
Gina memandang langit-langit kamarnya dengan lampu yang telah ia padamkan sebelumnya. Sudah satu jam sejak ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur tapi Gina belum juga bisa memejamkan mata walau sebentar saja. Ia lalu mengubah posisi tidurnya menyamping berharap ia bisa lalu terlelap. Hanya sebentar saja kemudian ia membuka matanya kembali. Ia merasa gelisah. Hatinya cukup resah.
"Gila... ini pasti gila. Aku tidak bisa tidur hanya karena ucapannya." Gina sekarang sudah bangun dari posisi tidurnya.
"Jantungku... Aduh... kenapa tidak berhenti berdebar sejak tadi." Sambil menekan dadanya dengan jantung yang berdebar-debar hanya karena apa yang dikatakan oleh Surya.
"Saya menyukai Anda." Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Gina. Baru kali itu secara langsung Gina melihat bagaimana wajah Surya yang serius. Wajah yang biasa hangat mendadak terlihat sangat berbeda untuk beberapa saat. Dan tidak bisa Gina pungkiri jantungnya melompat ke sana kemari seketika mendengar pengakuan Surya.
"Menyukaiku? Dia menyukaiku? Menyukai yang bagaimana? Aku memang cantik dan menarik jadi tidak heran kalau banyak yang menyukaiku. Tapi kenapa tiba-tiba dia mengatakan itu padaku? Suka yang bagaimana?" Gina tampak berfikir keras memikirkan ucapan Surya tadi.
"Kenapa dia mengatakannya hanya setengah-setengah?" Tanggapan Gina masih sambil berfikir.
"Dia sangat membingungkan." Gina lalu bangun dan meninggalkan tempat tidurnya.
Penginapan yang bisa dikatakan berukuran kecil ini terlihat sepi di malam hari. Gina keluar dari dalam kamarnya untuk mencari udara segar. Ia melewati kamar Surya. Sepertinya mungkin pria yang sedang difikirkannya itu juga sudah terlelap. Pun juga melewati kamar Hanna. Sejak makan malam yang mereka lakukan bertiga tadi, Hanna berpamitan untuk segera ke kamar. Dan sekarang sepertinya dia juga sudah tidur. Gina melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar penginapan.
Di dalam kamarnya, Hanna duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang ponsel yang baru saja dia nyalakan kembali. Terdengar bunyi notifikasi beruntun dari ponselnya. Hanna mendiamkan itu dan tidak menghiraukan. Kemudian terdengar bunyi panggilan masuk. Tapi Hanna juga mengabaikannya, tidak mengangkat telepon masuk itu hingga berhenti kembali. Tampil pada layar ponselnya ada berkali-kali telepon terabaikan dan juga puluhan pesan masuk.
Setelah melihat telepon itu berhenti, Hanna lalu melihat layar ponselnya. Ia menarik nafas berat. Perlahan ia membuka layar ponselnya dan membaca pesan-pesan masuk itu.
Kau dimana? Maafkan aku.
Katakan kau dimana?
Dimana kau sekarang?
Aku merindukanmu. Aku mencintaimu.
Hanna menemukan berbagai pesan singkat dari Marco dan berhenti pada pesan itu. Hanna menggaruk alisnya dan merasa lelah. Lelah karena di setiap pertengkaran mereka, Marco selalu mengatakan mencintainya. Tapi dilain waktu ia akan bersama para wanita. Entah harus berapa kali lagi Hanna memberinya kesempatan. Dan ini sudah yang kesekian kali. Belum lagi peristiwa itu diketahui oleh Gina. Ia merasa sangat malu karena telah bersikeras menikahi Marco sementara Gina telah memperingatkannya berkali-kali.
Hanna memang berkeyakinan jika mungkin saja Marco akan berhenti menjadi pria flamboyan ketika mereka sudah menikah seperti janjinya. Tapi nyatanya, Marco tidak berubah sama sekali dan membuat Hanna merasa lelah dan sangat kecewa.
Kembali terlihat di layar ponsel nama Marco memanggil. Hanna hanya menatap layar yang berkedip-kedip itu. Ia tidak bermaksud sama sekali untuk menerima telepon dari Marco. Ia tahu, mungkin Marco akan memberinya banyak alasan seperti biasanya sehingga Hanna akan membiarkannya kali ini. Ia sedang tidak ingin mendengar kalimat apapun dari Marco. Ia sedang ingin sendiri dengan berbagai fikirannya sendiri. Hanna lalu meletakkan ponselnya di meja nakas kamar penginapan dengan mode silent agar ketika ada pesan masuk atau telepon masuk ia tidak terganggu. Karena ia tahu yang akan selalu menteror dirinya saat ini hanyalah Marco, orang yang sama sekali tidak ingin ia temui.
Saat Gina berjalan keluar penginapan, angin malam terasa membelai tubuhnya yang tidak memakai jaket. Gina berdiri di depan pintu penginapan dan hampir saja berbalik masuk untuk kembali ke kamarnya sebelum ekor matanya menangkap seorang penjual sate yang sedang berhenti dengan gerobaknya di depan penginapan. Melihat itu, Gina tertarik untuk membeli. Lagi pula ia juga sedang belum bisa tidur jadi sedikit makan mungkin akan membuatnya bisa lebih cepat tidur nanti. Gina lalu mendekati tukang sate itu yang juga sepertinya sedang sibuk mengipas sate-sate yang ada di depannya.
"Bang... sate... bang..." Ujar Gina.
"Ya Tuhan... " Penjual sate itu melompat karena kaget.
"Nona ini mengagetkan saja." Penjual sate mengelus dadanya sambil menyerocos menatap Gina dengan rambut panjang yang terjuntai diterpa angin dan oversize top berwarna putih yang ia pakai membuatnya terlihat seperti sebuah karakter dalam film-film horor.
"Bagaimana bisa kaget, Bang? Saya hanya memesan sate." Balas Gina.
"Tapi itu... Nona... seperti..." Tunjuk penjual sate pada penampilan Gina dengan terpaan angin yang mengenai bajunya sehingga berkibar-kibar seperti itu.
"Mana ada wanita secantik itu mirip hantu, Mas." Jawab sebuah suara di depan gerobak dan sedang duduk di sebuah kursi plastik milik penjual sate yang khusus disediakan untuk pembeli memperjelas maksud penjual h
sate itu. Gina mengenali suara itu dan mencari tahu kebenaran pada tebakannya.
Benar, itu adalah suara Surya. Saat mereka saling bertemu pandang, Gina lalu memelotinya karena sudah menyebutnya hantu.
"Oh jadi itu kau rupanya." Gina sekarang berjalan mendekati Surya.
"Jadi aku cantik jika dibandingkan dengan hantu?"
"Bukan itu maksud saya, Nona."
__ADS_1
"Kalau bukan itu lalu apa?" Gina sekarang berkacak pinggang.
"Silakan duduk dulu, Nona." Surya mendekatkan sebuah kursi plastik lain agar Gina duduk di hadapannya.
"Tidak mau." Jawab Gina cuek.
"Sambil menunggu pesanan selesai, Nona duduk dulu di sini agar saya bisa bebas melihat wajah Anda." Kali ini Gina menatap tajam kepada Surya yang tidak pernah melepas senyum padanya.
"Saya merindukan Anda, Nona." Kali ini Gina lebih terkejut. Lagi-lagi ucapan Surya membuat dadanya menghangat.
"Jadi, saya mohon Anda duduk di sini."
"Kau ini benar-benar..." Gina tidak melanjutkan kalimatnya karena penjual sate datang membawa pesanan Surya.
"Ini pesanan Anda." Surya lalu menerima piring berisi sate ayam dan lontong.
"Milik saya mana?" Tanya Gina pada penjual sate.
"Pesanan Nona sebentar lagi siap." Gina mengangguk mendengarnya.
"Silakan ambil punya saya dulu, Nona."
"Tidak. Terima kasih." Gina sudah duduk di kursi di samping Surya sekarang. Bukan di depan Surya seperti yang dimintanya tadi.
"Rasanya lumayan, Nona." Ujar Surya sambil menggigit satenya dan menikmati suapan pertamanya. Gina pura-pura tidak menghiraukan Surya walau sebenarnya ia menelan ludah karena mengirup aroma sate ayam dengan guyuran saus kacang itu sangat harum masuk ke rongga hidungnya.
"Silakan, Nona." Surya menyodorkan setusuk sate di depan Gina.
"Ini benar-benar enak." Surya membujuk.
Dan ragu-ragu kemudian meraih sate itu karena aroma daging ayam bakar berlumuran saus kacangĀ yang benar-benar menggodanya. Surya tersenyum senang saat Gina menerima sate ayam pemberiannya. Gina pun mulai menggigit lalu mengunyah satenya. Benar, gurih daging ayam asap berpadu sempurna dengan gurih saus kacang bertabur bawang merah di dalamnya.
"Lumayan." Jawab Gina masih sok cuek. Surya tersenyum lagi melihat sikap Gina seperti itu.
"Kenapa Anda keluar malam-malam begini, Nona?" Tanya Surya kepada Gina yang sekarang sudah bisa menikmati sate ayam miliknya sendiri.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar."
"Apa Anda tidak bisa tidur?"
"Ya." Jawab Gina sambil mengunyah satenya.
"Apakah itu karena Anda sedang memikirkan saya?" Setelah mengatakan itu, Surya lalu melihat Gina tiba-tiba tersedak. Dengan sigap ia membuka tutup botol air mineral miliknya dan memberikan kepada Gina. Lalu perlahan Gina meminum air itu dan menarik nafas perlahan untuk mengatur nafasnya kembali setelah tersedak.
"Pelan-pelang, Nona." Kalimat Surya sambil masih menepuk pelan punggung Gina untuk membantu menenangkannya.
"Bagaimana aku bisa makan dengan pelan kalau kau selalu mengajakku bicara." Celetuk Gina ketus.
"Baiklah, saya tidak akan mengajak Anda bicara lagi." Surya berdiri untuk meletakkan piring kosongnya diatas gerobak penjual sate.
"Jadi, sekarang Anda hanya boleh mendengarkan tanpa harus menanggapi saya." Gina mengangkat alisnya mendengar ucapan Surya yang sudah kembali duduk di sebelahnya.
"Seharusnya Anda jangan keluar sendirian seperti ini. Seharusnya Anda meminta saya untuk menemani."
"Hei, kenapa aku harus..."
"Anda hanya perlu mendengarkan tanpa boleh menjawab, bukan? Jadi, silakan lanjutkan makan Anda." Sela Surya dan membuat Gina seketika menutup mulutnya karena harus menurut karena dia sendiri yang mengatakan dirinya tidak ingin tersedak lagi.
__ADS_1
"Ini adalah tempat asing. Anda tidak tahu bagaimana keadaan di sini. Meskipun Anda bisa bela diri tapi kejahatan bisa muncul dengan berbagai cara. Seharusnya Anda tidak keluar sendirian semalam ini. Ini sangat tidak aman."
"Tidak akan ada yang bisa menyakitiku. Kau tenang saja. Tidak perlu mengkhawatirkan apapun padaku. Aku wanita yang cukup bisa menjaga diri." Gina tidak bisa kalau hanya mendengarkan saja ucapan Surya yang dirasanya terlalu membatasi dirinya.
"Tapi, tetap saja saya perlu menjaga Anda."
"Aku bukan lagi putri dari bosmu. Aku juga bukan lagi wanita yang berstatus sebagai istrimu. Jadi kau tidak punya kewajiban untuk menjagaku. Setelah ini kau bahkan boleh kembali ke penginapan. Kau harus tidur lebih awal. Besok kita akan menempuh perjalanan panjang lagi dan cukup melelahkan. Mata, tangan, kaki, otak, semua organ tubuhmu harus beristirahat dengan baik agar kau bisa berkendara dengan baik pula besok." Gina mengulang keluhan yang Surya ucapkan tadi siang.
"Tapi kalau Anda keluar dimalam hari sendirian begini saya tidak akan bisa, Nona. Saya merasa tidak bisa merasa baik-baik saja. Mata saya akan selalu menatap layar ponsel ingin selalu menghubungi Anda. Kaki saya pasti ingin mengajak berjalan mencari Anda. Otak saya hanya akan bisa memikirkan Anda dan juga ada yang akan lebih lelah lagi. Hati saya. Hati saya akan selalu merindukan Anda." Mendengar itu, Gina tidak tahu harus menjawab apa. Kalimat panjang Surya yang panjang baginya sangat membingungkan. Bukan karena kalimatnya yang terlalu panjang dan Gina tidak bisa memahaminya, tapi karena apa yang Surya ucapkan bisa saja membuatnya salah mengartikan maksudnya.
"Ehhemm... aku tidak mengerti apa yang kau katakan." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Gina. Ia benar-benar mengungkapkan apa yang ada dalam fikirannya.
"Saya sudah putus dari Siska." Kalimat Surya kali ini cukup membuat Gina tercengang.
Entah apa motivasi Surya sebenarnya dengan mengatakan padanya bahwa telah putus dengan Siska. Surya bukan tipe orang yang suka membuka masalah pribadinya pada orang lain. Setahu Gina, Surya termasuk orang yang tertutup tentang kehidupan pribadinya. Tapi tiba-tiba saja ia mengatakan bahwa sudah tidak berpacaran lagi dengan Siska. Apakah ia memang ingin mengatakan hal itu dengan suatu maksud atau ada hal lain yang belum Gina fahami yang jelas mendengar itu membuat Gina seperti merasa bersalah.
Marco mengendarai mobilnya memutari kota. Mendatangi satu per satu tempat yang mungkin Hanna kunjungi. Tapi sampai tempat terakhir yang baru saja ia datangi, Marco tidak menemukan keberadaan Hanna. Ia merasa lebih panik lagi. Ini sudah sehari dan Hanna tidak mengangkat teleponnya sama sekali. Sepertinya Hanna benar-benar marah. Tiba-tiba Marco terfikir akan sesuatu. Itu membuatnya semakin bersemangat untuk menginjak pedal gas dan melesatkan mobilnya lebih cepat.
Hingga akhirnya mobilnya berhenti di sebuah rumah bergaya victorian dan berpagar tinggi. Rumah Gina. Melihat sebuah mobil berhenti di depan pagar, security lalu keluar dari dalam pos untuk mencari tahu siapa yang semalam ini datang. Security di rumah Gina merasa asing dengan mobil itu sehingga ia merasa harus mencari tahu lebih lanjut tentang siapa yang ada di dalamnya. Saat security mulai mendekat, Marco membuka kaca cendela mobilnya.
"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya security Gina tegas tapi tetap ramah.
"Selamat malam..." Balas Marco.
"Apa saya bisa bertemu dengan Nona Gina?"
"Maaf, atas keperluan apa, Tuan?"
"Saya temannya dan ada sedikit keperluan dengannya." Jelas Marco. Ia tahu harus melakukan cara ini karena ia yakin Gina tidak akan mau ketika ia menghubunginya dan tidak mungkin memberitahu andai Hanna bersamanya sekalipun. Tapi paling tidak ia harus datang ke rumahnya untuk memastikan bahwa Hanna ada atau tidak bersama Gina saat ini. Andai memang benar bersama Gina, Marco sudah cukup merasa tenang dan akan memberi waktu Hanna untuk marah kepadanya serta menjauhinya beberapa saat.
"Maaf, ini sudah malam. Sebaiknya Anda datang kembali besok."
"Tapi ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan Nona Gina."
"Maaf, Tuan. Lagipula Nona Gina juga sedang tidak ada di rumah sekarang."
"Kemana dia pergi, Pak?"
"Saya kurang tahu, Tuan." Jawaban security itu sudah bisa diprediksi oleh Marco.
Entah berkata jujur atau berkata bohong, tapi mau tidak mau Marco tidak bisa melewati security itu untuk bisa bertemu Gina.
"Oh iya, saya mau bertanya. Apakah ada tamu dan menginap di rumah ini seorang wanita kira-kira seumuran Nona Gina?" Tanya Marco lagi mencoba peruntungannya siapa tahu Hanna memang berada di sini dan security adalah orang yang jujur serta Gina yang tidak berusaha menyembunyikan keberadaan Hanna karena mengganggap bahwa Hanna akan lebih aman berada di rumahnya.
"Tidak ada, Tuan."
"Anda yakin?" Tanyanya lagi sedikit mendesak.
"Saya yakin, Tuan." Jawab security Gina lagi-lagi tegas. Marco berusaha untuk percaya kepada security Gina. Tentang Gina yang tidak berada di rumah dan tentang ketidaktahuannya tentang Hanna.
Marco kembali mengendari mobilnya menjauhi rumah Gina. Ia lalu melajukan mobilnya keluar dari komplek perumahan elit itu dengan fikiran yang lebih kacau lagi. Entah kemana lagi ia harus mencari Hanna. Ia seperti sudah kehabisan cara untuk bisa menemukan istrinya yang sedang marah besar itu. Marco menarik nafas berat dan memukul setie mobilnya untuk meluapkan kekesalannya sendiri sudah menyakiti perasaan Hanna.
Surya menatap Gina dalam-dalam mencoba mencari tahu reaksi apa yang akan Gina tunjukkan setelah mendengar kalimat terakhirnya.
"Saya sudah tidak bersama Siska lagi." Ulang Surya. Itu membuat Gina merasa Surya sedang menunggu tanggapannya.
"Kenapa mengatakannya padaku?"
__ADS_1
"Saya fikir jika dua orang yang sama-sama sedang tidak berada pada sebuah keterikatan hubungan dengan orang lain, mereka bisa melakukan sebuah pendekatan." Gina mengangkat kedua alisnya seperti meminta penjelasan atas kalimat Surya.
"Jadi... saya akan melakukan pendekatan kepada Anda." Hati Gina seperti tersengat tawon saat mendengar itu. Cenat-cenut tak beraturan.