Tahta Surya

Tahta Surya
Insiden


__ADS_3

Di salah satu stand bazar, Surya membantu pegawainya menyiapkan aneka sate-satean yang diserbu oleh para pengunjung. Ini adalah adalah acara bazar pertama yang di adakan oleh pemerintah kota ini dan Surya turut mengambil bagian didalamnya. Bukan hanya sebagai usaha untuk mempromosikan warung yang ia punya, tapi dia ingin berpartisipasi juga pada pekan kuliner ini. Warung angkringan miliknya yang sudah berdiri di beberapa cabang di kota ini pasti tidak diragukan lagi kepopulerannya, tapi baginya pasti akan sangat menyenangkan bertemu sesama pengusaha kuliner di bazar ini. Ia akan tahu makanan apa saja yang sangat diminati di masyarakat terutama masyarakat kota ini. Belakangan ini makanan yang memiliki rasa pedas paling digemari oleh masyarakat terutama para anak muda. Bakso bakar pedas, cilok, cilor, seblak dan banyak lagi makanan dan jajanan dengan bahan cabe yang tidak main-main jumlahnya selalu paling diminati. Saat ini Surya juga sedang berencana akan membuka kedai jajanan dan sedang mengumpulkan banyak referensi untuk jajanan yang akan ia pasarkan dan juga tempat yang ia pakai untuk membuka usaha barunya.


Malam ini hampir semua stand terlihat ramai pengunjung, bukan hanya stand Angkringan Rejo milik Surya. Di tempat itu, terletak disebelah stand paling ujung terdapat sebuah panggung yang diisi oleh grup musik dan penyanyi. Mereka menghibur semua pengunjung yang datang untuk menikmati makanan-makanan yang ada di sana. Suasana malam itu jadi tampak lebih meriah lagi. Dengan iringan musik dan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi ditambah lagi para pengunjung boleh meminta kepada grup musik itu untuk dibawakan lagu sesuai permintaan mereka, suasana bazar menjadi semakin hidup. Mendengar hal itu, Surya jadi tertarik untuk me-request lagu yang kemudian lalu ia tulis judul lagu disebuah kertas.


"Ded, tolong berikan ini." Surya sambil menunjuk arah panggung diujung.


"Wah, Pak Surya minta dinyanyikan lagu juga?" Goda pegawai yang Surya mintai tolong untuk memberikan kertas berisi permintaan lagu darinya.


"Lagunya untuk siapa, Pak?"


"Sudah, bawa saja ke sana." Surya tersenyum sambil mendorong bahu pegawainya itu.


Pegawai Surya lalu berjalan meninggalkan stand bazar dan mendekati panggung. Ia lalu memberikannya kepada seorang panitia disana yang selanjutnya diserahkan kepada penyanyi di atas panggung.


"Kita sudah memiliki permintaan lagu sekarang." Ujar vocalis grup musik itu dengan suara nyaring dari microphone yang ia pakai sambil mulai membuka lipatan kertas di tangannya.


"Wah, sepertinya ini lagu campur sari. Lagu yang sedang viral. Dan untungnya ini sedang sangat populer, jadi saya bisa untuk lagu ini." Si penyanyi lalu terkekeh setelah mengatakan itu.


"Baiklah, untuk yang sudah meminta dinyanyikan lagu ini, saya berharap semoga bisa segera berbaikan dengan kekasihnya." Ujar sang penyanyi yang disambut riuh tepuk tangan pengunjung baik yang ada di depan panggung untuk menikmati musik ataupun para pengunjung yang sedang menikmati makanannya di setiap stand bazar.


Termasuk Gina. Mendengar suara vokalis wanita yang berparas manis dan bertubuh mungil tapi bersuara merdu itu, perhatian Gina sejenak teralihkan dari sepiring martabak telur ditangannya. Hanna yang sudah merasa kenyang hanya meminum air mineralnya kembali sambil duduk di depan stand bersama Gina yang seperti tidak memiliki rasa kenyang.


Wes tak pupuk winihe katresnanku, kanggo awakmu


Mendengar bait pertama lagu yang dinyanyikan oleh sang penyanyi, Gina menghentikan suapannya. Ia memandang ke arah panggung. Ia merasa seperti tahu lagu itu. Tapi entah kapan dan dimana ia mendengarnya.


Dungoku tuku lemu urip ayem kanggo senengmu


Aku percoyo winih tresnamu, nandes mancep ing atiku


Opo kurang leh ku ngerteni karepmu


Aku yo wis ora nglirik liyane


Nek kangen ngomong kangen, rasah tukaran aE


Mbok di eman eman hubungane


Uwong sing tak tresnani, tak gawe sandaran ati


Mbok ojo satru satru ae sayangku


Jajal rasah percoyo nek trimo kabar ko njobo


Aku kerjo, nguripimu nggo makmurne atimu


Sedikit banyak Gina tahu bahasa jawa saat pergi ke rumah Surya. Ayu sering berbicara padanya bahasa jawa dan lalu mengartikannya. Gina juga belajar beberapa kata dari Ayu. Meskipun tidak banyak, tapi ia tahu arti kata tresno adalah cinta, awakmu adalah kamu, dan beberapa kata lain. Dan juga, Mbak Yuyun adalah orang jawa, kadang Gina mendengarkan lagu campur sari dari asisten rumah tangganya itu sehingga sedikit-sedikit ia tahu lagu-lagu dangdut campur sari berlirik jawa semacam itu.


Ia yakin orang yang meminta lagu ini pastilah orang daerah dan mengerti bahasa itu. Gina menikmati lagu sambil melanjutkan makannya. Hanna juga menikmati lagu campur sari yang dinyanyikan dengan instrumen pop itu. Tetap sangat enak di dengar walaupun tidak terdapat gendang yang mengiringi. Para personil pemain musik tampaknya cukup mahir dalam menyajikan lagu dengan menggunakan versi mereka.


Aku ngenteni, aku ngertenimu huooo


huoo... opo kurang lehku, ngerteni karepmu


Aku yo wis ora nglirik liyane


Nek kangen ngomong kangen, rasah tukaran ae


Mbok di eman eman hubungane


Uwong sing tak tresnani, tak gawe sandaran ati


Mbok ojo satru satru ae sayangku


Jajal rasah percoyo nek trimo kabar ko njobo


Aku kerjo, nguripimu nggo makmurne atimu


Uwong sing tak tresnani, tak gawe sandaran ati


Mbok ojo satru satru ae sayangku

__ADS_1


Jajal rasah percoyo nek trimo kabar ko njobo


Aku kerjo, nguripimu nggo makmurne atimu


Lagu berakhir dengan tepuk tangan riuh semua pengunjung. Gina dan Hanna juga memberikan tepukannya.


"Meskipun tidak mengerti artinya, tapi lagu itu terdengar enak." Celetuk Hanna.


"Ceritanya tentang kekasih yang sedang bertengkar." Ujar Gina. Hanna mengerutkan kening bagaimana Gina bisa tahu makna lagu itu.


"Anda tahu lagu itu?" Gina mengangguk.


"Aku biasa mendengarnya dari playlist Mbak Yuyun."


"Anda juga bahkan tahu artinya."


"Mbak Yuyun juga memberitahuku." Hanna mengangguk-angguk mengerti.


"Ahh, aku jadi ingin meminta lagu juga." Ucap Gina dan lagi-lagi membuat Hanna mengerutkan kening.


"Anda mau lagu apa, Nona?" Hanna segera mengambil secarik kertas post-it di dalam tasnya dan juga pulpen yang sekarang sudah ada di tangannya. Gina tersenyum melihatnya sangat sigap begitu. Hanna memang selalu memberinya alasan untuk menjadikan dirinya sebagai asisten pribadi yang sangat layak untuk disukai atasannya.


"Aku mau lagu Ditiggal Pas Sayang-Sayange." Jawab Gina.


"Maaf, Nona?" Hanna ingin memastikan pendengarannya. Ia tidak pernah tahu ada judul lagu itu.


"Tulis saja begitu. Kalau dia tahu lagu tadi, harusnya dia juga tahu lagu yang ku minta." Jawab Gina tegas seperti biasanya.


"Baik, Nona." Akhirnya Hanna hanya bisa menulis judul lagu itu dan membawanya mendekati panggung.


"Woww, lagu campur sari lagi." Ujar sang penyanyi dengan senyum lebarnya.


"Malam ini banyak pengunjung yang berasal dari Pantura sepertinya. Bagus, ini akan membuat saya semakin bisa bernyanyi menggunakan bahasa daerah." Canda sang penyanyi yang tahu banyak lagu itu.


"Mari ramaikan pekan kuliner ini dan nikmati semua makanan enak yang berasal dari seluruh nusantara." Setelah tepuk tangan pengunjung mereda, penyanyi itu mulai menyanyikan lagu Ditinggal Pas Sayang-sayange dengan iringan musik yang salah satunya adalah saxophone.


Loro rasane ati


Nganti ra biso lali


Kowe janji tresno tulus songko ati


Nyatane kowe gawe loro ati


Surya yang mendengar lagu itu dinyayikan jadi merasa sepertinya dia bukan satu-satunya penyuka lagu campur sari di tempat itu.


Piye kabarmu sayang


Opo kowe eling aku


Biyen sing mbok tinggal tanpo mesakne


Kowe ninggal aku pas sayang sayange


Lungamu ninggal tatu neng atiku


Tatu neng atiku loro rasane


Nganti koyo diiris iris rasane


Mergo naliko aku sayang sayange


Kowe mutus tresno cukup sakmene


Keronto ronto ati rasane


Koyo ra biso tak ibaratake


Amung mergo masalah sing sepele


Kowe nduwe tresno liyane

__ADS_1


Sepiring martabak sudah habis di depan Gina bersamaan dengan lagu yang ia minta berakhir. Para pengunjung memberi tepuk tangan meriah. Gina kembali berjalan ke stand lain yang diikuti juga oleh Hanna.


"Hanna, aku sudah memberitahumu konsekuensinya ketika meminta untuk mentraktirku makan." Ujar Gina. Hanna yang langsung tahu maksud atasannya itu memberinya senyuman.


"Saya tahu, Nona. Dan itu tidak masalah. Saya juga tidak membutuhkan gaji lagi. Suami saya memberi saya uang belanja yang cukup."


"Hei, kau jadi sombong sekarang. Pasti Marco yang sudah menularkan sifat buruknya itu padamu." Mendengar itu Hanna tertawa. Gina ikut tersenyum. Ia senang dengan persahabatan yang mereka jalin. Hanna bisa menempatkan dirinya dengan baik dan bisa menghiburnya ketika ia sedang merasa galau.


Saat Gina masih memakan menu berikutnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari salah satu stand dan setelah itu dari tempat Gina dan Hanna berdiri terlihat api menjulur ke atas salah satu stand bazar. Gina bergegas mengambil inisiatif untuk membantu proses pemadaman api.


Surya juga yang mendengar kegaduhan di salah satu stand bazar segera keluar dan mencari tahu ada apa sebenarnya. Tepat saat itu ia melihat Gina yang sudah membawa selang panjang dan berlari menuju kran air. Pandangan Surya mengikuti gerakan Gina. Untuk beberapa saat Surya hanya mematung di tempatnya melihat Gina yang sangat sibuk mencoba membantu memadamkan api. Tanpa Surya sadari bibirnya melengkungkan senyum. Gina masih saja selalu sama, tidak bisa tinggal diam jika melihat orang lain membutuhkan bantuan. Siapapun yang mengenalnya, pasti tahu bahwa Gina tidak seculas seperti yang terlihat dari penampilannya. Dia memiliki kepedulian yang besar terhadap segala hal di sekelilingnya saat mendapati sebuah kejadian yang harus melibatkan dirinya untuk membantu.


Surya masih mengawasi Gina yang usahanya mengalami kendala, sehingga ia merasa harus datang untuk membantunya. Bahkan sekarang Surya menggantikannya melakukan pemadaman api sampai bantuan petugas pemadam kebakaran datang dan api berhasil dipadamkan. Gina yang masih memperhatikan Surya dari jarak aman hanya membiarkannya melakukan apa yang sebenarnya ingin ia lakukan tadi.


"Anda baik-baik saja, Nona?" Tanya Surya saat berada di dekat Gina, sementara pemadaman api sudah berhasil dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran.


"Anda tidak apa-apa?" Surya memegang kedua pundak Gina dan melihatnya lebih dekat untuk memastikan tidak terjadi apa-apa pada wanita dihadapannya.


"Aku tidak apa-apa."


"Syukurlah." Terlihat Surya bernafas dengan lega.


"Lain kali jangan lakukan itu lagi, Nona. Itu sangat berbahaya. Anda bisa saja terluka karenanya." Suara Surya tampak serius. Gina hanya diam menatap Surya. Itu membuat Surya merasa heran dan mengguncangkan kedua bahu Gina.


"Nona, Anda yakin baik-baik saja?"


"Tidak, sekarang aku jadi tidak baik-baik saja." Ucap Gina dengan pandangan lurus kepada Surya yang menatap aneh padanya.


Perlahan Surya melepas kedua tangannya yang ada di bahu Gina. Ia menatap Gina lekat-lekat mencari tahu maksud ucapan wanita di hadapannya itu.


"Kau fikir ini mudah? Kau bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita. Kau pasti berfikir semua itu mudah bagiku sampai kau tidak menjaga perasaanku sama sekali." Gina menarik nafas berat di akhir kalimatnya menyiratkan beban yang sedang ada dihatinya.


"Maafkan saya, Nona."


"Surya, ku mohon jangan meminta maaf lagi dan lagi. Bukan itu yang ingin ku dengar. Jangan buat aku merasa sangat jahat kepadamu hingga kau harus selalu meminta maaf agar aku meluluskan semua tindakanmu yang menyakitiku itu." Ada genangan di kelopak mata Gina.


"Saya tidak tahu harus bagaimana menebus kesalahan saya kepada Anda, Nona." Surya menatap mata Gina mencoba meyakinkannya bahwa ia berkata dengan sungguh-sungguh.


"Jangan coba-coba menebus kesalahan yang telah kau buat. Itu tidak akan pernah sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan padaku." Gina bersusah payah menahan air matanya agar tidak jatuh tapi ia tidak sanggup. Sehingga yang dilakukannya sekarang adalah membalik badan dan berjalan menjauhi Surya tanpa mampu mengatakan apapun lagi dengan air mata yang jatuh dikedua pipinya. Gina mempercepat langkah dan berjalan diantara kerumunan pengunjung yang masih tersisa di sana.


Saat berjalan menuju ke tempat parkir, dari kejauhan Gina melihat Hanna berdiri di samping mobilnya bersama Marco. Gina mengusap air matanya dan menarik nafas kuat-kuat untuk menenangkan perasaannya. Ia tidak mau Hanna melihatnya berwajah sendu seperti itu. Gina mencoba berlatih tersenyum selama berjalan mendekati Hanna agar bisa menyapanya tanpa ia curiga apa yang baru saja menimpa dirinya. Tepat saat Gina berjalan mendekati Hanna, asiaten pribadinya itu menangkap sosoknya yang semakin mendekat.


"Nona... Syukurlah Anda baik-baik saja." Hanna bernafas lega sambil memegang lengan Gina.


"Saat Hanna memanggilku ke sini, arah masuk di blokir, orang dari luar area bazar tidak diizinkan masuk kecuali petugas pemadam kebakaran dan tenaga medis. Aparat keamanan benar-benar mengamankan tempat ini." Ujar Marco menjelaskan tanpa Gina minta kenapa dia ada di tempat itu.


"Hanna, pulanglah bersama Marco." Kata Gina.


"Tapi, Nona. Saya yang membawa Anda kemari. Saya yang akan mengantar Anda pulang."


"Tidak, aku akan pulang sendiri. Kalian pulanglah bersama."


"Aku akan mengantar kalian berdua pulang." Celetuk Marco akhirnya.


"Tidak, aku tidak mau menjadi obat nyamuk diantara kalian." Gina mengulas senyum kecut.


"Jadi, kalian pulanglah dulu. Aku akan pulang sendiri."


"Nona..."


"Ini perintah." Potong Gina sebelum Hanna mengucapkan hal lain. Dan mau tidak mau Hanna harus menurut pada apa yang diperintahkan oleh atasannya itu.


Setelah mengembalikan kunci mobil Gina, Hanna pergi bersama Marco untuk menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari tempat Gina berdiri. Setelah itu, Gina sendiri memasuki mobilnya. Ia tidak segera menyalakan mesin mobilnya tapi malah menelungkupkan wajahnya diantara kedua lengan yang ia tumpukan pada setir. Gina menarik nafas berat. Bertemu lagi dengan Surya selalu membuat perasaannya menjadi kacau. Ia sangat tahu itu terjadi karena perasaanya kepada Surya masih ada dan bahkan memang belum berkurang sedikitpun.


Ia fikir setelah tidak berjumpa Surya beberapa waktu lamanya akan cukup baginya membuat dirinya lupa pada perasaan melankolis yang pernah ia rasakan. Tapi kenyataannya, Gina masih saja berdebar menatap pria bermata coklat itu. Ia masih sangat menyukai setiap perhatian yang Surya berikan. Wajah khawatir yang tampak pada Surya setiap dirinya mengalami kesulitan adalah pemandangan yang membuat hatinya merasa nyaman karena merasa diperhatikan.


Sekali lagi Gina menarik nafas berat. Tapi kali ini ia mengangkat wajahnya kembali. Dan saat ini ia baru menyadari sesuatu. Tas miliknya tidak ada bersamanya sekarang. Gina menjadi panik. Tas berharga mahal dengan segala isinya yang jika ditemukan oleh orang lain maka akan memberi keuntungan sangat besar. Ia lalu membuka pintu mobil kembali dan bermaksud keluar mencari keberadaan tasnya dimana ia tinggalkan.


Tapi baru saja membuka pintu, matanya melihat Surya bersandar di body mobil bagian belakang menoleh kepadanya. Ia lalu mengulurkan tangan memberikan tas milik Gina yang tertinggal di meja stand bazar tempatnya makan tadi. Entah sejak kapan Surya ada di sana. Gina merasa canggung mendapati Surya ada di dekatnya.


"Pemilik stand memberikannya kepada saya saat Anda pergi karena melihat kita sempat berbincang tadi." Ujar Surya menjawab tanda tanya di kepala Gina melihat tas itu ada padanya.

__ADS_1


"Terima kasih." Jawab Gina sambil mengambil tas di tangan Surya.


Tapi belum sempat Gina mengambil tasnya, Surya menangkap tangan Gina dan kemudian menggenggamnya. Gina menatap tangannya lalu memandang wajah Surya tidak mengerti dengan tindakannya yang tiba-tiba.


__ADS_2