Tahta Surya

Tahta Surya
Nyonya Surya Sumarso


__ADS_3

Surya menutup pintu mobil setelah Gina masuk. Ia lalu memberi salam kepada semua orang yang mengantarnya untuk segera meninggalkan gedung tempat mereka menggelar pesta pernikahan. Dari dalam mobil, Gina juga melambaikan tangan dengan memamerkan senyum bahagianya.


Semua orang mengucapkan selamat jalan kepada keduanya yang mulai meninggalkan pelataran gedung dengan mobil yang melaju perlahan. Gina melihat dari kaca spion, semua orang dekatnya tampak masih menatap kepergiannya dengan melambaikan tangan. Ia lalu menyandarkan kepalanya pada headrest sambil menarik nafas panjang. Surya yang melihat itu lalu tersenyum.


"Anda pasti sangat lelah." Ujar Surya sambil meraih tangan Gina untuk akhirnya ia genggam. Sementara tangan satunya masih memegang setir.


"Hmmm..." Jawab Gina sambil menoleh kepada Surya dan menyunggingkan senyum.


"Rasanya ini lebih melelahkan daripada sebelumnya." Gina lalu terkekeh saat mengatakan itu sambil mengingat bagaimana pernikahan pertama mereka dulu. Gina yang menolak Surya mati-matian dan memikirkan segala cara agar bisa mempersingkat pernikahannya. Surya hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Kenapa selama ini kau merahasiakan keberadaan rumahmu dariku? Apa kau takut aku akan menjadi paparazi dan memata-matai rumahmu?" Tanya Gina berkelakar karena ini adalah pertama kalinya ia membawa Gina ke rumahnya yang baru, yang selama ini selalu dirahasiakan darinya.


"Tidak, saya hanya tidak ingin Anda meminta saya mengajak Anda bermain ke rumah."


"Kenapa? Kau takut aku membuat berantakan rumahmu?" Gina menyipitkan mata memandang Surya untuk menyelidik.


"Bukan. Tapi saya takut tidak bisa menahan diri ketika kita berada di tempat sepi." Mendengar alasan Surya, seketika tawa Gina pecah. Ia benar-benar tidak habis fikir ada pria seperti Surya dijaman seperti ini.


"Aku jadi curiga, jangan-jangan kau adalah manusia dari abad pertengahan yang melakukan teleportasi di jaman ini." Gina masih tertawa walau sudah berkurang volume suaranya. Surya hanya tersenyum dengan masih memperhatikan jalan di depannya. Ia telah melepas genggaman tangannya dengan tangan Gina saat ia harus memegang setir ketika sampai pada sebuab belokan tadi.


Tidak bisa dipungkiri, tapi itulah daya tarik dari Surya yang membuat Gina semakin menyukainya dan tiba-tiba menjadi yakin bahwa Suryalah pria yang sangat tepat untuk menjadi suaminya. Pria yang sangat menjaga prinsipnya bahwa wanita hanya bisa ia sentuh setelah benar-benar resmi menjadi miliknya. Meskipun Surya sempat melanggar prinsip itu dan menjadi sangat menyesal, tapi berkat hal itu, Gina menjadi sadar bahwa seluruh usaha Surya melindungi dirinya dari sentuhan apapun darinya berbanding lurus dengan perasaan cinta yang ia punya kepada Gina.


"Tapi, sebenarnya aku penasaran. Kau juga pernah berpacaran sebelumnya. Apakah kau juga memiliki prinsip yang sama seperti saat kau berpacaran denganku?"


"Tentu saja Nona. Prinsip itu saya buat bukan untuk orang lain tetapi untuk saya sendiri. Jadi, siapapun orangnya, saya tetap akan mempertahankan prinsip saya itu."


"Benarkah?" Gina mencoba menyelidik lagi. Mencari tahu apakah yang Surya katakan benar adanya.


"Nona, sebaiknya kita tidak membicarakan ini."


"Kenapa? Kau merahasiakan sesuatu dariku?"


"Bukan begitu, Nona. Kita baru saja menikah dan itu artinya kita memulai sebuah hidup baru jadi, kita tidak perlu mengungkit apa yang sudah berlalu."


"Ahh, aku semakin curiga melihat bagaimana kau berusaha keras untuk mengalihkan pembicaraan ini."


"Tidak Nona, bukan begitu."


"Lalu apa itu? Kau sepertinya menutupi sesuatu."


"Bagaimana saya bisa menutupi sesuatu kalau saya bahkan tidak melakukan apapun." Gina tersenyum melihat bagaimana Surya begitu serius menjelaskan kepadanya.


"Baiklah, aku percaya. Kalau tidak, pastilah sekarang yang kau nikahi bukan aku tapi dia." Gina melipat tangannya di dada sambil tersenyum jumawa. Surya tidak tahan untuk tidak tersenyum lagi menanggpi tingkah istrinya yang baru ia nikahi sejak beberapa jam yang lalu itu.


Surya mengendarai mobilnya keluar dari jalan utama lalu berbelok di sebuah komplek perumahan. Gina mengedarkan pandangan ke sekeliling dimana banyak rumah-rumah berdiri sederhana layaknya di pemukiman biasa.


"Rumahmu ada di sini?" Tanya Gina karena tidak sabar ingin segera apakah ia akan tinggal di tempat seperti rumah-rumah yang ia lewati itu. Rumah dengan model polos dan rata-rata tidak memiliki halaman dan hanya berpagar yang langsung menyatu dengan terasnya.


"Benar, Nona." Jawab Surya masih memandang lurus ke depan jalan kawasan komplek perumahan.


Gina mulai menerka-nerka bagaimana rumah yang akan ia tempati nanti. Berdasarkan pengalamannya tinggal di rumah Surya sebelumnya, rumah yang sangat sederhana dengan sedikit halaman dan ruang-ruang kamar yang kecil serta dapur yang sangat minimalis, Gina menebak mungkin rumah Surya kali ini pun tidak jauh berbeda. Apalagi dilihat dari pola rumah-rumah di sekitarnya ini, Gina yakin ia akan kembali menempati rumah sederhana ala Surya lagi.


Tapi belum sempat Gina berekspektasi lebih jauh tentang tempat tinggalnya Surya sudah menghentikan mobilnya di depan sebuah pagar kayu berwarna coklat gelap berlist besi warna hitam. Tampak rapi dan terlihat estetik. Surya turun untuk membukanya dengan mendorong ke arah samping. Setelah itu, Surya kembali masuk ke dalam mobil dan membawa Gina menuju ke sebuah halaman rumah yang lebih besar daripada halaman rumah Surya yang lama. Tidak berhenti berkedip di situ, Gina juga dibuat terperanjat dengan rumah yang akan ia tempati itu. Masih dengan gaya rumah tropis minimalis seperti rumah baru Surya yang ada di kampung, tapi yang ini berukuran jauh lebih besar.


Rumah dengan banyak kaca dan cendela itu memiliki dua lantai yang di beberapa bagian juga terdapat cendela kaca. Tampak sedikit terbuka tapi tetap terlihat adanya gorden di sisi kanan dan kirinya jika ingin lebih tertutup. Itulah kesan pertama yang Gina lihat dari rumah itu.


"Mari kita turun, Nona." Ajak Surya sambil membuka pintu sisi Gina.


"Surya, kau memiliki pesugihan? Bagaimana kau bisa membuat rumah dikampung dan di sini sebagus ini?" Tanya Gina menggodanya sambil masih memperhatikan bagian depan rumah Surya.


"Ya Nona, pesugihan saya bernama kredit bank." Jawab Surya lalu tertawa kecil. Gina memanyunkan bibirnya karena ia yakin Surya hanya asal saat mengatakan itu. Gina tahu sebanyak apa aset Surya di kampung, jadi sulit dipercaya jika ia harus melakukan pinjaman di bank hanya untuk membangun sebuah rumah. Apalagi bisnisnya semakin lancar dan menghasilkan, jadi kemungkinan itu sangatlah kecil.


Gina mengikuti Surya berjalan menuju pintu rumah dengan teras yang bersih dengan eksterior didominasi warna bumi di sisi tiang depannya. Pintu kayu jati yang dipernis warna coklat sedang itu juga menyempurnakan tampilan rumah yang sederhana. Tidak pernah lupa, Surya selalu memasang smart lock door di tiap rumah yang ia tempati. Ketika Gina bertanya kenapa menggunakan kunci kode, Surya menjawab, agar ia tidak selalu kemana-mana membawa kunci. Takut hilang atau lupa meletakkan dimana. Gina pun setuju dengan pemikiran Surya.

__ADS_1


Memasuki bagian dalam rumah, Gina lebih terperanjat lagi. Semua furnitur rumah itu Gina sangat mengenalnya. Hampir semua adalah produksi dari R-Company. Bahkan sofa ruang tamu adalah keluaran terbaru tahun ini. Desain sofa memang tampak sangat sesuai untuk ruangan itu, ruangan yang tidak terlalu lebar tapi masih memiliki sudut-sudut untuk meletakkan beberapa asesoris ruang yang mempermanis tata letaknya.


"Mari Nona." Surya menggandeng tangan Gina membuatnya sadar entah berapa lama ia berdiri di ruang tamu hanya untuk mengagumi penataannya. Gina pun menurut dengan mengikuti kemana Surya mengajaknya


Surya berjalan mendekati ruang keluarga dan menuju ke teras samping. Sepertinya ia ingin menunjukkan sesuatu. Benar, ada sesuatu yang menarik disana.


"Saya tahu Anda menyukai kolam ikan di rumah lama saya, sehingga saya membawanya ke sini juga untuk Anda." Ujar Surya memperlihatkan teras samping yang menyatu dengan kolam ikan seperti dirumah yang sebelumnya ia tempati. Gina memandang Surya lalu menyunggingkan senyum.


"Terima kasih. Kau selalu perhatian walau pada hal sekecil apapun pada diriku." Gina melingkarkan tangannya di pinggang Surya dan meletakkan tangan Surya untuk merangkul pundaknya.


"Kau tahu, tempat ini akan menjadi tempat yang paling sering kita pakai untuk bersama. Aku suka sekali sudut ini. Suara gemericik air, ikan-ikan berenang, bunga dan dedaunan di sekeliling kolam, secangkir coklat panas dan kau. Sempurna." Lagi-lagi Gina melempar senyumnya kepada Surya. Dan cupp, sebuah kecupan manis tiba-tiba mendarat di kening Gina dan membuatnya mengerjapkan mata berkali-kali mendapatkan kecupan Surya itu. Tiba-tiba ada sesuatu yang hangat seolah menjalari kedalaman dadanya.


"Rasanya gerah sekali. Ku rasa aku harus segera mandi." Gina pun melepas tangannya dari pinggang Surya dan memberi jarak darinya.


"Dimana kamar kita?" Gina mengedarkan pandangan ke dalam ruangan lagi.


"Kemari, Nona." Surya meraih lagi tangan Gina dan menariknya untuk menuju tangga.


Entah kenapa Gina merasa Surya seperti senang sekali menggandengnya kesana kemari menunjukkan setiap tempat yang harus Gina datangi. Atau, tempat-tempat yang harus Gina kenal mulai saat ini.


Gina menapaki tangga dengan aksen kayu itu satu per satu menyamakan langkahnya dengan Surya yang ada di depannya masih menggenggam tangannya. Lalu saat sampai di lantai dua, sekilas Gina melihat sebuah sudut yang terdapat treadmill di sana. Itu pastilah sudut untuk berolah raga. Tapi hanya itu yang ada difikiran Gina karena akhirnya ia telah sampai di depan pintu kamar yang ia cari. Surya membukakan untuknya dan membawa Gina masuk.


"Ini kamar kita, Nona." Ujar Surya sambil menarik Gina semakin kedalam.


Setelah memasuki kamar itu, yang pertama Gina tangkap adalah desain kamar tidur klasik minimalis yang menghadirkan nuansa nyaman dan mewah. Dengan dekorasi berwarna emas membuatnya terlihat semakin berkelas. Terlihat semakin cantik dan elegan digunakan juga kombinasi warna pink dan biru dongker pada dinding kamar tidur. Ranjang serta bed cover juga menggunakan kombinasi yang sama yaitu seprei warna pink dan blanket warna biru dongker. Benar-benar terlihat unik. Gina bahkan tidak pernah terinspirasi untuk membuat suasana kamar yang secantik itu.


"Apa Anda tidak suka, Nona?" Tanya Surya karena melihat Gina masih mematung di tempatnya.


"Maaf, saya sengaja tidak memberi sentuhan warna maroon karena itu akan menyebabkan tidak ada perbedaan antara kamar kita dan dan kamar Anda di rumah Papa."


"Tidak, aku suka yang ini. Aku suka paduan warnanya. Tidak ku sangka warna pink dan dongker bisa berpadu semanis ini." Puji Gina sambil mengusap selimut di atas ranjang yang terasa sangat lembut.


"Jangan katakan, kau juga pernah bekerja menjadi interior desainer." Goda Gina.


"Tidak Nona, kali ini saya berkonsultasi dengan ahlinya. Arsitek yang bekerja untuk pembangunan rumah ini memberikan saya gambaran-gambaran dan akhirnya saya memilih paduan warna ini. Ternyata setelah diaplikasikan hasilnya cukup bagus."


"Surya, aku harus mandi. Tapi, ku rasa aku akan butuh waktu yang lama. Kau mau mandi lebih dulu?" Gina memberi penawaran.


"Tidak Nona, silakan Anda mandi lebih dulu. Saya bisa menunggu." Tanpa berkata apa-apa lagi, Gina segera memasuki kamar mandi dan menunaikan ritual mandinya yang lama sekali itu. Gina yakin kamar mandi Surya pasti telah terisi penuh semua kebutuhannya untuk mandi. Dan saat memasukinya, benar, semua sama persis dengan apa yang ia bayangkan. Gina tersenyum melihat semua benda yang ada di kamar mandi adalah semua yang Gina butuhkan untuk mandi ala dirinya. Bahkan terdapat lilin aroma terapi di sudut ruangan yang tinggal ia nyalakan untuk membuat kamar mandi menjadi sama seperti kamar mandi idealnya.


Surya duduk di atas tempat tidur dan bersandar di ujung ranjang. Ia lalu membuka ponselnya yang seharian ini hampir tidak ia sentuh sama sekali. Ada banyak sekali pesan masuk. Surya mulai membaca satu per satu pesan yang masuk. Sebagian besar adalah ucapan selamat dari teman-teman yang tidak sempat menghadiri pernikahannya. Surya pun membalas pesan-pesan itu satu persatu. Sampai akhirnya Gina keluar dari dalam kamar mandi dengan piyama mandi dan rambut terbungkus handuk.


"Segar sekali." Ujar Gina sambil melepas balutan handuk di atas kepalanya yang akhirnya memperlihatkan rambut panjang yang basah menjuntai ke punggungnya. Pada detik itu mata Surya seperti tidak ingin teralihkan pada apapun. Wajah polos Gina yang bersih dan segar usai mandi dengan rambut basah yang beraroma wangi membuat jantungnya berdebar demi pesona yang Gina perlihatkan untuk pertama kalinya itu.


Mereka memang pernah tinggal dalam satu kamar tapi Gina tidak pernah berpenampilan seperti itu di hadapannya. Saat itu biasanya Gina selalu keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian set piyamanya yang tertutup dan rambut sudah kering karena Gina sudah mengeringkan rambut basahnya di dalam kamar mandi. Sehingga pemandangan kali ini benar-benar asing tapi cukup membuat Surya terpana melihat penampilan Gina yang tidak biasa.


"Surya... dimana koporku?" Kalimat Gina akhirnya menyadarkan Surya untuk kembali melihat Gina dengan cara yang biasa.


"Kopor?" Surya balik bertanya karena ia menjadi gugup saat Gina berjalan mendekatinya.


"Kopor yang berisi pakaianku." Gina sekarang duduk di depan Surya yang telah mengubah posisi duduknya dengan melipat kedua kakinya menjadi bersila. Aroma wangi tubuh Gina semakin menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya. Aroma lembut madu dan susu favorit Gina seolah semakin mengacaukan konsentrasi Surya. Ditambah penampilan Gina dengan piyama mandi berkerah serendah itu benar-benar membuat Surya merasa gelisah berdekatan dengannya begitu.


"Kopor berwarna merah." Jelas Gina lebih lanjut karena merasa Surya kurang tanggap dengan apa yang ia bicarakan.


Mendengar hal itu, Surya akhirnya kembali faham dan ingat jika saat membuka bagasi mobilnya tadi ia tidak melihat ada kopor berwarna merah.


"Tapi saya tidak menemukan kopor berwarna merah, Nona. Hanya tas warna merah jambu itu." Tunjuk Surya pada sebuah tas besar berisi alat make up dan segala kebutuhan perawatan wajah dan tubuhnya. Gina ikut melihat ke arah jari telunjuk Surya menunjuk.


"Ya Tuhan, apa Mbak Yuyun lupa memasukkannya?" Gina kembali berdiri dan mencari ponselnya.


"Lalu aku harus bagaimana kalau tidak ada kopor itu? Semua pakaianku ada di sana." Suara Gina terdengar kesal. Surya berdiri dan kemudian berjalan menuju pintu.


"Kau mau kemana?" Tanya Gina yang melihat Surya akan keluar dari kamar.

__ADS_1


"Saya akan memeriksa kembali siapa tahu masih tertinggal di dalam mobil, Nona." Setelah itu Gina melihat Surya menghilang dari balik pintu. Gina lalu duduk di atas tempat tidur sambil menghubungi mbak Yuyun yang belum juga mengangkat telepon darinya. Tapi, sebentar kemudian Surya sudah kembali ke kamar.


"Ada?" Wajah Gina penuh harap memandang Surya. Tapi Surya hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala pelan.


"Ahh, bagaimana ini. Aku tidak punya baju ganti. Mbak Yuyun... kemana dia? Kenapa tidak mengangkat teleponku." Gina terlihat sangat kesal dan marah kali ini.


"Besok pagi kita ambil di rumah Papa, Nona."


"Lalu bagaimana dengaku sekarang? Apa aku harus memakai gaun tadi untuk tidur?" Omel Gina dengan wajah manyun masih duduk di tepi tempat tidur.


"Anda bisa memakai baju saya seperti biasa, Nona." Ujar Surya sambil tersenyum lebar seolah mengingatkan Gina pada kebiasaannya dulu ketika menginap bersamanya.


"Tapi, aku ingin memakai bajuku sendiri kali ini." Kalimat Gina pelan.


"Apa baju yang Anda inginkan kali ini cukup spesial?" Goda Surya dan membuat Gina langsung mengerti maksudnya sehingga membuat wajahnya merona.


"Spesial apa? Tidak. Hanya saja, seperti yang ku katakan, aku memang sedang ingin memakai bajuku sendiri."


"Oh iya, Anda masih bisa memakai baju Anda sendiri." Gina mengerutkan kening mendengar penuturan Surya karena tidak faham maksudnya.


"Saya rasa Anda sempat meninggalkan sebuah baju di rumah lama saya dulu, Nona." Ujar Surya sambil berjalan mendekati lemari di sisi lain kamar. Mendengar itu, mata Gina mengikuti kemana Surya pergi.


"Ini... Anda bisa memakai ini." Surya menunjukkan sesuatu yang membuat Gina seketika membelalakkan kedua matanya dengan wajah merona ala udang rebus karena merasa malu.


"Kau... darimana kau dapatkan itu?" Tanya Gina terbata.


"Saya menemukannya di dalam lemari saat berkemas akan pindah rumah, Nona." Wajah Surya dengan senyum lebar menggoda Gina.


Gina tidak tahu lagi harus bagaimana ketika gaun malam berwarna merah marun bertali spageti dengan bahan transparan itu kini ada di tangan Surya. Seketika ia teringat bagaimana dirinya pernah hampir saja memakai gaun malam transparan itu untuk menarik perhatian Surya. Sehingga saat ini Gina menjadi salah tingkah telah ketahuan menyembunyikan baju itu di dalam lemarinya.


"Bukankah Anda ingin memakai ini untuk saya lihat?" Surya berjalan mendekati Gina sambil membawa gaun malam itu.


"Tidak, aku tidak akan memakainya. Apalagi didepanmu saat itu. Kau fikir aku sudah tidak waras?" Gina mengelak mati-matian sambil menggeser duduknya semakin ke tengah tempat tidur untuk menutupi kesalahtingkahannya.


"Lalu, kenapa gaun ini bisa ada disana?"


"Itu... itu tidak sengaja terbawa saat aku berkemas menginap di rumahmu." Elak Gina sengit tidak ingin modusnya untuk merayu Surya waktu itu ketahuan olehnya.


"Baiklah..." Ujar Surya perlahan sambil naik ke atas tempat tidur menghadapi Gina yang duduk dengan gugup disana.


"Apapun itu, saat ini saya tidak peduli lagi, Nona." Surya meletakkan gaun malam yang menyebabkan perdebatan itu diatas tempat tidur dan bergerak semakin dekat sehingga membuat Gina semakin tidak bisa mengontrol detak jantungnya.


"Saya juga tidak peduli baju apa yang akan Anda pakai malam ino. Jadi... Selamat malam, Nyonya." Tepat setelah kalimat itu, ruangan kamar berubah menjadi redup. Gina terkesiap dan melihat sekeliling dengan takjub. Lampu terang di tengah plavon padam, digantikan oleh lampu tidur di sudut-sudut plavon yang menyala temaram. Sebuah panel aplikasi dari ponsel yang ada di tangan Surya sekarang sedang ia gunakan untuk mengendalikan semua perangkat keras di kamar itu untuk diatur sesuai keinginannya.


"Mulai sekarang, saya akan berbicara dengan ber-aku-kamu dan akan memanggil namamu Nyonya Surya Sumarso."


Mendengar itu, entah kenapa Gina merasa kalimat Surya terdengar indah sampai di telinganya. Sebuah sebutan nama yang masih terasa asing tapi dengan senang hati Gina akan memakainya. Nyonya Surya Sumarso yang sama artinya dengan sebutan sebagai istri Tuan Surya Sumarso. Gina menatap Surya dalam keremangan lampu kamar dan mendapati tatapan mata dalam dengan senyum teduh dari bibirnya.


Meskipun sempat menolak lamaran Surya, tapi kali ini Gina merasa pilihannya mengajak Surya menikah sudah tepat. Ia merasa sangat yakin dengan perasaannya kepada Surya dan perasaan Surya kepadanya. Ia merasa Suryalah satu-satunya pria yang membuatnya yakin bisa menemani menjalani hari-harinya penuh cinta.


"Surya, aku mencintaimu." Kalimat Gina akhirnya.


"Aku mencintaimu, Gina." Balas Surya yang kemudian membuat Gina tidak bisa menahan diri lagi dan lalu mendekat untuk memeluknya.


Gerimis mulai turun perlahan membasahi keca cendela kamar dan semua yang dijatuhinya. Pepohonan, bunga, rumput, tanah, semua menjadi basah karenanya.


Selamat malam, semesta...


🌸🌸🌸


Terima kasih untuk teman-teman pembaca kesayanganku yang setia mengikuti kisah Gina dan Surya serta mendukungku dalam berbagai cara. Buku ini tidak akan bisa selesai sejauh ini tanpa dukungan kalian semua 🤗


Sampai di sini dulu ya cerita Gina dan Surya. Sebenarnya mau ku buat lebih panjang dan lama cerita tentang mereka tapi rasanya ganti cerita lain yang lebih segar pastinya lebih menyenangkan. Jadi, tunggu saja bukuk selanjutnya ya.

__ADS_1


Dan, semoga kita sehat selalu sehingga bisa bertemu di bukuku selanjutnya yang entah kapan akan mulai up. Sekali lagi terima kasih... 😊


Salam hangat 🤗🤗🤗


__ADS_2