Tahta Surya

Tahta Surya
Dapur


__ADS_3

Gina bangun dari tidurnya. Ia melihat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul enam pagi. Masih terlalu pagi baginya untuk bangun. Sehingga Gina menarik kembali selimutnya sampai kepala.


Semalam hujan sangat lebat sehingga menyisakan udara yang sangat dingin pagi ini. Gina masih ingin bermalasan di atas tempat tidur. Tapi entah kenapa matanya tidak bisa terpejam lagi walaupun ia sudah memaksakan diri.


Akhirnya karena tidak tahan dengan keadaannya yang membingungkan antara harus bangun atau kembali tidur, Gina pun memutuskan untuk bangun dan keluar dari kamarnya. Gina menuruni tangga dan melihat suasana rumahnya masih sepi. Ia yakin Surya pasti sedang lari pagi. Orang tuanya juga pasti berolahraga pagi. Entah berjalan-jalan memutari komplek perumahan atau bersepeda berkeliling.


Memang sejak tidak lagi bekerja, Pak Rangga dan Bu Marina benar-benar menikmati waktu mereka dengan baik. Berolah raga saat pagi hari dan bersantai atau berjalan-jalan berdua sepanjang hari. Mereka melakukannya seperti ingin membayar waktu sibuk mereka selama masa muda.


Gina melintasi dapur saat mendengar bunyi sesuatu dimasukkan ke dalam penggorengan di sela-sela lagu dangdut bersuara dari speaker milik Mbak Yuyun yang saat membelinya menitip pada Gina waktu itu. Gina melihat sekilas tapi lalu menghentikan langkah melihat siapa yang sedang memakai celemek di dapur.


"Surya?" Gumam Gina sambil berjalan mendekati dapur.


"Surya, apa yang sedang kau lakukan di sini?" Surya yang sedang memegang spatula jadi kaget tiba-tiba Gina sudah ada di sampingnya.


"Oh Nona..." Surya terlihat gugup. Ia meletakkan spatula di atas penggorengan dengan dua ekor ikan yang sedang berenang di atas minyak panas itu.


"Nona kenapa bangun?"


"Kau pikir aku putri salju yang tidak bisa bangun sendiri dan harus menunggu pangeran tampan datang membangunkanku dengan ciumannya?" Gina mengomel.


"Itu dongeng anak-anak, Nona." Surya tertawa kecil melihat Gina yang sepertinya sedang tidak ramah pagi ini. Entah karena usai mimpi buruk atau sedang akan datang bulan, pagi ini Gina sedang dalam mode galak.


"Terserah aku bangun jam berapapun. Itu bukan urusanmu." Gina masih ketus.


"Baiklah, Nona." Sambil Surya membalik kedua ikan di atas penggorengan. Minyaknya meletup-letup kesana kemari dan bahkan mengenai Gina. Gina berteriak teriak menghindari letupan minyak yang sampai ke kulitnya.


"Hei, ini mengenaiku. Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini? Mbak Yuyun kemana?" Gina sudah berjalan mundur beberapa langkah dari sana. Lagu dangdut masih mengalun dengan nada sendu. Entah kenapa tumben sekali playlist mbak Mbak Yuyun berisi lagu slow, bukan lagu ceria dan penuh dengan beat seperti biasanya.


"Mana...mana, Nona. Sini basuh dengan air agar tidak melepuh." Surya menarik Gina ke tempat cuci piring. Gina menurut karena melihat Surya sepanik itu. Muncul ide jahil di kepalanya untuk mengerjai Surya. Gina menyunggingkan senyum jahil saat Surya sibuk membasuh lengannya.


"Harus dibasuh seperti ini agar tidak jadi melepuh, Nona." Ujar Surya masih membasuh lengan Gina dibawah air kran.


"Memang tidak akan melepuh." Ujar Gina santai. Surya lalu memandang wajah Gina yang memerah sambil menahan tawa.


"Sudah... aku tidak apa-apa." Gina tersenyum memandang Surya yang bengong melihatnya.


"Aku tidak benar-benar terkena minyak." Sekarang Gina tertawa. Terlihat Surya menarik nafas lega. Melihat itu Gina semakin ingin tertawa karena telah membuat Surya khawatir.


Entah kenapa melihat itu Gina sangat senang. Ekspresi khawatir Surya membuatnya bahagia. Mungkin ini yang dinamakan berbahagia diatas penderitaan orang lain. Tapi memang itu yang Gina rasakan. Setiap kekhawatiran dan perhatian Surya membuatnya merasa nyaman.


"Anda yakin tidak terkena cipratan minyak?" Surya meneliti lengan Gina yang baru saja dibasuhnya. Gina menggeleng dengan senyum yang masih ada dibibirnya.


"Syukurlah." Surya lalu melepas lengan Gina dan sekali lagi bernafas lega.

__ADS_1


Wajah Panik Surya sangat lucu. Sangat berbeda dengan biasanya. Sikap Surya yang tenang bahkan saat hampir kehilangan kontrak dengan investor pun tidak terlihat sepanik itu. Ia terbiasa bersikap tenang dan sangat santai. Jadi saat melihat Surya sepanik itu, memberi pemandangan unik bagi Gina.


"Nona sebaiknya jangan disini."


"Kenapa mengusirku? Lagi pula kenapa kau ada disini? Mbak Yuyun dimana? Memangnya kau bisa memasak? Nanti kalau gosong semua bagaimana? Kalau asin? Kalau..."


"Pak Surya jago masak, Nona." Sahut Mbak Yuyun yang akhirnya masuk ke dapur.


"Saya baru saja menjemur cucian, Nona." Jelas mbak Yuyun.


"Mbak Yuyun ini bagaimana? Kenapa mempercayakan dapur kepada yang bukan ahlinya?"


"Bukan ahli bagaimana, Nona. Daripada saya, Pak Surya ini mahir sekali memasak."


"Dari tadi Mbak Yuyun memuji Surya terus. Memangnya dia semahir itu?" Gina memandang Surya dan dibalas senyum lebar oleh Surya.


"Waktu itu Nona mengatakan bubur ayamnya enak. Itu adalaha buatan Pak Surya. Dan juga nasi goreng setiap pagi yang selalu membuat Pak Rangga menambah setiap sarapan, itu juga dibuat oleh Pak Surya, Nona." Jelas Mbak Yuyun bersemangat.


"Oh ya? Benarkah?" Gina membelalakkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mbak Yuyun.


Gina jadi ingat kembali bagaimana rasa masakan-masakan yang dibicarakan oleh Mbak Yuyun. Semua masakan itu memang rasanya sangat enak. Jadi Gina tidak percaya kalau itu semua adalah Surya yang membuatnya. Surya masih sibuk dengan membolak-balik ikan di atas penggorengan saat Gina memandangnya dengan kagum. Mbak Yuyun yang melihat itu jadi tersenyum.


"Surya? Setelah mencuci, menyapu, mengepel lalu sekarang memasak, kau bisa apa lagi? Kau benar-benar pria, bukan?" Gina menarik lengan baju Surya dengan dua ujung jarinya meminta perhatian saat berbicara dengan Surya. Surya pun menoleh. Mbak Yuyun yang memotong sayur menahan tawa mendengar itu.


"Iya Nona, saya 100% pria." Jawab Surya sambil memandang Gina.


"Tidak ada pekerjaan pria dan wanita secara spesifik sekarang ini, Nona. Seorang cleaning service yang terdiri dari dari pria dan wanita juga bekerja dengan semua alat kebersihan. Para koki di restoran juga kebanyakan mereka adalah para pria. Jadi, sebenarnya pekerjaan itu milik siapa saja dan tidak mengenal jenis kelamin, Nona."


"Kau benar, aku yang wanita saja tidak bisa melakukan semua itu." Gumam Gina dengan pandangan menerawang jauh. Surya tersenyum melihat Gina bengong begitu.


"Baiklah, ikan nila goreng sudah siap. Sekarang tinggal sambalnya." Kalimat Surya memecah lamunan Gina.


"Mbak Yuyun, dimana tadi bahan untuk sambalnya?"


"Oh ini, Pak." Mbak Yuyun mendekati Surya mengantarkan sepiring bahan-bahan untuk sambal. Gina sempat melihat di piring itu terdapat bawang merah, bawang putih, cabe besar, cabe rawit dan juga tomat. Gina juga baru tahu kali ini bahwa itu semua adalah bahan-bahan untuk membuat sambal yang biasa ia makan.


"Sebentar..." Gina melarang Surya memasukkan bahan-bahan sambel ke dalam penggorengan. Surya mengurungkan niatnya.


"Ada apa, Nona?"


"Kau yakin bisa membuat sambal? Aku rasa biarkan mbak Yuyun saja yang melakukannya. Jangan kau. Nanti sambalnya tidak enak."


"Tapi kemarin saat Anda makan ayam gorengan dengan sambal, Anda mengatakan itu enak sekali."

__ADS_1


"Sambal itu juga sambal buatanmu?" Surya mengangguk.


"Wah, kau ini seharusnya bukan menjadi presdir di R-Company tapi menjadi chef saja." Gina tertawa. Surya ikut tertawa. Mbak Yuyun masa bodoh dan ia hanya harus memotong-motong sayur dihadapannya.


"Baiklah, buktikan dengan benar kalau yang kemarin-kemarin itu benar adalah masakanmu.


"Baik Nona, jangan sampai Anda tertinggal satu step pun." Surya sedikit menyombong. Gina memanyunkan bibirnya.


"Silakan Anda tunggu di sini saja agar tidak terkena cipratan minyak lagi." Surya memegang kedua pundak Gina dan membuatnya duduk di salah satu kursi di dapur.


"Baiklah, jangan sampai dewan juri kecewa saat mencoba masakanmu."


"Oke, kita lihat saja." Surya mengerlingkan matanya kepada Gina. Seketika hati Gina seperti kesemutan. Manis sekali saat Surya mengerling seperti itu. Mata coklat Surya membuatnya meleleh.


Surya memasukkan bahan-bahan sambel untuk dikukus. Selanjutnya sambil menunggu sambalnya matang, Surya menata ikan goreng diatas piring. Sayur yang sudah dibersihkan oleh Mbak Yuyun juga ia tata di atas piring. Daun selada, kemangi, mentimun, terong, dan kacang panjang ada disana tertata dengan indah. Gina melihat dengan matanya sendiri bagaimana Surya melakukan semua itu dengan sangat baik. Tiba-tiba perutnya terasa aneh. Ada sensasi menggelitik tapi tidak membuatnya tertawa. Ada rasa mual tapi itu tidak membuatnya ingin muntah. Entah bagaimana tapi rasanya Gina tahu perasaan jatuh cintanya kepada Surya sudah sampai pada tahap lanjut.


"Surya..." Panggil Gina dari tempatnya duduk.


"Iya Nona." Surya sedang sibuk mengangkat bahan sambal yang ia kukus tadi untuk selanjutnya ia taruh diatas cobek untuk dihaluskan.


"Kenapa kau pandai melakukan segala hal bahkan juga untuk urusan memasak?"


"Itu karena saya memang sudah terbiasa melakukannya, Nona." Jawab Surya sambil menuangkan garam dan gula ke dalam sambal yang akan ia haluskan.


"Saat Bapak dan Ibu di sawah, saya harus memasak untuk makan kami, Nona. Ibu dan Bapak berangkat ke sawah pagi-pagi sekali. Jadi setelah mengambil air, saya lalu memasak sebelum saya berangkat ke sekolah."


"Oh ya? Kau melakukan itu sebelum berangkat ke sekolah?"


"Benar Nona."


"Lalu kau harus bangun jam berapa?"


"Saya biasa bangun jam tiga pagi, Nona. Lalu saya mengambil air di sungai baru setelah itu memasak, membersihkan rumah dan bersiap ke sekolah." Mendengar itu Gina ingat bagaimana saat dulu ia menjadi anak sekolah. Bangun sangat santai dan selalu memasuki gerbang sekolah tepat saat bel berbunyi. Surya benar-benar anak laki-laki yang rajin. Tidak seperti dirinya.


Gina pun jadi ingat apa yang yang dikatakan oleh Ibu Surya saat ia mencoba membantu memasak di dapur.


"Ibu sangat bersyukur walau hanya memiliki satu orang anak dan itu adalah anak laki-laki. Meskipun Surya laki-laki tapi dia jauh lebih baik dari pada anak perempuan. Dia tidak pernah membiarkan kami kerepotam sendiri. Dia membantu segala pekerjaan kami. Dia anak yang sangat berbakti." Puji Ibu Surya.


Waktu itu Gina berfikir bahwa karena Surya bisa menyapu, mengepel atau mencuci seperti yang Gina tahu ia kerjakan di rumahnya saat itu. Tapi ternyata bahkan Surya bisa memasak juga. Gina benar-benar semakin mengagumi Surya sekarang.


"Surya... ku lihat kau bisa melakukan banyak hal. Jadi apa sebenarnya yang tidak bisa kau lakukan?" Tanya Gina lagi. Surya menoleh kepada Gina. Sejenak Surya tampak berfikir.


"Entahlah Nona. Saya selalu mencobanya terlebih dulu lalu belajar dan kemudian menjadi bisa."

__ADS_1


"Jadi, apa itu artinya kau juga bisa menyukai orang yang bahkan tidak bisa melakukan apapun yang seharusnya itu adalah tugasnya?"


"Maaf, Nona?" Surya mengerutkan kening tidak mengerti arah pembicaraan Gina.


__ADS_2