
Surya memasuki dapur dan menyalakan lampu. Ia membuka laci tempat penyimpanan makanan yang mungkin bahkan Gina saja tidak tahu isi setiap laci dari kitchen set yang ada di dapur rumahnya. Surya mencari bahan makanan apa yang bisa ia sajikan untuk Gina. Akhirnya ia menemukan sebungkus pasta di sana. Lalu ia mengambil dan memasak air. Sambil menunggu air mendidih, Surya mulai menyiapkan sausnya. Ia berjalan menuju kulkas, mencari apa yang bisa ia pakai untuk membuat saus spageti untuk Gina. Ada tomat dan paprika. Surya mengambil itu. Ia juga mengeluarkan bumbu-bumbu pelengkap lainnya.
Saat melihat pasta, Surya terinspirasi untuk memasak spageti karena beberapa hari yang lalu ia sempat berbelanja dan membeli saus bologbaise dan seharusnya saus itu masih ada. Benar, saus itu masih utuh ditempatnya. Beberapa hari ini menu di rumah itu bukan sesuatu yang harus memakai saus bolognise sehingga saus itu masih belum terpakai sama sekali.
Setelah air mendidih, Surya memasukkan pasta ke dalamnya. Kemudian Surya memotong sayuran pelengkap dan juga bumbu-bumbu. Ia lalu menyiapkan wajan di tungku kompor yang lain. Memanaskan minyak untuk menumis bawang bombay dan bawang putih. Setelah layu ia memasukkan saus bolognise, irisan paprika dan juga tomat. Kemudian menambahkan bumbu-bumbu pelengkap secukupnya sesuai dengan seleranya. Lalu mengaduk sampai saus matang dan mencicipinya. Setelah ia rasakan saus sesuai dengan yang ia harapkan, Surya lalu mematikan kompor. Kompor untuk merebus pasta juga sudah ia matikan, pasta yang sudah matang lalu ia tiriskan.
Setelah itu Surya memindahkan pasta ke dalam piring dan mengguyurnya dengan saus. Aroma harum langsung memasuki rongga hidungnya. Tanpa sadar Surya tersenyum melihat hasil masakannya yang singkat itu. Surya menaburkan sedikit lada hitam untuk memberi rasa yang lebih kuat. Dan spageti siap ia bawa kepada Gina.
Gina sedang menekuni ponsel saat melihat Surya masuk dengan nampan berisi piring makanan di tangannya. Surya mendekati Gina dan perut Gina semakin terasa lapar mencium aroma spageti yang dibawa oleh Surya.
"Wah, apa masih ada restoran italia yang buka dijam segini?" Ujar Gina sambil menatap Surya.
"Jangankan harus membuat restorannya masih tetap buka, ini bahkan saya mendatangkan langsung kokinya dari italia."
"Malas sekali mendengarmu menyombong seperti itu." Cibir Gina. Surya lalu tertawa.
Gina melihat Surya tertawa, wajahnya terlihat manis. Matanya sangat indah dengan tatapan ceria seperti itu.
"Silakan dicicipi, Nona." Gina menurut dan mengambil spageti dengan garpu di tangan kirinya.
"Enak sekali." Puji Gina dengan girang. Ia lalu menyuapkan lagi.
"Kau tidak makan?" Tanya Gina di sela ia mengunyah spageti dengan potongan daging ayam di dalamnya.
"Tidak Nona, saya sudah makan tadi setelah rapat."
"Ngomong-ngomong, apa semua yang kau masak rasanya selalu enak?"
"Saya rasa begitu, Nona."
"Lalu kenapa kau tidak menjadi chef saja. Dengan begitu aku jadi tidak perlu berebut tahta denganmu." Ujar Gina masih dengan mulut penuh spageti. Surya tersenyum mendengar itu.
"Kalau saya menjadi chef, saya takut akan menjadi chef tertampan di dunia."
"Apa? Kau menarsiskan dirimu lagi? Ya Tuhan... semakin hari kau semakin mengagetkanku. Sifat aslimu benar-benar di luar dugaan." Surya terkekeh. Tapi Gina lalu melanjutkan konsentrasinya dengan spageti yang hampir habis itu.
Surya yang melihat Gina memakan spageti dengan lahap jadi tidak tahan untuk tidak menyunggingkan senyum. Surya tahu Gina pasti sangat lapar hingga tidak ingin menyisakan apapun diatas piringnya kecuali sendok dan garpu bekas ia gunakan untuk makan.
"Kau tahu, aku jadi menyesal sudah makan malam. Sekarang aku sangat kenyang. Bagaimana aku tidur dengan perut sekenyang ini." Gina meletakkan piring bekas spageti di atas meja di depan sofa di kamarnya.
"Kau bilang berdiet itu bukan mengurangi jam makan tapi mengurangi kalori pada makanan, lalu ini apa? Kau memberiku spageti dengan kalori yang sangat banyak." Gina mengomel. Surya hanya tersenyum mendapat omelan Gina seperti itu yang kembali naik ke atas tempat tidurnya.
"Aku benar-benar menyesal. Untuk berolah raga semalam ini juga sudah tidak mungkin." Gina cemberut.
__ADS_1
Surya benar-benar merasa lucu terhadap Gina. Saat Surya masuk membawa spageti tadi wajah Gina seketika berubah cerah dan girang karena perutnya akan segera terisi. Tapi begitu spageti habis, Gina jadi menyesal karena kenyang. Benar-benar wanita yang sangat susah sekali dimengerti.
"Kalau begitu kita main dulu Nona. Anda jangan langsung tidur agar makanan yang baru saja Anda makan bisa tercerna dengan baik."
"Apa? Main?" Gina membelalakkan matanya seolah mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Ya, main kartu, main congklak, main apapun." Jawab Surya santai.
"Ohh... main itu." Gina tampak menjadi salah tingkah mendengar penjelasan Surya.
"Baiklah... bagaimana kalau kita main kartu saja. Kalau main congklak itu pasti akan membuat aku mual karena sudah terlalu kenyang malah harus melompat-lompat." Pilih Gina.
"Tapi, bagaimana kita mendapatkan kartu? Ini sudah malam, kita akan beli di mana?" Surya lalu berdiri dari duduknya dan mengambil sesuatu di laci meja di samping sofa biasa Surya tidur. Surya lalu mengeluarkan kartu remi dari dalam sana.
"Hei, sejak kapan ada kartu disana? Itu milikmu?"
"Iya Nona, ini kartu yang biasa saya pakai bermain dengan 'tim remi' dulu saat waktu senggang."
"Kau masih sempat bermain kartu? Ku pikir saking sibuknya mengawal Papa, kau bahkan tidak sempat ke toilet."
"Kadang saya bermain kartu dengan security dan tukang kebun di R-Company, Nona. Saat Papa sedang memiliki waktu luang, beliau juga memperbolehkan saya bermain sesuka hati saya. Jadi saya akan bermain tapi hanya di lingkungan R-Company saja agar saat Papa membutuhkan saya, saya bisa cepat hadir."
"Kau benar-benar pegawai yang sangat setia. Tidak heran Papa benar-benar jatuh cinta kepadamu." Cibir Gina.
Surya lalu mengocok kartu remi ditangannya lalu membagi untuk Gina dan untuk dirinya sendiri. Mereka lalu saling memperhatikan kartu masing-masing. Surya tersenyum senang melihat kartu yang sedang ia pegang. Wajahnya menyiratkan kepuasan memiliki sejumlah kartu itu ditangannya. Sebaliknya, wajah Gina terlihat seperti mendung memandang kartu-kartu bernilai buruk miliknya.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Apa semembahagiakan itu membagikan kartu kepadaku? Kau sengaja membagi kartu dengan tidak adil ya?" Tuduh Gina melihat Surya terlihat senang dengan kartu yang dipegangnya.
"Maaf, Nona?" Surya mengalihkan pandangan dari kartunya ke wajah Gina dengan tatapan tidak mengerti.
"Kenapa kartuku jelek sekali."
"Entahlah, Nona. Saya hanya membaginya."
"Dari raut wajahmu, pasti kartumu sangat bagus sampai-sampai kau tidak bisa menyembunyikan rona kebahagiaanmu."
"Itu hanya kebetulan saja, Nona. Saya benar-benar tidak tahu."
"Kau yakin tidak sedang ingin mencurangiku?" Gina menyelidik.
"Bagaimana saya tahu kartu saya bagus sedangkan saya membaginya dengan gambar terbalik." Jelas Surya.
"Ahh sudahlah, kau dulu buka kartumu." Surya lalu membuka kartunya. Gina terbelalak melihat nilai dari kartu itu. Nilai yang tinggi.
__ADS_1
Selanjutnya giliran Gina dan berlanjut sampai selesai. Akhirnya Gina harus rela menyerahkan lipstik warna burgundi miliknya untuk dilukiskan di wajahnya oleh Surya.
"Maafkan saya Nona." Surya merasa tidak enak harus mencoret wajah Gina.
"Sudah, jangan banyak bicara. Cepat lakukan." Gina cemberut. Surya mencoretkan lipstik itu ke pipi Gina. Gina memanyunkan bibirnya.
"Jangan terlalu senang dulu. Setelah ini aku akan membuat wajahmu bahkan tidak akan dikenali lagi."
"Saya siap, Nona." Ujar Surya. Mendengar itu Gina merasa Surya seperti sengaja menantangnya.
Mereka pun memulai permainan kembali. Dan semakin lama permainan menjadi sangat seru. Permainan kedua kali ini Gina yang memenangkannya. Lalu mereka semakin bersemangat dan semakin tidak ingin menghentikan permainan. Mereka semakin berusaha untuk selalu menang. Tapi bukan namanya permainan jika keduanya selalu menang. Dari berkali-kali permainan yang mereka mainkan, Gina yang lebih banyak memenangkan permainan kartu kali ini. Dulu Roby biasa mengajaknya bermain kartu sehingga ia bisa bermain dengan baik juga dalam permainan itu.
Pak Rangga baru saja dari dapur untuk mengambil minum saat terjaga dari tidurnya. Mendengar suara Gina yang berteriak kegirangan karena menang bermain kartu menjadi tersenyum sendiri. Pintu kamarnya terbuka sehingga suara Gina bisa terdengar hingga ke lantai bawah.
"Ya Tuhan... wajahmu..." Lalu selanjutnya Gina terbahak.
"Wajahmu seperti buah tomat. Ehh, bukan. Bukan tomat. Apa itu apel? Ahh tidak, mungkin lebih tepat jika wajahmu mirip buah stroberi." Gina terbahak lagi.
Pak Rangga tidak tahu apa yang sedang Gina dan Surya lakukan. Yang jelas dari suara Gina, Pak Rangga merasa bahwa putrinya sedang sangat senang sekarang. Terdengar Gina bisa tertawa lepas seperti itu malam ini.
"Dasar anak itu. Diotaknya hanya bermain dan bermain saja." Pak Rangga menggelengkan kepalanya menyadari putrinya yang sering sekali membuat kekonyolan. Pak Rangga menatap ke arah lantai dua dimana suara Gina terdengar nyaring dengan kegirangannya.
Pak Rangga berfikir jika Gina akhir-akhir ini sudah berubah. Ia tidak pernah lagi pulang malam dan pergi ke tempat-tempat hiburan yang tidak jelas. Hidupnya terlihat lebih teratur. Pergi pagi untuk bekerja dan pulang sore lalu selanjutnya tidak pernah pergi lagi. Entah karena lelah setelah bekerja atau karena ada Surya yang menemaninya, sehingga Gina lebih betah di rumah sekarang. Pak Rangga benar-benar berharap Gina bisa jatuh cinta kepada Surya. Pak Rangga sangat mengenal Surya sehingga menurutnya Surya adalah orang yang tepat untuk bisa menjadi menantu yang sebenarnya.
"Baiklah, aku menang lagi sekarang." Gina melompat-lompat dengan girang. Dia bahkan turun dari tempat tidurnya dan berjoget karena menang selama tiga kali berturut-turut. Kedua pemain kartu itu sudah sama-sama memiliki wajah penuh dengan coretan lipstik. Wajah Gina juga hampir penuh dengan warna merah, sama seperti Surya.
"Ayo ku make up lagi wajahmu." Gina membuka lipstiknya. Tapi ternyata lipstiknya sudah habis bahkan sampai tidak tersisa sama sekali di tempatnya.
"Ya Tuhan, sampai habis. Sudah berapa kali kita bermain?"
"Entahlah Nona, sudah berkali-kali." Jawab Surya yang juga tidak tahu pasti sudah berapa kali mereka memainkan itu. Bahkan satu buah lipstik sampai habis.
"Kalau begitu kita akhiri permainan sampai disini, Nona."
"Eits, hukum harus selalu ditegakkan. Jadi, hukumanmu harus kau terima. Jangan coba-coba untuk lari." Gina menahan tangan Surya yang hendak bangun dari tempat tidur Gina. Ia tidak akan membiarkan Surya lepas dari hukuman kekalahannya.
Tapi saat mereka berada sedekat itu, membuat Gina berdebar. Mata coklat Surya benar-benar menghipnotisnya. Tiba-tiba saja Gina seperti menemukam sebuah ide yang sangat gila. Sedetik berikutnya Gina seperti mendapatkan sebuah keberanian untuk memberi hukuman kepada Surya dengan caranya sendiri.
"Cupp!!!" Gina mendaratkan ciumannya di pipi Surya. Surya terkesiap. Ia tidak menyangka Gina akan melakukan hal itu.
Pandangan mereka sekarang saling beradu dengan fikiran mereka masing-masing. Wajah Gina terasa menghangat. Mata coklat Surya semakin membuatnya jatuh cinta sehingga Gina tidak bisa menahan dirinya.
"Jangan salah faham. Aku harus tetap menghukummu. Yang bisa ku lakukan sekarang adalah membuat wajahmu tetap tercoret lipstik. Dan lisptik di bibirkulah satu-satunya yang bisa membuat wajahmu tercoret." Jelas Gina hampir dengan menahan nafas karena ia harus menutupi kegugupannya.
__ADS_1