Tahta Surya

Tahta Surya
Janji


__ADS_3

"Ini Nona." Surya menyodorkan air minum kepada Gina. Gina memandang Surya lalu menerima gelas plastik berisi air putih itu untuknya.


"Terima kasih." Ujar Gina yang dibalas senyum oleh Surya.


Tiba-tiba ringtone ponsel Surya bersuara. Surya melihat nama di layar ponselnya. Itu dari sekretarisnya.


"Iya, bagaimana persiapannya, Sandra?" Tanya Surya langsung seperti tahu apa yang akan sekretarisnya sampaikan.


"Persiapan sudah 100% Pak, karena besok adalah hari pembukaan R-Store di cabang ke-102. Tapi jika Anda ingin menunda, saya akan mengkomfirmasi kepada pihak-pihak terkait bahwa kita menundanya."


"Tidak, kita akan tetap melakukan grand opening besok. Jangan menundanya. Semua persiapan sudah selesai. Kita tidak bisa menunda itu karena menunda sama saja dengan membatalkan acara besok." Surya merasa Gina memperhatikannya. Dan melihat Gina melihat ke arahnya, Surya tersenyum.


"Tapi, Bapak masih harus berada di kampung halaman jadi apa sebaiknya kita tunda saja dulu."


"Aku akan kembali segera. Malam ini aku akan kembali ke sana. Dan aku pastikan besok aku sudah berada di sana."


"Oh, baiklah. Kalau begitu saya akan memesankan tiket untuk Anda kembali malam ini."


"Baiklah, terima kasih, Sandra." Setelah itu Surya menutup teleponnya.


Ia melihat Bapaknya sudah benar-benar sehat. Jadi ia merasa sudah cukup waktunya di kampung dan sudah saatnya ia mengajak Gina kembali ke kota.


Surya memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dan berjalan kembali mendekati Gina. Surya melihat Gina memperhatikannya lagi. Entah apa yang sedang difikirkan Gina tapi matanya seperti hanya terfokus padanya. Dan saat lebih dekat, Surya melihat Gina tersenyum padanya. Sekali lagi Surya dibuat bingung dengan sikap Gina yang akhir-akhir ini terasa aneh baginya. Gina menjadi lebih lunak dan lebih sering tersenyum padanya. Surya juga merasa Gina menjadi sering manja terhadapnya.


Meski agak heran dengan perubahan sikap Gina tapi Surya senang, paling tidak Gina tidak segalak sebelumnya. Menghadapi Gina yang galak benar-benar sangat merepotkan. Surya harus membuat kebal telinganya setiap mendengar omelan Gina. Belum lagi kalau itu disertai sikap seenaknya sendiri yang Gina lancarkan, Surya menjadi kuwalahan dibuatnya. Meskipun itu membuatnya kesulilan, tapi satu-satunya cara yang harus ia lakukan saat menghadapi Gina adalah tetap bersikap tenang dan berusaha tidak terpengaruh. Karena semakin ia tenang menghadapinya, terbukti Gina menjadi lunak secara perlahan.


Senyum Gina memang sangat manis dengan bibir berwarna lembut itu. Ia tahu bibir itu sedang tidak dipengaruhi oleh warna lipstik. Warna bibir Gina memang seindah itu karena perawatan yang Gina lakukan. Ia hanya akan memakai lipstik yang disarankan oleh dokter di klinik kecantikan dimana ia melakukan perawatan wajahnya. Dan melihat bibir indah itu tersenyum, bagaimana bisa Surya tidak tersihir untuk membalas senyumnya juga.


"Nona, kita harus segera kembali." Ujar Surya setelah ada di dekat Gina.


"Kenapa?" Gina mengerjapkan matanya sambil mendongak memandang Surya yang berdiri di dekat tempatnya duduk.


"Besok adalah pembukaan R-Store di cabang yang baru. Jadi kita harus hadir di sana."


"Apa kita tidak bisa menundanya? Aku masih betah ada di sini. Aku senang berada di tempat ini. Aku masih ingin berlibur." Alasan Gina.


"Iya mas, kenapa buru-buru kembali. Mbak Gina masih mau di sini." Tambah Ayu mendukung Gina.


"Bukan apa-apa, tapi persiapan pembukaan sudah selesai. Kalau kita menunda, maka akan ada banyak pihak yang kita buat merugi. Pengusaha jasa katering dan juga media yang akan membuat katalog terbaru R-Store harus membatalkan pekerjaannya. Padahal semua acara sudah tersusun dengan baik. Belum lagi karyawan yang bertugas di R-Store baru juga sudah dikomando untuk mulai bekerja besok. Itu akan membuat pihak-pihak terkait kecewa hanya karena kita, Nona." Jelas Surya.

__ADS_1


"Ahh, kau ini memang benar-benar duplikat Papa. Pantas saja Papa sangat menyukaimu bahkan melebihi aku, putrinya sendiri. Kau selalu sedetail ini." Jawab Gina.


"Kalau mengemukakan alasanmu dengan sangat jelas begitu aku jadi tidak bisa menolak lagi ajakanmu untuk pulang." Gina cemberut. Melihat itu Surya lalu duduk di depan Gina dan memandang wajahnya.


"Saya janji, saat kita memiliki waktu luang lagi saya akan mengajak Anda ke sini lagi." Bujuk Surya sambil memandang Gina lekat-lekat.


"Kapan?" Gina masih cemberut.


"Entahlah, tapi saya benar-benar berjanji."


"Kau? Berjanji? Aku bahkan tidak yakin kapan kau punya waktu luang. Saat sudah bekerja kau bahkan menjadi sangat sibuk. Jangankan untuk mengajakku pulang ke sini lagi. Kau mungkin bahkan tidak akan sempat mengajakku makan siang kecuali itu adalah makan siang bersama relasi." Mendengar itu Surya tersenyum.


Ia jadi ingat bahwa memang selama ini tidak pernah mengajak Gina makan siang selama bekerja di kantor yang sama. Ia selalu makan siang sendirian. Dan Gina selalu makan bersama Hanna. Ia tidak pernah mengajak Gina karena fikirannya tahu Gina tidak akan mau. Gina bukan istri yang menikah dengannya karena mencintainya. Jadi Surya cukup tahu diri untuk tidak mengajak Gina makan siang bersama dihari-hari biasa. Surya tahu sekali Gina pasti akan menolaknya. Lagipula ia juga tahu Gina sudah menjadi sangat dekat dengan Hanna jadi Surya membiarkan Gina menikmati hari-harinya dengan nyaman sesuai keinginannya.


Tapi wajah Gina sangat menggemaskan saat cemberut seperti itu. Hampir saja Surya lupa diri dan ingin sekali mencubit hidung mancungnya karena saking gemasnya.


"Baiklah, Nona. Apapun kesibukan saya, Anda boleh membuat acara apapun dengan saya." Surya membujuk Gina agar tidak cemberut lagi.


"Benarkah?" Gina kini memandang Surya dengan binar mata penuh harap. Mata itu sebelumnya terlihat merasa sendu saat menyampaikan keluhannya. Melihat itu, Surya mengangguk pasti.


"Kau akan menemaniku makan siang? Makan malam? Dan semua hal yang ku inginkan kau akan memenuhinya?"


"Baiklah, kalau begitu ayo kita berkemas." Wajah Gina berubah cerah kembali dengan senyum lebar menghiasi. Ia juga sudah berdiri dari duduknya sekarang. Terlihat sangat bersemangat dan beranjak untuk pulang ke rumah Surya mengemasi barang-barangnya.


"Mas, kau jangan terlalu kejam menjadi seorang suami." Ujar Ayu yang berjalan disamping Surya sambil menenteng rantang bekas makanan mereka. Surya hanya tersenyum menanggapinya.


"Bagaimana bisa kau membiarkan istrimu selalu sendirian begitu."


"Kau ini anak kecil tahu apa." Surya masih berjalan santai sambil melihat Gina yang sudah berada jauh dari mereka berjalan diantara tumbuhan cabe yang tadi buahnya dipetik oleh mereka.


"Mas Surya tidak melihat bagaimana Mbak Gina memohon begitu."


"Memohon?"


"Ahh, dasar para pria memang sering sekali tidak peka. Padahal itu bukan lagi sebuah kode yang harus kau pecahkan tapi sebuah ungkapan yang sangat jelas bisa dibaca." Ayu menggelengkan kepalanya beberapa kali menyesalkan ketidakpekaan Surya. Sedangkan Surya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal memikirkan ucapan Ayu.


🌸🌸🌸


Gina menyandarkan kepalanya pada sandaran headrest Innova Reborn milik Surya yang dibeli untuk orang tuanya di kampung. Awalnya orang tua Surya menolak pemberiannya ini, tapi Surya memaksa agar orang tuanya merasa nyaman jika bepergian.

__ADS_1


"Bapak dan ibu sudah tidak muda lagi. Jangan menaiki motor untuk perjalanan jauh. Aku tidak ingin Bapak dan Ibu masuk angin." Bujuk Surya.


"Kau ini, memangnya dari dulu kami naik apa? Sebelum kau belikan motor, kami bahkan naik angkutan desa. Ibumu kalau ke kondangan di tetangga jauh kampung malah naik mobil pick up dan baik-baik saja. Iya kan, Bu?" Ibu Surya mengangguk.


"Tapi itu berbeda, Pak. Sekarang aku bisa memberikan Bapak dan Ibu mobil jadi jangan naik motor kalau pergi ke tempat jauh."


"Bapak kan tidak bisa menyetir mobil. Bagaimana kami bisa memakai? Bapak juga sudah terlalu tua untuk belajar. Bapak sudah malas." Kilah Bapaknya.


"Bapak tidak usah khawatir, aku sudah berbicara dengan Joko dan dia siap menjadi sopir Bapak dan Ibu. Kapanpun Bapak dan Ibu butuh diantar kemana-mana, Joko akan selalu siap."


"Wah, kau juga bahkan membayar joko untuk jadi sopir pribadi sekarang? Bukan cuma jadi buruh tani saja?"


"Iya , Pak?"


"Apa Joko bisa menyetir mobil sebagus ini? Mobil ini mahal kan, Sur?"


"Bisa Pak, pada dasarnya semua mobil sama. Aku tahu Joko sudah sering membawa mobil pick up Pak Kades untuk mengangkut gabah dari sawah. Jadi membawa mobil ini juga pasti bisa."


"Kau ini, mobil pengangkut gabah kau samakan dengan mobilmu yang sebagus ini."


"Bapak, pokonya percayakan semua pada Joko." Bujuk Surya.


"Ya sudah terserah kau saja. Toh mobil juga sudah kau beli. Mau bagaimana lagi." Gerutu Bapak Surya. Ibu Surya hanya menyimak perbincangan suami dan anaknya itu tanpa berkomentar apapun karena memang ia membiarkan itu menjadi urusan para pria dirumahnya.


Jadilah sekarang Joko juga yang mengantar Surya dan Gina menuju ke bandara. Mereka benar-benar kembali ke kota malam ini. Dari kursi tengah, Gina melihat Surya yang berbincang dengan Joko. Mereka cukup akrab kalau dikatakan hanya bertetangga. Mereka juga sangat dekat walaupun Joko adalah orang kepercayaan Surya yang menggarap semua sawah dan kebun serta menjadi orang yang bertugas mengantar bapak dan ibunya.


"Kenapa terburu-buru kembali, Mas?" Tanya Joko disela obrolan mereka membicarakan tentang sawah dan kebun milik Surya yang dikerjakan olehnya selama ini.


"Sebenarnya bukan buru-buru tapi kami memang harus kembali. Besok ada pekerjaan yang harus kami kerjakan."


"Wah, kau memang selalu begitu ya, Mas. Selalu saja sibuk." Joko lalu tertawa menyindir.


"Iya, orang sepenting diriku memang sesibuk itu." Surya menarsiskan diri lagi. Gina tersenyum kecut mendengarnya.


"Iya iya, aku tahu. Melihat dari kesuksesanmu aku memahami seberapa sibuknya dirimu, Mas." Surya hanya tersenyum menanggapi Joko.


"Tapi Mbak Gina, jangan sampai karena kesibukannya, Mas Surya jadi mengabaikanmu." Gina yang tiba-tiba menyebut namanya jadi gelagapan karena sejak tadi ia memang menyimak pembicaraan mereka.


"Oh iya, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kalau sampai dia melakukan itu, aku akan mengadu pada Ibu."

__ADS_1


"Tindakan Mbak Gina tepat sekali. Laporkan saja Mas Surya pada pihak berwajib. Biar Mas Surya mendapat sanksi." Setelah itu Joko tertawa dan diikuti Gina. Surya juga ikut tertawa. Sekilas ia melihat Gina dari kaca spion tengah mobil. Ia melihat saat tertawa begitu wajah Gina menjadi segar. Dengan pipi kemerahan dan bibir berlipstik warna nude sangat enak dipandang. Mata laki-lakinya mulai berbicara. Dan berkali-kali membuatnya jadi mencuri pandang ke arah Gina selama menempuh perjalanan ke bandara.


__ADS_2