
Gina menatap wajahnya di cermin. Yang ia tangkap dari bayangan cermin adalah wajah sembabnya. Ia sudah mengganti gaunnya yang basah karena air hujan.
"Nona, kita akan bermalam di sini atau kembali ke rumah?" Tanya Surya yang baru saja menampakkan diri dari balik pintu. Mereka masih berada di kamar hotel.
Mendengar suara Surya, Gina jadi ingat kejadian pesta mereka yang diguyur hujan. Dan juga, bagaimana Surya memeluknya yang menangis. Ia bergidik sendiri mengingat itu.
"Kau lupa pada perjanjian yang kita buat?" Jawab Gina yang masih belum memalingkan wajahnya dari depan cermin. Surya yang mendengar itu mengerutkan kening seolah mencerna arah pembicaraan Gina.
"Saya masih mengingat tiap poinnya, Nona." Jawab Surya kemudian dengan tenang seperti biasa.
"Lalu, kenapa hari ini kau menyentuhku berulang kali? Kau mau aku menuntutmu secara hukum karena telah melanggar perjanjian?" Kali ini Gina menatap Surya dari pantulan cermin di depannya. Dari situ ia bisa melihat Surya berdiri di depan pintu yang tertutup dengan sikap tegap seperti biasanya. Kadang Gina berfikir apa dulu Surya bercita-cita menjadi tentara karena sikap tegapnya seperti sikap para tentara lengkap dengan wajah serius layaknya pasukan yang sedang upacara. Sesekali Gina juga berfikit mungkin Surya adalah robot. Ia seperti tidak punya banyak ekpresi. Yang sering Gina lihat Surya bersikap diam dan serius. Jarang sekali melihat Surya tersenyum dan sama sekali tidak pernah melihat Surya berbicara panjang lebar apalagi tertawa.
Saat ini teknologi sudah sangat canggih, tidak menutup kemungkinan sebuah robot bisa sangat mirip menyerupai manusia. Gina berfikir begitu pasti karena terlalu banyak menonton film hollywood. Robocop, Terminator dan banyak film yang ia tonton memiliki ide cerita dengan menggunakan robot sebagai objek perannya. Mengingat Surya yang sangat patuh dan memiliki sikap disiplin, Gina menjadi curiga mungkin saja ia adalah robot yang diprogram khusus untuk melayani keluarganya.
Seperti kali ini, Surya bersikap tenang seolah tidak ada sesuatu yang penting untuk membuatnya gusar.
"Maafkan saya, Nona. Saya hanya mencoba menyelamatkan Anda."
"Oke, saat hampir jatuh di tangga memang itu sudah seharusnya. Tapi, memelukku?" Gina melotot memandang Surya dengan suara bernada marah.
"Saya merasa harus melindungi Anda dari pandangan banyak orang bahwa Anda sedang menangis."
"Lalu kenapa jika orang-orang tahu aku mengangis?" Gina menuntut penjelasan. Terlihat dari nada bicaranya yang semakin meninggi.
"Anda adalah pengantin jadi Anda harus terlihat bahagia dihari sepenting ini."
"Aku bahagia atau tidak itu bukan urusanmu. Jangan peduli padaku. Sudah berulang kali ku katakan padamu bahwa aku menikahimu karena itu adalah sebuah syarat untuk mendapatkan R-Company. Jadi jangan bersikap layaknya kau adalah seorang suami. Kau faham bukan?"
"Iya, Nona." Surya mengangguk mengerti.
"Ayo pulang. Kita tidak memiliki alasan untuk berada di sini. Jangan bermimpi kau dan aku bisa menghabiskan malam pertama bersama. Aku belum gila untuk melakukannya denganmu." Gina menyahut tasnya di atas meja rias dan beranjak dari tempat ia duduk. Surya mengikuti dibelakangnya.
Melihat yang seperti itu Surya sekarang seperti pengawal Gina. Patuh dan mengikuti setiap apa yang Gina inginkan.
Halaman rumah Gina sudah sepi. Ini sudah larut malam. Orang tua Gina pasti sudah tertidur karena mereka sudah pulang sejak tadi. Serangkaian acara yang panjang dan melelahkan juga mereka lakukan. Menyambut dan menemani para tamu undangan pun menghabiskan tenaga mereka.
Gina memasuki rumah dengan kunci yang ia punya. Surya memasukkan mobilnya ke garasi di bagian belakang rumah dengan bangunan megah itu.
Hari ini tidak saja melelahkan bagi Gina tapi juga menjengkelkan. Kesibukannya seharian penuh ditambah bonus menyaksikan kemesraan Faris dan Sunday yang menghadiri pestanya membuatnya seperti memperoleh kado yang tidak di harapkan. Diam-diam ia menyesal kenapa harus mengundang mereka berdua. Itu benar-benar membuat Gina cemburu.
Gina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya ketika pintunya di ketuk.
"Siapa yang mengetuk pintu. Jangan sampai itu si manusia robot." Gerutu Gina sambil bangun untuk membuka pintu.
"Nona..." Surya berdiri di balik pintu. Gina mendengus kesal.
"Ada apa lagi? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak tidur dalam satu kamar. Cobalah baca lagi perjanjian kita." Ucap Gina kesal.
"Saya ingat Nona, tapi tidak ada kamar untuk saya disini."
"Siapa yang mengatakan itu padamu. Ada banyak kamar di rumah ini dan pakai yang mana saja semaumu."
"Semua kamar disini terkunci, Nona."
__ADS_1
"Oh ya? Tidak pernah ada kamar terkunci disini kecuali kamar yang berpenghuni. Kau jangan membuat alasan untuk bisa sekamar denganku." Omel Gina.
"Tapi semua kamar memang terkunci, Nona."
"Benarkah? Aku rasa kau hanya ingin mengakaliku agar bisa sekamar denganku." Gina berjalan ke kamar yang ada di samping kamarnya. Ia putar gagang pintunya dan benar, kamar itu terkunci. Gina berpindah lagi menuju kamar yang ada di ujung lorong lantai dua itu dan terkunci juga.
"Apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba ada suara berat dari arah tangga. Gina menangkap wajah Pak Rangga.
"Ini yang kau butuhkan?" Pak Rangga mengangkat seikat kunci ditangannya.
"Jadi Papa yang melakukannya?"
"Tentu saja."
"Kenapa tiba-tiba mengunci semua kamar di rumah ini?" Sebenarnya Gina sangat tahu apa maksud Papanya melakukan itu.
"Tentu saja agar kau tidak melakukan hal itu." Pak Rangga menunjuk tangan Gina yang masih memegang handle pintu kamar itu dengan kedua tangannya karena berusaha membukanya tadi. Seketika Gina melepas pegangan tangannya.
"Surya, beristirahatlah. Kau pasti lelah." Perintah Pak Rangga kepada Surya yang masih berdiri tegak di depan pintu kamar Gina dengan koper disampingnya.
"Dimana? Dikamarku?" Tanya Gina panik.
"Tentu saja. Dia suamimu. Dia harus tidur disana."
"Tidak, dia tidak boleh berada di kamarku."
"Mana ada suami istri tidur di tempat terpisah? Aku dan mamamu bertahun-tahun menikah tidak pernah tidur berbeda tempat."
"Tidak, aku... aku tidak terbiasa tidur sekamar dengan orang lain." Gina mencari-cari alasan.
"Maksudku dia terlalu asing bagiku."
"Asing dari mana? Kau sudah mengenalnya cukup lama."
"Tidak, aku tidak bisa, Pa. Aku tidak bisa membiarkan Surya tidur dikamarku. Dia seorang pria dan aku wanita. Itu tidak baik." Ucapan Gina semakin konyol. Pak Rangga tahu Gina akan mengatakan berbagai alasan untuk tidak berada satu kamar dengan Surya.
"Mana ada hal tidak baik untuk suami istri yang tidur dalam satu kamar? Kau pikir aku bodoh lalu membodohiku seperti itu? Aku masih terlalu waras untuk menjadi sebodoh harapanmu. Sudahlah, Surya butuh istirahat. Biarkan dia masuk dan tidur." Pak Rangga tegas.
"Surya, masuklah." Perintah Pak Rangga.
"Tunggu... tunggu..." Gina setengah berlari menghampiri Surya yang mulai maju satu langkah untuk memasuki kamar Gina.
"Apa lagi? Kau benar-benar ingin kehilangan R-Company dengan melanggar aturannya?"
"Aturan? Aturan apa lagi?" Gina membulatkan mata.
"Bukankah kau sudah berjanji untuk mentaati segala aturan agar kau bisa mengambil alih perusahaan?"
"Jadi, ini juga termasuk aturan?"
"Tentu saja."
"Baiklah, mari besok kita sepakati secara tertulis aturan yang harus aku patuhi." Gina menuntut.
__ADS_1
"Tidak perlu, karena akulah aturan yang harus kau jalankan dan kau patuhi."
"Apa? Kenapa begitu? Itu tidak adil. Itu akan jadi sesuatu yang terdengar fleksibel dan Papa akan membuat aturan-aturan yang mungkin bisa merugikanku."
"Aku adalah Papamu. Tidak ada satupun orang tua yang berakal sehat ingin merugikan anaknya. Jadi, jangan khawatir. Aku tidak akan mendatangkan kerugian apapun padamu."
"Baiklah... baiklah... terserah Papa. Aku ikuti aturannya." Ucap Gina mengalah tapi dengan perasaan yang sangat dongkol. Benar-benar menyebalkan berhadapan dengan Papanya yang semena-mena itu. Kalau bukan karena R-Company, ia pasti lebih memilih minggat dari rumah ini daripada harus tidur satu kamar dengan Surya.
"Bagus, sekarang tidurlah di dalam."
"Baik, Pak."
"Tunggu sebentar..." Surya memandang Gina yang terlihat kesal.
"Papa mau apa? Sudah cepatlah kembali ke kamar Papa. Aku akan membiarkan Surya tidur di kamarku. Papa tidak usah khawatir."
"Benarkah?" Pak Rangga menyelidik seperti tidak bisa mempercayai putrinya.
"Kau yakin tidak akan mengusir Surya setelah aku pergi dari sini?"
"Iya, aku tidak akan melakukan itu."
"Baiklah. Aku akan memeriksa cctv. Jadi jangan sekali-sekali berulah." Tunjuk Pak Rangga pada salah satu sudut atap yang disana terdapat kamera cctv.
"Iya... " Jawab Gina malas.
"Dan kau Surya. Jangan panggil aku Pak. Aku bukan bosmu lagi. Aku adalah ayah mertuamu. Panggil aku Papa."
"Baik, Pa." Jawab Surya masih terdengar kaku.
"Nah, begitu terdengar lebih baik." Setelah itu Pak Rangga turun ke lantai satu untuk menuju ke kamarnya sendiri.
Gina melongok ke bawah dari depan kamar untuk memastikan Pak Rangga sudah benar-benar turun dan menuju kamarnya.
"Jangan terlalu senang dengan perlakuan Papa yang memperbolehkanmu tidur dikamarku."
"Tidak Nona."
"Sebelum memasuki kamarku, kau harus berjanji beberapa hal lagi padaku."
"Apa itu, Nona?"
"Pertama, kita tidak akan pernah tidur di tempat tidur yang sama. Aku di kasur dan kau di kursi." Jelas Gina.
"Baik Nona."
"Kedua, jangan sembarangan melihatku saat aku tidur. Ketiga, jangan mengotori kamarku dengan barang-barangmu. Semua lemari sudah terisi penuh dengan pakaian dan semua perlengkapanku. Jadi kau tidak usah repot-repot mengeluarkan barang-barangmu dari dalam kopor. Karena mungkin saja dalam waktu dekat kau akan pergi dari rumah ini."
"Iya, Nona."
"Oh iya satu hal lagi, ingat baik-baik. Kita bukan suami istri jadi jangan macam-macam terhadapku atau aku bisa mematahkan lehermu hanya dengan tangan kosong."
"Baik Nona."
__ADS_1
Selanjutnya Gina memasuki kamar diikuti oleh Surya sambil menarik kopornya.