Tahta Surya

Tahta Surya
Tiba


__ADS_3

Bandara dini hari. Gina dan Surya berjalan keluar dari gerbang kedatangan. Suasana bendara tampak lengang. Ini bukan bandara ibu kota negara sehingga pada jam-jam ini penerbangan tidak ramai.


Gina menarik kopornya keluar bandara. Surya berjalan sambil mengitari pandangan mencari taksi yang akan mereka tumpangi ke pemberhentian terakhir. Ia lalu menuju ke sebuah taksi yang terparkir dengan sopir yang berdiri di depan sambil menikmati rokoknya.


"Bisa mengantar kami, Pak?" Tanya Surya. Sopir taksi itu seketika memperbaiki letak berdirinya.


"Iya Pak. Mari saya antar." Sopir itu membuang rokoknya yang masih setengah.


Tanpa aba-aba sopir itu membuka pintu bagasi. Surya memasukkan kopor Gina ke dalamnya. Gina sudah masuk ke dalam taksi. Udara pagi sangat dingin dan ia memilih untuk bergegas menyelamatkan dirinya agar tidak membeku.


Taksi mulai melaju keluar bandara. Setelah memberi tahu kemana tujuan mereka, Surya kembali diam. Hanya saja ia sempat mengatakan sesuatu tadi kepada Gina.


"Anda bisa kembali tidur, Nona. Perjalanan kita masih 3 jam lagi. Jadi Anda masih bisa beristirahat."


"Dari tadi kau selalu menyuruhku tidur. Memangnya aku putri tidur." Gerutu Gina. Surya sempat mendengar itu dan tersenyum sekilas.


Gina sempat meliriknya. Ia tahu Surya sedang tidak memiliki kenginginan membercandai Gina seperti biasanya. Hatinya benar-benar sudah melompat jauh ke tempat bapaknya dirawat.


Karena Gina sudah sempat tidur di pesawat, kali ini ia tidak bisa lagi membuat matanya terpejam. Ia jadi gelisah karena merasa bosan. Tiba-tiba Surya menyodorkan sebatang coklat bertabur kacang mete padanya. Gina melihat tangan Surya dengan coklat di tangannya.


"Kau, membawa coklat?"


"Saya membelinya saat Anda berada di toilet tadi." Gina menerima coklat itu.


"Maafkan saya karena Anda bahkan belum sempat makan malam. Dan sekarang sudah hampir pagi tapi Anda belum makan apapun." Surya memandang Gina dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Saat dipesawat Anda juga tidur dengan pulas jadi saya fikir kasihan jika Anda saya bangunkan untuk makan." Kali ini Surya memberi senyum padanya.


"Saya masih punya beberapa, Anda boleh menghabiskannya."

__ADS_1


"Terima kasih, sementara sebagai penunda lapar ini saja cukup." Gina mengunyah coklatnya. Setelah itu tidak ada perbincangan lagi. Setelah menghabiskan sebatang coklat dan juga sebotol air mineral yang dibeli Surya, Gina memilih untuk menikmati perjalanan. Ia merasa tidak enak kalau meninggalkan Surya untuk tidur. Meskipun mereka tidak berbincang, menurut Gina paling tidak ia tidak tertidur dan sekarang saatnya menemani Surya yang sudah terjaga semalam selama perjalanan.


Sesekali Gina melirik kepada Surya. Wajahnya penuh dengan mendung. Tampak sekali kekhawatiran itu dari sorot matanya.


Matahari mulai menampakkan semburatnya. Gina bisa menyaksikannya karena taksi yang dinaikinya berjalan ke arah timur. Ini pertanda sebentar lagi pagi akan menjelang. Dan benar saja, perlahan tapi pasti cahaya pagi mulai menerang sedikit demi sedikit. Setelah matahari benar-benar tampak, Gina bisa melihat disepanjang sisi kanan dan kiri jalan terdapat hamparan sawah yang luas membentang berwarna hijau. Mata Gina seketika berbinar melihat pemandangan itu. Pemandangan yang jarang ia temukan di tempat ia tinggal.


Tanpa sadar Gina membuka cendela sisi ia duduk. Dari situ ia bisa merasakan udara yang sangat sejuk menerobos masuk dan menerpa wajahnya. Gina menghirupnya kuat-kuat dan menghembuskannya sampai benar-benar lega. Surya yang melihat tingkah Gina jadi tersenyum. Senyum lembut pertama semenjak ia menerima kabar tentang bapaknya.


"Surya, perjalanan ke rumahmu masih lama?" Tanya Gina sambil mengalihkan pandangannya kepada Surya.


"Tinggal sebentar lagi, Nona."


"Apa rumahmu juga berada di tempat seperti ini?"


"Iya Nona, kampungku penghasil padi terbaik selama bertahun-tahun belakangan ini."


"Banyak sawah?"


"Sungai?"


"Ada Nona."


"Gunung?"


"Iya, ada Nona." Jawab Surya seperti sedang menanggapi seorang anak kecil yang sangat antusias melihat pemandangan disekitarnya ketika mengikuti tamasya.


"Tapi sebenarnya itu bukanlah gunung tapi perbukitan."


"Wah..." Gina berbinar mendengar penuturan Surya. Tampak sekali raut bahagia diwajahnya setelah mendengar deskripsi tentang kampung Surya. Ia semakin tidak sabar untuk segera tiba di kampung Surya.

__ADS_1


Setelah melewati persawahan dan juga melewati jalan raya yang menaik dan menurun, akhirnya Gina mulai bisa melihat satu dua rumah di tepi jalan yang ia lewati. Lalu semakin jauh mulai melihat banyak rumah-rumah berjajar. Itu menandakan ia mulai memasuki sebuah perkampungan. Lalu setelah itu ia memasuki sebuah gapura besar dengan bertuliskan nama sebuah kabupaten kota itu. Setelah itu taksi yang mereka tumpangi memutari sebuah taman kota. Dengan pepohonan di kelilingnya dan bangku-bangku di bawahnya. Pasti sangat nyaman duduk disana. Di salah satu sisi taman juga ada tempat bermain anak-anak dengan berbagai ayunan. Tapi untuk sepagi ini taman kota tampak masih sangat sepi. Belum ada aktifitas dari warga kota ini disana. Surya memperhatikan Gina yang masih melihat keluar cedela.


Akhirnya taksi yang ditumpangi Gina dan Surya berhenti di sebuah rumah sakit di kota itu. Sebuah rumah sakit umum daerah. Gina melihat papan nama besar tertera di bagian depan gedung.


Surya turun dari dalam taksi dan membayar sejumlah tarifnya. Ia hendak melangkah masuk tapi Gina belum keluar dari dalam taksi. Surya menghampiri Gina dan membuka pintu taksi. Gina menatap Surya dengan tatapan aneh. Surya membalas tatapan Gina mencari tahu arti tatapannya. Sampai akhirnya Surya ingat akan sesuatu.


"Baiklah, Nona. Anda bisa tetap menunggu di sini." Ujar Surya akhirnya mengerti kenapa sikap Gina demikian. Lalu Surya memutar tubuhnya untuk meninggalkan Gina di dalam taksi dan bermaksud masuk. Tapi Gina meraih tangan Surya dan menahannya.


"Aku masuk." Ucap Gina sambil keluar dari dalam taksi. Kemudian sopir taksi membuka bagasi untuk mengeluarkan kopor Gina.


Ragu-ragu Gina mulai melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah sakit yang sudah banyak berubah itu. Saat Gina datang ke rumah sakit ini sekitar 12 tahun yang lalu rumah sakit ini hanya terdiri dari 2 lantai dan sekarang di sisi kanan gedung sudah berubah menjadi 3 lantai. Rumah sakitnya pun sudah semakin besar dengan halaman samping yang lebih luas untuk memarkir deretan mobil para pengunjungnya.


Surya tahu sebelum Gina melangkah masuk, ia sempat menghela nafas berat. Surya tahu apa yang sedang terjadi pada Gina dan tanpa permisi ia menggandeng tangannya. Dari ekor matanya, Surya bisa melihat Gina menoleh untuk memandangnya. Tapi Surya berpura-pura untuk tidak tahu itu dan hanya terus melangkah. Sementara itu tangan kanannya masih menarik kopor Gina.


Mereka melewati ruang ICU. Gina melihat sekilas dari luar tempat ia berjalan. Tiba-tiba memorinya tersegarkan oleh ingatan yang telah lalu.


Gina keluar dari dalam mobil dan setengah berlari mengikuti langkah Papanya. Ia bahkan tidak menunggu Mamanya yang tertinggal di belakang. Ia ingin segera menghampiri Roby, kakaknya.


Seorang pemuda yang terbujur di ruang ICU itu adalah kakak yang sangat dicintainya yang telah tiada beberapa saat yang lalu. Belum sempat ia melihat kedatangan Gina dan orang tuanya, Roby telah berpulang setelah kecelakaan yang menimpanya. Tangis Gina pecah seketika. Seseorang yang ketika berpamitan untuk pergi hanya untuk beberapa hari saja. Tapi sekarang yang Gina lihat Roby tidak lagi bisa berbicara. Tidak bisa menggodanya. Tidak bisa menghiburnya. Tidak bisa memperlakukannya sebagai seorang adik yang paling beruntung di seluruh dunia memiliki kakak sebaik Roby.


Fikiran Gina mulai teralihkan saat Surya yang berhenti di depan salah satu kamar inap dan kemudian membukanya. Tampak Ibu Surya duduk di sofa ruangan itu. Bapak Surya terlihat sedang tidur. Surya masuk perlahan disambut ibunya yang berdiri sesaat setelah melihat kedatanganya. Surya mendekati ibunya dan mencium tangannya. Gina mengikuti dan turut mencium tangan ibu mertuanya juga.


"Kalian langsung ke sini?" Tanya ibu Surya.


"Iya, Bu."


"Duduklah. Biar ku suruh Joko membeli sarapan." Lalu ibunya berdiri.


"Kenama tadi Joko?" Ibunya bermaksud keluar untuk mencari Joko.

__ADS_1


"Tidak usah, Bu. Biar nanti kami sendiri yang pergi. Ibu jangan ke mana-mana dan menemani Bapak saja." Surya melarang itu karena ia tahu mungkin bahkan ibunya tidak tidur semalaman demi menunggui Pak Wiro. Tepat saat itu seseorang membuka pintu. Seorang gadis berambut panjang dengan wajah cantik muncul dari balik pintu.


"Dinda..." Gumam Surya. Gina yang berdiri disamping Surya sempat melihat ada binar berbeda saat Surya tersenyum kepada gadis itu. Gina mendadak merasakan sesuatu yang tidak nyaman berada di situasi itu.


__ADS_2