
"Surya, mari kita tinggal di sini beberapa hari."
"Maaf, Nona?" Surya ragu dengan apa yang didengarnya.
"Ya, aku ingin tinggal beberapa hari di sini." Jawab Gina santai dan sekarang memandang Surya.
"Kau tahu, seumur hidupku aku tinggal di rumah itu. Sebenarnya sudah lama aku merasa bosan. Tidak pernah ada suasana baru." Jelas Gina.
"Oh pernah ada saat itu. Saat aku sempat kuliah di luar negeri. Tapi kau tahu bukan, itu tidak lama. Papa sudah menarikku kembali untuk memindahkanku ke sini lagi."
"Mahasiswa wanita yang hampir satu semester tidak pernah mengikuti kuliah sama sekali." Ucap Surya sambil menahan tawa.
"Lagipula siapa yang harus kuliah? Orang tuaku kaya raya, hartanya tidak akan habis walau tiap malam ku gunakan untuk bermain di klub malam." Gerutu Gina.
"Itulah kenapa orang miskin sering kali iri dan berfikiran buruk kepada para orang kaya." Sahut Surya.
"Tentu saja itu sangat wajar. Mereka selalu menganggap orang kaya memiliki segalanya dan bisa melakuan apapun sesuka hatinya." Surya hanya tersenyum menanggapi jawaban Gina.
"Ku fikir Papa tidak akan peduli terhadapku walau apapun yang ku lakukan. Ku fikir Papa mengirimku ke luar negeri karena ia terlalu kualahan dengan perilakuku yang bisa kapan saja mempermalukannya di sini. Tapi ternyata Papa sangat konsisten. Akhirnya aku tahu, mungkin walau hingga ke ujung dunia pun dia tidak akan pernah membiarkanku mencoreng nama baiknya dengan segala tingkah lakuku."
"Itu karena Anda adalah putri satu-satunya. Papa menyayangi Anda lebih dari yang Anda tahu." Ujar Surya.
"Kau ini selalu mengatakan hal yang sama. Aku putrinya. Aku yang paling tahu tentangnya. Sedekat apapun kau dengan Papa, kau hanyalah orang asing yang ada di dekatnya. Dia tidak akan menunjukkan sifat aslinya padamu. Dia tidak akan melakukan itu."
Di suatu malam, saat Surya tertidur lelap. Kelelahan sedang menderanya sehingga malam terasa sangat bersahabat dengannya kali ini. Tapi itu hanya berlangsung beberapa jam saja. Belum juga pagi menjelang, ponsel Surya menyuara dengan nada dering yang akhirnya bisa membangunkannya. Dengan mata yang masih terlalu berat terbuka tapi fikiran sudah terjaga, Surya meraba mencari-cari arah getaran yang ditimbulkan oleh panggilan masuk ponselnya. Saat ponsel sudah ada di tangannya, Surya membuka mata untuk melihat siapa yang tengah malam begini mengganggu tidur lelapnya. Dan nama Pak Rangga cukup bisa membuat mata Surya membulat seketika. Fikirannya memperkirakan pasti ada sesuatu yang sangat mendesak sampai-sampai bosnya menghubungi di jam selarut ini.
"Iya Pak." Jawab Surya dengan suara sigap. Tapi serak khas bangun tidur yang ditampilkan dari suaranya tidak dapat ditutupi dengan cara apapun.
"Baik Pak." Jawab Surya yang kemudian sambungan telepon itu diputus lebih dulu oleh bosnya.
Surya mengucek matanya yang masih mengantuk lalu menguap sangat lebar. Kantuknya benar-benar sedang sangat nikmat. Tapi apalah daya jika bosnya sudah memberinya tugas, maka ia harus segera melaksanakan. Lalu satu jam kemudian Surya sudah memasuki pintu gerbang keberangkatan internasional. Seorang petugas bandara mulai mengecek barang bawaan dan kelengkapannya untuk melakukan penerbangan dini hari ini.
"Surya, pergilah menjemput Gina." Itu adalah suara Pak Rangga saat meneleponnya.
Surya tidak bertanya kenapa karena itu bukan urusannya. Urusannya hanyalah harus melaksanakan tugas bosnya dengan menjemput putrinya yang beberapa bulan yang lalu berangkat ke luar negeri untuk menempuh studinya.
Setelah menempuh perjalanan belasan jam, akhirnya Surya tiba di negara dimana Gina tinggal saat itu. Surya disambut oleh seseorang yang sudah ada di sana sejak beberapa bulan yang lalu juga. Pengawal Gina. Tentu saja pengawal yang tidak pernah Gina ketahui keberadaannya. Seorang pria kebangsaan setempat yang dibayar oleh Papanya untuk mengawasi segala kelakuan Gina.
Pria itu mengantar Surya ke sebuah apartemen yang orang biasa tidak akan mungkin bisa memilikinya. Surya turun dari dalam mobil dan memasuki lobi apartemen. Setelah menaiki lift, Surya segera menuju ke unit dimana Gina tinggal. Selama Surya dalam perjalan ke apartemen tadi, pengawal Gina menjelaskan semua hal yang harus diketahui oleh Surya. Dari itu akhirnya Surya tahu kenapa ia harus jauh-jauh datang ke sana untuk memenuhi tugas dari bosnya.
Saat tiba di depan pintu apartemen Gina, Surya memencet bel yang ada di depan kamar. Beberapa saat kemudian Gina keluar dengan wajah bangun tidur. Saat itu di sana memang malam hari.
"Kau..." Gina terperanjat melihat wajah asisten pribadi Papanya tiba-tiba ada di depannya saat itu.
Gina dan Surya ada di dalam mobil menuju bandara. Gina memanyunkan bibirnya sepanjang mungkin. Bagaimana bisa selama ini ia tidak tahu sudah diikuti oleh orang suruhan Papanya dan melaporkan semua yang ia lakukan. Gina fikir dengan berada jauh dari rumah ia akan bisa melakukan segala hal sesuka hatinya. Tapi nyatanya menjadi putri seorang Rangga Hadi adalah takdir yang harus ia terima, dengan segala perlakuan dan pengawasan ketat olehnya.
"Aku baru tahu bahwa menguntit juga bisa menghasilkan uang." Ujar Gina yang duduk di jok belakang. Surya yang duduk di samping sopir memalingkan kepalanya kepada Gina.
"Maaf, Nona?"
"Kau dan juga dia hanya dengan memata-mataiku saja bisa mendapatkan upah dari Pak Rangga Hadi yang berkuasa." Surya hanya tersenyum sambil mengangguk mengerti.
"Jadi, aku benar-benar akan dipulangkan sekarang?"
"Benar, Nona."
"Kalian sungguh cekatan. Aku bahkan tidak sempat mengemas barang-barangku. Padahal nikmatnya berpindah tempat adalah saat kau mengemas barang-barangmu." Sindir Gina kepada Surya.
Surya memang hanya memberi waktu Gina untuk menukar piyamanya dengan baju yang ia pakai saat ini. Ia mengatakan barang-barang Gina akan dikirim pulang segera. Pak Rangga hanya ingin Gina pulang secepatnya. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu Gina dan memarahinya. Sehingga yang terpenting dengan tugas Surya kali ini adalah menjemput Gina saja. Pengemasan barang-barang dan pengiriman akan dilakukan oleh orang lain yang sudah ia tugaskan untuk melakukan itu.
Dan benar saja saat sampai di rumah, Gina sudah disambut dengan wajah penuh kilatan petir dari Pak Rangga. Surya meninggalkan ruang tamu dimana Pak Rangga meluapkan segala kemarahannya kepada Gina yang tampak tidak takut sama sekali dengan suara lantang Papanya. Ia duduk santai seolah tidak terjadi apa-apa di depannya.
"Kau tidak mendengarkanku?" Sayup-sayup Surya masih bisa mendengar suara Pak Rangga padahal ia berada sekitar 50 meter dari ruang tamu.
Surya duduk di bagian belakang rumah Gina. Ia melihat Mbak Yuyun sedang turun dari tangga sambil membawa keranjang berisi jemuran yang baru diangkatnya.
"Pak Rangga memarahi siapa, Pak?" Tanya Mbak Yuyun saat sudah di dekat Surya.
__ADS_1
"Nona Gina." Jawab Surya singkat.
"Nona Gina pulang?" Tanya Mbak Yuyun sambil memasang wajah terkejut. Surya mengangguk.
"Wah, pasti Nona Gina sudah melakukan sesuatu yang sangat gawat." Surya tidak menjawab apapun tapi dari senyum yang diberikannya, Mbak Yuyun tahu apa yang ia fikirkan pasti benar.
"Surya..." Panggil Gina karena melihat Surya seperti mengabaikannya.
"Iya Nona." Jawab Surya dengan fikiran yang sudah kembali ke masa sekarang.
"Apa yang sedang kau fikirkan?"
"Saya berfikir tidak ada ayah yang seperti Papa."
"Tentu saja tidak ada. Papa adalah tipe orang tua yang oleh Tuhan diciptakan hanya satu saja di dunia ini. Kau tahu kenapa? Agar tidak banyak anak-anak yang menderita sepertiku." Cerocos Gina.
"Bukan Nona, Anda adalah anak paling beruntung. Pak Rangga melindungi Anda dengan segala kemampuan yang beliau punya."
"Kau tahu, Papa hanya ingin pamer bahwa ia mempunyai banyak harta untuk diberikan pada orang-orang yang bahkan melakukan pekerjaan aneh untuknya."
"Menjadi body guard atau menjadi pengintai bukanlah sesuatu yang aneh, Nona. Mereka semua menggunakan kemampuannya sebagai jasa yang bisa dijual kepada yang membutuhkannya."
"Oh iya, kau juga pernah menjadi salah satu dari mereka sehingga kau tahu persis seperti apa pekerjaan itu." Gumam Gina.
"Jadi, ketika Papa meminta orang-orang untuk 'selalu ada' di sekitar Anda, itu adalah bukti bahwa Papa adalah orang tua yang sangat peduli pada putrinya." Jelas Surya dengan tanpa mempedulikan gumaman Gina itu. Gina diam menatap Surya. Beberapa detik mereka saling tatap dengan pandangan yang ingin saling mengartikan apa yang sedang mereka fikirkan.
"Ahh, entahlah terserah apa yang kau katakan. Aku lelah. Pokonya malam ini aku akan tidur di sini." Kalimat Gina mengalihkan pembicaraan. Ia merasa semakin terpojok dengan ucapan-ucapan Surya sehingga Gina harus membuat pengalihan dan menghindari serangan-serangan darinya.
"Anda benar-benar yakin akan menginap di sini?" Tanya Surya dengan masih tidak percaya pada ucapan Gina.
"Ya tentu saja." Jawab Gina santai dengan melempar lagi makanan kepada ikan-ikan di dalam kolam.
"Hari ini Papa pasti sudah pulang dari acara darmawisata bersama teman-teman klub golfnya."
"Tapi Papa pasti akan melarang."
"Aku suka rumahmu. Meskipun jauh lebih kecil daripada rumah Papa tapi rumah ini terasa lebih nyaman. Apalagi di bagian ini. Di sini terasa sempurna." Ujar Gina dengan senyumnya yang mengembang sempurna.
"Benarkah Anda suka rumah ini?"
"Ya." Jawaban Gina membuat Surya tersenyum senang.
"Terutama pada desain interior rumahmu yang sangat unik. Kenalkan aku pada arsitek yang membuat desainnya. Aku berencana merenovasi kamarku. Terakhir aku merenovasinya adalah sepulang dari penjemputan olehmu waktu itu. Sudah lama sekali bukan."
"Iya, benar Nona."
"Siapa dia? Beri aku contact person-nya."
"Sebenarnya itu... saya sendiri yang membuat desainnya. Baru setelah itu para pekerja bangunan yang membuatnya."
"Wah, itu berarti aku tidak perlu mengeluarkan biaya apapun jika ingin menggunakan jasamu."
"Karena tanpa biaya maka saya tidak bisa janji kalau desainnya menjadi tidak maksimal."
"Wah, kau mengancamku?" Gina membulatkan matanya menatap Surya dengan pura-pura marah. Surya tertawa melihat itu.
Mbak Yuyun membuka ponsel di saku bajunya dan meletakkan nampan yang ia pakai untuk menyajikan makan malam Pak Rangga di atas meja dapur.
Gina : Mbak Yuyun, malam ini aku menginap di rumah Surya. Tolong kemas beberapa baju dan suruh orang untuk mengirimnya ke lokasi yang sudah ku bagikan.
Begitulah isi pesan yang cukup membuat Mbak Yuyun melotot membaca pesan itu. Tapi isi pesan berikutnya lebih membuat Mbak Yuyun terperanjat lagi.
Gina : Kemas 5 sampai 7 baju kerja.
"Wah, berencana lima sampai tujuh hari menginap?" Mbak Yuyun tersenyum senang membayangkan hal itu.
Mbak Yuyun : Baju tidur dan keperluan lainnya akan saya kemas juga Nona.
__ADS_1
Gina : Perlengkapan make up saja. Baju tidur dan yang lainnya aku tidak membutuhkan itu
"Apa? Nona Gina bahkan tidak membutuhkan baju tidur?" Mbak Yuyun berfikir keras dengan maksud Gina yang katanya tidak membutuhkan baju tidur.
"Mereka sedang melakukan bulan madu atau apa?" Mbak Yuyun tidak bisa lagi menahan senyumnya sambil berlari untuk menunjukkan isi pesan Gina itu kepada majikannya. Pak Rangga.
Saat ponsel Mbak Yuyun sudah ada di hadapan Pak Rangga, ia melihat majikannya itu juga sedang berfikir dengan maksud dan tujuan Gina.
"Kemas dan kirim sesuai yang Gina inginkan." Ujar Pak Rangga akhirnya sambil menyerahkan kembali ponsel Mbak Yuyun.
"Baik, Tuan."
"Aku akan memberi kesempatan mereka tidur terpisah." Gumam Pak Rangga yang melanjutkan makan malamnya.
Mendengar itu Mbak Yuyun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menurutnya, bukankah baik kalau mereka tinggal di rumah yang hanya berisi mereka berdua. Mereka jadi bisa belajar hidup berumah tangga seperti pasangan lain. Tapi ternyata bukan itu yang Pak Rangga fikirkan saat ini.
Dulu diawal pernikahannya dengan Surya, Gina bersikeras untuk tidur di kamar yang terpisah. Tapi Pak Rangga tidak mengizinkan karena ingin Gina dan Surya menjadi dekat dengan tidur di dalam satu kamar. Akhirnya meskipun dengan paksaan tapi Gina pun menurut juga karena baginya tidur sekamar dengan Surya masih bukanlah apa-apa daripada ia tidak bisa mendapatkan R-Company nantinya.
Dan menurut Pak Rangga jika sekarang Gina ingin menginap di rumah Surya lalu tidur terpisah sudah tidak begitu masalah baginya karena ia melihat Gina mulai menaruh hati pada Surya. Pak Rangga akan membiarkan Gina mengetahui perbedaan antara tidur sekamar dan tidur terpisah dengan Surya. Dari situ Pak Rangga berharap Gina akan menyadari bahwa keberadaan Surya sangat penting baginya dan menyadari bahwa tidak baik untuknya hanya menerima pernikahan itu sebagai syarat untuknya bisa mendapatkan posisi R-Company tapi Pak Rangga ingin Gina akhirnya menerima pernikahan itu karena ia menerima Surya dengan hatinya yang telah tumbuh rasa cinta.
Gina meletakkan ponselnya di atas meja rias setelah mengirim pesan kepada Mbak Yuyun. Tepat saat itu ada ketukan di pintu kamar yang ia tempati. Gina tahu pasti itu adalah Surya. Ia pun mempersilakan.
"Nona, ini baju ganti Anda." Surya masuk dan menyodorkan T-Shirt dan celana joger miliknya untuk dipakai Gina.
Itu bukan pertama kali Gina memakai baju Surya. Saat di rumahnya di kampung pun kadang Gina memakai baju Surya. Karena saat itu ia terburu-buru berkemas sehingga ia lupa tidak membawa baju tidur di dalam tasnya. Jadilah T-shirt dan celana joger Surya menjadi sasaran. Oleh karena itu sekarang ia juga tidak perlu baju tidur karena baju Surya cukup nyaman untuknya.
"Terima kasih." Ujar Gina menerima baju itu.
"Saya akan tidur di ruang tengah, Nona. Kalau butuh apapun panggil saya saja."
"Kenapa kau tidur di sana? Kau bisa tidur dikamar yang lain. Aku akan memanggilmu kalau aku membutuhkanmu."
"Sebenarnya hanya ada satu kamar saja di rumah ini, Nona." Jawab Surya sambil tersenyum lebar.
"Apa?" Gina memelototkan matanya tidak percaya.
"Kau ini. Kenapa kau sepelit ini. Kau membuat rumah tapi hanya satu kamar? Memangnya ini rumah kos?"
"Bukan begitu, Nona. Tapi saya merasa belum membutuhkan banyak kamar karena pasti hanya saya sendiri yang selalu menempati rumah ini jadi dua kamar yang lain masih saya kosongkan untuk meminimal waktu dan tenaga saya saat bersih-bersih." Surya menjelaskan.
"Ohh..." Gina faham.
"Tapi kau benar-benar tidak apa-apa tidur di sana?"
"Iya Nona, saya tidak apa-apa."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menggunakan kamarmu semauku. Apa kau tidak keberatan?"
"Tidak Nona. Lakukan sesuka Anda. Saya ikhlas."
"Hei, kata-katamu yang terakhir sepertinya tidak tulus." Gina menyipitkan matanya meyelidik.
"Saya serius, Nona. Tidak apa-apa." Surya meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu. Aku juga akan membuat diriku senyaman mungkin dengan semua properti di sini." Kalimat Gina membuat Surya tidak tahan untuk tidak tersenyum.
"Iya Nona, silakan. Anda adalah istri saya jadi Anda bisa melakukan apapun di rumah saya." Mendengar itu membuat hati Gina kesemutan. Tapi Gina berusaha menyembunyikan perasaannya saat Surya menggodanya begitu.
"Maaf Nona, saya hanya bercanda. Saya harap Anda tidak marah." Surya menjadi tidak enak hati melihat Gina jadi diam begitu. Ia takut Gina benar-benar marah dengan candaannya.
"Bagus. Kalau seperti ini jadi lebih bagus." Ujar Gina menatap Surya tajam.
"Apa yang bagus, Nona?" Surya heran dengan tanggapan Gina yang diluar dugaan.
"Saat kita bercerai nanti rumah ini bisa saja setengahnya akan jadi milikku, bukan?" Gina tersenyum licik.
"Apa?" Surya melongo mendengar ucapan Gina.
__ADS_1