Tahta Surya

Tahta Surya
Balada Kencan Buta


__ADS_3

"Nona, malam ini Anda harus bertemu dengan Nyonya Marina."


"Ya." Jawab Gina di sampingnya sambil menatap layar ipad-nya memeriksa laporan-laporan yang terkirim padanya.


"Saya akan langsung mengantar Anda ke sana, Nona."


"Ya." Mata Gina masih fokus pada pekerjaannya.


Hanna mulai terbiasa dengan tingkah Gina yang seperti itu akhir-akhir ini. Sejak menjadi Presdir R-Company, Gina benar-benar serius dalam bekerja. Ia begitu total dalam melakukan semua tugasnya.


"Hanna, sebaiknya nanti aku pergi sendiri. Kau bisa pulang setelah ini."


"Tapi Nona, bukankah Anda juga harus mengganti pakaian lebih dulu?"


"Tidak perlu." Jawab Gina memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


"Siapa suruh mengajak bertemu di luar. Bukankah bertemu di rumah juga bisa." Gumam Gina sambil berfikir mungkin Mamanya ingin membicarakan sesuatu hal yang Papanya tidak boleh mengetahuinya.


Jadilah sekarang Gina mengendarai mobilnya menuju ke sebuah restoran yang diminta oleh Mamanya. Gina tahu restoran itu menyajikan makanan khas italia. Setelah tiba, Gina memasukkan mobilnya di area parkir restoran. Usai memarkir mobilnya, Gina lalu berjalan memasuki pintu masuk.


"Nona Gina?" Tanya seorang resepsionis.


"Benar." Jawab Gina menghentikan langkahnya.


"Mari saya antar." Gina menautkan kedua alis mendengar penuturan resepsionis itu.


Gina membatin apakah hari ini ada acara spesial sehingga hanya untuk makan malam saja Mamanya harus membuat reservasi terlebih dulu untuk mereka. Tapi walaupun begitu, Gina menurut saja dan mengikuti resepsionis itu menuju ke sebuah meja. Kemudian Gina duduk di meja yang ditunjukkan oleh resepsionis yang mengantarnya. Setelah Gina memesan menu favoritnya, zuppa toscana, setiap datang ke restoran ini, ia membuka ponselnya. Baru saja akan menelepon Mamanya karena membuatnya menunggu, seseorang datang ke mejanya.


"Selamat Malam, Gina." Sapa pria berpakaian rapi di depannya. Gina mengurungkan niat untuk menelepon Mamanya karena seseorang yang seperti mengenalnya tapi sebaliknya ia tidak tahu siapa pria itu.


"Iya?" Gina berdiri menjabat uluran tangan pria bersetelan warna abu-abu di depannya.


"Fredi." Ia memperkenalkan namanya.


"Jadi..."


"Saya sudah tahu Anda. Poster Anda tersebar dimana-mana sebagai brand ambassador R-Company. Saya sangat salut dengan Anda yang tidak hanya sebagai pemilik R-Company tapi juga sebagai icon perusahan sebesar itu. Dan juga, setelah bertemu langsung ternyata Anda lebih cantik daripada di baliho-baliho yang saya temui." Cerocos pria itu tanpa memberi kesempatan Gina untuk bertanya dia siapa dan bagaimana bisa mengenalnya.


"Saya harap kita bisa melanjutkan pertemuan ini pada pertamuan selanjutnya. Papa dan Ibu Marina sudah lama saling mengenal dan mereka berharap kita bisa lebih dekat satu sama lain." Pada poin itu dan melihat sampai saat ini Mamanya belum juga datang menemuinya, Gina mulai merasa ada yang tidak beres. Jadi, sebelum pria di depannya berbicara semakin panjang dan lebar, Gina lalu meminta izin untuk pergi ke toilet.


Gina mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mamanya untuk meminta pertanggung jawaban.


"Hallo, Mama..."


"Hai, Gina..." Suara ponsel Bu Marina terdengar riuh dengan percakapan orang-orang di sana.


"Bagaimana? Dia pria yang tampan, bukan?" Bu Marina langsung tahu untuk apa Gina meneleponnya.


"Mama menjebakku?" Suara Gina meninggi.


"Tidak... aku tidak menjebakmu. Aku hanya memberikan sedikit kejutan." Terdengar Mamanya tertawa kecil.


"Dia pria mapan yang memimpin perusahaannya sendiri sekarang. Meskipun Papanya cukup kaya, tapi dia memilih mendirikan perusahaannya sendiri dibidang yang ia minati. Seorang pemuda yang berdikari..." Sudah cukup sampai disitu yang Gina dengar, ia sudah tidak tahan lagi dengan semua kalimat Mamanya dan menutup telepon.


"Bisa-bisanya Mama menjodohkanku dengan seorang pria dan mengatur sebuah kencan buta begini. Dia pikir aku wanita kesepian?" Gina sangat marah mengetahui semua itu. Ia merasa harus membuat perhitungan dengan Mamanya nanti.


Sedangkan Bu Marina sudah bisa mencium bau kemarahan Gina di tempatnya berkumpul dengan teman-temannya saat ini. Tapi ia tidak begitu ambil pusing. Jika kencan buta Gina kali ini tidak berakhir sesuai harapannya, ia masih bisa mengatur kencan buta yang lain dengan stok pria yang sudah ia kumpulkan yang rata-rata mereka adalah pria-pria mapan dari keluarga terpandang.


Gina kembali ke mejanya dan melihat hidangan yang ia pesan sudah datang. Ferdi tersenyum menyambutnya.


"Maaf, Ferdi. Aku harus pergi. Aku punya acara lain sekarang."


"Tapi, bukankah malam ini kau hanya memiliki acara denganku?" Ferdi menatap Gina dengan melongo.


"Tidak, aku punya acara lain sehingga harus pergi." Gina memakai tasnya lalu berjalan meninggalkan meja.


"Kau bahkan belum memakan makananmu."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku sedang terburu-buru." Ginaย  benar-benar pergi sekarang. Ia tahu mungkin Fredi kecewa karena harus makan malam sendiri sekarang tapi Gina tidak peduli. Gina hanya ingin cepat-cepat menemui Mamanya. Meskipun ia tahu Mamanya mungkin sedang tidak di rumah, tapi ia ingin menunggunya hingga sampai rumah dan meminta penjelasan atas 'kejutan' yang ia berikan.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Pagi-pagi sekali Surya sudah berada di pematang sawah melihat tanaman padi yang mulai tumbuh menghijau. Embun masih menggantung ditiap pucuk-pucuk daunnya. Kabut masih menyelimuti hampir seluruh hamparan sawah. Surya menghirup udara pagi dalam-dalam sampai menyentuh setiap bagian paru-parunya. Lalu terasa ada yang bergetar dari saku celananya pertanda ada sebuah notifikasi masuk.


Begini ya rasanya hubungan jarak jauh? Pesan dari Siska.


Mereka memang menjadi pasangan pejuang jarak jauh sejak Surya pulang ke kampung halamannya. Sedangkan Siska, setelah mengundurkan diri dari R-Company, karena resume dirinya yang cukup baik apalagi usai menjadi sekretaris di sebuah perusahaan sebesar R-Company, ia langsung diterima di sebuah perusahaan elektronik dengan posisi yang sama. Kepiawaiannya dalam posisi itu memang tidak bisa diragukan. Bahkan Gina pun mengakuinya. Andai Siska bukan pacar orang yang ia sukai, pasti akan selama mungkin Gina mempertahankannya di perusahaan miliknya.


Siska : Kapan kau akan datang? Aku sudah rindu


Kali ini Surya memandang isi pesan Siska dengan lekat. Ia pun tidak tahu kapan akan kembali ke kota. Ia masih nyaman di kampung halamannya dan bekerja di sawah.


Sebenarnya saat pulang ke kampung, Siska ingin sekali ikut juga dan memperkenalkan diri kepada kedua orang tua Surya sebagai pacarnya tapi Surya melarang. Bukan karena bermaksud merahasiakan keberadaan Siska, tapi Surya merasa masih butuh waktu untuk membawa gadis itu pulang. Lingkungan masyarakat di kampung masih sangat sensitif. Rasa kekeluargaan antar warga membuat kehidupan di sana masih sangat rentan dengan gosip jika menemui hal-hal yang dirasa tidak wajar.


Bagaimanapun, selama ini masyarakat di kampungnya hanya tahu istri Surya adalah Gina. Sehingga jika tiba-tiba Surya pulang dengan wanita lain lagi maka akan muncul banyak spekulasi. Mungkin orang-orang dikampungnya akan berfikir Surya sebagai pria yang suka gonta ganti wanita. Atau bahkan orang-orang akan menuduh Siska sebagai wanita perebut suami orang. Dan Surya tidak mau opini-opini negatif masyarakat kampungnya membuat nama baik keluarganya ternodai olehnya.


Surya : Tunggu saja, saat aku datang aku akan memberi kabar


Surya lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya. Ia merasa bukan hal yang mudah untuknya kembali ke kota dalam waktu dekat ini. Ia sudah berjanji kepada Gina agar tidak akan muncul dihadapannya lagi. Ia sangat merasa bersalah sudah menyakiti perasaan Gina. Menolak cintanya adalah kejahatan yang Surya anggap sangat besar. Sehingga menghilang darinya adalah cara terbaik untuk membuat Gina cepat membenahi hatinya. Melupakan perasaan padanya dan bisa kembali menjalani hidup seperti sebelum saat menikah dengannya. Oleh karena itu Surya menjadi dilema jika harus kembali ke kota. Antara ada seseorang yang selalu menunggunya tapi dilain sisi juga ada orang yang harus ia hindari.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Gina turun dari tangga tergesa. Ia sudah tidak sabar untuk menemui Mamanya. Semalam Gina sudah bertekat untuk membuat perhitungan dengan Bu Marina. Setelah menunggu hampir tengah malam, ternyata Bu Marina belum juga pulang. Sehingga Gina memutuskan untuk pergi tidur karena ia harus bekerja esok paginya dan akan menunda menemui Mamanya.


"Mama..." Panggil Gina setelah memasuki ruang makan. Bu Marina yang sedang memotong rotinya seketika mengalihkan pandangan kepada Gina. Pak Rangga yang ada di sana juga ikut menoleh.


"Jadi, apa maksud Mama semalam?" Tanya Gina yang mengambil duduk tepat disampingnya.


"Oh iya bagaimana?" Bu Marina balik bertanya dengan memasang wajah antusias.


"Apa? Bisa-bisanya Mama bertanya padaku seperti itu."


"Jadi, apa yang salah dengan bertanya?" Bu Marina menanggapi Gina dengan santai.


"Kalau aku meminta izinmu, apa kau akan setuju?"


"Tentu saja tidak."


"Itulah kenapa aku membuat 'jebakan' untukmu."


"Kalian ini kenapa? Setelah Papa lalu Mama. Apa salahnya dengan menjadi lajang? Aku baik-baik saja walaupun aku tidak memiliki pasangan." Gina berapi-api.


"Baiklah... baiklah... Kami hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu. Tapi kalau kau keberatan, kami minta maaf." Akhirnya celetuk Pak Rangga.


"Dan, aku pastikan Mamamu tidak akan melakukan itu lagi." Pak Rangga melirik Bu Marina, memberinya kode untuk meminta maaf juga kepada Gina.


"Maafkan aku..." Ujar Bu Marina sambil cemberut pertanda terpaksa harus meminta maaf untuk hal yang dianggapnya benar. Tapi karena Pak Rangga ingin ia meminta maaf, maka ia harus melakukannya.


"Tapi, beri aku kesempatan sekali lagi. Kali ini kau pasti akan menyukainya. Lihat saja dulu foto-fotonya." Sambil Bu Marina mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat berisi foto-foto pria.


"Ya Tuhan... Mama melakukan semua ini?" Gina terperanjat atas apa yang Mamanya lakukan. Ada puluhan foto pria di atas meja.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku tidak ingin kau terlalu larut dalam kesedihan jadi aku akan membuatmu menemukan pengganti Surya."


"Tapi tidak dengan begini caranya. Ini membuatku terlihat seperti wanita yang tidak laku."


"Hei, semua orang juga tahu kau sangat berharga sehingga ketika baru saja ku katakan kalau aku sedang mencari menantu baru, mereka sudah berbondong-bondong mengirimkan foto-foto putra mereka."


"Memangnya Mama mengatakannya pada siapa?"


"Pada perkumpulan istri pengusaha."


"Ya Tuhan..." Gina menepuk jidatnya karena tidak habis fikir Mamanya mempermalukannya seperti itu.


"Kau tahu, kau ini sangat populer. Lihat saja, banyak yang ingin menjodohkanmu dengan putra mereka."

__ADS_1


"Tentu saja. Masa depanku cerah. Aku pemilik tunggal R-Company, pasti hanya orang tidak waras yang tidak menginginkanku."


"Kalau begitu, kau jangan bersedih lagi hanya karena orang tidak waras yang telah meninggalkanmu itu." Kalimat Bu Marina membuat Gina memandangnya tajam.


"Jadi, paling tidak pilihlah salah satu saja dari mereka untukmu kencan buta sekali lagi. Ayolah..." Mamanya memohon.


"Tidak..."


"Ayolah..." Rayu Mamanya.


"Ini..." Tunjuk Gina pada salah satu foto secara tiba-tiba dan itu membuat Bu Marina sumringah karena Gina telah bersedia.


"Baiklah, dia putra dari keluarga Warsono, pemilik pabrik plastik terbesar di negeri ini."


"Dia mantan pacarku. Aku tidak mau dia. Dan juga dia." Gina mengambil lagi foto lain.


"Danis, ayahnya pengusaha tekstil. Dia mantan pacarku. Dia juga, Farhan. Ayahnya memiliki kilang minyak di daerah timur tengah. Dan juga dia, David. Dia pemilik restoran cina di berbagai kota. Bahkan di hampir semua mall di negeri ini ada restoran miliknya. Omsetnya hampir sama dengan pemilik kebun sawit ini. Panca. Namanya Panca, bukan?" Gina menegaskan pada Mamanya bahwa ia mengenal banyak pria di foto yang diperlihatkannya.


"Hei, mereka semua mantan pacarmu?" Tanya Mamanya yang dijawab dengan anggukan.


"Aku sudah memacari lebih dari setengah pria mapan di kota ini, Ma."


"Bagus, jadi pasti tidak sulit untukmu memulai dengan mereka lagi."


"Tidak, aku tidak bisa memakai lagi apa yang sudah pernah ku buang. Termasuk seorang pria, aku tidak akan berhubungan kembali dengan pria yang sudah ku putuskan." Mendengar itu Mamanya memutar bola matanya, malas. Pak Rangga menahan tawa melihat apa yang istri dan anaknya lakukan itu.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Gina duduk di balik mejanya memandang Hanna lurus yang baru saja meletakkan sebuah kertas bergambar indah dan berbau harum. Sekilas Gina bisa melihat tulisan-tulisan pada sampul kertas itu.


"Lelucon apa ini?" Sekarang Gina memastikan dengan mengambil kertas itu. Tapi Hanna malah tersenyum mendengar penuturannya.


"Kau sedang bercanda?"


"Tidak, Nona."


"Ini adalah undangan pertunangan, bukan?" Gina ingin memastikan bahwa percetakan undangan itu hanya salah mencetak undangan saja.


"Tidak Nona, tim percetakan tidak melakukan kesalahan."


"Ya Tuhan, kau benar-benar menikungku?" Gina membelalakkan matanya karena tidak percaya Hanna memberinya undangan pernikahan dirinya dengan Marco.


"Kami sepakat untuk menikah, Nona."


"Tapi kenapa terburu-buru sekali? Apa Marco mengancammu?" Gina menyelidik.


"Tidak Nona." Jawab Hanna cepat.


"Sebenarnya ini sudah lama kami rencanakan, hanya saja waktu yang tepat hanya saat-saat dekat ini."


"Benarkah?" Gina penasaran akan sesuatu.


"Aku berharap tidak menjadi penghalang rencanamu itu. Jangan karena aku lalu kau mempersiapkan ini dengan diam-diam karena merasa tidak enak harus berbahagia sementara aku baru saja bercerai." Hanna mengerjapkan matanya mendengar penuturan Gina yang hampir benar.


Hanna dan Marco memang merencanakan pernikahan ini dengan menggunakan jasa wedding organizer karena kesibukan mereka yang sama-sama tinggi. Mereka lebih sering mengkomuniasikan kebutuhan dan keinginan pada pesta pernikahan mereka melalui telepon dan pesan singkat. Sehingga Hanna tidak harus datang bertemu orang wedding organizer. Hanya saat fitting gaun pernikahan dan setelan milik Marco saja mereka datang ke butik bridal. Itupun mereka memilih hari libur untuk datang melakukan fitting sehingga aktivitas persiapan pernikahan mereka benar-benar hampir tidak terlihat.


Acara yang mereka gelar juga bukan acara besar, Hanna hanya ingin acara dihadiri keluarga dan teman saja. Sebenarnya dia bukan gadis pesta yang suka keramaian sehingga Surya harus tunduk juga pada kemauan kekasihnya itu. Marco pun hanya mengundang pegawai dengan jabatan tinggi dan relasi yang ada di dalam kota saja.


Tapi, Gina memang adalah salah satu alasan ia tidak memperlihatkan kesibukannya dalam merencanakan pernikahan. Hanna sangat tahu bagaimana Gina sangat patah hati setelah Surya menolak cintanya dan pergi seolah tidak ingin menemuinya lagi. Hingga akhirnya hampir semua hari-hari Gina diisi dengan kesibukan dan juga hampir tidak ada senyum manis di wajahnya lagi, itu membuat Hanna merasa harus menjaga perasaannya. Karena bagi Hanna, mereka tidak hanya memiliki hubungan atasan dan bawahan tapi juga lebih dari itu, persahabatan.


Hanna ingat saat malam Surya pergi, Gina menghubunginya sambil menangis.


"Hanna... dia pergi. Dia pergi..." Suara Gina dengan tangisnya yang sangat jelas.


"Dia menolakku dan pergi." Lanjutnya dengan isak yang membuat Hanna ingin sekali melompat ke tempat Gina dan memeluknya.


"Apa aku seburuk itu? Seharusnya, paling tidak dia harus memberiku sedikit lagi kesempatan. Aku tidak memintanya banyak. Sedikit saja. Ya, sedikit. Dan juga, kenapa dia harus pergi begitu saja? Dia fikir hatiku terbuat dari batu? Dia fikir hatiku tidak akan patah. Dia jahat sekali. Dia jahat. Kenapa aku harus menyukai orang jahat, Hanna?" Hanna hanya mendengarkan suara serak Gina dan membiarkan dirinya mengatakan apa saja yang ia katakan. Dada Hanna terasa begitu sesak mendengarkan curahan hati Gina yang penuh dengan kepiluan. Sehingga, Hanna meminta Marco untuk merahasiakan persiapan pernikahan mereka dan akan mulai terbuka ketika hari pernikahan sudah dekat. Marco pun setuju.

__ADS_1


__ADS_2