Tahta Surya

Tahta Surya
Rumah Gina


__ADS_3

"Apa?" Gina mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba memahami ucapan Surya. Lalu Gina melihat keluar cendela mobilnya yang masih tertutup dan melihat sebuah papan nama di depan sebuah bangunan bertuliskan 'Rumah Gina'.


"Ini apa? Kenapa namanya..."


"Saya akan masuk ke dalam. Jika Anda ingin tahu, Anda bisa masuk." Ajak Surya berhati-hati agar Gina tidak merasa bahwa itu sebuah diperintah.


"Kenapa aku harus masuk denganmu." Jawab Gina acuh.


"Baiklah, saya masuk dulu, Nona." Surya turun dari mobilnya dan membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan bahan makanan yang ia beli tadi di pasar. Dari dalam mobil Gina melihat Surya mengangkat barang-barang itu ke dalam rumah. Tapi saat keluar dari rumah untuk mengambil barang lain, Surya diikuti oleh seorang pria muda dibelakangnya.


"Saya akan membawa yang ini, Pak." Sayup-sayup Gina mendengar suara pria yang bersama Surya.


"Jangan Pak, biar saya saja yang membawanya masuk." Larang Surya.


"Tidak Pak, ini berat. Saya sudah biasa mengangkat beban berat. Biar saya saja." Jelas pria itu menyanggupi.


"Baiklah, terima kasih, Pak."


Gina masih di dalam mobil mengawasi Surya dan pria itu yang beberapa kali memindahkan barang di dalam mobil untuk dimasukkan ke dalam rumah. Ini adalah kotak terakhir yang akan Surya bawa masuk. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba kardus yang dibawa Surya jebol di bagian bawahnya. Melihat itu Gina lalu turun. Surya yang sibuk memungut kemasan mi instan yang berserakan jatuh itu agak terkejut melihat Gina yang datang membantunya. Surya menyunggingkan senyum melihat apa yang Gina lakukan.


"Terima kasih, Nona." Ucap Surya kepada Gina setelah semua mi instan masuk ke dalam kardus yang sudah diperbaiki oleh Surya sebelumnya.


"Sini biar aku yang membawanya." Gina meraih kardus yang Surya bawa lalu berjalan mendahuluinya untuk memasuki rumah itu. Surya lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Gina. Ia harus bersabar dan berhati-hati dalam menghadapi Gina. Wanita yang ada di depannya itu memang tidak mudah dihadapi. Kadang dia baik, kadang dia cerewet, kadang pemarah, kadang kalem, sikapnya berubah-ubah membuat Surya harus pandai-pandai menentukan sikap.


Seperti kali ini ketika Gina tiba-tiba berubah baik bahkan membawakan kardus masuk ke dalam rumah yayasan. Dan dengan langkah perlahan Surya mengikuti Gina.


"Ini siapa?" Sambut seorang wanita paruh baya yang berbalik badan dari menghadapi tumpukan sembako yang dibawa oleh Surya di ruang depan rumah itu saat Gina baru melangkahkan kaki masuk ke dalam.


"Permisi, Ibu. Saya mengantarkan ini." Jawab Gina tersenyum sambil mengangkat kotak yang ia bawa.


"Anda..." Ibu itu menggantungkan kalimat saat pria muda yang membantu Surya mengangkat barang-barang membisikkan sesuatu padanya.


"Aah, iya. Maaf sudah merepotkan. Seharusnya biarkan Pak Roni yang mengangkatnya.


"Tidak apa-apa, Bu. Ini ringan." Gina berjalan mendekati tumpukan sembako dan meletakkan kotak itu bersama sembako lainnya.


"Selamat datang di Rumah Gina." Gina melihat setiap ibu itu tersenyum senyumnya terlihat sangat lembut dan keibuan.


"Saya Siswati, anak-anak di sini biasa memanggil saya Ibu Wati. Anda, istri Pak Surya, bukan?"

__ADS_1


"Saya..." Belum selesai Gina menjawab, ia merasa ada sesuatu yang menabraknya. Spontan Gina menoleh dan ternyata yang menabraknya bukanlah sesuatu melainkan seseorang. Seorang anak kecil. Anak itu terduduk di lantai. Gina membantunya berdiri. Anak itu memandang Gina dengan pandangan yang Gina tak mengerti. Apakah anak itu takut? Atau anak ini akan menangis? Atau dia kesakitan saat terjatuh? Itu yang difikirkan Gina ketika melihat anak itu tidak berkedip memandangnya.


"Apakah kau, Putri Sal..."


"Nadia, kau tidak apa-apa?" Gina yang membantu anak itu berdiri menoleh ke arah Surya yang berjalan dari arah pintu.


"Kak Surya." Wajah itu berubah sumringah saat melihat kedatangan Surya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Surya saat sudah dekat dengan gadis bernama Nadia yang rambut panjangnya diikat ekor kuda.


"Aku baik-baik saja." Jawabnya membuat Surya bernafas lega.


"Kakak, apakah dia si Putri..."


"Nadia, aku punya banyak kue, bagilah dengan saudara yang lain." Surya tidak menghiraukan ucapan Nadia dan menawarkan kue-kue yang biasa ia bawa untuk anak-anak di rumah itu.


"Ini kesukaan Anda, Bu." Surya menyodorkan seikat kerupuk yang ia beli sebelum pergi ke bandara tadi.


"Ya Tuhan, kau masih saja ingat." Wajah Bu Wati sumringah melihat apa yang dibawa Surya.


"Kau dapatkan ini dari mana?"


"Aku bahkan tidak mendapatkannya di pasar dan di tukang kerupuk yang biasa lewat di depan rumah."


"Berarti kerupuk ini berjodoh dengan ibu."


"Terima kasih." Ucap Bu Wati dengan wajah senang. Kemudian Surya berjalan mendekati Nadia.


"Ayo." Nadia menurut saat Surya menggandeng tangannya menuju tumpukan kardus berisi kue-kue dan kudapan yang ia bawa untuk anak-anak di yayasan ini. Surya membawa satu kardus dan pergi bersama Nadia ke arah dalam setelah berpamitan.


"Saya akan membagikan kue-kue ini." Bu Wati memganggukkan kepala mempersilakan.


Gina memandang Surya dan Nadia yang memasuki sebuah lorong di rumah itu. Dari tempatnya berdiri, Gina bisa mendengar suara riuh anak-anak sedang bermain. Mereka mungkin sedang bermain di halaman belakang rumah ini.


"Beginilah pondok kami, Nona." Suara Bu Wati menyadarkan Gina yang masih mengawasi langkah Surya. Gina memalingkan wajah ke arah Bu Wati sambil tersenyum.


"Ini pertama kalinya Surya mengajak seorang wanita ke rumah ini. Dan itu adalah Anda, istrinya." Bu Wati mendekati Gina dan membimbingnya untuk duduk di sebuah kursi rotan di ruang tamu itu.


"Aku tahu sekarang, karena kebaikan hatinya akhirnya Tuhan memberinya anugerah istri yang sangat cantik seperti Anda." Kalimat Bu Wati terdengar mengandung pujian untuk Gina sekaligus juga untuk Surya.

__ADS_1


"Ahh, Ibu bisa saja." Gina merasa tidak enak dipuji seperti itu oleh seorang wanita yang baru ia kenal.


"Surya adalah anak yang baik. Aku mengatakan ini bukan karena dia dermawan dan sering membantu di panti asuhan ini tapi dia memang orang yang baik." Puji Bu Wati lagi.


"Semua anak sangat menyukainya. Ia seperti kakak tertua bagi mereka. Sejak dia masih kuliah dia sering datang kemari walau hanya untuk mengantarkan roti bakar saat ia berjualan."


"Surya berjualan roti bakar?" Tanya Gina.


"Dia tidak pernah bercerita kepada Anda?" Gina menggeleng.


"Mungkin dia tidak ingin membagi masa dimana ia masih belum semapan sekarang." Bu Wati memperbaiki duduknya.


"Surya memang kuliah atas biaya seseorang yang sangat baik kepadanya. Tapi ia juga memiliki kewajiban untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarganya. Oleh sebab itu, saat kuliah dia juga berjualan roti bakar keliling waktu malam hari. Kadang dia juga berjualan nasi bungkus yang ia titipkan di warung-warung. Apa yang bisa ia lakukan asal menghasilkan uang, ia lakukan semuanya yang penting halal. Baru ditahun terakhirnya ia diterima untuk bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan yang sampai sekarang menjadi tempatnya bekerja. Dia mengatakan bahwa pemilik perusahaan itulah yang membiayai kuliahnya."


Gina masih memandang Surya yang sedang asyik bermain kejar-kejaran dengan beberapa anak laki-laki dan perempuan di halaman belakang panti asuhan itu. Dari sebagian yang diceritakan Bu Wati, Gina bisa menebak seberapa susahnya kehidupan Surya waktu dulu. Ia menerima biaya kuliah cuma-cuma dari Papanya sekaligus harus bekerja yang hasilnya untuk diberikan kepada orang tuanya di kampung. Itu mungkin yang membuatnya dermawan seperti sekarang. Karena ia tahu bagaimana susahnya hidup dalam ketidakmampuan.


Mungkin karena Surya merasa ada yang mengawasinya, ia menoleh ke arah Gina yang memandangnya lekat. Dan, Surya hampir tidak percaya dengan penglihatannya ketika Gina melempar senyum padanya. Surya tidak yakin apakah arti dari senyuman Gina.


"Kakak, ayo bermain bersama kami." Entah kapan datangnya tapi tiba-tiba ada seorang anak menarik ujung baju Gina.


"Bermain apa?" Tanya Gina menundukkan kepala melihat ke arah anak yang tinggi badannya hanya setengah tubuh Gina. Ditambah Gina sedang memakai hight heel, anak itu jadi terlihat kecil.


Anak itu tidak menghiraukan pertanyaan Gina dan malah menariknya untuk bergabung dengan anak-anak lain di halaman. Gina menurut saat anak itu menuntunnya mendekati kerumunan anak yang entah 20 atau 25 anak sedang bermain dihalaman belakang rumah yang luas itu.


Dari jarak sedekat itu akhirnya Gina tahu permainan apa yang sedang mereka mainkan. Sebenarnya itu bisa disebut juga olah raga. Olah raga kasti. Saat Gina mendekat seorang anak sedang membawa bola untuk dilempar kepada lawan sebelum mereka mencetak angka. Gina adalah pemain baru dan belum tahu haru masuk tim mana jadi ia hanya berdiri di tepi halaman. Ia melihat permainan itu cukup seru. Anak-anak berlarian kesana kemari, begitu pula Surya. Dari situ Gina tahu ternyata sekarang adalah giliran tim Surya yang harus menjaga agar lawan tidak mencetak angka. Terlihat dari seorang anak yang melemparkan bola ke arah Surya dan ia menangkapnya dengan tepat. Tapi karena lawan menghindar akhirnya lemparan Surya tidak mengenai lawan.


Selanjutnya bola dipegang oleh anak lain dan sepertinya sedang mengincar seorang anak lain yang adalah tim lawan. Anak itu hendak berlari ke pos di dekat Gina dan anak pemegang bola berusaha melemparnya dengan bola. Tapi lemparannya meleset dan "Dukk" bola itu tepat mengenai sebuah kepala.


"Aww!!" Pekik Gina spontan memegang kepalanya. Suasana mendadak menjadi tenang. Tidak ada keriuhan. Semua anak mematung di tempat mereka masing-masing setelah melihat kejadian itu.


"Nona tidak apa-apa?" Tanya Surya saat sudah ada di dekat Gina.


"Sakit sekali." Gina sudah duduk di rerumputan sekarang sambil memegang kepalanya yang sakit.


"Sini, biar ku lihat." Surya menyentuh kepala Gina.


"Aww, sakit." Teriak Gina saat rabaan Surya mengenai bagian yang sepertinya benjol setelah beradu dengan bola kasti. Selanjutnya yang Gina rasakan adalah sebuah angin lembut menyentuh ubun-ubun kepalanya. Gina melirik ke atas dan yang ia lihat adalah Surya meniup kepalanya seolah ingin membuat Gina merasa lebih baik.


Dari sudut itu Gina bisa melihat Surya yang sangat serius meniup puncak kepala Gina sambil memegang belakang kepalanya. Tidak tahu kenapa Gina jadi menikmati itu. Ia merasa ada sebuah ketenangan yang sepertinya pernah ia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2