Tahta Surya

Tahta Surya
Kasmaran


__ADS_3

"Surya..." Panggil Gina.


"Iya Nona. Anda sudah selesai?"


"Toilet penuh. Tapi aku sudah tidak tahan."


"Baiklah, silakan pakai toilet di kamar atas, Nona. Di kamar dengan pintu warna putih. Ini kuncinya." Surya menyerahkan sebuah kunci kepada Gina yang lalu bergegas meninggalkan tempat itu.


Gina berjalan dengan terburu-buru tapi juga sambil menahan perutnya yang sakit segera menuju lantai atas dari tangga di dekat toilet. Ia menapaki tangga dengan harapan bisa segera sampai di toilet yang diistruksikan oleh Surya. Setelah sampai di lantai atas, Gina melihat sebuah sofa panjang dan TV di depannya. Lalu ada sebuah lorong yang memiliki beberapa kamar. Dan tepat saat itu Gina menemukan sebuah ruangan yang berpintu warna putih diantara ruangan lain yang berpintu warna kayu berpernis.


Tanpa fikir panjang, Gina segera menuju kamar berpintu putih dan memasukkan kunci untuk membukanya. Pintu terbuka, Gina langsung tahu itu adalah sebuah kamar. Ia menebak itu mungkin adalah kamar Surya. Tapi karena perutnya yang semakin mulas, Gina langsung menuju ke sebuah pintu lain di dalam kamar yang adalah toilet.


Seusai melancarkan 'beban' yang ia rasakan selama ini, Gina pun keluar dari kamar mandi khas Surya itu. Sebuah kamar mandi yang di dalamnya hanya ada perlengkapan mandi standar. Sabun, sampo, sabun wajah, pasta gigi dan sikat gigi. Sudah, itu saja. Sama seperti yang ada di kamar mandi Surya di rumahnya waktu itu.


Gina membuka pintu kamar mandi dan mulai menyadari bahwa kamar itu sangat sederhana tapi terkesan hangat. Ia tidak menyangka bahwa di atas warung ini ada sebuah tempat tinggal. Ada ruang menonton TV, dapur kecil yang Gina lihat di ujung lorong saat ia menuju ke kamar Surya tadi dan juga ada kamar yang nyaman seperti ini. Kamar dengan sebuah tempat tidur berukuran queen berseprei motif abstrak warna gelap yang serasi dengan dinding kamar yang berwarna abu muda dan cendela di sampingnya yang memiliki gorden bermotif kotak-kotak warna dasar putih. Ada sebuah meja nakas dengan lampu diatasnya dan juga sebuah jam weker model vintage yang menurut Gina sangat lucu bentuknya. Tanpa Gina sadari, ia tersenyum melihat bagaimana Surya menata kamarnya. Ia selalu memiliki selera yang sederhana tapi sangat nyaman dipandang mata. Pilihan warnanya masih sama, warna-warna monokrom adalah favoritnya. Bukan hanya penampilan yang ia tampilkan secara monokrom, tapi segala yang ada di sekitarnya juga ia ciptakan sesuai dengan seleranya.


Puas melihat kamar Surya di atas warungnya, Gina bermaksud untuk keluar. Tapi saat membalik badan, Gina melihat sesuatu yang membuatnya sangat tertarik. Matanya tertuju pada dinding di depannya. Gina menatap foto dirinya saat masih berseragam SMP, SMA, memakai baju toga dan saat memakai gaun pengantin. Semua berderet di dinding itu dengan rapi bertema polaroid. Entah kapan dan bagaimana Surya mendapatkan foto-foto dirinya seperti itu. Tapi Gina bahkan tidak tahu Surya mendapatkan foto dirinya yang tanpa sepengetahuannya.


Saat Gina masih menikmati fotonya berseragam SMP yang turun dari mobil dan sepertinya itu adalah saat ia baru saja pulang dari sekolah. Lalu fotonya berseragam SMA saat duduk di sebuah minimarket sambil menghadapi minuman sari buah kesukaannya. Dan fotonya saat memakai baju toga sedang memasuki ballroom tempatnya wisuda di hotel ternama bertahun-tahun yang lalu. Yang terakhir adalah fotonya memakai gaun pengantin yang seolah itu diambil secara candid oleh Surya di kebun hotel saat acara pesta. Gina tidak menyangka ternyata selama ini Surya memperhatikannya. Dan entah apa tujuannya, tapi Surya bahkan menempelkan fotonya di dinding kamarnya.


Gina berjalan semakin dekat ke arah tembok dan meraih salah satu foto. Ia memandanganya lebih dekat dan lalu tersenyum. Fotonya saat masih SMP sangat lucu. Ia memakai jepit rambut yang dibelikan oleh Roby, kakaknya. Jepit rambut dengan pita kecil berwarna merah muda di ujungnya.


Setelah puas melihat itu, Gina lalu mengembalikannya ke tempat semula. Tapi saat ia berusaha menjepit kembali foto itu pada seutas tali yang dipasang oleh Surya di sana, ternyata fotonya justru malah terlepas dan jatuh. Gina memungutnya tapi ternyata foto yang jatuh terbalik itu terdapat tulisan di belakangnya, 'Ayu'. Gina tersipu membaca itu. Ia merasa sepertinya Surya mengagumi kecantikannya sejak ia masih SMP.


Lalu Gina penasaran dan melihat pada foto SMAnya. Benar, saat membaliknya terdapat sebuah kalimat yang tertulis juga, 'Ada aku menemanimu'. Gina malah tertawa kecil saat membaca itu. Ia tahu pasti saat itu Surya mengambil fotonya sebagai "mata-mata" yang ditugaskan oleh Papanya. Setelah mengembalikan di tempat semula, Gina berganti pada fotonya saat memakai toga. 'Congratulation, I am happy for you'. Lalu berganti pada fotonya yang terakhir, foto saat ia memakai gaun pengantin, dibaliknya tertulis, 'Jika ini mimpi, aku tidak ingin terbangun lagi'.


Gina menarik nafas berat. Fikirannya mulai melakukan analisa bahwa sebenarnya Surya sudah sejak lama menyukainya. Entah sejak dirinya masih duduk di bangku SMP atau kapan tapi yang jelas Surya sudah lebih dulu menyukai dirinya dibanding saat dirinya menyukai Surya yang baru ia rasakan saat mereka sudah menikah.


Saat Gina masih memandang satu per satu foto yang ada di dinding kamar Surya, tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar. Surya muncul dari baliknya dengan nafas sedikit terengah seperti telah melakukan sesuatu yang berat.


"Itu... itu hanya... Maafkan saya, Nona. Saya akan melepaskan semuanya." Ujar Surya dengan suara rendah penuh rasa sesal.


"Surya... ayo kita berpacaran." Gina menatap wajah Surya lurus dan merasakan debaran yang sangat kuat sekarang.


"Nona?" Kalimat Surya yang sekarang ada hanua selangkah di depannya.


"Mari kita mengulangnya kembali dari awal." Jawab Gina dengan menatap sekilas kepada Surya tapi setelah itu ia menatap ke arah tembok. Surya pun melakukan hal yang sama lalu tersenyum.


Dua orang berjalan menuruni tangga dengan kedua tangan saling bergadengan. Beberapa pegawai yang melihat itu tampak terpana melihat Gina dan Surya yang turun bersama. Seorang pegawai malah mencolek lengan teman di sebelahnya yang sedang menata angkringan.


"Apa?" Tanya pegawai itu. Kemudian teman yang mencoleknya memberi isyarat dengan pandangannya untuk melihat ke suatu arah. Pegawai itu turut membulatkan mata melihat bos mereka berjalan bergandengan dengan seorang wanita.


Bahkan kedua wanita yang membicarakan Gina di belakangnya tadi juga masih ditempat mereka semula dan melihat itu dengan bibir terbuka dan pandangan mata yang tidak berkedip. Gina yakin mereka memiliki kesimpulan yang ada di kepala mereka setelah membicarakannya dengan berbagai pemikiran. Beberapa pengunjung juga sempat melihat mereka. Ada yang mengabaikan tapi ada pula yang memperhatikan dan terlihat sangat tertarik.

__ADS_1


"Nona, tidak ada meja kosong lagi." Ujar Surya yang melihat meja tempat Gina duduk tadi sudah diisi oleh pengunjung seperti permintaan Gina kepada salah seorang pegawainya.


"Aku akan berada di sana. Malam ini aku akan jadi pegawai angkringanmu yang baru." Ujar Gina dengan mata berbinar.


"Jangan, Nona. Anda adalah tamu spesial di sini jadi Anda tidak boleh melakukan itu." Larang Surya.


"Justru karena aku tamu spesial jadi aku boleh melakukan segala hal, bukan?"


"Saya tidak ingin Anda lelah. Kuku Anda bisa rusak. Tangan Anda bisa kasar..."


"Aku tidak mengkhawatirkan semua itu." Ujar Gina santai seolah ia benar-benar tidak keberatan jika semua itu menimpa dirinya. Surya jadi mengerutkan kening mendengar sesuatu yang sangat berbeda dari seorang Gina yang biasanya selalu menjaga penampilannya.


"Kecuali kau yang keberatan jika aku berubah menjadi jelek karena melakukan pekerjaan itu?" Tanya Gina sambil memandang Surya lurus.


"Oh, tidak Nona. Tidak sama sekali. Bahkan sebuah kehormatan jika Anda membantu kami."


"Baguslah." Jawab Gina sambil memutar tubuhnya untuk menuju meja angkringan.


"Tapi... asal kau tahu, aku tidak akan melakukan ini dengan gratis." Surya menatap Gina lekat dan mulai berfikir kira-kira apa yang akan wanita di depannya itu minta.


"Apapun akan saya berikan, Nona."


"Ahh, aku takut kau akan menyesal setelah ini karena mengatakan hal itu." Ujar Gina sambil tersenyum dan kemudian membisikkan sesuatu di telinga Surya agar pegawai yang sedang berlalu lalang di sekitar mereka dan para pengunjung yang duduk di meja-meja dekat mereka tidak bisa mendengarkan apa yang Gina katakan. Surya memandang Gina lekat disampingnya yang sudah membuat jarak darinya dan lalu tersenyum lebar.


Gina memutar kembali ingatannya pada kejadian demi kejadian dimana saat Surya sesekali menunjukkan perhatiannya. Ia menjadi berfikir bahwa mungkin saja itu Surya lakukan bukan sebagai pendukung sandiwara mereka tapi ia lakukan dengan sepenuh perasaannya. Lagi-lagi Gina menarik bibirnya dan tersenyum senang.


Surya berdiri di depan dinding yang terpajang foto Gina. Memandang foto-foto Gina dari waktu ke waktu. Sejak remaja Gina memang terlihat menawan. Wajah dengan dagu lancip dan mata menyudut tajam mampu membuatnya terpukau sejak pertama melihatnya. Dan hingga saat ini, Surya tidak pernah bosan untuk mengagumi wajah itu.


Surya menarik nafas panjang tapi kali ini itu terasa melegakan. Akhirnya setelah sempat tidak berani bermimpi, hingga kemudian tumbuh rasa ingin memiliki, Surya akhirnya bisa menyanding Gina sebagai kekasihnya. Jika dilihat dari segi hubungan, tentu saja itu sebuah kemunduran karena awalnya mereka adalah sepasang suami istri tapi sekarang mereka hanya sebagai pasangan kekasih. Tapi dari sudut pandang perasaan, itu adalah sebuah kemajuan. Dari yang mereka tidak memiliki perasaan yang sama, saat ini Gina bahkan bersedia untuk menjadi pacarnya. Lagi-lagi Surya tersenyum mengingat itu. Saat ini, dirinya dan Gina sudah resmi menjadi pasangan kekasih.


🌸🌸🌸


Gina memasukkan ponsel ke dalam Embossed Handbag keluaran Gucci miliknya lalu melangkahkan kaki menuju pintu keluar ruangannya. Tepat berhadapan dengan pintunya, di meja Feby, sudah menunggu Hanna dan Feby yang sebelumnya tampak berbincang. Tapi saat melihat Gina membuka pintu, mereka segera menoleh ke arahnya dan berdiri.


"Ayo kita pulang." Ajak Gina dengan wajah cerah dan senyum lebarnya.


"Baik Nona. Kami juga akan segera pulang."


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Pamit Gina dan kemudian mendekati Hanna.


"Hai, bayi mungil. Apa kabarmu? Apa kau sedang tidur? Segera ajak Mamamu pulang. Dan suruh dia jangan terlalu giat bekerja." Ujar Gina sambil menunduk di perut Hanna yang belum begitu terlihat membesar.


Melihat tingkah Gina, Hanna merasa geli sekaligus heran. Akhir-akhir ini Gina memang sering bertingkah tidak biasa. Ia menjadi terlihat manis dan ceria. Wajahnya terlihat segar dengan senyum dan tawa yang tampak di wajahnya pada beberapa kesempatan. Gina juga terlihat seperti sedang berada pada suasana hati yang sangat baik akhir-akhir ini. Sehingga suasana kerja menjadi terasa hangat. Itu rasanya berbeda dengan beberapa waktu yang lalu saat ia baru saja menjabat sebagai preadir R-Company.

__ADS_1


Gina berjalan meninggalkan kedua pegawainya menuju lift dan bermaksud untuk turun ke lantai dasar lalu kemudian menuju ke basement parkir dimana biasa ia memarkirkan mobilnya. Tapi senyumnya mengembang saat ia memasuki basement dan melihat mobil seseorang sudah terparkir di sana. Gina segera melangkah menuju ke tempat mobil itu terparkir. Sebelum Gina sampai mobil yang ia tuju, seseorang keluar dari dalam mobil dan tersenyum padanya. Dengan sedikit berlari, Gina menuju padanya dengan riang.


"Hai... Maaf terlalu lama menungguku." Ujar Gina tampak menyesal telah membuat Surya menunggu sejak tadi.


"Aku yang terlalu bersemangat dan tiba terlalu cepat karena ingin segera bertemu Anda." Balas Surya dengan senyum manisnya.


"Ahh... kau ini..." Gina menepuk pundak Surya dengan tersipu mendapat ucapan kekasihnya.


"Benar yang orang katakan."


"Apa?" Tanya Gina menyela.


"Ketika jatuh cinta, kita bahkan masih saja merindukan orang yang kita cintai walau sudah ada di depan mata."


"Benarkah? Apa seperti itu?" Tanya Gina dengan sedikit berfikir atas apa yang Surya katakan.


"Ya, karena saya masih saja merasa rindu saat bertemu Anda begini." Meskipun terdengar receh, tapi anehnya Gina tetap senang mendengar ucapan Surya yang mengandung gombal itu.


"Ayo kita pergi." Ajak Gina agar Surya tidak terus merayu dan membuat hatinya semakin berbunga-bunga.


"Baiklah." Surya lalu membukakan pintu mobil untuk Gina. Mereka pun akhirnya pergi dari tempat itu dan menuju ke pintu keluar basement.


Hanna dan Feby yang sejak tadi berdiri di depan pintu lift memandang kepergian Gina dan Surya dengan pandangan bengong.


"Kau melihatnya juga, bukan?" Tanya Hanna yang mematung di depannya dan dijawab dengan anggukan oleh Feby.


"Bagaimana bisa Nona Gina memiliki wajah itu. Wajah berseri penuh kebahagiaan." Lanjutnya.


"Selama aku ada di sini, baru kali ini aku melihat senyum sesempurna itu pada Nona Gina." Timpal Feby yang juga pandangannya masih menerawang jauh seolah ekspresi wajah Gina yang asing baginya masih tertinggal dipelupuk matanya.


"Apakah itu artinya akan ada yang rujuk?"


"Entahlah, itu sangat membingungkan." Jawab Hanna singkat yang masih bingung dengan pemandangan yang ada di depannya.


"Kau ini. Sebagai asisten pribadi Nona Gina kenapa tidak tahu."


"Aku menjadi asisten pribadinya di kantor, bukan di rumah dan harus mengurus urusan pribadinya juga." Jawab Hanna yang merasa Feby seperti mengintimidasinya.


"Ya, kau benar. Tapi kau berteman baik dengan Pak Surya. Masa iya kau benar-benar tidak tahu?" Feby masih penasaran apakah Hanna benar-benar tidak tahu tentang bagaimana atasannya itu bersama mantan suaminya.


"Tidak, mereka benar-benar menikungku." Pandangan Hanna masih tertuju pada belakang mobil Surya yang kemudian terlihat keluar dari basement.


"Ahh, wajah kasmaran itu..." Hanna menyunggingkan senyum mengingat bagaimana wajah Gina dan Surya saat mereka bersama.

__ADS_1


__ADS_2