Tahta Surya

Tahta Surya
Makan Siang


__ADS_3

Gina keluar dari dalam mobil dan berjalan mendahului Surya. Surya yang melihat itu jadi merasa aneh. Ia menjadi bingung kenapa Gina seperti menghindarinya. Sejak dalam perjalanan tadi Gina juga tidak mengeluarkan kata-kata apapun. Ia tidak mau ucapannya bisa membuatnya lebih malu lagi pada akhirnya. Seperti yang ia ucapkan tadi pagi saat menemani Surya memasak.


"Jadi, apa itu artinya kau juga bisa menyukai orang yang bahkan tidak bisa melakukan apapun yang seharusnya itu adalah tugasnya?"


"Maaf, Nona?"


Gina baru sadar dengan apa yang diucapkannya. Ia tidak tahu harus berkata apa.


"Ehhem... maksudku, kau tahu kan. Emmm... itu... maksudku..." Gina menjadi terbata tidak jelas. Surya berusaha menyimak Gina agar ia tidak salah. Karena sedikit saja ia melewatkan itu, bisa jadi Gina akan marah padanya.


"Iya, Nona?" Surya masih menanti penjelasan Gina.


"Ahh, sudahlah lupakan. Ku pikir kau orang yang pandai ternyata sama saja. Kau tidak secerdas itu." Gina lalu turun dari kursinya dan keluar dari dapur. Meninggalkan Surya yang kebingungan.


"Haduh... dasar bocah-bocah ingusan. Begitu saja tidak becus. Nona Gina kenapa tidak berterus terang saja. Dan juga, Pak Surya kenapa bisa tidak tahu maksudnya. Padahal itu sudah jelas sekali." Gumam Mbak Yuyun gemas dari depan pintu ruang penyimpanan makanan disamping dapur. Ia sengaja meninggalkan dua orang itu tadi untuk memberi ruang pada mereka berbincang layaknya suami istri.


"Ahh, kenapa aku mengatakan itu. Seharusnya aku hanya menyimpannya di dalam kepalaku saja. Kenapa bisa keluar tanpa ku sadari." Gina menyesali kebodohannya lagi.


Sampai sekarang pun Gina masih menyesali itu dan berharap Surya tidak akan menanyakannya lagi. Tapi memang sepertinya Surya tidak membahasnya lagi. Saat mereka berada di mobil pun Surya tidak menanyakannya. Ia terlihat tidak peduli dan itu membuat Gina sedikit lega. Hanya saja yang membuat Gina tidak tenang adalah kenapa fikiran itu timbul di kepalanya? Kenapa ia berharap Surya bisa menerima dirinya yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sama sekali? Itu adalah hal paling bodoh yang pernah ia fikirkan seumur hidupnya.


Dengan segala fasilitas dan pelayanan yang ia terima, Gina tidak pernah peduli apa ia bisa memasak atau bahkan hanya sekadar mencuci piring. Ia benar-benar menikmati hidupnya tanpa terbebani dengan kemampuan dasar sebagai wanita yang adalah bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi melihat Surya bisa melakukan segala hal terutama saat ia pandai melakukan pekerjaan rumah tangga, itu membuat Gina sedikit minder. Pertama kali dalam hidupnya ia merasa memiliki kekurangan.


Saat mendekati pintu lift, Gina melihat Hanna berdiri di salah satu sudut lobi. Gina bermaksud memanggil tapi ia urungkan niatnya karena ia melihat Hanna sedang bersama Bayu. Ia lihat dari ekspresi wajah Hanna, sepertinya mereka sedang terlibat sebuah perdebatan. Dan beberapa saat kemudian Hanna meninggalkan Bayu dengan wajah yang tampak marah.


"Pertengkaran pasangan. Lalu setelah itu akan berbaikan kembali dan sayang-sayangan lagi. Itu manis sekali." Gumam Gina mengomentari secara sepihak apa yang ia lihat dari Hanna dan Bayu baru saja.


Gina sengaja segera masuk ke dalam lift dan tidak menunggu Hanna masuk juga. Ia akan berpura-pura tidak melihatnya tadi. Dan benar, Hanna dengan setengah berlari mencoba memburu lift yang pintunya hampir tertutup itu.


"Hei, Hanna..." Sapa Gina melihat Hanna membuat sensor pintu lift terbuka kembali.


"Nona..." Hanna tidak menyangka orang di dalam lift itu adalah Gina.


Mereka menaiki lift yang sama. Gina benar-benar mengunci mulutnya untuk tidak mengomentari apa yang ia lihat diantara Hanna dan Bayu karena ia melihat ada mendung di wajah Hanna. Pasti sekarang fikirannya sedang kacau setelah bertengkar dengan pacarnya.


"Oh iya, Hanna. Untuk pemesanan bahan baku steinless steal harus kita tambahkan lagi karena informasi yanh ku dapat dari pihak marketing bahwa produk rak berbahan steinless steal sangat diinginkan oleh konsumen." Gina mencoba mengajak Hanna mengobrol. Siapa tahu itu bisa mengalihkan fikirannya dari masalah yanh sedang ia alami.


"Benar, Nona. Kita harus menaikkan jumlah permintaan bahan."


"Ayo kita lakukan setelah ini."


"Baik, Nona." Hanna tersemyum patuh pada Gina.


Sementara itu Surya memasuki ruang kerjanya dan melihat ada beberapa berkas yang diletakkan oleh sekretarisnya sebelum ia datang tadi.


Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh Pak Rangga waktu itu. Bahwa seharusnya ia mengangkat asisten pribadi juga untuk membantu pekerjaannya. Bukan selalu sekretarisnya yang membantu pekerjaannya yang lumayan banyak.


Sebenarnya Surya merasa tidak membutuhkan asisten karena ia merasa mampu mengerjakannya sendiri dan sangat menguasai bidang ini. Sehingga ia merasa akan baik-baik saja tanpa asisten pribadi. Hanya saja, sekretarisnya menjadi lebih sibuk sekarang dengan pekerjaan yang ia tugaskan.


🌸🌸🌸


Gina membolak balik berkas yang ia baca. Hari ini tingkat konsentrasinya pada pekerjaan seperti sedang menurun. Ia masih memikirkan tentang apa yang ia katakan pada Surya tadi pagi. Apa benar ia mengharapkan Surya? Menginginkan Surya agar bisa memahami dirinya. Menurut Gina itu sangat konyol.


Menyebalkan. Kenapa aku harus seperti ini. Kenapa aku memikirkannya terus. Bukankah seharusnya aku tidak peduli dengan hal itu. Aku tidak akan repot-repot bekerja di dapur. Aku punya Mbak Yuyun yang mengerjakan semuanya. Ya, benar. Gina menghela nafas panjang. Ia mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa dizaman sekarang bukan hal yang wajib bagi wanita mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ada asisten rumah tangga yang bisa mengerjakan semuanya. Begitulah menurut Gina.


"Hanna..." Panggil Gina pada Hanna yang sibuk di depan laptopnya.


"Iya Nona." Hanna mengalihkan pandangan dari laptop ke arah Gina.

__ADS_1


"Apa kau bisa memasak?" Pertanyaan Gina yang tiba-tiba tidak berhubungan dengan pekerjaan kali ini membuat Hanna mengerutkan kening.


"Bisa, Nona."


"Masakan apa yang kau bisa?" Lagi-lagi Hanna heran dengan pertanyaan Gina.


"Makanan pokok kita adalah nasi. Apa kau bisa memasak nasi?"


"Nasi? Tentu saja bisa, Nona. Saat ini memasak nasi tidak serumit dulu."


"Oh iya ada alat penanak nasi listrik." Jawab Gina seperti pada dirinya sendiri.


"Tapi tetap saja aku pun tidak bisa memasak nasi dengan penanak nasi listrik." Lalu Gina terkekeh. Hanna tersenyum mendengarnya.


"Masakan apalagi yang kau bisa, Hanna?"


"Sayur, lauk. Ya seperti itu, Nona."


"Sayur apa?"


"Sayur bayam, sayur asam, sop, soto dan yang lainnya, Nona."


"Kau bisa memasak banyak masakan." Gina takjub.


"Kau bisa memasak bali?"


"Bali?" Hanna balik bertanya karena merasa heran.


"Iya, bali ayam, bali telur, bali daging."


"Oh, iya saya bisa, Nona."


"Tidak Nona." Hanna tertawa kecil sambil menjawab pertanyaan Gina.


"Kau keren sekali." Hanna ingin sekali tertawa mendengar pujian Gina. Hanya karena itu ia dianggap keren.


"Mungkin karena saya sudah terbiasa, Nona. Dulu saat awal belajar memasak saya juga sering menangis setiap mengupas bawang."


"Oh, jadi itu tergantung kebiasaan ya?"


"Saya rasa begitu, Nona."


"Oke, baiklah..." Gina manggut-manggut faham atas apa yang dikatakan Hanna.


Masih sibuk dengan fikirannya, tiba-tiba ponsel disampingnya berdering. Terlihat nama Surya di layar ponselnya. Gina masih canggung jika harus berhadapan dengan Surya sehingga ragu-ragu ia mengangkat telepon dari Surya.


"Iya." Jawab Gina dibuat sedatar mungkin. Padahal jantungnya sedang berdebar kencang sekarang.


"Mari kita makan siang, Nona." Ajak Surya dari pembicaraan lewat telepon itu.


"Apa ada acara mendadak dengan relasi?" Tanya Gina masih dengan mengendalikan perasaannya.


"Tidak Nona, saya memang ingin makan siang dengan Anda." Mendengar itu tanpa sadar bibir Gina tersenyum senang. Ini adalah kali pertama Surya mengajak makan siang bersama selama mereka menikah.


"Baiklah..." Jawab Gina masih berusaha sebiasa mungkin walaupun hatinya melompat-lompat kegirangan.


Gina merasa heran sendiri kenapa harus langsung mengiyakan ajakan Surya. Bukankah sepagian tadi ia berusaha menghindarinya karena takut Surya menanyakan kembali maksud dari perkataannya. Tapi sekarang dia malah sangat senang Surya mengajaknya. Apa ini karena pertama kalinya Surya mengajaknya makan bersama tanpa ada acara apapun yang berhubungan dengan pekerjaan? Sehingga acara makan siang akan hanya mereka lakukan berdua saja.

__ADS_1


Gina menutup telepon masih dengan senyum di wajahnya. Perasaan Gina benar-benar labil. Kadang canggung, kadang senang. Kadang sebal, kadang suka. Itulah yang akhir-akhir ini dirasakan kepada Surya.


"Hanna, aku akan makan siang bersama Surya." Gina mengatakan itu dengan wajah sumringah.


"Iya, Baik Nona."


"Makan sianglah dengan Bayu. Karena selalu menemaniku, kau jadi jarang punya waktu untuk pacarmu."


"Iya, Nona." Hanna mengulas senyum. Gina keluar dari dalam ruangannya meninggalkan Hanna yang masih merapikan pekerjaannya.


Gina berjalan keluar dari lobi R-Company. Dari tempat Gina berdiri, ia bisa melihat Surya di samping mobilnya. Dengan setelan warna gelap, dengan rambut berpomade rapi dan kaca mata hitamnya, kali ini Surya terlihat sangat tampan dimata Gina. Ia benar-benar sedang sangat jatuh cinta kepada Surya saat ini. Saat Surya melihat Gina berjalan ke arahnya, ia menyambutnya dengan senyuman. Melihat itu Gina menjadi semakin suka terhadap Surya. Ia merasa tidak ada senyum yang paling indah selain senyum yang Surya berikan padanya.


"Kita akan makan siang dimana?" Tanya Gina saat sudah dekat.


"Di tempat yang akan Anda sukai." Jawab Surya dengan senyum hangatnya.


"Dimana?" Gina penasaran. Surya tidak menjawab dan hanya tersenyum saja. Gina menjadi gemas.


"Hei, dimana Surya?" Surya masih tidak ingin menjawab dan malah naik ke dalam mobil. Gina mengikutinya.


Mobil mereka masih berjalan melintasi jalan raya di siang yang panas ini. Karena Surya tidak juga memberitahunya, akhirnya Gina menyerah dan membiarkan Surya membawanya ke tempat yang masih di rahasiakannya itu. Tapi akhirnya dari jalan yang Gina kenal, ia tahu akan kemana tujuan mereka.


"Surya, kau mau ke..."


"Benar, Nona. Tempat dengan makanan penutup puding coklat. Favorit Anda."


"Kau tahu tempat itu?" Gina memandang Surya yang masih menyetir. Surya mengangguk.


"Bagaimana kau tahu?"


"Saya tahu banyak hal lebih dari yang Anda sadari, Nona."


"Oh iya kau pernah menjadi mata-mata yang dikirim oleh Papa." Gina tertawa. Surya juga tersenyum lebar melihat Gina menyadari hal itu.


"Jadi, sebanyak apa yang kau tahu tentangku?"


"Banyak sekali."


"Iya, tapi sejauh apa?"


"Anda suka semua makanan yang memiliki rasa coklat. Anda lebih suka teh daripada kopi. Anda tidak suka makanan pedas dan asam. Anda suka memakai rok daripada celana. Anda suka memakai sepatu hak tinggi. Anda sangat menyukai Bruno Mars. Dan saya akan butuh nasi dua piring untuk mengatakan semua pengetahuan saya tentang Anda." Mendengar itu Gina tertawa. Matanya berbinar memandang Surya yang tahu banyak hal tentangnya.


"Oh iya, pengetahuan saya juga bertambah akhir-akhir ini. Saat tidur Anda suka menghabiskan tempat. Kadang juga mendengkur."


"Apa? Tidak mungkin. Aku tidak pernah mendengkur. Kau pasti berbohong." Gina tidak percaya dengan ucapan Surya.


"Apa saya harus merekamnya, Nona."


"Ahh, tidak. Kau bohong." Gina benar-benar tidak terima Surya mengatakan itu. Wajahnya memerah karena tawa dan malu. Meskipun membantah tidak mendengkur, tapi Gina juga menyadari saat dia tidur tidak akan mengingat apapun jadi entah benar-benar mendengkur atau tidak Gina juga tidak tahu. Itu membuatnya malu jika ternyata ia benar-benar mendengkur. Dan Gina masih berdebat tentang mendengkur saat mereka sampai di tempat yang dijanjikan oleh Surya.


"Kau benar-benar membawaku ke sini. Rasanya sudah sangat lama aku tidak makan di sini. Lihatlah, tempat parkirnya. Penuh. Apa kita masih mendapatkan meja?" Gina melihat keluar kaca mobilnya dengan gelisah.


"Saya sudah memesan meja untuk kita, Nona."


"Benarkah?" Gina memalingkan wajahnya kembali pada Surya.


"Iya Nona, saya tahu Anda sudah lama tidak ke sini. Jadi saya fikir sepertinya kita harus makan siang di sini."

__ADS_1


"Tapi kenapa sampai membuat reservasi segala. Ini hanya makan siang biasa."


"Semua hal bersama Anda adalah hal yang tidak biasa saja, Nona." Kalimat Surya membuat Gina membatalkan niatnya untuk membuka pintu mobil. Ia memandang Surya lurus. Surya balas memandangnya. Mata kecoklatan Surya kembali membuat jantung Gina berdetak kencang. Tapi kemudian Gina berfikir ulang apakah itu karena mata kecoklatan Surya yang ia sukai atau karena kalimat Surya yang membuatnya berfikir tentang sebuah hal.


__ADS_2