
Hanna melihat jalan di depannya yang diterangi oleh lampu jalanan dan lampu mobil Bayu yang berpendar menjadi satu. Pria disampingnya tidak banyak bicara. Hanya sesekali melirik mencuri pandang padanya. Sedangkan Hanna menikmati angin malam yang masuk dari dalam cendela mobil yang sengaja ia buka sepertiganya.
"Kenapa membawa pulang berkas yang harusnya adalah pekerjaan di kantor?" Tanya Bayu memecah keheningan diantara mereka.
"Apa yang mulia tuan putri tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dan akhirnya kau yang bertanggung jawab selaku asistennya?"
"Dia belum menguasai bidang ini, Bay." Jawab Hanna santai menatap Bayu.
"Pantas saja Pak Rangga lebih mempercayakan kepada asistennya daripada putrinya sendiri."
"Itu adalah alasan yang semua orang tahu kenapa perusahaan dipimpin oleh asisten pribadi Pak Rangga daripada harus dijalankan oleh putri yang adalah pewaris tunggalnya." Ucap Hanna lalu ia menarik nafas berat.
"Memangnya ada hal yang tidak kau tahu sebagai asisten Nona Gina? Ku rasa kau hanya berpura-pura tidak tahu." Nada bicara Bayu lebih mirip sebagai cibiran.
"Janga mulai lagi. Kalau mengajakku keluar hanya untuk hal itu, lebih baik turunkan aku di sini." Jawab Hanna dingin. Bayu tahu itu adalah kode agar dirinya tidak melanjutkan apa yang ia bicarakan.
"Baiklah, aku sudah tidak akan ikut campur walau apa yang terjadi padamu tentang itu. Lagipula aku akan mendapat ucapan terima kasih yang akan kau berika padaku setelah ini seperti janjimu tadi."
"Bagus. Tapi aku mengatakannya jika itu sesuai dengan apa yang ku bayangkan. Kalau tidak, aku bahkan akan marah padamu karena telah membuang waktuku yang sangat berharga."
"Kita lihat saja, aku yakin kau tidak akan menyesalinya walau sudah membuang waktumu." Ujar Bayu yakin. Hanna hanya menatapnya dengan senyum mengejek.
Tapi tak berapa lama kemudian Bayu menghentikan mobilnya di sebuah bangunan yang sangat tidak asing bagi Hanna.
"Kau mau mengajakku menonton film?" Hanna memandang Bayu lurus.
"Uncharted sedang tayang. Kita tidak boleh melewatkannya."
"Ya Tuhan... Kau ini seenaknya saja mengajak orang lain menonton film."
"Sudah, jangan banyak alasan. Cukup ucapkan terima kasih saja padaku. Aku bahkan sudah mendapatkan tiketnya." Bayu mengeluarkan dua buah tiket dari sakunya.
"Baiklah... terima kasih."
"Begitu lebih baik."
"Dasar pemaksa."
"Hei, aku tahu kau benar-benar berterima kasih karena kau senang bisa menonton film ini di hari pertama. Dia bahkan tidak akan mengajakmu..."
"Sudah ku katakan..." Potong Hanna dengan menarik nafas berat.
"Baiklah..." Balas Bayu memotong juga.
"Ayo masuk, sebentar lagi filmnya akan mulai." Bayu dan Hanna bergegas memasuki pusat perbelanjaan itu untuk menuju ke lantai teratas di mana biskop berada.
"Maaf, Nona?" Surya memandang Gina dengan pandangan tak percaya. Gina memandang Surya dengan jawaban di ujung lidah tapi ia tidak tahu harus bagaimana mengatakannya.
"Begini, aku tidak mau menjadi orang yang kejam kepadamu. Kau terluka karena membantuku dan sofa sesempit itu pasti sangat tidak nyaman untukmu." Jelas Gina.
"Kau pasti akan kesulitan dan juga merasa sakit di lenganmu saat tidur di sana jadi, kau butuh tempat tidur yang luas sehingga tubuhmu tidak tertekan." Tambah Gina.
"Tidak apa, Nona. Ini hanya luka kecil. Jadi saya tidak apa-apa tidur di sana." Surya menunjuk sofa di sudut kamar itu.
"Kau yakin bisa tidur dengan luka seperti itu di tempat sekecil itu?"
__ADS_1
"Saya yakin, Nona. Saya adalah anak pramuka yang bisa tidur dimanapun."
"Benarkah?" Gina mengerutkan keningnya.
"Benar, Nona." Surya tertawa kecil.
"Baiklah, terserah kau saja." Gina meletakkan kepalanya di atas bantal sekarang. Ia agak kesal karena Surya tidak menerima tawarannya.
"Oh iya, jangan berfikir macam-macam tentang tawaranku padamu. Kau tahu aku bukan wanita murahan yang akan mengundang sembarang pria untuk naik ke atas tempat tidur, bukan?"
"Iya Nona, saya berterima kasih atas niat baik Anda, tapi saya akan tetap tidur di sofa."
"Tidurlah di sana. Kau memang bisa melakukan segalanya." Gina sekarang memunggunginya. Surya tersenyum melihat Gina sepertinya marah kepadanya.
Surya lalu menuju ke tempat tidurnya sendiri dan mulai berbaring di sana. Dengan hati-hati ia meletakkan badan agar lengannya tidak tertekan oleh sandaran sofa. Lalu ia merubah posisi biasanya untuk berbalik dengan lengan yang terluka berada di tepi sofa. Itu ia maksudkan agar luka di bahunya tidak terjepit tubuhnya sendiri.
Alarm dari ponsel Gina menyuara. Gina meraba-raba dimana letak ponselnya menciptakan suara dan getaran. Setelah menemukan di bawah bantal di sebelahnya, Gina lalu mematikan alarm itu. Ia melihat dari sela gorden, cahaya mulai terlihat di luar kamarnya. Pertanda hari sudah pagi sekarang. Gina segera bangun karena alarm sengaja ia pasang tidak lama sebelum ia harus berangkat bekerja. Tapi ada yang janggal ketika ia bangun. Surya masih tidur di tempatnya semalam. Hanya saja dengan posisi yang berbeda dengan biasanya.
Itu adalah hal yang baru sekali ini Gina lihat selama berada satu kamar dengannya. Biasanya jam segini Surya sudah berolah raga atau memasak sarapan di dapur, tapi pagi ini ia masih tidur dan itu membuat Gina merasa heran. Sehingga perlahan ia mendekati Surya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi sehingga Surya menciptakan adegan yang 'fenomenal' seperti ini.
"Surya..." Panggil Gina pelan. Surya hanya menjawab dengan suara yang tidak jelas. Gina melihat Surya lebih dekat. Bibirnya terlihat pucat.
"Surya, kau sakit?"
"Ti-dak, Nona." Jawab Surya masih meringkuk di atas tempatnya tidur.
Merasa tidak puas dengan jawaban Surya, Gina memegang keningnya. Hangat. Ia lalu membandingkan dengan keningnya sendiri. Dari situ Gina mendapatkan kesimpulan bahwa badan Surya demam.
"Kau demam. Aku akan memanggilkanmu dokter."
"Tidak apa-apa, Nona. Saya hanya sedikit lelah. Saya akan beristirahat sebentar lalu berangkat bekerja."
"Tidak, Nona. Hari ini akan ada rapat dengan pihak produksi dan juga ada pertemuan dengan para staf HRD."
"Aku tidak peduli dengan hal itu. Kau hanya harus istirahat hari ini. Aku akan mengatakan pada Siska untuk menunda semua jadwalmu hari ini hingga kau bisa ke kantor kembali."
"Tidak apa-apa, Nona. Saya tidak apa-apa. Saya akan mandi dan ke kantor." Surya sudah bangun dari tidurnya sekarang.
"Kau sudah gila ya? Tidak mau mendengarkanku? Apa kau mau mati?"
"Saya tidak akan mati hanya karena ini, Nona."
"Aku yang akan membunuhmu kalau kau tidak mematuhiku." Gina berkacak pinggang di depan Surya yang sudah akan melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi. Surya menatap Gina yang terlihat marah kepadanya. Pemandangan yang sangat tidak nyaman untuknya adalah salah satunya melihat Gina marah selain saat mendapati Gina menangis.
"Jadi, kalau kau masih berisikeras ingin ke kamar mandi lalu bekerja, aku pastikan aku akan membuat lukamu jauh lebih parah daripada sekarang." Ancam Gina.
"Baiklah, Nona. Sepertinya itu sangat menyakitkan. Tapi, saya benar-benar kebelet sekarang. Jadi biarkan saya ke kamar mandi."
"Oh..." Seketika Gina mengubah raut wajahnya yang tadi terlihat galak, sekarang menjadi penuh rasa bersalah karena sudah menghalangi Surya yang ingin ke kamar mandi karena kebelet.
"Baiklah kalau begitu. Pergilah. Tapi, jangan membuat lukamu basah seperti apa yang dokter katakan semalam."
"Baik Nona." Jawab Surya singkat lalu meninggalkan Gina.
Gina mengikuti gerak langkah Surya yang menuju kamar mandi. Ia merasa Surya tidak baik-baik saja. Ia juga tahu luka di bahunya tidak sekecil yang Surya katakan padanya. Itu butuh banyak jahitan yang menandakan lebarnya luka sabetan pisau preman semalam.
__ADS_1
Sementara Surya masih di kamar mandi, Gina keluar dari kamarnya untuk turun. Ia mengambil nasi goreng di meja makan dan bermaksud membawanya kembali naik ke atas. Tapi saat hampir sampai tangga, Pak Rangga menyapanya.
"Kau mau kemana membawa piring seperti itu?" Tanya Pak Rangga.
"Ke kamar." Jawab Gina singkat.
"Kenapa membawa nasi goreng? Kau mau makan di kamar? Kau tidak apa-apa?" Pak Rangga memberondong pertanyaan kepada Gina karena tidak biasanya ia melakukan hal itu.
"Ini untuk Surya." Jawab Gina lalu melanjutkan langkahnya lagi.
"Kenapa?" Tanya Pak Rangga dengan setengah berteriak karena langkah Gina semakin menjauhinya.
Gina sudah tidak menjawab lagi dan terus melanjutkan langkahnya untuk segera berada di lantai atas.
"Kenapa Gina membawa piring?" Tanya Bu Marina dari arah belakang Pak Rangga tapi memandang Gina yang masih sempat di tangkap oleh penglihatannya sebelum ia menghilang dan masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kau tidak pernah membawakanku sarapan ke kamar?" Pak Rangga kembali bertanya kepada Bu Marina, alih-alih menjawab pertanyaan istrinya itu.
Tidak segera menjawab pertanyaan suaminya yang sangat aneh, Bu Marina malah mengerutkan kening karena heran.
"Rumah kita sangat besar. Kita punya ruang makan dengan meja yang sangat besar. Kenapa kita harus makan di kamar? Itu terlihat kita seperti mereka yang tinggal di rumah petak dan melakukan segala hal di dalamnya." Jawab Bu Marina ringan.
"Kalau begitu Gina seperti siapa? Apa dia seperti neneknya?" Sekali lagi Bu Marina heran dengan ucapan suaminya yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Sebenarnya apa yang sedang ingin kau sampaikan padaku. Kenapa kau berputar-putar seperti itu?" Tidak menjawabnya, Pak Rangga malah berjalan menuju meja makan meninggalkan istrinya yang gemas karena merasa diabaikan.
"Hei, kau mau aku menebak isi fikiranmu? Ayolah... kita bukan anak ingusan yang senang main tebak-tebakan. Otak kita sudah melemah." Bu Marina mengejar langkah suaminya dan masih penasaran dengan apa yang dimaksud suaminya sejak tadi.
Sesampainya di dalam kamar, Gina meletakkan piring berisi nasi goreng yang masih mengepulkan uap panas itu di atas meja kamarnya. Sesaat kemudian Surya keluar dari dalam kamar mandi. Gina lalu menoleh ke arahnya dengan masih menghadapi nasi goreng itu. Surya yang melihatnya merasa heran da sepiring nasi goreng disana.
"Surya, ini sarapanmu." Ujar Gina menjawab pertanyaan di hati Surya yang belum sempat ia utarakan.
"Kenapa membawa sarapan saya ke kamar, Nona?"
"Badanmu demam jadi kau harus banyak istirahat. Kau tidak perlu ke bawah untuk mengambil makanan atau apapun. Aku akan mengambilkan kebutuhanmu. Atau kalau bukan aku, aku bisa meminta Mbak Yuyun." Ralat Gina.
"Aku sudah menelepon Siska untuk menunda semua agendamu hari ini. Dan juga mungkin sebentar lagi dokter akan datang memeriksamu. Jadi, segeralah sarapan sebelum nasi gorengnya menjadi dingin. Aku membawakanmu telur ceplok diatas nasi goreng seperti kesukaanmu." Gina memberinya senyum di akhir kalimatnya.
Gina mendadak menjadi seperti perawat yang cerewet dan suka mengatur. Tapi entah kenapa mendapat perlakuan itu Surya merasa senang. Ia lalu berjalan mendekati meja di dekat sofanya biasa ia tidur.
"Kemarilah, aku akan menyuapimu."
"Apa? Menyuapi? Saya bisa makan sendiri, Nona."
"Hei, sepertinya lukamu bengkak jadi jangan gunakan lenganmu untuk banyak bergerak. Biarkan aku melakukan banyak hal padamu sekarang."
"Tapi, Nona..."
"Stop!" Gina mengangkat telapan tangannya sejajar dengan wajah Surya.
"Biarkan aku merasa lebih baik dengan melakukan semuanya untukmu. Jangan membantah apapun atau aku akan marah dan tidak akan berbicara padamu. Anggap saja aku sedang ingin berbuat kebaikan padamu." Kalimat Gina yang seperti kereta api dengan gerbong panjang itu membuat Surya tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menganggukkan kepala.
"Bagus, sebaiknya kau patuh. Karena kalau membangkang aku akan... akan..." Gina tidak menemukan kata yang tepat untuk mengancam Surya lagi karena Surya pun sebenarnya sudah patuh kepadanya sejak awal.
Surya memandang Gina lurus menunggu kalimatnya selanjutnya. Tapi Gina masih saja belum menemukan kata yang sepertinya tepat sehingga ia lalu hanya menginstruksikan Surya untuk membuka mulutnya dengan suapan yang ia sendokkan.
__ADS_1
"Buka mulutmu." Perintah Gina. Tapi baru saja Surya membuka mulut dan Gina hendak mengarahkan sendok kearah Surya, pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.
"Kalian sedang apa?"