
"Apa maksudmu dengan 'meskipun kau ingin'?" Tanya Gina dengan rasa penasaran dan sebuah ekspektasi yang ada di dalam kepalanya.
"Semua orang suka dengan pelayanan, Nona. Jadi meskipun saya menyukai itu, tapi saya tidak akan meminta Anda yang melakukannya. Saya tidak sekurang ajar itu. Anda adalah putri dari bos saya, mana bisa saya berbuat tidak tahu diri begitu." Surya sambil tersenyum menjawabnya.
"Oh, bagus kalau kau sadar dengan hal itu." Tanggapan Gina.
Sebenarnya Gina agak kecewa mendengar jawaban Surya. Ekspektasinya bukan seperti itu. Ia berharap itu berhubungan dengan sesuatu yang melibatkan emosi diantara mereka.
"Aku akan membawa piring ini turun. Aku juga akan sarapan di bawah. Kau tidak boleh kemana-mana dan beristirahat sajalah." Gina membawa dua piring di tangannya. Satu piring sudah kosong, satu piring masih berisi nasi goreng utuh yang dibawakan oleh Mamanya tadi.
Surya tahu Gina akan sarapan di bawah karena nasi goreng itu sudah dingin. Gina tidak terbiasa makan masakan yang sudah dingin sehingga ia pasti akan meminta Mbak Yuyun untuk memanasinya kembali.
"Baik Nona." Surya hanya bisa pasrah saat Gina sudah memerintah begitu. Dan jadilah hari ini ia benar-benar membolos dari bekerja. Begitupula dengan Gina yang sudah mengabarkan kepada Hanna bahwa dirinya akan mengambil cuti beberapa hari untuk merawat Surya hingga lukanya membaik.
Hanna meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerja. Baru saja sampai di ruang kerja mereka, ia menerima telepon dari Gina yang mengabarkan bahwa selama beberapa hari kedepan ia tidak akan datang ke kantor karena harus merawat Surya yang sakit. Hanna menghela nafas berat. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang baru saja disinggahinya. Selama beberapa hari ini ia akan sendirian dan kesepian lagi. Ia hanya akan bekerja sendiri di ruangan itu. Pun juga mengerjakan pekerjaan Gina selama ia tidak masuk bekerja karena ia adalah asistennya. Seharusnya dia tidak perlu mengerjakan semua itu andai bukan Gina atasannya.
Tapi Gina adalah putri pemilik perusahaan yang harus disiapkan demi tanggung jawabnya memimpin perusahaan nanti, sehingga ia sudah menandatangani kontrak kerja akan menjadi asisten Gina sebaik mungkin dan siap berada pada posisi dan tingkat kesulitan apapun termasuk harus mengalami yang seperti ini. Oleh karena sudah terikat kontrak kerja eksklusif itu sehingga ia hanya akan menjalaninya saja sampai tugasnya selesai.
Gina menuruni anak tangga paling bawah dan memasuki dapur. Sekarang piringnya sudah bertumpuk menjadi satu di satu tangan kirinya sementara tangan kanannya tadi ia gunakan untuk menelepon Hanna.
Sesampainya di dapur ia melihat tidak ada mbak Yuyun disana. Ia mencari ke kamarnya juga tidak ada. Gina lalu menelepon ponsel mbak Yuyun.
"Iya Nona." Jawab Mbak Yuyun dengan setengah berteriak. Suasana di sekitar Mbak Yuyun sepertinya cukup ramai.
"Mbak Yuyun dimana?"
"Saya sedang di pasar, Nona."
"Mbak, aku mau dipanaskan lagi nasi gorengku."
"Walah, saya baru sampai ini, Nona. Apa saya harus kembali lagi?"
"Tidak, tidak. Tidak usah. Mbak Yuyun belanja saja."
"Terus, nasi goreng Nona bagaimana?"
"Ya sudah, gampanglah."
"Nona kan tidak suka nasi goreng dingin. Saya akan pulang sebentar, Nona."
"Tidak usah, Mbak. Aku akan memanaskannya sendiri."
"Benarkah, Nona? Nona yakin? Apa Nona serius?" Mbak Yuyun seperti tidak percaya Gina akan melakukannya.
"Ya, Tentu saja. Seharusnya itu bukan hal yang sulit, bukan."
"Benar, Nona. Nona tinggal menletakkan penggorengan di atas kompor, letakkan nasi diatas penggorengan dan aduk-aduk hingga panas."
"Baiklah." Gina celingukan mencari penggorengan.
__ADS_1
"Oh iya, Mbak Yuyun melupakan satu hal. Bukankah aku harus menuang minyak goreng dulu ke atas penggorengan?"
"Tidak perlu, Nona. Nasi goreng yang dipanaskan tidak membutuhkan minyak goreng lagi. Sudah langsung panaskan begitu saja." Jelas Mbak Yuyun.
"Jangan lupa diorak-arik ya, Nona. Agar nasi goreng panas merata dan tidak gosong."
"Iya Mbak Yuyun, itu mudah sekali." Setelah itu Gina mematikan ponselnya dan mulai menuang nasi goreng dalam piring lalu menyalakan kompor di depannya. Gina mulai memanasi nasi gorengnya.
Setelah dirasa sudah panas Gina lalu mematikan kompor dan memindahkan nasi goreng di penggorengan untuk berpindah ke dalam piringnya. Gina membawa nasi goreng itu menuju meja makan. Ia juga mengambil segelas jus jeruk di dalam kulkas untuk ia bawa juga.
Saat suapan pertama, tiba-tiba Pak Rangga mendekatinya. Gina melihat itu dan langsung tahu apa yang akan Papanya itu bicarakan.
"Jadi, bagaimana Papa menenangkan Mama?" Gina yang pertama membuka suara.
"Sudah kuberikan remot TV kepadanya. Sekarang Mamamu sedang seru menonton drama." Sebuah kebiasaan baru Bu Marina setelah 'pensiun' adalah menonton drama dari TV digital dijam-jam segini. Drama telenovela adalah favoritnya. Dan di jam ini drama kesayangannya sedang ditayangkan.
"Jadi, apa benar yang dikatakan Mamamu tadi?"
"Ya, Benar. Aku dan Surya memang berkelahi dengan preman semalam. Dan Surya mendapat sabetan pisau di bahunya." Cerita Gina sambil masih mengunyah sarapannya.
"Kalau sampai Surya terluka, itu memang kesalahanku. Seharusnya aku tidak membiarkan Surya membantuku."
"Tapi dia tidak akan melakukannya. Mana bisa dia melihatmu berkelahi sendirian."
"Aku tahu. Jadilah dia terluka sekarang."
"Coba saja Papa bayangkan, seorang gadis yang sepertinya masih berusia belasan dirampok oleh tiga pria berbadan besar seperti itu. Menurut Papa apa yang gadis itu fikirkan? Ia pasti merasa sangat ketakutan." Gina seolah meminta Papanya membayangkan.
"Kalau seandainya itu terjadi pada anak perempuan Papa bagaimana?"
"Anak perempuanku jago bela diri, aku tidak mengkhawatirkan apapun. Aku malah khawatir pada preman yang merampoknya."
"Maksudku, jika seandainya anak perempuan Papa tidak jago bela diri dan masih berusia belasan lalu dikepung oleh tiga preman berbadan tinggi besar ditempat sepi, apa Papa tidak merasa khawatir?"
"Mmm... ya tentu saja." Jawab Pak Rangga.
"Nah, begitu juga denganku saat itu. Aku sangat mengkhawatirkannya. Bagaimana jika mereka tidak hanya mengambil sepeda motornya saja tapi juga melukai gadis itu dan yang lebih parah lagi sampai melakukan hal yang bisa merusak gadis itu?" Gina memberika gambaran kepada Papanya.
"Kenapa tidak menghubungi polisi saja? Kau bukan penegak hukum jadi lebih baik jangan main hakim sendiri."
"Untuk menunggu polisi datang, pasti para perampok itu sudah kegirangan sekarang karena mereka berhasil menjual motor itu di pasar gelap." Gerutu Gina.
"Aku melakukannya bukan karena ingin main hakim sendiri tapi karena aku merasa harus menyelamatkan gadis itu secepatnya, sebelum hal yang lebih buruk terjadi padanya. Aku juga tidak bermaksud menjadi pahlawan untuk siapapun. Aku memiliki kemampuan, jadi apa salahnya kalau aku menggunakannya untuk menyelamatkan orang lain."
"Baiklah kalau itu maksudmu. Tapi bagaimana kalau kau sendiri yang malah terluka karena menyelamatkan orang lain?"
"Papa tidak perlu mengkhawatirkanku. Bukankah Papa membayar mahal pelatihku untuk bisa membuatku mahir ilmu bela diri?"
"Hahh, dasar sombong." Pak Rangga tersenyum melihat tingkah putrinya.
__ADS_1
"Aku bisa melindungi diriku sendiri dengan sangat baik. Terbukti dari perkelahianku dengan banyak orang aku tidak pernah mengalami luka serius. Aku selalu menjadi pemenangnya."
"Sudah cukup, jangan terus menyombong. Aku mual mendengarnya." Pak Rangga tertawa sekarang. Gina juga ikut tertawa. Mereka terlihat sangat dekat. Jarang sekali mereka duduk bersama dan tertawa seperti itu.
Benar seperti apa yang Gina katakan kepada Surya, bahwa dirinya tidak pernah bisa akur dengan Papanya karena kemiripan yang mereka punya. Bukan hanya sebatas wajah tapi juga sifat mereka hampir memiliki kesamaan yang akurat. Sama-sama keras kepala dan semaunya sendiri. Pernikahannya dengan Surya pun karena kemauan Papanya yang kuat sehingga mau tidak mau Gina harus melakukannya kalau tidak mau kehilangan posisinya sebagai pewaris tunggal R-Company.
"Bagaimana sekarang keadaan Surya?" Tanya Pak Rangga.
"Apa separah itu lukanya?"
"Tentu saja. Pisaunya cukup tajam dan lebar. Entah berapa jahitan yang dia terima." Gina meletakkan sendok dan mengangkat gelasnya untuk minum.
"Kau pasti sangat khawatir."
"Tentu saja." Jawab Gina spontan. Tapi lalu ia menyadari satu hal dan menatap Papanya dengan pandangan penyesalan telah bersikap seperti itu.
"Maksudku, tentu saja aku khawatir. Papa tahu darahnya mengucur dengan sangat deras. Aku sangat takut. Papa tahu bukan kalau akau seorang hematofobia. Lagipula itu berawal dari kesalahanku yang melibatkan dirinya dalam perkelahian jadi aku cukup khawatir dan merasa sangat bersalah." Jelas Gina dan berharap Papanya tidak salah faham.
"Akhirnya kau menyadari bukan orang seperti apa Surya." Gina mengerutkan kening mendengar itu. Ia merasa kalimat Pak Rangga kali ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang mereka bicarakan.
"Semakin mengenalnya kau akan semakin menyukainya."
"Ahh, apa yang Papa katakan? Itu berlebihan." Meskipun melakukan aksi membantah tapi wajah Gina memerah. Pak Rangga tahu Gina sedang menyembunyikan perasaannya sekarang. Ia pasti tidak ingin Papanya tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.
Tepat saat itu ponselnya berbunyi. Nomer baru. Gina mengangkatnya demi menghindari percakapan dengan Papanya yang bisa menggiringnya pada pengakuan tentang perasaanya kepada Surya. Gina belum ingin Papanya tahu itu. Ia merasa belum waktunya Papanya merasa menang dengan membuat dirinya benar-benar menyukai Surya.
"Iya? Oh, baiklah. Letakkan di pos security saja. Terima kasih." Gina lalu menutup telepon dari driver yang membelikan obat milik Surya yang dipesannya.
Pak Rangga masih mengawasi gerak gerik Gina dan itu membuatnya agak terganggu.
"Aku akan mengambil obat Surya di depan." Gina beranjak dari duduknya.
"Suruh saja Pak Eko yang mengantarkan ke sini. Kenapa kau repot-repot mengambilnya." Teriak Pak Rangga yang tidak dihiraukan oleh putrinya itu.
Bukan karena Gina tidak mendengar sehingga tetap bersikeras mengambilnya sendiri obat yang disampaikan oleh driver yang dipesannya tapi ia merasa perlu harus menghindari Papanya. Ia tidak mau setiap kalimat Papanya selanjutnya akan memancing dirinya mengakui tentang apa yang ia rasakan. Itu pasti akan menjadi hal yang sangat memalukan baginya. Secepat itu ia menjatuhkan hati pada Surya yang beberapa waktu lalu ditolaknya secara terang-terangan.
"Kenapa mengambil sendiri, Nona. Saya bisa mengantarkannya kepada Anda." Ujar security itu sopan.
"Tidak perlu, Pak. Kebetulan saya juga sedang ada di depan situ." Gina berbohong.
Ia lalu kembali masuk ke dalam rumah dan bernafas lega saat melihat Papanya sudah tidak ada di tempatnya tadi. Itu membuatnya bebas kembali ke kamar tanpa harus membangun percakapan lagi dengannya.
Dengan langakah ringan ia membawa obat itu ke lantai atas di kamarnya. Tapi saat membuka pintu kamar ia mendapati Surya sedang tertidur lelap. Perlahan Gina mendekatinya dan berusaha agar tidak menimbulkan suara sehingga Surya tidak terusik.
Beberapa saat Gina berdiri di dekat Surya tidur. Wajah Surya tidur terlihat begitu damai. Gina sangat menyukai itu. Sering kali saat terjaga di malam hari Gina menatap wajah lelap Surya di sofa dari tempat tidurnya. Wajah Surya dengan garis yang kuat dari hidung mancung dan alis tebal rapi itu membuatnya kagum. Awalnya Gina mengagumi hanya sebatas itu saja, tapi lama kelamaan kekagumannya itu menimbulkan perasaan indah di hatinya. Gina tahu itu pertanda apa karena ia adalah ahlinya dalam hal itu. Tapi ia beranggapan mungkin itu hanya akan berlangsung beberapa saat saja karena ia merasa butuh pelarian saat hatinya dibuat patah oleh Faris. Sayangnya perasaan itu jadi lebih serius dengan berbagai gejala jatuh cinta yang ia rasakan. Terlebih saat perasaan yang dirasakan kepada Faris seperti sudah menghilang entah kemana, Gina yakin bahwa cintanya selanjutnya adalah milik Surya.
Perlahan Gina menurunkan badannya untuk menunduk. Wajahnya turun perlahan mendekati wajah Surya. Ia menjadi dekat dan semakin dekat kepadanya. Sekarang bahkan Gina sudah ada tidak sampai sejengkal dari wajah Surya. Dari tempatnya, Gina bisa merasakan hembusan nafas Surya yang teratur. Gina semakin ingin menyentuh wajah itu dan menjadi tanpa jarak dengan Surya. Sampai akhirnya Gina terkesiap saat mata Surya terbuka tepat di depan matanya.
"Nona, apa yang sedang Anda lakukan?"
__ADS_1