Tahta Surya

Tahta Surya
Dua Sejoli


__ADS_3

Surya mengendarai mobil dengan santai dan mendengarkan berbagai ucapan Gina. Sebuah kebiasaan baru setiap mereka bersama. Surya seperti menemukan sisi lain Gina yang baru ia tahu. Ketika dulu ia melihat Gina adalah gadis yang cuek dan angkuh, tetapi saat semakin akrab dan menjadi lebih dekat lagi, ternyata Gina adalah orang yang suka bercerita. Mungkin itu karena Gina tidak memiliki banyak teman, sehingga begitu akrab dengan seseorang, Gina akan menjadi sangat dekat.


"Kau tahu, Surya. Sekarang aku bahkan tidak bisa mengajak Hanna pergi ke warung sate. Dia selalu mual setiap mencium aroma daging bakar. Dia juga tidak suka aroma coklat panasku." Celoteh Gina yang masih selalu disimak oleh Surya dengan saksama.


"Padahal aroma coklat sangat harum. Tapi Hanna malah muntah-muntah setiap mencium aromanya. Itu membuatnya harus lebih sering bersama Feby daripada bersamaku. Dia lebih sering berada di luar ruangan sekarang." Suara Gina mengeluh.


"Tapi aku bisa apa? Toh itu juga bukan kemauannya. Dia seperti itu karena efek samping dari kehamilannya. Kau tahu, Hanna sekarang menjadi sedikit kurus. Dia mengatakan padaku kalau dia tidak berselera makan akhir-akhir ini. Dia membenci nasi. Bagaimana mungkin orang dengan makanan pokok nasi saat hamil tiba-tiba sangat membenci nasi. Ternyata hamil itu sangat menyulitkan ya. Kata Hanna, sehari-hari dia hanya makan biskuit yang berbahan gandum yang ia makan dengan susu." Ujar Gina sambil tertawa.


"Begitulah Nona. Itulah kenapa seorang Ibu selalu disebut sebagai makhluk yang sangat mulia. Demi mengandung bayinya, mereka harus menjalani penderitaan-penderitaan semacam itu. Itu masih tentang kehamilan. Bagaimana dengan melahirkan? Menyusui? Merawat?" Jelas Surya. Gina memandang Surya lekat-lekat dari arah samping seperti itu.


"Ya Tuhan... kenapa sangat complicated?" Keluh Gina.


"Kalau itu terasa complicated, lalu kenapa banyak ibu yang memiliki anak lebih dari satu?" Tanya Surya sambil tersenyum kepada Gina.


"Entahlah... pasti karena mereka tidak mengikuti program pemerintah Keluarga Berencana." Jawab Gina asal. Surya tertawa mendengar itu.


"Sepertinya sebagian besar bukan karena itu, Nona."


"Apa coba? Mereka dengan senang hati menyiksa diri sendiri?" Jawab Gina lagi dan itu adalah jawaban yang lebih konyol.


"Sepertinya, itu karena mereka ingin melestarikan keturunan." Jawab Surya selanjutnya ia sendiri tertawa. Sedangkan Gina mengerutkan kening mendengar jawaban Surya yang sama sekali terdengar tidak mungkin diucapkan oleh seseorang seperti Surya.


"Tentu saja bukan karena itu saja, Nona. Karena itu hanya sebagian kecil dari faktor-faktor kenapa wanita menjalani kehamilan mereka dengan senang hati dan tidak merasa keberatan. Kelelahan dan rasa tidak nyaman yang mereka rasakan akan terhapuskan dengan kehadiran anak-anak yang bisa membuat mereka bahagia, bersemangat menjalani kehidupan." Suara Surya sudah terdengar lebih tenang sekarang.


"Benarkah seperti itu?" Gina bergumam seperti bertanya pada dirinya sendiri.


"Ngomong-ngomong, darimana kau tahu hal itu? Kau saja belum memiliki anak. Kau juga seorang pria. Bagaimana bisa kau memiliki argumentasi semacam itu?" Tanya Gina menyelidik.


"Saya hanya mengamati saja, Nona. Saya sering melihat beberapa wanita yang sangat menyayangi anak-anak mereka bahkan melebihi dirinya sendiri. Jadi, karena itu saya berfikir bahwa kehamilan adalah sesuatu yang membahagiakan walau seberat dan setidak nyaman apapun rasanya." Gina diam menyimak ucapan Surya dan memikirkannya lagi apakah memang benar seperti itu adanya.


"Jangan mengkhawatirkan apapun, Nona. Saya sudah pernah menjadi suami Anda jadi Anda sudah tahu baik bagaimana ketika saya menjadi seorang suami." Ujar Surya dengan senyum lebar tapi pandangannya masih menatap lurus ke depan jalan yang ia lewati. Sedangkan Gina seketika memandang Surya tajam.


"Hei, apa itu? Kau ini memang pandai sekali melakukan hal yang seperti ini. Kau mempromosikan dirimu dengan sangat piawai." Tawa Surya pun meledak mendengar cibiran Gina. Dan mobil mereka masih berjalan dijalanan yang sudah menjadi gelap sekarang. Senja telah berganti malam seiring perasaan cinta antara Gina dan Surya yang berganti secara perlahan semakin dalam.


Hanna duduk diam di dalam mobil. Marco masih merasa canggung sejak kepergian Hanna waktu itu. Ia menjadi harus lebih hati-hati dalam bersikap kepada istrinya yang sedang mengandung. Entah karena masih ada sisa kemarahan kepadanya atau sikapnya berubah-ubah dan menjadi labil karena dipengaruhi oleh hormon progesteron dan estrogen selama hamil muda, Marco berusaha menjaga agar Hanna tidak menjadi marah karena tindakannya walau sekecil apapun. Ia tidak ingin kemarahan Gina bisa mempengaruhi kehamilannya apalagi memberi efek buruk kepada calon bayinya. Sehingga Marco benar-benar berusaha menjaga suasana hati Hanna agar tetap baik dan berusaha membuatnya senang.


"Hanna, kau ingin makan apa?" Tanya Marco lembut.


"Entahlah." Jawab Hanna masih sedingin biasanya. Ia juga belum ingin bersikap manis kepada Marco. Sebenarnya Hanna sudah tidak semarah itu kepadanya. Tapi ia merasa harus bersikap jauh lebih tegas daripada selanjutnya karena merasa Marco harus benar-benar menghentikan kebiasaan buruknya yang suka 'bermain-main' dengan para wanita.


"Apakah sesuatu yang asam?" Tanya Marco lagi mengharap Hanna akan memberinya petunjuk apa yang ingin ia makan.


"Ini malam hari. Bagaimana bisa aku makan makanan asam. Bisa-bisa besok pagi perutku sakit."


"Oh iya." Marco mencoba berfikir lagi kira-kira makanan apa yang ingin istrinya makan untuk makan malam mereka malam ini.


"Martabak manis pasti enak. Dengan toping keju kesukaanmu."


"Aku mual saat makan makanan manis."

__ADS_1


"Baiklah..." Marco berfikir lebih keras agar bisa membuat Hanna makan malam ini.


Beberapa hari ini Hanna melewatkan makan malam dan hanya meminum susu sebelum tidur. Saat Marco bertanya kenapa, ia hanya menjawab tidak berselera makan. Perutnya terasa tidak nyaman dan sering mual-mual. Marco tahu itu pasti karena efek samping dari kehamilannya, tapi tetap saja ia merasa iba kepada Hanna yang sedang mengandung bayinya.


Tiba-tiba Marco teringat sesuatu dan kemudian mengarahkan mobilnya ke suatu tempat.


"Kita bukan berada dijalur pulang. Kau akan ke mana?" Tanya Gina hera melihat Marco memutar jalan dan bukan menuju ke rumah mereka.


"Kita akan ke suatu tempat, kau tenang saja." Ujar Marco sambil tersenyum kepada Hanna. Hanna hanya bisa diam dan berpura-pura tidak begitu peduli apapun yang akan Marco lakukan untuknya.


Surya masih mengendarai mobilnya di tengah keramaian jalan utama pusat kota. Gina juga menikmati sekeliling dengan berbagai kendaraan yang beriringan dengan mobil yang ia naiki. Sesekali mereka berbincang tentang aktifitas mereka masing-masing seharian ini dan menceritakan segala hal bahkan kadang itu bukan hal penting. Sepertinya mereka cukup menikmati kebersamaan mereka saat ini.


"Jadi, Anda mau kemana, Nona?" Tanya Surya masih memegang setir dengan santai.


"Aku akan ikut kemanapun kau pergi." Ujar Gina yang lalu kemudian tertawa. Ia jadi merasa lucu sendiri mengatakan hal itu. Sedangkan Surya tersenyum lebar menyaksikan tingkah Gina yang konyol begitu.


"Ya Tuhan, aku sampai merinding mengatakan itu." Gina masih dengan sisa tawanya.


"Kenapa saat mendengarnya di dalam film itu terdengar romantis. Tapi ketika aku mengatakannya di dunia nyata rasanya jadi menggelikan."


"Karena saat di dalam film drama semua itu didukung dengan berbagai hal, Nona. Backsound, pencahayaan, dan ekspresi pemainnya, sehingga kita dibuat hanyut dan larut dalam alurnya. Tapi yang Anda lakukan barusan hanya sesuatu yang iseng saja."


"Hei, aku tidak sedang iseng. Aku memang serius mengatakan itu dan akan ikut kemanapun kau mengajakku."


"Benarkah? Tapi Anda seperti tidak mengatakannya menggunakan perasaan."


"Mari kita sering berdebat hal-hal lucu dan tidak begitu penting seperti ini, Nona." Kalimat Surya setelah tawanya mereda.


"Ini sangat menyenangkan." Gina mengangguk dan tersenyum. Mereka berdua benar-benar sedang dimabuk cinta sekarang. Apapun yang terasa ketika mereka sedang berdua seperti ini rasanya sangat indah.


"Jadi, akan ke mana kita, Nona?"


"Aku juga bingung. Kalau makan, hampir setiap keluar bersama kita selalu makan di tempat yang enak-enak. Kafe milikmu, angkringan Rejo dan semua tempat makan yang enak sudah pernah kita datagi bahkan sampai kedai serabi juga sudah pernah kita coba." Gina mengingat-ingat tempat makan apa lagi yang sudah pernah ia datangi bersama Surya.


"Ku rasa kita benar-benar pasangan wisata kuliner sejati." Gina lalu terkekeh setelah mengatakan kalimat terakhirnya.


"Bagaimana kalau kita ke rumahmu? Ayo kita memasak dan makan di sana." Ajak Gina dengan bersemangat.


Sebenarnya ia melakukan itu bukan tanpa tujuan. Sudah lama Gina penasaran dimana sekarang Surya tinggal setelah menjual rumahnya. Tanda 'Rumah Dijual' yang tertulis di depan pagar Rumah Surya saat Gina datang dengan maksud mencarinya setelah mereka berpisah waktu itu membuat Gina ingin tahu dimana sekarang rumahnya yang baru.


"Ehhem... sebenarnya saya jarang pulang ke rumah akhir-akhir ini, Nona."


"Kenapa?" Tanya Gina penasaran dan otaknya mulai berfikir tentang banyak hal atas jawaban Surya. Ia berfikir sepertinya Surya sengaja menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan bahwa ia sudah menjual rumahnya. Tapi yang membuat Gina semakin penasaran adalah kenapa ia menjual rumahnya kemudian merahasiakan dari dirinya. Itu membuat rasa keingintahuan Gina semakin besar.


"Warung sedang ramai dan juga kafe sedang dalam masa berkembang. Saya lebih sering berada di sana untuk memantau lebih dekat. Lagipula pulang pergi setiap hari dan harus berputar-putar memeriksa setiap warung cukup melelahkan, sehingga saya lebih suka tinggal di warung agar tidak terlalu membuang banyak tenaga." Jelas Surya dan tidak lupa memberi Gina senyuman.


"Begitu ya." Gina mengangguk mengerti apa yang Surya jelaskan. Tapi tetap saja ia memiliki kecurigaan atas jawaban Surya dan masih penasaran dengan tempat tinggalnya yang sekarang.


"Bagaimana kalau kita makan nasi bebek. Saya tahu warung nasi bebek yang sangat enak di dekat sini, Nona."

__ADS_1


"Benar-benar kau ini. Kau pengusaha kuliner pemilik warung angkringan, tapi bisa-bisanya makan malam dengan nasi bebek. Kau tidak takut di cap penghianat oleh warungmu sendiri?" Ujar Gina sambil tertawa kecil melihat bagaimana Surya selalu memiliki daftar tempat makan enak yang bisa ia rekomendasikan sedangkan ia sendiri adalah pemilik warung angkringan yang sangat terkenal dan memiliki cita rasa yang bisa diperhitungkan.


"Apa karena saya pemilik warung angkringan lalu setiap hari saya juga harus makan angkringan, Nona?" Jawab Surya.


"Itu tidak adil sama sekali. Saya juga harus membantu perekonomian negeri ini dengan membeli dagangan orang lain agar tingkat ekonomi masyarakat juga menjadi merata. Tingkat perekonomian yang merata dengan taraf kemakmuran yang tinggi akan membuat negara ini, oh, paling tidak kota ini menjadi kota yang sejahtera, Nona." Kalimat Surya masih dengan mengendari mobilnya.


"Ya Tuhan, kau ini ternyata tidak hanya bisa menjadi menteri sosial, tapi bahkan kau bisa menjadi menteri ekonomi juga kalau begini." Cibir Gina. Surya hanya tersenyum menanggapi itu.


Mereka pun tiba disebuah warung nasi bebek tenda setelah mobil Surya berjalan beberapa jauh kemudian. Gina mengikuti Surya yang masuk ke dalam warung tenda itu dan duduk di sebuah kursi plastik setelah Surya memesan dua porsi untuk Gina dan untuk dirinya sendiri. Beberapa saat mereka duduk, seorang anak buah warung mengantarkan minuman. Gina dengan teh hangat favoritnya dan Surya dengan es jeruknya.


"Sambal di sini adalah sambal yang dibuat secara langsung, Nona. Seperti sambel uleg. Saya suka makan di sini karena itu bisa mengobati rindu saya dari sambal buatan ibu. Sambalnya terasa khas."


"Baiklah, aku akan mencobanya. Apakan itu benar-benar seperti review yang kau berikan." Malam ini hanya ada beberapa pengunjung yang datang sehingga pesanan mereka bisa siap dengan tidak memakan waktu yang lama.


Suapan pertama, Gina menganggukan kepalanya kepada Surya tanda bahwa apa yang pria itu katakan memang benar. Gina memang sudah tidak memiliki kata-kata apapun untuk Surya selain hanya bisa menyebutnya sebagai master wisata kuliner.


"Bebeknya empuk dengan bumbu yang meresap ke dalam dagingnya. Sambalnya juga enak, tidak terlalu pedas tapi tetap terasa segar antara manis, asam, asin dan gurihnya." Gina menjelaskan apa yang ia rasakan saat memakan bebek goreng tadi. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Nona, apa sebaiknya kita membuat sebuah konten tentang mereview kuliner di negeri ini seperti para vloger-vloger itu?"


"Tidak, aku tidak mau. Aku sudah kapok ketika banyak orang melihat wajahku sebagai brand ambassador R-Company dan membicarakanku kemudian."


"Tapi itu bisa membuat Anda jadi populer Nona."


"Aku tidak berminat menjadi selebriti ketika kemudian banyak tawaran masuk padaku untuk tampil di layar kaca." Ujar Gina dengan percaya diri. Surya menahan tawa mendengar kenarsisan yang diucapkan oleh kekasihnya itu.


"Baiklah, saya rasa itu juga terlalu berbahaya. Saya pun sebenarnya tidak bisa jika Anda melakukan itu. Saya tidak ingin terlalu banyak mata menikmati kecantikan Anda."


"Wah... aku suka sekali pria posesif yang membuatku merasa sangat berharga dan lebih berharga dari apapun." Goda Gina. Itu membuat Surya tersipu karena telah ketahuan sebesar apa dirinya menyukai Gina hingga ia bahkan tidak ingin orang lain juga menikmati wajah rupawannya.


"Aku mencintaimu." Ujar Gina tiba-tiba. Surya memandang Gina dengan tangan yang masih memegang setir.


"Hei, perhatikan jalan di depanmu." Gina mengingatkan karena Surya tidak juga mengalihkan pandangan ke depan lagi.


"Saya juga mencintai Anda, Nona. Lebih, lebih dan akan selalu lebih." Jawab Surya yang sudah kembali memandang ke depan.


"Kau ini sangat menggemaskan." Gina mencubit pipi Surya. Surya terkesiap dan membuatnya menoleh ke arah Gina segera. Tangan hangat Gina ketika menyentuh pipinya membuatnya merasakan hal yang aneh.


"Kenapa?" Tanya Gina melihat Surya memandangnya seperti itu. Gina menjadi tidak enak hati melihat tanggapan Surya.


"Tidak apa-apa, Nona." Jawab Surya kemudian kembali memandang jalan di depannya.


Surya memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah Gina. Ini adalah pertama kalinya ia mengantar Gina yang sebagai pacarnya pulang ke rumah. Biasanya Gina akan tetap pulang kembali ke rumah dengan mobilnya sendiri. Tapi kali ini ia membiarkan Surya mengantarnya dan meninggalkan mobilnya terparkir di R-Company. Gina merasa sudah siap jika kedua orang tuanya mengetahui hubungannya dengan Surya. Ia tidak mungkin terus menerus merahasiakannya. Saat Gina sudah memutuskan untuk menerima cinta Surya, ia pun telah siap untuk menerima apapun tanggapan dari kedua orang tuanya.


"Terima kasih." Ucap Gina sebelum turun dari mobil Surya.


"Tunggu, Nona." Gina mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil ketika Surya melarangnya. Ia pun membalik badan menghadapi Surya.


"Ada apa?" Tanya Gina. Surya tidak segera menjawab. Ia hanya lalu mendekati Gina semakin dekat dan semakin dekat. Melihat hal itu Gina menjadi gelisah ia tidak tahu harus melakukan apa. Wajah Surya semakin mendekati wajahnya sehingga berada sedekat itu Gina pun berinisiatif untuk memejamkan mata dan menunggu tindakan Surya selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2