina.
"Aku bisa apa, memang itulah kenyataannya. Kau tahu, pria yang dengan terang-terangan mengakui perasaannya didepan orang lain itu bukan hal yang biasa. Hanya pria sejati yang bisa melakukan itu." Lanjut Tuan Adskhan.
__ADS_1
"Anda benar, Tuan. Seperti ketika aku mencintai istriku." Gina tertegun sejenak saat merasakan jari-jari Surya meremas jemari Gina di atas meja. Gina melihat ke arah jemarinya. Tuan dan Nyonya Adskhan juga melihat itu dan menyunggingkan senyum. Mereka pasti berfikir bahwa Surya pun tidak ingin kalah dari Tuan Adskhan saat mengungkapkan cinta kepada Gina.
"Aku mencintaimu." Ucap Surya sambil memandang kedua mata Gina. Tiba-tiba wajahnya menghangat. Ada yang berdesir di dadanya saat ia memandang mata kecoklatan Surya yang memandang teduh kepadanya. Ia tidak yakin dengan ekspresi wajah dan bahasa mata Surya. Tapi mata itu membuatnya seperti terhipnotis untuk membalas senyum Surya.