
"Gina..." Sapa pria yang sudah ada di dekat Gina. Ia mengangkat kepalanya dan menatap pria itu.
"Hai kau. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Tutorku yang Tampan" Gina memadang pria berwajah rupawan itu dengan senyum merekah.
Dari tempatnya berdiri, Gina melihat Surya muncul dari balik rak dan berjalan ke arahnya. Tapi kemudian Surya berhenti di rak tidak jauh dari situ sehingga muncul ide di fikiran Gina dengan menyertakan sapaan 'Tutorku yang Tampan' untuk Victor, teman Sunday yang pernah mengajarinya pemrograman dulu.
Sayangnya Gina tidak melanjutkan itu saat tahu bahwa dibalik kebaikan Sunday merekomendasika Victor sebagai tutornya ternyata itu karena Sunday ingin menjodohkan mereka. Sehingga, Gina lalu menghentikan keinginannya untuk belajar pemrograman karena itu akan sia-sia. Faris menyukai Sunday bukan karena dia mengerti bahasa pemrograman tapi karena memang Faris menyukai gadis itu. Dan Gina tidak mau membuang waktu untuk belajar sesuatu yang sebenarnya tidak begitu ia minati hanya untuk menarik perhatian Faris.
"Baiklah, aku rasa tidak cukup berbakat dalam bidang ini." Ucap Gina kepada Victor waktu itu.
"Tidak banyak orang yang memiliki bakat tertentu yang juga mereka bawa saat lahir." Jawab Victor sambil terkekeh.
"Aku bahkan tidak tahu kenapa huruf-huruf ini sangat berpengaruh. Bahkan satu saja tanda kurung itu kurang, program tidak bisa berjalan. Butuh banyak ketelitian dalam hal ini dan aku bukan orang yang bisa melakukannya."
"Baiklah, kalau kau memang ingin berhenti. Kau juga tidak harus memaksakan diri untuk sesuatu yang sulit bisa kau fahami."
"Benar, aku tidak bisa melakukan ini." Gina tersenyum senang karena Victor begitu cepat memahaminya.
"Setelah ini kau ada acara?" Ujar Gina sambil memasukkan laptop ke dalam tasnya.
"Sepertinya tidak." Victor meminum moccachinonya lagi.
"Kemarin ku pikir kau berpacaran dengan Sunday."
"Tidak. Kami hanya berteman."
"Ya, akhirnya aku tahu itu saat Faris mengatakan dia sudah berpacaran dengan Sunday sekarang."
"Benarkah?" Victor terperanjat.
"Kau belum tahu? Ku pikir kau sangat dekat dengan Sunday untuk mengetahui itu."
"Tidak, mungkin dia terlalu sibuk untuk menceritakannya padaku."
"Atau memang dia sengaja merahasiakannya darimu?" Ucap Gina hati-hati seolah merasa tidak enak sudah memberitahu Victor tentang hubungan Sunday dan Faris.
Dilihat dari gelagatnya, Gina bisa tahu bahwa Victor bukanlah teman yang biasa terhadap Sunday. Sunday mungkin menganggap Victor teman biasa tapi sepertinya itu tidak berlaku sebaliknya. Gina melihat bagaimana Victor berbicara dan memperlakukan Sunday bukan seperti teman tapi lebih dari itu. Sehingga ketika mengetahuinya, Gina bermaksud untuk menjadikan Victor sebagai patner untuk mendapatkan cinta mereka masing-masing. Gina berfikir jika mereka bekerja sama, kemungkinan untuk memisahkan Sunday dan Faris akan terwujud walau bagaimanapun caranya. Setelah mereka berpisah, maka akan mudah bagi Gina mendapatkan Faris dan Victor akan bisa mendapatkan Sunday segera.
"Kau tidak ingin mengambil Sunday kembali? Kau akan membiarkan Sunday bersama Faris? Bukankah menyakitkan merelakan orang yang kita cintai harus bersama orang lain?" Ujar Gina yang seolah memprovokasi Victor agar bersedia menjadi patnernya.
Victor masih duduk di depan Gina dengan fikiran yang sibuk di kepalanya. Sepertinya ia mulai mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan.
"Ku rasa inilah saatnya aku mengakui kekalahanku." Ujar Victor yang membuat Gina kecewa. Kalimat Victor itu cukup menjadi jawaban bahwa ia menolak tawaran kerja sama Gina untuk membuat Faris dan Sunday berpisah.
"Lebih dari tiga tahun aku mendekati Sunday dan meskipun Faris sempat menghilang dari kehidupannya, tapi selama itu aku tidak bisa menyentuh hatinya sama sekali. Sedangkan, saat Faris datang kembali nyatanya tidak sulit untuk Sunday menerima dan membiarkannya masuk kembali ke dalam hatinya." Ada mendung tebal dari pandangan mata Victor.
"Aku akan sadar diri dengan ketidakmampuanku menarik hati Sunday. Aku akan membiarkannya bersama orang yang dicintainya."
Meskipun mengatakan semua itu dengan senyum yang ada di bibirnya tapi Gina tahu ada kegetiran yang dalam di hati Victor. Dan bertemu kembali dengan Victor saat ini, Gina ingat pernah memiliki ide konyol itu.
"Bagaimana, kau sudah tidak tertarik lagi dengan pemrograman?"
"Iya, sebenarnya aku tertarik sekali, tapi berhubung aku sudah tidak lagi bekerja di Font jadi aku harus benar-benar mengucapkan selamat tinggal pada ilmu pemrograman." Lalu Gina tertawa.
"Benarkah? Kau tidak bekerja di Font lagi?"
__ADS_1
"Hmm..."
"Lalu, apa yang sedang kau lakukan sekarang?"
"Aku menjadi tukang panci." Gina lalu tertawa setelah mengatakan itu. Victor yang tidak percaya pada ucapan Gina jadi ikut tertawa.
"Kau ini mengada-ada saja. Aku harus mengatakan pada Sunday kalau suaminya harus mempekerjakan kau lagi di Font. Mana bisa wanita secantik dirimu menjadi tukang panci. Nanti yang ada bukan ibu-ibu yang ingin menambalkan pancinya tapi para bapak yang malah mengantri." Kelakar teman Gina yang diikuti tawanya lagi.
"Baiklah, lain kali kita harus mengobrol lebih banyak."
"Boleh." Gina mengiyakan.
"Nomor ponselmu masih tetap sama, bukan?"
"Tentu saja."
"Bagus. Lain kali kita harus makan bebek goreng lagi. Dengan sambal ijo yang banyak sampai perutmu terbakar."
"Siapa takut." Ucap Victor menyanggupi.
Dari tempatnya berdiri Gina bisa melihat bagaimana Surya sesekali melihat ke arahnya. Ia tahu Surya sedang mengawasinya sekarang. Gina menahan senyum untuk apa yang Surya lakukan itu. Gina merasa ia harus tetap manis dan akrab kepada Victor untuk bisa tahu apakah Surya menaruh perhatian padanya.
Bertemu lagi seperti ini dengan Victor membuatnya ingin melakukan lagi ide konyol yang lain bersamanya. Gina akan bersikap manis kepada Victor dan melihat bagaimana reaksi Surya jika dirinya berbincang dengan pria lain seakrab itu. Benar, entah jiwa pelindung atau pengintainya yang sedang mendominasi, yang jelas Gina melihat Surya selalu mengawasinya dengan gusar.
Sampai akhirnya sekarang mereka meninggalan supermarket dengan membawa belanjaan mereka. Gina segera masuk ke dalam mobil dan membiarkan Surya memasukkan belanjaanya ke dalam bagasi mobil. Tapi ia sangat kaget saat merasakan Surya sangat keras menutup pintu bagasinya.
"Ya Tuhan... dia ini..." Gumam Gina sambil memutar badannya ke belakang untuk melihat Surya dan bermaksud menanyakan apa masalahnya sampai membanting pintu bagasi seperti itu. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya karena merasa mendapatkan apa yang ia inginkan dan tersenyum licik.
"Apakah Surya marah?" Gina berbisik pada dirinya sendiri.
"Apa dia marah karena Victor?" Fikir Gina lagi.
Hingga mereka tiba di rumah pun Surya belum membuka suaranya sama sekali. Melihat itu Gina benar-benar berharap Surya sedang tidak enak hati karena bersikap manis kepada Victor tadi. Saking senangnya melihat Surya yang seperti itu, Gina sampai tersenyum-senyum sendiri saat menunggu Surya membuka pintu rumahnya.
"Nona..." Panggil Surya yang melihat Gina masih diam sambil tersenyum di depan pintu, bukannya masuk mengikuti Surya.
"Iya." Gina yang mendengar panggilan Surya jadi sadar dengan apa yang dilakukannya. Ia langsung menjawab sambil memandangnya.
"Ada apa?" Gina masih tidak tahu maksud panggilan Surya.
"Anda tidak masuk?"
"Oh, tentu saja aku masuk. Siapa yang akan berada di luar saat gerimis begini." Ujar Gina dengan melangkahkan kaki memasuki rumah Surya.
Saat di dalam rumah, Surya segera memasuki dapur dan meletakkan belanjaan mereka di sana. Gina mengikutinya dari belakang. Surya menarik lengan bajunya sampai siku dan mulai mengeluarkan bahan makanan dari dalam kantong-kantong plastik itu.
"Biar aku yang memasukkannya." Minta Gina pada bahan makanan berkemasan yang ada di salah satu kantong plastik untuk ia masukkan ke dalam laci penyimpanan di dapur Surya.
Surya tidak menjawab apapun dan hanya meninggalkan plastik itu di meja makan lalu melanjutkan mengambil peralatan dapur untuk ia memasak makan malam. Diam-diam Gina mencuri pandang pada Surya. Wajah Surya tampak dingin dan kaku. Antara bingung dan penasaran, Gina melirik Surya yang masih membisu sejak tadi.
"Surya, apa yang bisa ku bantu?" Tanya Gina memecah keheningan diantara mereka selama beberapa saat berada di dapur.
"Tidak ada, Nona."
"Biarkan aku memotong atau mengiris sesuatu."
__ADS_1
"Tidak usah, Nona."
"Ayolah, biarkan aku membantumu." Pinta Gina.
"Nona silakan mandi saja, setelah itu makanan pasti sudah siap."
"Tidak, aku belum ingin mandi. Aku harus membantumu dulu menyiapkan makan malam."
"Ini sangat mudah, jadi Anda tidak perlu membantu."
"Bagaimana bisa seorang istri tidak boleh menyentuh dapur." Mendengar kalimat Gina, Surya memandangnya lekat-lekat. Gina membalas tatapan Surya dan mencoba mencari tahu kira-kira apa yang sedang Surya fikirkan sekarang tentangnya.
"Kenapa Anda mendadak ingin memasak?" Tanya Surya masih menatap Gina. Wajahnya dingin, tidak seperti Surya biasanya. Surya seperti orang yang dulu sebelum Gina nikahi. Dingin.
"Karena ingin bisa. Aku ingin bisa memasak." Jawab Gina santai masih membalas tatapan dingin Surya.
"Ini bukan diri Anda. Kenapa Anda berubah?"
"Berubah?" Gina seperti bertanya pada dirinya sendiri dan menyadari memang dirinya sedikit berubah akhir-akhir ini. Ia juga sadar perubahan yang ia alami adalah untuk menjadi orang yang menarik bagi Surya.
"Setiap orang berubah pada saatnya." Akhirnya itu yang Gina katakan. Ia tidak mungkin mengatakan kepada Surya bahwa perubahan itu adalah demi untuk menarik hatinya.
"Baiklah, jika itu menjadi pilihan Anda." Surya lalu memalingkan wajahnya pada panci berisi rebusan ayam yang sedang ia masak.
"Kau merasa terganggu dengan perubahanku?" Kalimat Gina kali ini tidak langsung ditanggapi oleh Surya. Ia masih sibuk memasukkan bumbu-bumbu ke dalam masakannya.
"Kau tidak merasa terganggu, bukan? Apa itu mengganggumu?" Cecar Gina karena merasa tidak diperhatikan oleh Surya.
Kemudian Gina menarik tangan Surya untuk mendapat perhatiannya kali ini. Sendok sayur yang sedang dipegang Surya jatuh saat Gina menarik tangannya. Keduanya menatap sendok sayur yang tergeletak di lantai. Lalu Surya buru-buru mengambilnya dan meletakkannya di atas tempat cuci piring karena tidak ia pakai lagi.
"Maaf, aku tidak sengaja." Gina melembutkan suaranya karena melihat mungkin saja Surya marah kepadanya yang telah mengganggu saat memasak.
"Tidak apa, Nona." Surya lalu mengambil sendok sayur yang lain dan kembali mengaduk masakannya.
"Surya, apa kau sedang tidak enak badan?" Tanya Gina langsung karena ia melihat Surya benar-benar berbeda dari biasanya. Ini adalah sisi baru dari Surya yang belum pernah Gina lihat.
"Saya baik-baik saja, Nona." Jawab Surya masih dengan acuh.
"Apa kau sedang marah?" Mendengar itu, Surya lalu menoleh kepada Gina.
"Tidak, Nona. Saya tidak punya alasan yang membuat saya bisa marah."
"Oh ya?" Gina mendekat satu langkah untuk mencari tahu kebenarannya. Karena orang tidak akan berubah suasana hati hanya dalam sekejap kalau tidak ada yang memicunya.
Surya masih tidak menghiraukan Gina dan mengaduk masakannya di dalam panci. Surya lalu mencicipinya dan menambahkan sedikit lagi garam karena dirasa masakan itu belum pas dilidahnya.
"Surya...." Gina memegang lengan baju Surya sambil memandangnya. Lama-lama ada rasa tidak enak di hati Gina melihat Surya seperti mendiamkannya seperti itu.
"Surya..." Sekarang Gina menggerak-gerakkan lengan baju Surya yang ia sentuh sambil sedikit merengek dalam jarak yang cukup dekat.
Kali ini sepertinya berhasil. Surya menghentikan aktifitasnya dan menatap Gina.
"Nona, ini melewati batas." Ucap Surya. Gina membelalakkan mata mendengar apa yang baru saja Surya katakan. Bagaimana mungkin Surya berani mengatakan hal itu. Tapi walaupun begitu Gina belum ingin melepas tangannya dari lengan baju Surya.
"Kita jangan sedekat ini." Kali ini kalimat Surya membuat Gina semakin tidak percaya.
__ADS_1
"Kau tahu, kaulah yang memulainya." Berganti Surya mengerutkan kening mendengar itu.
"Jadi, aku akan menjadi orang yang akan melewati semua batasan itu." Ujar Gina dengan suara yang sangat tegas tanpa keraguan sama sekali.