Tahta Surya

Tahta Surya
Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Mbak Yuyun memasuki dapur dan berdiri di dekat Surya yang sedang mencampur irisan mentimun dengan bahan untuk menjadikannya acar menoleh saat mengetahui kehadiran asisten rumah tangga itu.


"Saya jadi minder setiap Anda masuk dapur, Pak." Ujar Mbak Yuyun.


"Kenapa, Mbak?" Surya dengan mengaduk acarnya.


"Anda lebih pandai memasak dibanding dengan saya." Mbak Yuyun lalu terkekeh.


"Sayur kare buatan Mbak Yuyun enak sekali. Gulai daging, ayam panggang, bebek goreng dan cumi asin sambel matah mbak Yuyun rasanya sangat enak. Saya sampai menambah nasi saat memakan itu semua."


"Benarkah, Pak?" Surya mengangguk.


"Lagi pula keluarga ini juga sangat cocok dengan masakan Mbak Yuyun. Papa, Mama dan Nona Gina suka masakan Mbak Yuyun."


"Iya, tapi sekarang Nona Gina jadi berpaling dari saya setelah Pak Surya datang ke sini." Surya memandang Mbak Yuyun sambil mengerutkan kening. Ada sebentuk tanda tanya dikepalanya.


"Nona Gina selalu makan nasi goreng Pak Surya dengan sangat lahap. Seperti itu." Mbak Yuyun menoleh ke arah Gina yang diikuti oleh Surya.


Merasa terpergok Surya, Gina yang sedang mengawasinya mengobrol dengan Mbak Yuyun jadi kelabakan. Terlebih saat Surya tersenyum padanya, Gina jadi salah tingkah.


"Nona Gina sangat menyukai nasi goreng buatan Pak Surya. Saya sudah mencoba menggunakan resep yang Pak Surya berikan tapi rasanya tetap tidak bisa seenak buatan Anda. Saya jadi sadar itulah kenapa ada istilah beda tangan beda rasa."


"Mbak Yuyun ada-ada saja. Tangan tidak akan mempengaruhi rasanya, kalau bumbunya sama pasti rasanya sama."


"Terbukti ketika makan nasi goreng buatan saya Nona Gina tidak selahap itu." Mbak Yuyun yang sedang memotong sayur masih berargumen.


"Atau jangan-jangan itu karena Pak Surya menambahkan cinta ke dalam nasi gorengnya?" Mbak Yuyun memandang Surya lekat. Mendengar itu Surya jadi ingin tertawa tapi ia tahan.


"Saya menambahkan jampi-jampi ke dalamnya." Surya lalu mengangkat piring berisi acar buatannya untuk dibawa ke meja makan. Mbak Yuyun melongo mendengar penuturan menantu majikannya.


"Hati-hati, Pak. Nona Gina sedang dalam masa PMS." Bisik Mbak Yuyun kemudian yang masih bisa Surya dengar dari tempatnya melangkah. Surya memberinya kode dengan mengerjapkan kedua matanya bahwa ia faham harus melakukan apa.


Dari arah dapur Mbak Yuyun memantau pasangan suami istri itu dengan seksama. Membaca gerak gerik dan bahasa wajah mereka.


"Sebenarnya apa yang salah dengan mereka. Mereka sudah resmi menikah. Sama-sama berpendidikan. Cantik dan tampan. Pandangan mata mereka sama-sama mengatakan 'aku mencintaimu'. Tapi kenapa sikap mereka selalu begitu antara satu sama lain? Dimana letak salahnya?" Mbak Yuyun menggumam sendiri memikirkan dua orang muda di meja makan.


"Gengsi? Apa karena gengsi? Ya benar, pasti karena itu. Nona Gina memang pada awalnya menolak Pak Surya mati-matian tapi sekarang malah sebaliknya dia benar-benar menyukai Pak Surya." Mbak Yuyun mengembangkan senyum.


"Ya Tuhan... Makan saja gengsi itu, Nona. Sampai kapan Nona akan tahan? Pria tampan itu setiap hari Nona temui. Apa Nona bisa kalau hanya membiarkannya saja?" Mbak Yuyun sekarang cekikikan sendiri melihat Gina dan Surya sedang berbincang.


Mbak Yuyun melihat Gina tampak mempertahankan ekspresi cueknya untuk menutupi perasaannya. Ia yakin sebenarnya Gina sangat senang sekarang karena Surya ada di hadapannya. Orang yang katanya semalam ia rindukan hingga membuatnya galau.


"Lho... ehh, kok..." Mbak Yuyun melihat Gina yang meninggalkan Surya di meja makan dan menuju kamarnya di lantai dua. Ia menggerutu menyaksikan kedua pasangan muda yang suka main kucing-kucingan itu.


Surya memasuki kamar tepat saat Gina juga akan membuka pintu dari dalam. Mereka akhirnya bertemu muka di sana. Surya menatap Gina yang ada dihadapannya.


"Ada apa?" Tanya Gina bernada dingin saat ditatap seperti itu oleh Surya.


"Anda mau berolahraga?"


"Ya." Surya menganggukan kepalanya faham.


"Sama, aku juga akan berolah raga." Ujar Surya dengan tersenyum.


Gina segera memalingkan wajahnya melihat itu.


"Sudah?" Tanya Gina.


"Sudah apa?" Surya tidak mengerti maksud Gina.


"Kalau sudah selesai bicara, minggirlah. Aku harus lewat." Ucap Gina seperti seseorang yang Surya kenal dulu, bukan Gina yang akhir-akhir ini ia tahu. Gina yang angkuh dan bersikap dingin padanya. Surya lalu menggeser kakinya dan memberi jalan kepada Gina.


Ada apa? Kenapa Nona Gina menjadi seperti itu? Bukankah akhir-akhir ini sikapnya sudah mulai melunak. Batin Surya heran melihat perubahan sikap Gina.


Sebelum ia berangkat, Gina tidak seperti itu. Tapi hari ini sejak mereka bertemu di meja makan, Gina tampak acuh kepadanya. Surya jadi bertanya-tanya.


"Efek samping dari PMS benar-benar seserius itu. Sangat menyeramkan." Ujar Surya sambil mengganti bajunya dengan kaos untuk ia pakai berolah raga kali ini.

__ADS_1


Peluh Gina mulai membasahi dahinya. Tinju demi tinju ia layangkan ke arah sandsack di depannya. Dia sangat bersemangat. Ditambah dengan suasana hatinya yang sedang tidak menentu seperti ini antara kesal tapi juga senang, karung sandsack adalah sasarannya yang tidak akan menimbulkan risiko.


Ketika ia masih seru dengan tinjuan-tinjuannya pada sandsack, Surya masuk dan memakai treadmill yang terletak di salah satu sudut ruangan tidak jauh dari Gina berdiri. Surya mulai berlari pelan di sana. Gina tahu itu tapi ia mengabaikannya dan menganggapnya tidak ada. Meskipun ia merindukan Surya tapi rasa kesalnya sedang mendominasi. Bagaimana bisa dia terlihat tidak terjadi apa-apa sedangkan saat di luar kota Surya benar-benar mengabaikan telepon dan juga pesan yang ia kirim ke ponselnya.


Sesekali Surya melirik ke arah Gina yang mengabaikannya seperti itu. Surya masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Gina tapi ia merasa harus membuat hubungannya dan Gina bisa kembali akur seperti sebelum ia pergi ke luar kota.


Surya menghentikan kegiatannya di atas treadmill dan mendekati Gina.


"Nona, setelah ini mari kita keluar."


"Tidak, hari ini aku akan di rumah saja." Jawab Gina tanpa memperhatikan Surya dan masih sibuk dengan sandsack dihadapannya. Gina memang sengaja melakukan hal itu dan akan menjadi lawan yang bertolak belakang dengan semua yang Surya inginkan.


"Cuacanya sangat cerah, sangat sayang kalau kita hanya di rumah saja."


"Kita tinggal di negara tropis, cuaca seperti ini bisa dinikmati kapan saja." Gina masih acuh.


"Mari kita pergi ke pantai, Nona."


"Tidak mau, kulitku bisa terbakar kalau ke pantai saat cuaca sedang sepanas ini."


"Bukankah itu baik untuk kulit menjadi eksotis?"


"Aku suka kulitku yang putih. Aku melakukan banyak hal dan mengeluarkan banyak uang untuk ini. Bagaimana bisa aku akan merusak sendiri usahaku."


Ditengah tinjuannya ke arah sandsack, tiba-tiba Surya memeluk sandsack itu dan berharap kali ini Gina memperhatikannya.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita mengobrol saja sambil minum coklat panas?" Surya masih berusaha membujuk agar Gina tidak seketus itu lagi padanya.


"Aku sedang malas mengobrol dengan siapapun." Gina menatap Surya.


"Minggirlah. Aku tidak mau kau pingsan karena tinjuku meleset mengenai wajahmu."


"Anda terlalu jago untuk melakukan tinjuan yang meleset, Nona." Puji Surya. Tapi Gina terlihat tidak terpengaruh sama sekali.


"Sudahlah jangan mengganggu. Lakukan apapun kesenanganmu sendiri."


"Saya tidak suka bersenang-senang sendiri, Nona. Saya ingin berbagi kesenangan saya dengan Anda." Mendengar itu Gina lalu menatap Surya, dengan mata tajam dan tetap bibir meruncing tapi hatinya sedikit senang.


"Baiklah... maafkan saya karena tidak sempat menghubungi Nona selama di luar kota." Ujar Surya. Tapi mendengar itu Gina malah membalik badannya dan berniat pergi.


"Tunggu, Nona." Surya berhasil menghentikan Gina dengan meraih lengannya. Gina menatap tangan Surya.


"Saya tidak akan beralasan karena kesibukan yang padat sehigga tidak memberi kabar kepada Anda karena itu akan terdengar saya membela diri. Tapi yang jelas saya meminta maaf." Mata kecoklatan Surya memandang lurus kepada Gina yang masih tidak berkata apa-apa.


"Kenapa kau mengatakan hal itu padaku?" Ucap Gina masih dengan wajah dinginnya.


"Karena mungkin itu sebabnya Anda jadi kesal kepada saya."


"Untuk apa aku kesal padamu hanya karena tidak menghubungiku selama di luar kota kemarin? Kita tidak berada pada hubungan pernikahan layaknya orang lain. Kau ingat itu, bukan?"


"Saya ingat, Nona." Surya menundukkan kepala mendengar Gina seperti tidak sekadar mengingatkan tapi lebih kepada memberinya peringatan agar tidak berfikir berlebihan tentang dirinya.


"Tapi tetap saja, saya merasa kekesalan Anda kepada saya karena tentang hal itu."


"Siapa yang sedang kesal padamu?" Ujar Gina ketus.


"Sebelum saya ke luar kota, Nona tampak baik-baik saja. Tapi saat saya pulang, Nona jadi berbeda kepada saya. Saya jadi berfikir itu karena Anda sedang kesal terhadap saya karena tidak menghubungi Anda sama sekali selama di sana." Gina masih menyimak apa yang ingin dikatakan oleh Surya.


"Atau mungkin Anda kesal karena Anda merindukan saya?" Ucapan Surya seperti sebuah angin dingin yang membelai telinganya.


"Apa? Merindukanmu? Aku merindukanmu?" Gina tersenyum sinis menanggapi itu karena ia tidak mau Surya tahu bahwa tebakannya memang benar.


"Apa saya salah, Nona?"


"Tentu saja kau salah. Salah besar mengartikan ini sebagai apa yang sedang ada di fikiranmu itu."


"Sayang sekali. Itu berarti rindu saya bertepuk sebelah tangan." Surya menatap Gina lurus.

__ADS_1


"Apa?" Gina mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang didengarnya itu tidak salah.


Hanna membuka matanya dan mengeliat untuk melemaskan seluruh tubuhnya yang terasa pegal. Ia lalu tersenyum melihat jam dinding di kamarnya. Sudah hampir siang. Hanya di hari libur seperti ini ia bisa melakukan semua hal sesuai keinginannya. Ia lalu meraba ponsel di sebelahnya. Membuka sebuah aplikasi penyedia jasa pemesanan makanan secara online. Pagi ini ia tidak ingin memasak, ia ingin makan sesuatu dari luar tapi tidak ingin keluar rumah.


Melihat menu-menu dari berbagai gerai yang di tawarkan, Hanna sudah mulai lapar.


"Sepertinya ini enak." Hanna memencet tombol sebuah kedai langganannya yang sudah terdaftar sebagai salah satu penjual diaplikasi itu.


"Tambahkan ini, dan minumnya ini." Lanjut Hanna masukkan pesanan, batagor, kerupuk udang dan es cendol ke dalam keranjang akunnya.


Setelah selesai memesan, Hanna bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk mandi sambil menunggu pesanannya yang akan datang sekitar dua puluh menit lagi.


Tepat setelah Hanna selesai mandi dan sedang menyisir rambut sepunggungnya, seseorang mengetuk pintu. Hanna segera berjalan ke arah pintu depan untuk mengambil pesanan yang sudah ditunggunya.


"Temani aku sarapan." Seorang pria membawa dua buah kotak yang dari aromanya Hanna tahu isinya apa. Hanna tersenyum lebar memandang pria itu.


Rumah kontrakan Hanna terbilang sederhana. Itu adalah rumah tipe 36 yang terdiri dari 2 kamar, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Dia memilih untuk tinggal di rumah kontrakan karena dirinya tidak begitu suka kebisingan jika harus tinggal di rumah kos yang kamarnya saling bersebelahan. Apalagi dia memiliki mobil, sehingga tinggal di kontarakan yang memiliki garasi seperti kontrakannya jadi lebih nyaman untuknya.


"Kenapa datang tiba-tiba?" Tanya Hanna sambil membawa dua gelas air minum untuk dibawa ke ruang tamu yang sekaligus adalah ruang makan baginya saat ini.


"Kenapa memangnya?" Tanya Bayu sambil membuka kotak kertas berisi nasi campur yang ada di depannya.


"Setidaknya kabari aku lebih dulu kalau kau akan kemari dengan membawa sarapan."


"Bukan kejutan namanya kalau aku memberitahumu."


"Kejutanmu sama sekali tidak membuatku terkejut." Hanna duduk sambil melipat tangan di dadanya.


"Lalu bagaimana nasib batagorku?"


"Biar aku saja yang makan batagormu juga. Sekarang, makan saja nasi campur ini. Bukankah kemarin kau mengatakan sedang ingin makan nasi campur?" Ujar Bayu sambil memakan sarapannya dengan lahap.


Hanna menatap Bayu sambil memanyunkan bibirnya tapi lalu tersenyum senang. Bagaimana bisa hanya dengan mendengar Hanna ingin makan nasi campur, sekarang Bayu datang dengan membawakannya itu.


"Baiklah, aku akan makan nasi campur. Lauknya cukup banyak. Sangat sayang jika tidak ku makan. Lagipula aku juga kasihan padamu yang sudah jauh-jauh datang kemari membawakanku ini."


"Bagus, setidaknya hargai usahaku. Walaupun tanpa berterima kasih dan malah mengomeliku." Sindir Bayu. Hanna menoleh kepadanya.


"Oh iya, terima kasih." Ucap Hanna sambil menahan senyumnya mendapat sindiran itu dari Bayu.


"Agar adil, batagornya kita bagi dua saja."


"Adil apanya? Nasi campur ini aku yang membeli. Jadi, batagor itu sebagai gantinya."


"Hei, sejak kapan kau menjadi perhitungan seperti ini?" Hanna memelototi Bayu.


"Sejak hari ini."


"Hahh, apa-apaan ini." Hanna memutar bola matanya malas.


"Dan juga es cendol ini untukku saja." Bayu meraih es cendol di hadapan Hanna.


"Ehh, tidak bisa." Hanna mengambil kembali es cendol dengan kemasan cup berplastic wrap itu.


"Berika padaku saja. Kau nanti bisa gemuk karena ini terlalu manis."


"Tidak, kau pikir aku bodoh akan gemuk hanya karena minum es cendol."


"Anak ini tidak percaya sekali." Bayu mencoba mengambil kembali es cendol itu. Akhirnya mereka saling rebut dan sama-sama ingin memiliki. Tapi karena kemasannya yang basah akibat embun di sekitar gelas plastiknya, akhirnya gelas es cendol itu jatuh dan... prakk! Kemasan cup yang terbuat dari plastik itu pecah. Air cendol jadi bocor.


Hanna dan Bayu sama-sama terpaku menyaksikan es cendol yang mereka perebutkan kini hanya tinggal kenangan. Bayu menelan ludahnya karena tidak jadi menikmati es cendol.


"Jadi pecah. Ini gara-gara kau." Hanna terihat kesal.


"Paling tidak, ini cukup adil daripada kita memperebutkannya."


"Apa itu. Tentu saja ini karena keserakahanmu." Bayu hanya bisa memasang senyum lebar karena memang itu benar.

__ADS_1


"Sekarang bersihkan itu." Hanna lalu duduk dan membuka kotak nasi campurnya.


"Baik, Ndoro." Bayu berlagak seperti seorang abdi dalem sebuah keraton. Hanna jadi merasa lucu dan tidak jadi marah tapi malah tersenyum. Lalu Bayu masuk ke belakang untuk mengambil perangkat bersih-bersih. Ia hafal setiap sudut tempat tinggal Hanna karena sudah sering datang.


__ADS_2