Tahta Surya

Tahta Surya
Penghasut


__ADS_3

Surya memarkir mobilnya di pelataran parkir sekolah Gina dulu. Melihat seluas apa pelataran parkir sekolah ini, Surya tau bahwa sekolah ini adalah tempat anak-anak orang kaya bersekolah. Tempat parkir yang juga diperuntukkan bagi siswa yang membawa mobil mereka sendiri untuk ke sekolah. Gina menuruni mobil Surya dan melihat sekelilingnya.


"Sekolah ini sudah banyak berubah." Ujar Gina melihat sekolah yang sudah ditinggalkannya sejak belasan tahun yang lalu itu. Ia melihat gerbang yang ia lalui saat masuk tadi juga sudah mengalami renovasi. Gedung di seberang tempat parkir sudah menjadi gedung lantai 3. Dulu saat ia masih bersekolah, gedung itu hanya berlantai 2. Mungkin karena sekolah ini memiliki predikat sekolah internasional terbaik sehingga banyak siswa yang masuk ke sekolah ini. Dan tentu saja atas dukungan orang tua mereka yang kaya. Untuk anak-anak dari kelas ekonomi mengengah ke bawah tidak akan sanggup membayar uang sekolah yang jumlahnya sangat besar. Seperti Gina yang adalah anak pemilik pabrik pembuatan alat rumah tangga terbesar di negeri ini untuk masuk ke sekolah ini bukanlah hal yang sulit.


Surya masih berdiri di samping Gina menunggunya untuk beranjak. Ia berfikir mungkin ada yang Gina kenang dengan saat kembali ke sekolah ini lagi setelah sekian lama.


"Ayo..." Ajak Gina kemudian sambil mulai melangkahkan kaki. Dengan stileto hitam dan dress warna senada sepanjang lutut membuatnya tampak menakjubkan. Kalung berlian di lahernya yang jenjang tampak berkilauan diterpa matahari siang ini memancarkan kecantikannya yang luar biasa. Rambut sepunggungnya yang bergelombang ia biarkan tergerai menebarkan wangi saat berada di dekatnya. Surya yang berjalan disampingnya bisa mencium seharum apa aroma itu.


Dari tempat Gina berjalan sudah tampak keramaian di sebuah aula di sisi sayap kompleks gedung sekolah. Surya sempat kaget saat tiba-tiba tangan Gina menggandeng tangannya. Surya mengalihkan pandangannya ke samping, dimana Gina berjalan sejajar dengan langkahnya. Lebih tepatnya Surya menyamai langkah Gina karena sebagai pria dia memiliki langkah lebih lebar dari Gina dengan kaki sepanjang itu.


"Mari kita bersikap sangat manis." Ujar Gina masih dengan langkah dan pandangannya ke depan. Surya mengangguk tenang.


Suara musik mengalun memenuhi aula itu. Sebuah lagu dari Bon Jovi berjudul Thank You For Loving Me seolah menyambut kedatangan Gina. Beberapa pasang mata mulai melihat ke arahnya yang berjalan penuh percaya diri seperti biasa. Ia juga sempat melihat salah seorang berbisik pada orang di sampingnya sambil melihat kepadanya. Itu membuat Gina berfikir bahwa ia sedang menjadi bahan perbincangan mereka.


Surya mengiringi Gina dan bersikap santai hingga salah seorang menyapa Gina.


"Gina, apa kabar?"


"Hei, baik. Kau?" Balas Gina pada pria bersetelan warna nude di depannya denhan wajah yang cukup tampan. Sekilas pria itu memandang Surya yang juga memandangnya. Ia sempat memberi salam pada Surya dengan menundukkan kepalanya.


"Baik sekali." Jawabnya.


"Lama sekali kita tidak berjumpa. Aku rasa sejak pesta kelulusan kita tidak pernah berjumpa lagi."


"Ku rasa begitu. Ku dengar waktu itu kau melanjutkan sekolahmu di luar negeri." Wajah Gina sumringah dan senyumnya sangat cerah saat berbincang dengan teman lamanya itu.


"Begitulah." Pria itu juga tidak melepas sama sekali senyum di bibirnya untuk Gina. Surya menyimak obrolan mereka dan memperhatikan ekspresi satu sama lain.


"Ngomong-ngomong, selamat atas pernikahanmu."


"Terima kasih."


"Aku kecewa kau tidak mengundangku." Pria itu pura-pura cemberut.


"Maafkan aku. Aku sudah kehilangan kontak denganmu dan tidak tahu harus kemana aku mengirimkan undangan."


"Ahh, iya. Itu bukan salahmu." Lalu pria yang bernama Panca itu tertawa kecil.


Merasa hanya bengong saja di situ, akhirnya Surya meminta izin Gina untuk mengambil makanan di salah satu sisi aula. Saat mengambil sepiring kue-kue, seseorang menghampirinya.


"Hai..." Sapa wanita itu. Surya memandang wajah yang tidak begitu asing baginya.


"Anda suami Gina, bukan?"

__ADS_1


"Iya, dan Anda teman Gina yang kami temui di warung angkringan."


"Anda memiliki ingatan yang baik." Monica tersenyum tapi wajahnya terlihat sinis.


"Anda tidak khawatir meninggalkannya disana bersama pria lain?" Lanjut Monica.


"Apa yang perlu saya khawatirkan? Di sini memang cukup ramai dan Gina terlalu dewasa untuk ku khawatirkan hilang dalam kerumunan." Lalu Surya terkekeh.


"Tapi pria itu bukan pria sembarangan bagi Gina."


"Oh ya? Apa mantan pacarnya itu orang penting?" Mendengar kalimat Surya, Monica membulatkan matanya. Ia tidak menyangka Surya mengetahui bahwa Panca adalah mantan pacar Gina.


Tentu saja Surya tahu siapa saja mantan pacar Gina karena dulu Surya adalah orang yang ditunjuk secara langsung oleh Papanya untuk mengawasi Gina. Pak Rangga memang terlihat tidak peduli pada kehidupan Gina tapi di lain sisi ia mempunyai orang-orang yang ia percaya untuk selalu ada di dekat Gina dan melaporkan setiap gerakannya kepada Pak Rangga. Itulah yang membuat Pak Rangga terlihat tenang meski seolah tidak pernah ada untuk Gina. Hingga akhirnya posisi Surya harus digantikan oleh orang lain ketika Surya secara langsung diminta oleh Pak Rangga untuk menjadi asisten pribadinya. Meskipun begitu, Surya tetap adalah orang pertama yang menerima setiap informasi mengenai Gina. Karena sebagai asisten pribadi, Surya adalah tangan kanan yang menerima apapun sebelum benar-benar sampai kepada Pak Rangga.


"Jadi Anda sudah tahu, bahwa pria itu adalah mantan pacar Gina?" Surya mengangguk sambil menyuapkan sponge cake ke dalam mulutnya.


"Panca, namanya Panca. Dulu dia adalah atlet renang. Dia pernah menerima medali emas di ajang kompetisi setingkat provinsi semasa SMA." Jelas Surya yang ternyata tahu banyak tentang Panca. Monica kembali seperti terkejut dengan ucapan Surya.


"Pria yang di sana bernama David. Dia sekarang adalah pemilik restoran cina paling populer di kota ini. Dia juga mantan pacar Gina." Tunjuk Surya pada seorang pria bermata sipit karena ia adalah keturunan tionghoa.


"Yang disana namanya..."


"Farhan." Monica menyebut nama pria berwajah timur tengah di dekat podium yang sedang berbincang dengan teman-temannya yang lain sepertinya sambil bernostalgia. Ia terlihat sedang tertawa-tawa bersama teman-teman yang mungkin sudah lama baru bisa ditemuinya kembali.


"Wah, Anda tahu semua mantan pacar Gina?"


"Ya tentu saja. Aku harus tahu latar belakang istriku untuk aku bisa mengenalnya dengan baik." Surya memandang Monica yang takjub melihat Surya sebaik itu mengetahui apapun tentang istrinya.


"Pasti sangat merepotkan memiliki istri dengan banyak pria dimasa lalunya."


"Tidak juga. Mereka adalah pria-pria yang sudah ia tinggalkan menjadi sebuah kenangan. Sedangan saya adalah prianya saat ini dan nanti."


"Anda tidak cemburu melihat istri Anda berbincang dekat seperti itu dengan pria lain?" Monica seolah mengarahkan Surya untuk memandang juga ke arah Gina dan Panca berada.


"Kecemburuan adalah pertanda adanya perasaan cinta yang kuat kepada pasangan. Kecemburuan juga adalah sebuah indikasi adanya rasa takut kehilangan kepada orang yang dicintai. Tapi kecemburuan yang sehat adalah kecemburuan yang mengetahui tempat dan saat." Jelas Surya.


"Mana bisa saya segera cemburu ketika istri saya hanya berbincang dengan pria lain walaupun itu adalah mantan pacarnya. Saya menempatkan itu bukan sebuah zona merah bagi hubungan kami. Hanya berbincang, apalagi mereka sudah lama tidak bertemu. Pasti ada hal yang ingin mereka kabarkan satu sama lain."


"Bagaimana jika itu adalah sebuah pembicaraan tentang akan terjalinnya kembali kisah lama mereka?" Monica seperti masih saja berusaha memprovokasi Surya.


"Terlalu dini untuk menyimpulkan itu. Saya hanya akan menunggu apakah akan ada kelanjutannya atau hanya berhenti disini saja."


"Aku benar-benar pasti sudah marah jika melihat suamiku seperti itu."

__ADS_1


"Saya menghargai momen-momen indah setiap bersamanya sehingga tidak mau menodai itu hanya dengan kecurigaan yang tidak berdasar dan belum tentu terbukti kebenarannya." Surya belum melepas senyum diwajahnya.


"Lagi pula kami menanamkan kepercayaan yang sangat tinggi antara satu sama lain. Dan dari kepercayaan itulah kami menjalani hubungan kami dengan lebih saling mencintai akhirnya." Suara Gina tiba-tiba dari arah belakang yang juga membuat Surya terkesiap saat lengan Gina memeluk lengan Surya manja.


"Iya kan, Sayang." Wajah Gina sedikit menengadah memandang Surya yang sangat dekat di sampingnya demi meminta dukungan. Surya menoleh kepada Gina lalu mengangguk dengan senyum lembut yang ia berikan. Tapi yang Gina tangkap kemudian adalah mata kecoklatan Surya yang tiba-tiba membuat jantungnya berdebar kuat. Lebih kuat dari sebelumnya. Gina cepat-cepat memalingkan wajah karena takut jika itu membuat ia mendapat serangan jatung setelahnya.


Kemudian ia melemparkan pandangan pada Monica yang ia lihat sekarang berwajah masam menyaksikan kedekatan mereka.


"Kau tahu, Surya bahkan mengenal Marco dengan sangat baik." Lanjut Gina.


"Oh ya?" Monica tidak percaya.


"Benar, saya dan Pak Marco adalah rekan bisnis dan kami berhubungan sangat baik." Monica tertegun melihat pasangan yang ada di depannya itu. Terpancar kesan rasa saling percaya diantara mereka berdua.


Gina menyunggingkan senyumnya lebih tajam. Lebih dari itu ia tahu saat Monica mendekati Surya bahwa akhirnya Monica melihat Surya tidak seretro saat bertemu dengannya sebelumnya. Melihat itu Gina cukup puas.


"Selamat siang semuanya." Suara dari sebuah microphone dari atas podiu. Gina, Surya dan Monica menoleh ke arah sumber suara.


"Aku tahu kalian pasti dalam keadaan bahagia hari ini. Tentu saja karena kalian bertemu denganku. Tidak peduli sepanas apa cuaca hari ini tapi energi bahagia yang kalian rasakan adalah berasal dariku. Kenapa? Karena aku pria tampan dan mempesona yang membuat tidak hanya wanita, bahkan para pria pun memimpikan bisa bersanding denganku." Itu adalah suara Devon. Gina tersenyum lebar melihat salah seorang temannya yang sepertinya dari dulu tingkahnya masih tetap kocak.


"Jangan salah menilaiku. Aku tentu saja masih tetap seorang pria normal. Mereka para wanita tentu saja senang berdekatan dengan diriku karena aku tampan, dan para pria mendekatiku bukan berarti mereka menyukaiku. Kebanyakan dari mereka ingin sekali aku membagi tips bagaimana agar terlihat tampan dimata wanita." Bualan Devon tak ayal akhirnya memicu keriuhan seisi aula. Termasuk Gina.


Dulu Gina juga dekat dengan pria kocak itu. Bukan sebagai pacar tapi karena kekocakannya, Gina sangat nyaman berteman dengannya saat mereka sama-sama duduk di kelas yang sama di tahun terakhir.


"Dan, karena aku tidak mau kerepotan sendiri dengan meladeni banyak wanita yang ingin dekat denganku, baiklah aku akan membagi tips itu." Devon berjalan di sisi lain panggung setelah menuruni podium.


"Kalian tahu, aku tidak sembarangan membagi tips dan karena kalian adalah temanku maka aku akan berbaik hati membaginya. Tapi aku tidak bisa mengatakannya langsung di sini. Aku tidak mau pada akhirnya para wanita juga akan tahu. Jadi, silakan hubungi aku setelah acara ini berakhir. Nomorku ada di bawah ini." Devon berlagak seolah adalah seorang host sebuah acara televisi.


"Huuuuuuuuuu." Jawab semua peserta reuni serempak.


"Hei... aku serius. Aku tidak berbohong. Aku memang sekeren itu." Devon masih saja membual. Dia memang berbakat dalam hal berbicara dan menghibur. Itulah sebabnya ia sekarang menjadi seorang penyiar sebuah radio di kota itu.


"Kalian tahu Gina disana?" Regina melotot tiba-tiba Devon menunjuknya dari arah panggung. Serentak semua mata seketika menuju ke arah Gina.


"Dia yang cantik dan sangat populer pun pernah menjadi pacarku." Bualnya lagi. Gina tertawa. Tapi tawanya tenggelam oleh riuhnya cibiran orang-orang disana. Sedangkan Monica memutar bola matanya muak.


"Hai Gina..." Sapa Devon dengan microphone masih di tangannya.


"Ahh... sudah berapa lama kita tidak bertemu tapi kenapa kau masih cantik saja." Gina memanyunkan wajahnya menanggapi rayuan receh Devon.


"Maaf Tuan jangan laporkan perbuatanku sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Itu adalah risiko Anda memiliki istri yang sangat cantik." Kelakar Devon yang hanya ditanggapi senyuman oleh Surya. Sekilas Gina memandang Surya tapi hatinya tiba-tiba seperti kesetrum. Aneh. Gina sedikit mengambil jarak dari tempat Surya berdiri tapi yang ia rasakan selanjutnya adalah tangan Surya meraih tangannya dan membuat Gina agar tetap ada di dekatnya. Gina merasa pipinya menghangat sekarang.


Apa ini? Apa aku sudah gila? Kenapa rasanya begini? Kenapa jantungku memberitahukan sinyal ini?

__ADS_1


__ADS_2