Tahta Surya

Tahta Surya
Pertemuan


__ADS_3

Gina menarik nafas sambil melihat keluar kaca cendela mobilnya. Jalanan mulai diterangi oleh lampu-lampu yang sudah menyala. Pertokoan dan tempat-tempat makan mulai terlihat mencolok dengan lampu-lampu yang berbinar-binar. Gina berada di kursi belakang sedang diantar oleh sopir. Surya masih menghadiri pertemuan dengan relasi sehingga dirinya harus pulang sendiri kali ini.


Tadi sore saat Gina hampir menyelesaikan pekerjaannya, Surya menelepon.


"Nona, saya akan pulang terlambat jadi seorang sopir akan mengantarkan Anda pulang. Anda akan pulang ke rumah Papa atau..."


"Ke rumahmu." Jawab Gina cepat sambil melirik Hanna untuk melihat reaksinya.


Ia tidak bermaksud membuat Hanna cemburu atau semacamnya karena ia akan menajadi wanita jahat dalam diam. Gina sudah mengakui rasa sukanya kepada Surya waktu itu dan ia rasa itu cukup. Meskipun saat itu Gina tidak tahu bahwa Hanna mempunyai hubungan dengan Surya tapi setelah ia tahu, Gina juga tidak menyesal karena membuat Hanna mengetahuinya. Gina merasa tidak bersalah dengan hal itu. Ia menyukai Surya yang saat itu ia fikir tidak memiliki kekasih jadi, ia akan berpura-pura begitu hingga saat ini. Ia akan menjadi wanita jahat dengan menarik hati Surya tanpa ia sadari dan tanpa sepengetahuan Hanna, kekasihnya.


"Baiklah, Nona." Jawab Surya dari ponselnya.


"Saya akan memesankan makan malam Anda karena saya tidak akan makan di rumah. Anda mau makan apa?"


"Tidak usah, aku akan melakukannya sendiri. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Anda yakin, Nona?" Nada suara Surya khawatir karena Gina tidak pernah tinggal sendirian. Dia selalu mendapatkan pelayanan dari Mbak Yuyun selama di rumahnya sendiri.


"Yakin..." Gina meyakinkan Surya.


"Kalau Anda membutuhkan apapun, jangan segan menghubungi saya."


"Iya."


Ini adalah salah satu cara Gina untuk menarik perhatian Surya. Ia akan menjadi wanita pemberani dan mandiri. Meskipun sendirian di rumah dan tanpa dilayani asisten rumah tangga, Gina harus bisa.


Mobil yang Gina tumpangi sudah sampai rumah. Gina segera turun setelah mengucapkan terima kasih kepada Sopir Surya. Gina segera membuka kunci pagar rumah Surya. Rumah Surya sudah terang benderang. Gina melihat semua lampu menyala bahkan lampu taman di halaman rumah Surya yang minimalis pun menyala. Gina mengedarkan pandangan ke semua tempat yang bisa dijangkau matanya saat ini. Semua tampak terang sekali. Pasti Surya sedang mengendalikan aliran listrik di rumahnya dengan menggunakan sistem kontrol aliran listrik jarak jauh dengan smartphone-nya.


"Dia sedang pamer. Rumahnya lebih kecil daripada rumah Papa tapi memang lebih canggih." Gumam Gina sambil berjalan mendekati pintu. Pintu itu juga sudah menggunakan kunci kode, bukan kunci manual.


"Rumah Papa bahkan masih menggunakan kunci yang sudah mulai berkarat." Gina tertawa kecil mengingat rumahnya yang besar dan mewah tapi belum tersentuh teknologi secanggih rumah Surya.


Gina bisa masuk dengan menombol kode yang kemarin Surya berikan. Variasi angka itu Gina ingat dan ternyata sekarang ada gunanya.


"Tolong Anda ingat kode pintu ini, Nona." Ujar Surya kemarin saat mereka akan memasuki rumah itu.


"Kenapa? Aku tidak akan selamanya tinggal di sini."


"Mungkin akan berguna di saat-saat tertentu."


"Kau tidak takut aku akan merampok rumahmu kalau aku tahu kode pintumu?"


"Anda tidak akan jadi merampok setelah memasuki rumah ini, Nona."


"Kenapa?" Tanya Gina heran sambil mengikuti Surya memasuki pintu yang baru ia buka.


"Karena tidak ada harta benda berharga yang bisa dirampok. Jaman sekarang pencuri tidak mau repot-repot mencuri TV apalagi kulkas. Itu sangat merepotkan." Surya lalu terkekeh. Gina memanyunkan bibirnya menanggapi candaan Surya.

__ADS_1


Dan malam ini Gina memasuki rumah Surya yang sepi tapi terlihat hangat. Dengan warna cat tembok dan pencahayaan yang sesuai, rumah Surya terasa sangat nyaman. Memasuki ruang tengah, Gina lalu duduk di sofa dan menyalakannTV untuk membuat suasana tidak terlalu sepi. Gina lalu memasuki kamar untuk mengganti bajunya dengan baju milik Surya. Ia lalu kembali menuju ke depan TV untuk mengambil ponselnya dan memesan menu makan malam secara online. Tapi Gina baru ingat tidak tahu alamat pasti rumah ini. Gina mulai membuka kontak Surya dan meneleponnya.


"Surya, berikan aku alamat rumahmu. Aku harus memesan makanan."


"Nona bisa share lokasi saja."


"Tidak, kadang itu tidak akurat. Berikan alamatnya saja."


"Baiklah, Nona. Akan saya kirim via pesan." Surya lalu mengakhiri percakapannya bersama Gina.


Saat ini Surya sedang berada di sebuah restoran mewah. Menghadapi sebuah meja dengan secangkir kopi di depannya dan di ujung meja duduk seorang wanita yang menatap lurus padanya.


"Apakah itu, Gina?" Tanya wanita itu menebak.


"Benar, Ma." Jawab Surya pada Bu Maria, Ibu mertuanya.


🌸🌸🌸


Gina baru saja menutup kulkas setelah mengambil air saat bel rumahnya berbunyi. Pasti itu adalah kurir yang mengantar makan malamnya.


Setelah menerima pesanan, Gina lalu kembali masuk ke dalam rumah. Membawa makanan itu ke meja makan dan menuang air lagi ke dalam gelasnya. Sebuah pizza dengan toping daging asap dan keju mozarela menebarkan aroma yang membuat perut Gina semakin keroncongan. Lalu ia mengambil potongan pertama dan menggigitnya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak memakan makanan yang ramai disebut berasal dari Italia itu. Sekarang potongan kedua juga sudah masuk ke dalam perutnya tapi Gina masih belum ingin berhenti. Hingga akhirnya tinggal satu potong dan Gina mulai menyerah. Perutnya sudah penuh dengan pizza ukuran medium itu. Ia lalu bangun dari duduknya dan bermaksud ke kamar mandi.


Sama seperti rumahnya yang sederhana, kamar mandi Surya pun sama. Memiliki ukuran yang jauh lebih kecil daripada kamar mandi di rumahnya. Pertama kali Gina memasuki kamar mandi Surya, ia hanya menemukan sabun, sampo, sabun muka dan pasta gigi. Tidak ada hal lain. Tapi saat ini ia memasuki kamar mandi ternyata semua hal keperluan Gina mandi sudah tertata rapi di atas rak. Mulai dari sampo hingga body scrub sudah ada. Bahkan ada sebuah lilin aroma terapi juga di sudut kamar mandi yang bisa kapan saja Gina nyalakan. Gina tersenyum melihat itu. Surya benar-benar memenuhi segala kebutuhannya.


Dia memperlakukanku sebaik ini, pasti aku sudah gila kalau tidak bisa jatuh cinta padanya begini. Fikir Gina.


Gina keluar dari kamar mandi dengan rambut yang ia sanggul ke atas. Baju kedodoran milik Surya yang ia pakai menutupi tubuhnya yang terasa segar. Ia melihat jam di kamar Surya menunjukkan pukul sembilan malam. Gina bermaksud menunggu Surya sambil menonton TV. Tapi saat keluar dari kamar, ia mendengar suara-suara dari ruang makan. Gina berjalan mendekati ruangan itu dengan perlahan. Saat sampai di sana ia melihat Surya sedang mengemasi sisa pizza yang Gina makan.


"Kau baru pulang?" Ujar Gina dan membuat Surya seketika mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Iya, Nona."


"Apa pertemuannya baik?" Tanya Gina berusaha menunjukkan kalau ia perhatian.


"Baik, Nona."


"Tapi kenapa sampai semalam ini?"


"Kami melanjutkan dengan jamuan makan malam, Nona. Pertemuan semacam ini tidak akan bisa berakhir begitu saja. Kami masih harus makan malam bersama dan juga ke tempat hiburan sampai larut sekali. Tapi saya langsung pulang setelah makan malam tadi."


"Bagus, kalau kau ikut ke tempat hiburan juga, bagaimana aku bisa tidur malam ini." Suara Gina melemah membayangkan kalau Surya benar-benar membiarkan dirinya sendirian di rumahnya sampai tengah malam.


"Saya tidak akan melakukan itu, Nona." Surya mendekati Gina.


"Maafkan saya karena telah membuat Anda sendirian di rumah." Kalimat Surya setelah ada di dekat Gina.


"Tidak apa-apa." Gina mendadak gugup ketika Surya berada sedekat itu.

__ADS_1


"Oh, apa kau akan mandi dulu?"


"Iya, Nona."


"Baiklah, mandilah dulu. Aku akan menonton TV." Gina lalu mundur dari tempatnya berdiri dan berjalan ke ruang TV lalu duduk di sofa. Surya mengikuti Gina tapi kemudian ia menuju ke kamar untuk mandi.


Terdengar suara gemuruh geledek di luar. Kilat juga mulai menyambar-nyambar. Gina melihat ke arah luar. Dari tempatnya duduk ia bisa melihat gerimis mulai membasahi teras rumah. Tapi Gina lalu tidak menghiraukan hal itu dan kembali melihat acara TV di depannya. Kini ia mengubah posisinya menjadi selonjoran dengan bantal ia letakkan di ujung sofa. Tubuhnya terasa lebih nyaman dengan posisi ini.


Surya keluar dari kamar mandi dan mendengar seperti ada suara riuh di luar. Saat membuka pintu kamar ia melihat pintu kaca teras samping sudah basah oleh air hujan. Dan matanya juga menangkap pemandangan lain di sana. Gina yang tertidur sambil menggenggam remot TV di atas sofa.


Perlahan Surya mendekati Gina yang terlelap. Ia melihat Gina sekarang jadi lebih sering tidur lebih awal. Ini bahkan belum jam sepuluh malam tapi Gina sudah terlelap dengan sangat nyaman. Surya berfikir apa semelelahkan itu bekerja sehingga membuatnya tidur setiap kali kepalanya menyentuh bantal. Wajah Gina yang tertidur pulas itu tampak sangat damai. Wajah yang biasanya sering terkesan galak itu seperti tidak ada lagi. Berganti wajah manis dan menggemaskan.


Surya masih memandang wajah Gina lekat saat sebuah geledek menyuara dengan sangat nyaring. Tapi sepertinya itu tidak mempengaruhi Gina sama sekali. Ia masih tetap terlelap dengan posisi ternyamannya saat ini. Surya lalu masuk ke dalam kamar dan kembali dengan sebuah selimut yang kemudian ia pakai untuk menutupi tubuh Gina. Mendapatkan sesuatu yang menutupi tubuhnya yang terasa hangat, Gina semakin merasa nyaman. Ia mengeliat sebentar lalu menarik selimutnya hingga menutupi leher dan meringkuk dengan sangat lucu. Itu membuat Surya tidak tahan kalau tidak tersenyum melihatnya.


Memandang Gina seperti itu membuatnya teringat saat pertemuannya dengan Bu Marina tadi. Surya sengaja berbohong kepada Gina tentang pertemuan itu karena Bu Marina ingin ia merahasiakannya dari Gina.


"Surya, temui aku di..."  Suara Bu Marina melalui sambungan telepon saat Surya keluar dari tempatnya menghadiri pertemuan.


"Baik, Ma." Jawab Surya patuh lalu memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya saat Bu Marina sudah mengakhiri telepon.


"Fer, ambil mobilku di tempatku lalu jemput Nona Gina di R-Company." Ujar Surya menghubungi seseorang lewat sambungan ponselnya.


Saat bertemu Bu Marina...


"Surya, kau sudah lama sekali bekerja dengan kami." Ujar Bu Marina setelah meletakkan kopinya kembali ke atas meja. Surya menyimak ucapan ibu mertua yang selama ini selalu bersikap dingin padanya itu. Ia tahu ibu mertuanya tidak menyukai jika putrinya menikah dengan dirinya sehingga Surya bersikap sebaik mungkin demi menghormati ibu dari istrinya.


"Kau tahu, suamiku bahkan sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri." Tiap kata yang diucapkan oleh Bu Marina meskipun perlahan dan sangat lembut terdengar seperti sebuah alarm bencana alam yang sewaktu-waktu bisa mengguncangkan isi semesta. Sehigga Surya mempersiapkan diri untuk hal itu.


"Sampai saat ini aku tidak bisa memahami sebesar apa budimu padanya sehingga suamiku seperti tidak pernah bisa membayarnya kepadamu." Kalimat Bu Marina kali ini pun masih disimak oleh Surya dengan kewaspadaan yang besar kalau-kalau akan berakhir dengan kemarahan, Surya harus mempersiapkan diri.


"Jadi, tetaplah berada ditempatmu saat ini. Ku fikir ini sudah jauh lebih dari cukup untuk kau terima. Posisimu di R-Company yang cukup baik dan cinta suamiku padamu adalah dua hal besar yang terlalu berlebihan kau terima. Jadi, aku harap kau tidak akan menginginkan hal yang lain lagi." Surya mulai tahu akan kemana arah pembicaraan Bu Marina Kali ini.


"Kau tidak akan bisa menjadi benar-benar keluarga kami kalau bukan karena tugas penting yang suamiku berikan padamu. Dan hubungan kita sebagai keluarga juga tidak akan terjadi selamanya. Kau tahu itu, bukan?" Surya mengangguk mendengar kalimat ibu mertuanya yang tetap memasang wajah ramah walau setiap katanya sangat tajam dan bisa melukai.


"Gina adalah putri kami satu-satunya. Dia harus menjadi pemimpin R-Company apapun yang terjadi. Dan pada saatnya nanti aku yakin kau pasti tidak akan keberatan untuk memberikannya. Karena semua harus berjalan sebagaimana mestinya. Seorang pemilik sudah seharusnya memegang apa yang ia miliki." Benar apa yang ada di dalam fikiran Surya saat menerima ajakan bertemu dari ibu mertuanya ini.


Surya hanya menyimak setiap kalimat yang Bu Marina ucapkan dengan hanya menjawab dengan sopan dan singkat saja. Ia menghormati ibu mertuanya itu karena ia sangat menghormati ayah mertua serta istrinya. Meskipun ibu mertuanya tidak bisa menganggapnya keluarga karena tahu pernikahannya dengan Gina hanya untuk menuruti keinginan ayah mertuanya yang ingin menundukkan Gina dan membuatnya bisa berpaling kepada R-Company, tapi Surya tetap berusaha sebaik mungkin menjaga sikapnya. Asal bukan harga dirinya yang tersakiti, Surya akan patuh pada setiap yang ibu mertuanya ucapkan.


"Dan satu hal lagi." Ujar Bu Marina setelah ia berpamitan dan berdiri dari duduknya.


"Aku tahu pasti Gina yang ingin tinggal di rumahmu saat ini." Bu Marina menatap Surya tajam.


"Kau tahu bukan bagaimana perangainya. Dia adalah gadis yang sangat mudah jatuh cinta. Berpindah dari hati yang satu ke hati yang lain adalah kebiasaannya. Hanya sedikit perhatian saja dia akan dengan senang hati menukar dengan hatinya dan menggantungkan cintanya pada pria itu." Surya masih menyimak apa yang ingin Bu Marina sampaikan kali ini.


"Jadi, aku harap kau tidak turut terbawa perasaan Gina. Perasaan Gina bisa saja berubah dengan sangat cepat dan kau bisa kuwalahan dengan itu. Kau harus menjaga hatimu baik-baik. Gina adalah gadis yang pandai menjatuhkan hati tapi dengan jatuh yang menyakitkan." Bu Marina lalu meninggalkan meja dan berjalan menjauhi Surya yang juga berdiri memberinya hormat sebelum pergi.


Surya menarik nafas dalam-dalam melihat Gina terlelap dibalik selimutnya yang hangat. Ingatannya tentang pertemuan dengan ibu mertuanya yang adalah mama Gina muncul di dalam fikirannya. Terlihat sekali ada kekhawatiran dari mata Bu Marina terhadap hubungannya dengan Gina. Surya cukup faham arti pertemuan itu bagi Bu Marina. Ia tahu Bu Marina ingin Surya tidak melewati batasannya sebagai orang yang dimintai pertolongan oleh Pak Rangga untuk membuat Gina bisa menginginkan berada di R-Company.

__ADS_1


Surya mengalihkan pandangan dari wajah Gina yang akhir-akhir ini semakin sering menyita perhatiannya. Ia berpaling arah ke pintu kaca teras rumahnya yang masih basah oleh hujan disertai angin malam ini. Ia tahu ini aneh tapi sesak di dadanya setelah mendengar semua ucapan Bu Marina membuat Surya semakin takut. Bukan karena ia merasa takut tersakiti oleh Gina tapi ia takut tidak bisa mengendalikan perasaannya dan menjadi serakah karena menginginkan hal yang sama sekali tidak pantas untuk dimilikinya.


__ADS_2