Tahta Surya

Tahta Surya
Wanitanya


__ADS_3

Hanna melangkahkan kaki keluar dari lobi R-Company dan mendekati mobilnya di tempat parkir. Setelah masuk ke dalam mobilnya ia tiba-tiba teringat apa yang diucapkan oleh Gina tadi siang tentang kemungkinan Surya memberi jampi-jampi sehingga dirinya jatuh hati pada suami yang awalnya sangat tidak ia harapkan itu. Hanna tahu bahwa Gina adalah wanita yang cantik dengan selera tinggi. Termasuk kepada siapa ia harus menjatuhkan hati, Hanna faham bagaimana atasannya itu harus memilih. Ia tahu Gina menyukai Faris yang tampan, kaya dan terlihat cerdas. Dan berdasarkan seleranya, itu cukup masuk akal. Tapi, jatuh cinta kepada Surya? Hanna sendiri tidak menyangka hal itu akan terjadi. Gina yang dengan penampilannya selalu terlihat sempurna, dengan kekayaan yang melimpah dan seleranya yang tinggi bagaimana bisa menyukai Surya, pria yang berasal dari kampung, tidak modis kalau bukan Gina yang mendandaninya, tidak berharta dan hanya pegawai biasa, bukan benar-benar pemilik perusahaan dan banyak hal yang membuat kejanggalan itu semakin jelas. Lalu dengan apa yang ada pada Surya bagaimana bisa Gina jatuh cinta begitu saja?


Hanna masih belum melajukan mobilnya karena memikirkan itu. Menyadari hal itu, lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Tak berapa lama orang yang ia hubungi berjalan menghampirinya. Hanna menatapnya dari dalam kaca mobil miliknya.


Gina memasuki rumahnya sambil menenteng tas dari merk terkenal itu di tangan kanannya. Di ruang keluarga ada Pak Rangga dan Bu Marina sedang menonton TV sambil berbincang. Sungguh damai kehidupan yang mereka jalani sekarang. Mereka benar-benar menikmati masa pensiun mereka dengan sebaik mungkin. Jalan-jalan bepergian, makan diluar, jika sedang tidak ingin kemana-mana, mereka akan menghabiskan waktu dirumah saja seperti ini. Dan melihat kedua orang tuanya tampak sedang bersantai, Gina tidak bisa jika hanya lewat saja tanpa menyapa.


"Sepertinya kalian sedang melakukan aksi balas dendam." Mendengar suara Gina, dua orang yang mulanya sedang menonton acara warta berita di TV itu serentak menoleh kepada Gina.


"Kau sudah pulang. Mana Surya?" Pak Rangga celingukan mencari Surya yang tidak masuk bersama Gina.


"Ada pertemuan dengan staf marketing." Jawab Gina singkat sambil duduk di sofa kosong di samping mamanya.


"Kau tidak ikut?"


"Papa lupa sudah menempatkanku di divisi apa?" Gina mengambil kacang di atas piring, mengupas dan memakan bijinya.


"Ku fikir kau sudah berpindah menjadi staf marketing." Pak Rangga tertawa kecil setelah mengatakan kalimat itu.


"Papa, memangnya aku bisa dengan mudah berpindah posisi sesuka hatiku?" Gina sangat tenang berhadapan dengan Papanya, seperti biasa.


"Aku melihat poster gambarmu di salah satu R-Store tadi. Aku hampir tidak percaya kau melakukannya."


"Lihatlah betapa aku sangat ingin membuat R-Company berkembang sampai-sampai aku mengorbankan diriku untuk bisa dipajang secara sembarangan dimana-mana."


"Aku rasa itu sangat bagus. Kau mulai tahu bagaimana caranya menempatkan dirimu sebagai calon pemilik R-Company berikutnya." Ujar Pak Rangga.


"Lagipula berkat menjadi model, kau juga akhirnya mendapatkan tas itu dengan lebih mudah, bukan?" Pak Rangga menunjuk tas impor disamping Gina. Gina lalu menarik tasnya untuk lebih dekat dengannya.


"R-Company membayarmu secara profesional dan jumlahnya lumayan besar. Kau tiba-tiba menjadi sebanding dengan model-model papan atas itu sekarang." Pak Rangga mencibir.


"Tapi itu sebanding dengan hasil fotonya bukan. Papa juga sudah melihat bagaimana aku sangat baik berperan sebagai model untuk R-Company. Aku akan menjadi brand ambassador R-Company yang sebenarnya."


"Ya... ku rasa kau cukup kompeten untuk hal yang berhubungan dengan kemampuan fisik."


"Apa Papa masih saja meragukanku? Lihatlah aku sudah jauh berubah sekarang." Gina meyakinkan Papanya. Mamanya tersenyum melihat Gina yang bersungguh-sungguh seperti itu.


"Kita lihat saja nanti. Apa kau benar-benar semakin baik."


"Sudahlah Pa, jangan melakukan evaluasi lagi. Aku tahu apa yang harus ku lakukan saat aku menjadi presdir nanti. Aku tidak sebodoh yang Papa kira."


"Baiklah... sebenarnya ada yang membuatku berat kalau kau harus mengambil alih R-Conpany."


"Papa harus percaya padaku, harus mendukungku seperti Papa mendukung Surya. Aku adalah putri Papa, jadi aku tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa membuat R-Company dalam masalah."


"Aku tahu segigih apa kau ingin menjadi presdir R-Company. Aku juga tahu kau tidak rela orang lain menduduki posisi itu. Tapi aku juga tidak yakin harus kehilangan Surya saat kau akhirnya bisa menggantikannya. Bagaimana mungkin Surya harus melepas jabatan setelahnya." Mendengar itu Gina diam terpaku.

__ADS_1


"Kau pasti sangat senang bukan pada akhirnya harus menggeser posisi Surya." Gina memandang Pak Rangga lekat. Ia tampak berfikir.


"Ya tentu saja aku sangat senang. Akhirnya semua bisa berjalan dengan benar sebagaimana mestinya. Dengan R-Company di bawah kuasaku seorang pewaris asli R-Company." Gina lalu tertawa senang.


"Baiklah, kalau begitu terus saja lakukan yang terbaik untuk R-Company. Aku selalu mengevaluasimu dan jangan sampai membuatku kehilangan kepercayaan padamu."


"Papa tidak perlu khawatir, aku akan menjadi sehebat Papa." Gina percaya diri. Bu Marina tersenyum menyimak perbincangan suami dan putrinya. Ia tidak berkeinginan untuk ikut andil dalam pembicaraan itu karena ia harus berada di tengah-tengah. Tidak memihak siapapun.


Gina beranjak dari duduknya dan berpamintan untuk ke kamar. Ia harus melakukan ritual mandi ala putri raja yang membutuhkan waktu sangat lama kali ini. Surya sedang tidak di rumah sehingga ia bisa berlama-lama menggunakan kamar mandinya.


Saat keluar dari kamar mandi, ia masih juga tidak menemukan Surya. Itu pertanda Surya belum pulang. Gina berfikir Surya pasti belum selesai melakukan rapat sehingga sampai jam segini dia belum pulang. Gina turun dari lantai dua kamarnya dan melihat kedua orang tuanya sudah tidak ada di ruang keluarga. Mereka pasti sudah tidur sekarang. Malam sudah menunjukkan pukul sebelas memang. Rumah sudah kembali menjadi sepi.


Gina melihat makanan di meja masih tersaji. Ia duduk dan membalik piring. Tapi melihat suasana yang sepi ia balik kembali piringnya dan berdiri dari tempatnya duduk. Tiba-tiba selera makannya hilang. Sendirian sekarang menjadi terasa aneh baginya. Biasanya Surya menemaninya makan. Meskipun tidak banyak obrolan diantara mereka tapi melihat orang lain juga makan satu meja dengannya membuatnya merasa tenang. Akhirnya ia kembali ke dalam kamarnya dan memutuskan untuk langsung tidur saja tanpa makan malam.


Saat membaringkan kepalanya di atas bantal Gina merasa ada yang kurang. Ia memiringkan wajahnya menghadap ke sofa dimana biasa Surya tidur. Sofa itu kosong. Sekosong hati Gina yang sendirian di kamar saat ini. Menyelinap rasa ingin segera bertemu dengan Surya yang biasa menjadi pemandangan malam sesaat sebelum Gina menutup mata. Rasanya ada sebuah kebiasaan yang terlewatkan sekarang. Sebuah kebiasaan memandang wajah Surya sebelum ia tidur.


"Sebenarnya apa saja yang mereka bicarakan saat rapat? Kenapa sampai sekarang belum pulang juga?" Gina menggerutu sendiri menghadap langit-langit kamarnya.


Berbagai posisi telah ia coba tapi Gina belum bisa tertidur juga. Matanya seperti masih sangat segar untuk terjaga padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam.


"Apa aku meneleponnya saja? Memintanya untuk cepat pulang?" Gina meraih ponsel di atas meja nakas. Membuka nomer Surya. Tapi ia urungkan niatnya.


"Kalau aku menyuruhnya pulang lalu dengan alasan apa? Aku takut di kamar sendirian? Ahh, itu sangat menggelikan. Karena aku merindukannya? Oh tidak, itu memalukan." Wajah Gina menghangat sehingga ia menutupinya dengan bantal yang ada di sampingnya.


"Aku sungguh ingin dia pulang sekarang." Gina merasa sangat kesal sekarang. Ia lalu kembali berbaring dan menghadap sofa. Membayangkan Surya sedang tidur di sana dengan wajah yang mendamaikan hatinya.


"Nona, Anda belum tidur?" Tanya Surya sambil menutup pintu kembali.


"Hmmm..." Hanya itu yang bisa Gina ucapkan karena perasaanya sangat senang akhirnya Surya pulang. Sehingga untuk menyamarkan kegirangannya seminimal mungkin, Gina hanya menjawab dengan isyarat suara dan berpura-pura sedang sibuk dengan ponselnya.


"Atau Anda sebenarnya terbangun karena saya membuka pintu?" Tanya Surya sudah ada di dekat tempat tidur Gina sekarang.


"Hmmm..." Jawab Gina lagi.


"Apa Anda sakit, Nona?" Tiba-tiba Surya merunduk dan meletakkan telapak tangannya di atas kening Gina. Gina sedikit kaget dengan tindakan Surya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kening Anda sedikit hangat. Apa Anda merasa batuk atau pilek atau yang lainnya?" Surya menjadi panik.


"Aku tidak apa-apa."


"Tapi kening Anda hangat, Nona. Wajah Anda juga memerah." Sekarang Surya duduk di tepi tempat tidur Gina. Itu membuat Gina semakin gusar. Jantungnya melompat kesana kemari.


Dasar bodoh, ini karena aku sangat senang akhirnya kau pulang. Aku sangat antusias sampai jantungku berdebar kencang rasanya. Dan juga singkirkan tanganmu dari keningku. Itu membuat wajahku memerah. Jawab Gina dalam hati.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Jangan hiraukan aku." Jawab Gina ketus seperti saat dia berada pada mode kesal.


"Kau... kenapa baru pulang? Apa rapatnya sebegitu lamanya?"


"Oh itu Nona, sebenarnya rapatnya tidak begitu lama. Hanya saja setelah selesai saya mendapat kabar dari teman untuk menghadiri acara makan bersama jadinya saya mendatangi teman-teman saya dulu."


"Oh begitu." Jawab Gina masih pura-pura dingin.


"Anda yakin tidak apa-apa, Nona?"


"Iya." Jawab Gina singkat sambil membelakangi Surya.


"Aku mau tidur sekarang."


"Baiklah Nona, selamat tidur." Surya membelai kepala Gina perlahan sebelum beranjak dari duduknya.


Merasakan itu, Gina seketika membuka matanya kembali lalu mengerjap-ngerjap. Belaian tangan Surya seperti mengandung setrum yang membuat hatinya kesemutan. Tapi baru beberapa langkah Surya meninggalkan Gina, tiba-tiba perut Gina mengeluarkan bunyi-bunyian aneh. Gina buru-buru menekan perutnya yang lapar itu untuk memperkecil suaranya.


"Nona, Anda belum makan malam?" Surya juga mendengar suara perut Gina ternyata.


"Aku sedang malas makan." Jawab Gina sambil menarik selimutnya sampai menutup kepala.


"Anda tidak boleh melewatkan makan malam, Nona." Gina merasakan suara Surya kembali mendekat.


"Tidak, aku sedang diet."


"Diet itu bukan mengurangi waktu makan, Nona. Tapi mengurangi kalori yang ada pada makanan."


"Apapun itu, biar saja. Aku memang ingin melewatkan makan malamku kali ini."


"Kenapa Nona? Apa karena saya tidak ada?" Ujar Surya dan langsung ditanggapi tawa oleh Gina.


"Hei, sejak kapan kau menjadi sepercaya diri ini?" Gina masih pura-pura tertawa untuk menutupi bahwa apa yang dikatakan Surya sebenarnya memang benar.


"Karena saya rasa Anda sengaja tidak makan malam karena saya tidak menemani Anda makan."


"Sudah hentikan, kau ini salah makan apa tadi. Kenapa bicaramu jadi asal sekali."


"Saya akan membawakan Anda sesuatu. Jadi Anda tidak boleh tidur dulu." Surya tidak menanggapi kalimat Gina dan menuju pintu untuk keluar dari kamar.


"Tidak usah." Ujar Gina. Tapi Surya tidak memperhatikan itu dan tetap keluar untuk mengambilkan Gina makanan.


"Ya Tuhan, kenapa dia jadi pemaksa begitu." Gumam Gina.


"Tapi aku menyukainya. Pria pemaksa demi kebaikan wanitanya. Ahh, manis sekali." Gina tersipu setelah mengatakan itu.

__ADS_1


"Wanitanya? Aku wanitanya Surya? Sepertinya itu terdengar bagus." Gina lalu cekikikan sendiri menyadari hal itu.


__ADS_2