Tahta Surya

Tahta Surya
Alasan


__ADS_3

Gina mengendarai mobilnya perlahan saat ia melihat sebuah toserba biasa ia berhenti untuk membeli makanan ringan dan minuman buah kesukaannya. Ia memasukkan mobilnya ke dalam pelataran parkir toserba. Setelah itu ia lalu masuk ke dalam dan membeli makanan ringan dan minuman. Kemudian saat semua yang ia dapatkan sudah ada di tangannya, Gina pun duduk di meja di depan toserba sambil menikmati makanan ringannya.


Saat-saat seperti ini adalah saat yang sangat nyaman untuknya yang sedang gelisah. Ia menjadi heran kenapa fikiranya malah jadi tidak tenang.


"Mereka tidak akan salah faham, Nona. Karena apa yang mereka fahami memang tidak salah."


"Apa?" Gina mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba mencerna jawaban Surya.


"Biarkan saja mereka tahu. Itu lebih baik. Agar mereka semua tidak berharap banyak padaku."


"Ya Tuhan... menyesal sekali aku mendengarnya. Semakin hari kau semakin narsis saja." Ujar Gina malas tapi membuat Surya tertawa.


"Tapi, rasanya senang sekali mendapat telepon dari Anda begini. Mari kita sering-sering berbicara lewat telepon, bertemu untuk makan bersama, menonton film di bioskop, berbelanja. Ayo kita melakukan banyak hal bersama." Kalimat Surya membuat Gina tidak tahu harus mengatakan apa. Ingin sekali ia mengatakan setuju tapi ada sesuatu yang seperti menahannya untuk melakukan itu.


"Nona... saya harap Anda memberi saya kesempatan untuk melakukan itu." Tambah Surya menegaskan maksud kalimatnya. Gina semakin gelisah dengan ungkapan Surya.


Begitulah percakapannya tadi bersama Surya. Seharusnya ia merasa bahagia saat perasaanya pun terbalas. Tapi nyatanya itu malah membuat Gina dilema. Ia akhirnya tidak bisa melakukan apapun selain harus menerima konsekuensi karena telah membuka jalan Surya untuk mendekatinya.


"Hei, wanita kesepian." Panggil seseorang tiba-tiba. Gina menoleh pada pria yang sedang berdiri di belakangnya. Faris tersenyum padanya. Gina lalu memalingkan wajahnya dan meminum minumannya lagi.


"Kebiasaanmu masih saja belum berubah." Ujar Faris sambil menarik sebuah kursi di samping Gina.


"Si tukang menyendiri. Dunia ini memiliki populasi lebih dari delapan miliar jiwa, tapi kau sama sekali tidak tertarik bersama bahkan satu manusia saja dari mereka. Kau benar-benar manusia yang merugi."


"Sudahlah, jangan banyak bicara. Kau ini suami rumah tangga, kenapa mengusikku. Pulanglah, istri dan anakmu sedang menunggu." Balas Gina cuek. Tidak ada sedikitpun perasaan suka lagi kepada Surya membuatnya merasa bisa mengatakan apapun padanya sekarang."


"Suami rumah tangga?" Faris terkekeh mendengar ucapan Gina.


"Harus bagaimana lagi, istriku sangat sibuk dengan bayi kami jadi aku harus membantunya berbelanja sepulang berkantor."


"Bagus." Puji Gina sambil menyodorkan keripik kentang kepada Faris.


"Aku tidak pernah menyangka seorang Faris bisa menjalani kehidupan seperti sekarang dan terlihat lebih bahagia dengan itu." Sekali lagi Faris tertawa mendapat kalimat dari Gina karena ia tahu apa yang wanita dihadapannya itu maksudkan.


"Kau benar, aku juga heran. Bagaimana bisa seorang bos perusahaan software sebesar Font bisa berbelanja kebutuhan bayi di minimarket sendirian seperti ini."


"Tentu saja cinta yang membuatmu bisa melakukannya." Celetuk Gina cepat.


"Sunday membuatku bisa melakukan banyak hal. Dia tidak hanya bisa membuatku jatuh cinta tapi ternyata efek jangka panjangnya jauh lebih parah. Aku tidak bisa jauh darinya, aku ingin melakukan banyak hal untuknya, aku ingin memberikan segalanya padanya. Ditambah lagi kehadiran Cena diantara kami membuatku semakin mencintai Sunday. Walaupun waktunya bersamaku jadi berkurang karena harus mengurus Cena, tapi itu justu membuatku semakin mencintainya lebih dari sebelumnya."


"Kau ini... sindrom cinta butamu belum juga sembuh ternyata."


"Ya, aku memang tidak ingin sembuh dari sindrom yang satu ini. Aku malah ingin lebih sering lagi kambuh." Ujar Faris sambil tertawa kecil.


"Dasar..." Cibir Gina melihat tingkah bodoh Faris.


"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi waktu itu? Kau pergi tergesa dengan Pak Surya. Kau tidak bermaksud akan menghajar Pak Marco di suatu tempat, bukan?" Gina tahu Faris juga mengetahui hal itu karena ia juga sedang berada di sana sebagai member perserikatan pengusaha sama seperti dirinya dan Surya.


"Tidak, hanya sedang ada masalah kecil di luar."


"Tentang kau dan Pak Surya?" Kejar Faris dengan pertanyaan lain.


"Kau ini kenapa sangat ingin tahu urusan orang lain?"


"Orang lain siapa? Aku tidak menganggap adik Roby sebagai orang lain." Faris melipat tangan di dada dengan jumawa. Sedangkan Gina menyengirkan hidungnya.


"Ku lihat kau dan Pak Surya masih berhubungan baik. Apa kalian memiliki projek bersama?"


"Tidak?"


"Atau kalian sedang berencana untuk rujuk?" Pertanyaan Faris kali ini membuat wajah Gina berubah.


"Benarkah itu?" Ujar Faris lagi dengan pandangan mata membulat.


"Apanya? Kau ini sok tahu." Gina meminum lagi minuman di atas meja untuk menyamarkan kegugupannya karena takut Faris bisa membaca isi hatinya.


"Iya, kalian pasti sedang melakukan pendekatan lagi."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak melakukannya."


"Berarti Pak Surya yang melakukan itu."


"Hei, kau ini sok tahu sekali." Gina menjadi gemas kepada Faris yang semakin menggodanya seperti itu.


"Sejak awal aku tidak mengerti dengan kalian. Tiba-tiba saja menikah. Tapi kemudian tiba-tiba bercerai dan sekarang ku lihat kalian bersama lagi."


"Kau hanya melihatku bersama sekali, bagaimana bisa menuduh aku dan dia akan kembali rujuk. Sungguh tidak masuk akal."


"Kau fikir aku tidak tahu. Aku bahkan melihat komentarmu di akun media sosial cafe Pak Surya dan dia membalasnya dengan emoticon hug & kiss. Lalu apa itu namanya."


"Itu... Ahh, kau ini seperti anak kecil saja menganggap hal itu serius. Itu hanya sebuah emoticon. Bagaimana bisa kau menganggapnya sebagai sesuatu yang penting."


"Meskipun tidak terlalu dekat, tapi aku cukup mengenal Pak Surya. Dia bukan tipe pria yang mudah melakukan aksi seperti itu. Emoticon hug & kiss itu terlalu spesial jika diberikan kepada orang yang tidak dianggapnya penting."


"Sok tahu." Gina mencibir.


"Dan lagi, aku melihat kalian sangat baik saat bersama..."


"Sudah, jangan berpura-pura melakukan analisa lagi. Kau pasti mendengarnya dari istrimu, bukan?" Mendengar itu Faris lalu tersenyum lebar karena memang itu benar. Ia tahu segala yang terjadi kepada Gina karena cerita dari Sunday.


Gina merasa Sunday adalah teman yang nyaman untuk diajak berbicara selain Lita. Tapi diantara keduanya, Sunday paling memiliki waktu dibanding Lita yang terikan jam kerja sehingga Gina tidak bisa bebas menghubunginya sebebas ia menghubugi Sunday.


"Apa yang kau khawatirkan? Hatimu? Harga dirimu? Atau prinsipmu?" Rentetan pertanyaan Faris seperti sebuah kesimpulan yang merangkum semua isi kegelisahan Gina.


"Yang mana?" Wajah Faris mulai terlihat serius saat mengatakan itu. Bagaimanapun juga Faris adalah sahabat sejak ia remaja sehingga ia sangat mengenal Gina seperti seorang kakak yang mengenal adiknya.


"Entahlah..." Jawab Gina lesu karena ia merasa semua yang ia rasakan sangat rumit.


"Coba tanyakan hatimu, apa perasaanmu untuk Surya masih sama? Bukan apa masih ada, tapi apa masih sama? Karena jika hanya sekadar ada, mungkin itu adalah sisa rasa yang pernah kau punyai dulu. Tapi kalau masih sama, itu tandanya kau masih terikat padanya. Tidak mudah untuk menghapusnya jika kau sendiri masih berada pada kebimbangan. Kau harus segera mengambil keputusan apakah ingin bertahan atau meninggalkan." Mendengar bagaimana Faris menasehatinya, Gina hanya diam menyimak.


"Dan lagi, jika perasaanmu masih sama sementara kau masih ingin memegang teguh prinsipmu, itu hanya akan menjadi duri dalam daging untukmu. Kau hanya akan terus merasa bingung harus melangkah kemana. Jadi, ambillah keputusan agar kau tidak selalu tersakiti dengan kebimbanganmu sendiri."


"Sejak kapan kau jadi sepandai ini?" Ujar Gina melihat Faris seperti sangat tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini.


"Baiklah... baiklah..." Gina tertawa melihat Faris merajuk.


"Menurutku... menurut sudut pandangku, setiap orang pasti akan berubah suatu saat. Asalkan tidak menjadi lebih buruk atau perubahan itu bisa merusak dirinya dan orang lain, ku rasa tidak ada salahnya berubah. Sama seperti prinsipmu." Kata terakhir Faris membuat Gina memandang lurus padanya. Gina merasa apa yang salah dengan prinsip? Ia juga penasaran apakah Faris tahu prinsip yang ia punya? Karena sejak tadi Faris selalu menyinggung tentang sebuah prinsip dan seperti mengerti masalah tentang prinsip yang sedang ia hadapi.


"Pada dasarnya cinta itu adalah sebuah kebebasan. Kau tidak bisa terus mengikat cinta dengan prinsipmu. Prinsip yang kau tidak akan kembali bersama mantanmu untuk yang kedua kali, kurasa kau bisa membuatnya jadi lebih sederhana." Gina mengerjapkan matanya berkali-kali mendengar penuturan Faris yang persis seperti yang ia hadapi saat ini. Bagaimana Faris tahu itu, Gina menjadi penasaran.


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Gina penasaran.


"Kau adalah adikku. Aku mengawasimu, aku juga memperhatikanmu sejak dulu. Aku tahu kau tidak pernah kembali bersama para mantanmu. Tapi bukankah itu hal yang berbeda dengan yang kau hadapi sekarang? Kau bisa memulai untuk membuat alasan agar kau tidak mengingkari prinsipmu." Gina semakin serius menyimak setiap ucapan Faris.


"Kau hanya mengakhiri pernikahanmu, bukan perasaan cintamu." Mendengar itu mata Gina berbinar karena menyadari sesuatu.


Gina duduk di depan meja riasnya usai keluar dari kamar mandi. Ia masih memikirkan percakapannya bersama Faris. Jika difikir memang ada benarnya apa yang Faris katakan. Ia dan Surya bukanlah mantan pacar. Mereka hanya mantan suami istri yang terpaksa harus menikah karena sebagai syarat dari Papanya. Sehingga jika demikian, seharusnya ia dan Surya sebelumnya memang tidak memiliki ikatan apapun. Jadi, prinsip yang ia pegang tidak ternodai walau ia bersama Surya kembali. Bibir Gina pun menyunggingkan senyum.


🌸🌸🌸


Faris yang baru saja dari menonton pertandingan bola di ruang TV lantai bawah tampak masuk membuka pintu. Sunday terlihat sedang meletakkan bayi mereka di dalam baby box di salah satu sudut kamar. Perlahan-lahan ia mulai menidurkan Cena yang sudah tertidur pulas sekarang. Faris mendekati Sunday yang masih menepuk-nepuk lengan kecil Cena agar ia lebih tenang.


"Baru saja tidur?" Tanya Faris lirih merangkul pundak Sunday sambil melihat Cena tidur dengan pipi yang sangat menggemaskan.


"Iya, Cena itu sama sepertimu selalu saja menempel padaku layaknya perangko. Sulit sekali ku tidurkan sejak tadi." Faris tertawa kecil mendengar itu karena takut Cena terbangun jika mendengar suara berisiknya.


"Tentu saja, dia anakku jadi sangat wajar jika dia mewarisi beberapa bagian dari diriku." Mendengar itu Sunday memanyunkan bibirnya.


"Ya Tuhan, kenapa aku harus terjebak diantara orang-orang yang selalu menempeliku seperti ini." Ujar Sunday sambil berusaha melepas tangan Faris yang sekarang melingkar di perutnya dengan dagu yang ia sandarkan pada pundak Sunday.


"Itu karena kau adalah canduku. Aku bahkan sakau saat beberapa meter saja jauh darimu."


"Gombal sekali." Sunday mencubit tangan Faris yang semakin erat memeluknya. Faris mengaduh sambil tertawa mendapat cibiran dari Sunday.


"Ngomong-ngomong, katamu tadi kau bertemu Gina?" Sunday mengalihkan perhatian Faris ketika kecupan pria itu mulai mendarat di lehernya.

__ADS_1


"Hmmm..."


"Dimana?"


"Di toserba." Jawab Faris singkat masih sambil mencium rambut istrinya yang harum.


"Pasti dia sedang memakan keripik kentang dan jus buah." Tebak Sunday.


"Benar."


"Anak itu masih saja memiliki kebiasaan yang sama." Gumam Sunday.


"Ku rasa dia benar-benar menyukai Pak Surya." Sunday ingat bagaimana saat Gina bersamanya waktu itu dan menceritakan tentang perasaannya dengan hati yang pilu dan mata berkaca-kaca.


"Mungkin itu juga yang menyebabkan Surya memilih untuk pergi. Bukan bertahan denganku. Aku bukan istri yang baik. Aku tidak bisa memasak. Surya yang selalu membuatkanku makanan. Aku bahkan tidak tahu cara memakai mesin cuci. Apalagi menyetrika, aku sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan rumah dengan benar." Ujar Gina waktu itu.


Gina tampak sangat menyesal karena merasa tidak bisa melakukan banyak hal sebagai istri kepada Surya. Ia bahkan sudah berusaha melakukan banyak hal untuk Surya tapi nyataya saat itu ia merasa tidak dapat menarik perhatiannya. Sunday bisa merasakan bagaimana perasaan patah hati yang Gina rasakan. Dan perasaan itu pastilah akibat dari perasaan cintanya yang tidak bersambut oleh Surya.


"Dan sekarang dia menjadi bimbang saat Pak Surya mendekatinya lagi."


"Oh ya? Benarkah? Gina tidak menceritakannya padaku. Tumben?" Sunday menjadi heran kenapa Gina merahasiakan itu darinya. Padahal biasanya Gina selalu menceritakan apapun kepada Sunday, karena ia merasa Sunday adalah orang yang nyaman jika diajak berbicara tentang perasaanya.


"Sepertinya dia sedang galau."


"Kenapa?" Tanya Sunday sambil menoleh kepada Faris yang masih memeluknya dari belakang.


"Oh, aku tahu. Dia pasti terlalu gengsi untuk menerimanya kembali setelah meninggalkannya waktu itu."


"Itu salah satunya. Dan hal lainnya karena ia berusaha menjaga prinsip yang telah ia buat sendiri."


"Kau tahu banyak tentangnya." Ujar Sunday sambil memicingkan mata menyelidik.


Faris memasuki rumah orang tuanya sambil membawa sebuah paperbag berlogo 'Ratu Sambel'. Itu adalah sekantong macam-macam sambal dari toko mertuanya yang ia bawa sebagai pesanan Maminya. Tapi saat memasuki ruang tengah ternyata tamu yang mobilnya terparkir di halaman rumah orang tuanya adalah mobil Pak Rangga. Pria paruh baya itu menyapanya sambil tersenyum lebar.


"Hai, Faris. Apa kabarmu?" Tanya Pak Rangga sambil membalas uluran tangan Faris menyalami.


"Baik, Om. Ku rasa Om juga sedang sangat baik sekarang."


"Lebih dari itu. Amat sangat baik." Lalu keduanya tertawa. Pak Sasono pun turut tertawa melihat sahabat dan anak laki-lakinya terlihat akrab.


"Bagaiamana kabar Tante?"


"Baik juga."


"Gina?" Kali ini Pak Rangga tidak langsung menjawab. Perlahan senyum di wajahnya hanya menyisakan sebuah garis datar saja di bibirnya.


Faris dan Pak Rangga tampak sudah berpindah ke teras samping rumah Pak Sasono itu. Mereka berbincang dengan wajah serius. Berbeda dengan saat mereka baru saja saling bertemu tadi.


"Aku melihat Gina sedang tidak baik-baik saja saat ini. Aku tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu. Dan itu adalah tentang perasaannya kepada Surya." Ujar Pak Rangga sambil menatap ke arah taman.


"Dia memiliki prinsip untuk tidak mengulang kembali hubungan dengan mantan pacarnya sehingga ketika ku lihat Surya mulai mendekatinya lagi seperti ini, dia seperti merasa bingung harus berbuat apa." Pak Rangga tampak gelisah. Faris tahu kenapa Pak Rangga menjadi seperti itu. Gina pernah melakukan hal bodoh dulu saat patah hati kepadanya sehingga sejak saat itu ia menjadi semakin sering khawatir pada anak semata wayangnya. Ia takut anak wanitanya itu tidak bisa bahagia menjalani hidupnya seperti orang lain sehingga Pak Rangga merasa sangat berkewajiban untuk mencari cara bagaimana agar Gina bisa hidup bahagia.


"Tentu saja, sudah sejak lama aku mengenalnya." Kalimat Faris santai menjawab pertanyaan Sunday yang ia tahu ada nada curiga darinya.


"Ya, bahkan jauh hari sebelum kau mengenalku. Itu pasti membuatmu juga lebih banyak memiliki kenangan bersamanya yang bisa kalian kenang setiap kali berjumpa." Terdengar jelas sekali nada biacara cemburu yang dikeluarkan oleh Sunday. Faris tersenyum melihat tingkah istrinya. Ia lalu mempererat pelukannya.


"Semua orang dilengkapi dengan memori di dalam otaknya yang berfungsi untuk menyimpan kenangan. Tapi ada bagian dari hati setiap orang yang menjadikan kenangan itu sebagai prioritas atau bukan. Seperti saat hatiku mengidentifikasi bahwa kenangan yang harus selalu tersimpan dihatiku adalah setiap hal yang berhubungan denganmu, maka akhirnya memoriku tentang dirimu adalah yang paling mendominasi."


"Aku tidak yakin dengan ucapanmu yang mengandung 100% kegombalan itu."


"Baiklah, aku akan membuktikannya padamu sekarang." Faris lalu membalik tubuh Sunday dan merundukkan wajahnya mengecup kening istrinya.


"Aku akan membuktikan seberapa penting dirimu dengan hal yang lebih jauh dari ini." Mata Faris menatap lembut mata Sunday dan seolah yang ada di antara mereka sekarang bukan lagi sekadar kata-kata tapi hati dan hati mulai saling berbicara. Faris semakin mendekatkan wajahnya dan Sunday seperti tahu apa yang harus ia lakukan dengan memejamkan mata menerima setiap apa yang Faris berikan padanya.


🌸🌸🌸


Surya bangun dari tidurnya dan bersandar pada kepala ranjang. Ia tersenyum memandang ponsel di tangannya. Itu adalah foto-foto Gina saat mereka berada di taman hiburan bersamanya waktu itu. Wajah Gina yang memerah karena panas matahari membuatnya terlihat imut. Sebuah foto Gina dari atas roller coaster yang melambaikan tangan padanya sekarang sedang menyita perhatiannya. Gina yang sangat menyukai wahana ekstrem menunjukkan betapa dia adalah wanita yang unik. Dan saat menggeser layar ponselnya lagi, Surya bertemu dengan foto yang diambil oleh Gina yang berselfie dengannya. Surya menyunggingkan senyum karena saat ini ia seperti sangat merindukannya padahal dengan hanya melihat fotonya saja. Ia mulai berfikir lagi harus menggunakan cara apa untuk menarik hati Gina kembali.

__ADS_1


__ADS_2