
"Nona... " Panggil Surya. Gina kembali dari alam bawah sadarnya dan mendapati Surya yang memandangnya dengan pandangan aneh.
"Nona kenapa? Nona sakit? Nona sakit perut? Atau Nona merasa demam?" Surya mendekatkan wajahnya pada Gina. Dari situ Gina tahu tidak ada bekas kecupan bibirnya di pipi Surya.
Benar, itu hanya angannya saja. Menyadari hal itu, Gina mengutuki dirinya sendiri yang sepertinya sudah mulai gila dengan membayangkan sudah mengecup pipi Surya.
"Nona..." Sekarang Surya memegang kedua pipi Gina. Itu membuat Gina terkesiap dan cepat-cepat mengambil jarak dari Surya.
"Wajah Anda memerah. Saya fikir Anda demam. Tapi syukurlah ini tidak sepanas yang saya bayangkan."
"Ahh, tidak. Aku hanya... aku hanya harus segera tidur. Ini sudah hampir pagi." Gina lalu mengambil tempat ke tengah kasur dan langsung duduk lalu menarik selimut. Surya masih ada di tepi tempat tidurnya menatap Gina yang tiba-tiba berubah sikap menjadi dingin. Padahal beberapa saat yang lalu Gina adalah wanita yang ceria dan terbuka.
"Hei, kau tidak berharap bisa tidur di kasurku, bukan?" Sindir Gina agar Surya turun dari tempat tidurnya.
"Oh iya, Nona. Maaf." Secepat kilat Surya lalu turun dari tempat tidur Gina.
"Selamat malam, Nona." Ucap Surya.
"Ini sudah hampir pagi." Jawab Gina masih dengan sok cuek.
"Baiklah, selamat pagi, Nona."
"Aku saja baru mau tidur, kenapa kau mengucapkan selamat pagi." Omel Gina. Surya mengerutkan kening, bingung harus mengatakan apa.
"Selamat tidur, Nona." Ucap Surya akhirnya karena tidak tahu lagi harus mengucapkan ucapan apa yang tepat untuk dikatakan kepada Gina kali ini.
"Jangan bangunkan aku walau ada gempa bumi sekalipun. Aku ingin menikmati waktu liburku besok sesuka hatiku." Pesan Gina.
"Baik, Nona." Surya tersenyum mendengar kata-kata Gina. Lalu Surya juga berbaring di sofa tempat tidurnya akhir-akhir ini.
Gina mengubah posisi tidurnya jadi menghadap Surya. Perlahan ia membuka matanya dan mengintip apa Surya sudah tidur. Ternyata Surya masih menatap layar ponselnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Itu membuat Gina jadi penasaran ada apa dengannya. Apa yang membuatnya terlihat bahagia seperti itu. Tapi tiba-tiba Surya merubah posisi tidurnya juga menjadi menghadap Gina. Gina buru-buru memejamkan matanya berpura-pura sudah tidur. Lalu kemudian Surya memejamkan matanya untuk benar-benar tidur. Hari sudah hampir pagi. Gina pun sudah tidak bisa menahan kantuknya lagi.
🌸🌸🌸
Surya mengendarai mobilnya dengan santai. Hari libur bukanlah hari untuk bermalas-malasan untuknya. Ia akan tetap melakukan apapun yang ingin ia lakukan. Kali ini ia memutar setir mobilnya di depan sebuah gerbang. Lalu ia turun dan membukanya. Kemudian ia membawa masuk mobilnya ke sebuah halaman rumah. Setelah mobilnya terparkir, Surya pun turun dan memasuki rumah itu.
Sedangkan di tempat tidur Gina masih menikmati waktunya. Padahal ini sudah pukul sepuluh pagi tapi dirinya masih sangat nyaman berada di atas kasur. Sampai akhirnya sebuah telepon masuk. Gina meraba-raba meja nakas untuk mencari ponsel yang berbunyi memanggilnya.
"Ya halo..." Suara khas bangun tidurnya menyapa si penelepon.
"Kau baru bangun?" Suara di seberang.
"Hmmmm..." Gumam Gina masih malas membuka mata. Tapi dari suaranya ia tahu itu adalah suara Lita.
"Kau ini. Kenapa jam segini masih tidur?" Suara Lita semakin membuatnya malas.
"Apa senyaman itu tidur ditemani seorang pria?"
"Heh, jaga bicaramu." Gina lalu membuka mata dan melihat sofa tempat Surya tidur kosong. Ia yakin Surya pasti sudah berada dinsuatu tempat sekarang.
"Dasar pasangan suami istri baru."
"Kalau kau cuma ingin membangunkanku dan mengganggu liburanku, lebih baik ku matikan saja teleponmu."
"Hanya begitu saja kau marah. Memangnya semalam kalian begadang sampai jam berapa? Bisa-bisanya jam segini kau masih tidur."
"Jam 3." Jawab Gina singkat.
"Jam 3 pagi?" Lita memastikan.
"Ya Tuhan, apa saja yang kalian lakukan sampai jam segitu?"
"Sudah hentikan. Kalau kau hanya ingin mengintrogasiku, ku tutup saja teleponnya." Gina bernada kesal.
__ADS_1
"Baiklah... baiklah... karena kau anti media sosial jadi biar ku kabarkan berita bahagia untukmu."
"Apa?" Jawab Gina cuek.
"Sunday baru saja melahirkan bayinya kemarin."
"Benarkah?" Gina membuka matanya lebar-lebar.
"Sudah ku duga sebagai warga negara yang sudah menutup semua akun media sosialnya, kau pasti selalu ketinggalan berita terbaru."
"Lagipula biar saja aku tidak mempunyai akun media sosial, itu tidak penting bagiku."
"Kau benar-benar tidak ingin melihat Pak Faris dan Sunday lewat beranda media sosialmu."
"Hei, cukup ya. Kau ini benar-benar merusak hari liburku." Lalu terdengar tawa di seberang.
"Nanti sore aku akan ke rumah sakit menjenguk Sunday. Kau mau datang bersamaku?"
"Tidak mungkin. Untuk apa aku hadir ditengah kebahagian mereka. Membuang waktuku saja." Gina masih saja cuek. Lita semakin terbahak mendengar penuturan Gina.
"Baiklah, kalau begitu. Ku tunggu kau di sana jam lima sore."
"Sudah ku katakan aku tidak akan datang." Jawab Gina tapi yang terdengar hanya bunyi nada telepon yang ditutup.
"Berani-beraninya dia menutup teleponku begitu saja. Benar-benar sudah bosan hidup dia." Gina lalu meletakkan ponselnya sembarangan dan bangun dari tempat tidurnya. Berita yang disampaikan oleh Lita benar-benar sudah merusak suasana hatinya.
Gina membayangkan alangkah bahagianya sekarang Sunday dan Faris setelah kelahiran anak mereka. Mereka menjadi pasangan yang sempurna sekarang. Dan mengingat dirinya sendiri saat ini jadi membuatnya semakin kesal. Dirinya bahkan sekarang hanya sedang melakukan pernikahan pura-pura. Tidak ada yang bisa dibanggakan. Sehingga rasa cemburunya terhadap Sunday semakin menjadi-jadi sekarang.
Di saat Gina merasa kesal, tiba-tiba Surya memasuki kamarnya. Gina menatap Surya. Dengan pandangan itu Surya menjadi merasa aneh.
"Ada apa, Nona?" Surya berhenti di tempatnya setelah melihat tatapan Gina.
"Kau dari mana?"
"Kau sudah sarapan?"
"Sudah." Jawab Surya dengan merasa aneh karena Gina seperti sedang mengintrogasinya.
"Kenapa tidak menungguku?" Mendengar itu Surya mengerutkan kening.
Semalam Gina melarangnya untuk membangunkan karena ia ingin tidur sepuasnya. Tapi sekarang ia malah ingin sarapan bersama padahal bangunnya siang. Sedangkan Surya tidak terbiasa sarapan dijam sesiang ini.
"Maafkan saya, Nona. Seharusnya saya menunggu Anda."
"Lalu sekarang aku tidak punya teman sarapan." Gumam Gina sambil menuju pintu yang tadi ditutup kembali oleh Surya. Surya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung bagaimana harus mensikapi Gina yang seenaknya sendiri seperti itu.
Gina menuruni tangga dan sayup-sayup ia mendengar suara musik dangdut dari bagian belakang rumahnya. Itu pastilah Mbak Yuyun yang sedang mengerjakan pekerjaan sambil memutar lagu-lagu kesukaannya. Tapi Gina tidak peduli dan mendekati meja makan untuk sarapan. Ia mengambil selembar roti dan mengoleskan selai coklat diatasnya. Tiba-tiba Surya duduk di seberang meja dan tersenyum padanya. Gina menatapnya tanpa mengatakan apapun. Sekarang di depan Gina ada sekotak bubur ayam yang mengeluarkan aroma sangat menggoda setelah Surya meraih roti yang baru saja digigit oleh Gina dari tangannya. Gina membulatkan matanya untuk aksi berani yang dilakukan oleh Surya. Ditambah lagi sekarang Surya malah memakan roti coklatnya.
"Bubur ayam itu sangat enak, Nona."
"Kenapa kau membungkusnya seperti ini?"
"Kali ini saya membelinya, bukan membuatnya Nona." Surya tersenyum lebar lalu memakan habis roti yang dibuat oleh Gina tadi.
"Wah, kau benar-benar sudah berkeliling-keliling sepagian ini."
"Udara pagi sangat menyegarkan, Nona. Jadi sangat sayang kalau saya melewatkannya."
"Memangnya kau tidak mengantuk setelah hampir pagi baru saja tidur?"
"Saya pernah menjadi security jadi terjaga di malam hari hingga malam lagi bukan hap sulit untuk saya."
"Apa? Security? Kau bahkan pernah menjadi security?" Surya mengangguk.
__ADS_1
"Sebenarnya ada berapa banyak pekerjaan yang sudah pernah kau lakukan?"
"Entahlah Nona, itu banyak sekali." Lalu Surya terkekeh.
"Aku tidak tahu apa kau ini benar-benar manusia atau robot. Atau jangan-jangan sebenarnya kau adalah alien? Seperti Clark Kent si superman mungkin." Gina memandang Surya lekat. Surya membalas pandangan Gina. Tapi tiba-tiba jantung Gina terasa seperti saat ia berlari diatas treadmill. Oleh karena itu ia segera mengalihkan pandangannya ke arah bubur yang sedang ia makan.
"Kalau benar seperti itu, kekuatan super apa yang kau punya?" Gina memandangnya lagi. Tapi kali ini hanya sekilas lalu ia menatap ke arah makanannya lagi.
"Entahlah, saya tidak yakin itu bisa dikatakan sebagai kekuatan super atau bukan. Memanjat tembok, berubah wujud jadi raksasa berwarna hijau, terbang di malam hari seperti kelelawar atau berlari dengan sangat cepat hampir menyamai kecepatan cahaya." Surya terkekeh setelah mengatakan itu.
"Kau ini. Dasar." Gina memanyunkan bibirnya setelah mendengar kelakar Surya.
"Nona..." Panggil Surya.
"Ada apa?" Gina menyendok buburnya.
"Apa buburnya enak?"
"Ya lumayan. Rasanya lembut dan gurih. Apa ini juga kau beli di tempat langgananmu?"
"Benar, Nona."
"Milik temanmu?"
"Iya Nona, beliau yang mengajarkan saya resep bubur ayam enak."
"Tepat sekali. Kau benar-benar berteman dengan para pedagang kuliner. Apa kau tidak tertarik untuk membuat komunitas pecinta kuliner?" Sindir Gina. Surya hanya tersenyum menanggapi.
"Lagi pula kenapa dia membocorkan resep rahasianya kepadamu? Apa dia tidak takut kau akan membuka warung bubur juga dan menjadi saingannya?" Mendengar itu, pandangan Surya menerawang jauh.
Seorang wanita paruh baya sedang menyuwir ayam di atas bubur lalu meletakkan krupuk udang diatasnya.
"Nah, beginilah caranya. Kau harus memastikan bahwa buburnya tidak terlalu lembek dan juga tidak terlalu padat dengan perbandingan air seperti yang ku katakan padamu. Begitu pula dengan bumbunya. Jangan sampai perbandingannya tidak sama." Ujar wanita itu.
"Mak, kenapa emak memberitahuku cara membuat bubur ayam? Emak bahkan juga memberi tahu bumbu-bumbu yang emak pakai."
"Kenapa memangnya?"
"Emak tidak takut aku akan menjual bubur ayam lalu menjadi pesaing Emak?"
"Untuk apa aku takut rejekiku kau ambil? Tuhan yang memberikanku rejeki. Dan rejeki dariNya sudah ditentukan. Tidak mungkin ada yang mengambil apalagi akan tertukar."
Surya ingat sekali kata Mak Sumi si penjual bubur langganannya saat masih kuliah dulu. Waktu itu Surya adalah pekerja di warungnya yang sangat ramai sehingga Mak Sumi mengajari Surya cara membuat bubur ayam agar bisa membantunya berjualan. Dan pagi ini tiba-tiba ia ingin sarapan bubur ayam favoritnya sehingga ia mendatangi warungnya untuk sarapan sekaligus membawakan untuk Gina yang juga menyukai bubur ayam.
"Woi..." Gina menjentikkan jarinya di depan Surya.
"Kau bengong. Apa kau kesurupan?"
"Tidak, Nona. Saya rasa saya tertular rabies setelah memakan roti barusan."
"Hei, kau pikir aku anjing gila?" Gina memelototi Surya dengan marah.
"Lagi pula siapa suruh kau memakan rotiku." Gerutu Gina. Surya hanya tersenyum melihat Gina cemberut. Pipinya jadi gembul dan bibirnya jadi meruncing. Itu terlihat lucu bagi Surya.
"Nona, setelah ini mari kita keluar."
"Kau ini kenapa suka sekali keluar. Baru saja kau datang dan sekarang sudah mengajakku keluar. Apa kau tidak lelah berjalan-jalan terus seperti itu?"
"Bukankah Anda juga suka sekali berada di luar rumah?"
"Itu dulu, tapi sekarang ada banyak orang di rumah jadi kenapa aku harus keluar?" Ucap Gina secara spontan dan membuat Surya tahu kenapa akhir-akhir ini Gina menjadi wanita rumahan yang hanya keluar untuk bekerja dan berada di rumah saja saat setelah ia pulang. Begitu juga di hari libur, ia lebih suka menghabiskan waktu bermalas-malasan di rumah daripada berjalan-jalan.
"Nona, setelah ini mari kita menjenguk bayi Pak Faris dan Nona Gina." Gina menatap Surya yang juga tahu Sunday sudah melahirkan seorang bayi. Ia merasa dirinya yang paling ketinggalan berita karena tidak memiliki media sosial.
__ADS_1