Tahta Surya

Tahta Surya
Selamat Malam


__ADS_3

Udara dingin seusai hujan ternyata tidak membuat warga kampung Surya untuk tidak datang ke pasar malam. Acara yang bagi warga kampung adalah hiburan yang sangat menyenangkan terutama untuk anak-anak dan para remaja. Mereka bisa bermain wahana dan membeli makanan yang ada di sana. Anak2 memadati berbagai wahana sedangkan para remaja lebih memilih berkumpul di beberapa kios permainan dan kios asesoris.


Dengan taddy bear di tangannya, Gina melihat suasana yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sangat sederhana tapi tidak kalah seru. Area pasar malam yang tidak terlalu luas membuat itu seperti sebuah taman bermain bentuk mini. Gina melihat Surya berjalan di sampingnya. Ia merasa ini seperti kencan pertama dengannya. Gina mau menikmati malam ini sesuai keinginannya. Membuat Surya selalu ada di dekatnya seperti ini.


Sayangnya tiba-tiba Dinda datang. Gina merasa itu cukup mengganggunya.


"Kalian ada di sini?" Tanya Dinda.


"Kau juga?" Balas Surya. Gina malas sekali berada diatara mereka seperti itu. Ia selalu merasa menjadi obat nyamuk setiap menyaksikan pertemuan mereka.


"Kau sendirian, Dinda?" Demi terlihat ramah, Gina tetap berbasa basi.


"Iya, harus dengan siapa memangnya." Kalimat Dinda terdengar agak memancing bagi Gina. Entah Gina yang sudah terlanjur merasa sentimental terhadapnya atau memang itu yang sebenarnya ingin Dinda sampaikan yang jelas Gina tidak suka mendengarnya. Oh tidak, lebih tepatnya Gina tidak suka semua tentang Dinda.


"Wah, kau mendapatkan taddy bear itu?" Dinda menunjuk taddy bear yang ada dalam pelukan Gina.


"Ya, aku memenangkannya di permainan tembak."


"Kau sendiri yang memenangkannya?" Dinda seperti tidak percaya.


"Ya."


"Wah, kau hebat sekali bisa menembak jatuh semua kaleng itu."


"Ya, sepertinya aku memang sedang beruntung malam ini. Atau aku sedang sangat bersemangat sehingga bisa menjatuhkan semua kalengnya." Lalu Gina tertawa yang terlihat dibuat-buat.


"Istrimu sangat hebat, Sur. Dia bahkan tidak merepotkanmu untuk mendapatkan teddy bear sebesar itu." Lagi-lagi kalimat Dinda diartikan ambigu oleh Gina. Gina benar-benar sedang sentimental sekarang.


"Ya, itulah kenapa aku jatuh cinta padanya. Dia sangat hebat." Gina seperti tidak percaya dengan pendengarannya dan langsung mengalihkan pandangan pada Surya yang ada di sampingnya. Surya mengatakan itu kepada Dinda, cinta pertamanya, satu-satunya gadis yang membuatnya jatuh cinta.


Sejenak Gina berfikir apakah ini bagian dari totalitas sandiwara mereka atau karena ingin membuat Dinda cemburu, Surya melakukannya dengan sangat baik. Surya bahkan sempat memandangnya lembut saat mengatakan hal itu. Jika ini sebuah sandiwara, maka Surya sangat hebat karena sangat menghayati perannya. Tiba-tiba Gina tersenyum kecut memikirkan itu.


"Ahh, kalian benar-benar seperti pengantin baru kebanyakan ya." Dinda tertawa kecil menanggapi ucapan Surya.


"Gina, kau sangat beruntung mendapatkan Surya."


"Iya, aku tahu." Demi totalitas juga, sekarang Gina malah memeluk lengan Surya dengan tangannya yang lain yang tidak memegang boneka. Ia sudah tidak peduli apakah Surya ingin bersikap manis demi bersandiwara atau demi membuat Dinda cemburu, yang jelas Gina merasa harus menunjukkan kepada Dinda sedekat apa mereka.


"Surya, aku lapar. Mari kita makan makanan yang berkuah." Gina memanja sekarang.


"Baiklah, ayo kita makan mie rebus." Ajak Surya.


"Wah, sepertinya itu enak. Apa itu seperti ramen atau bakmi?" Tanya Gina lebih detail tentang menu yang ditawarkan Surya.


"Nanti Anda akan tahu." Surya menatap Gina dengan senyumnya.


"Baiklah." Gina membalas tatapan Surya dengan ceria.


"Ikutlah bersama kami, Din. Sudah lama juga kita tidak makan bersama." Mendengar Surya mengatakan itu, Gina menjadi sedikit kesal. Ia pikir Surya sudah tidak berminat lagi bersama Dinda tapi ternyata sekarang malah mengajaknya.


"Baiklah, aku juga sedang ingin makan mie rebus." Dinda menanggapi dengan senang. Wajahnya yang cantik menjadi bertambah cantik saat tersenyum lebar begitu.


Sejak berjalan menuju warung mie rebus, Gina tidak melepas sama sekali tangannya dari lengan Surya. Ia benar-benar ingin menegaskan pada Dinda bahwa mereka adalah suami istri yang bahagia.


"Aku mau dua mangkuk ya? Tidak apa-apa, kan?" Gina meminta izin kepada Surya. Surya mengerutkan kening. Bukan karena heran dengan porsi dobel yang Gina minta tapi karena tumben sekali Gina meminta izinnya. Biasanya dia akan melakukan segala hal sesuka hatinya. Tapi kali ini Gina meminta izin padanya untuk memakan dua mangkuk mie rebus yang belum pernah dimakannya.

__ADS_1


"Baiklah." Surya mengizinkan. Mereka benar-benar seperti pasangan yang sangat manis.


"Kenapa ya, mie instan saat membuatnya di rumah dan membelinya di warung rasanya berbeda?" Ujar Dinda membuka percakapan karena sejak tadi Gina dan Surya seperti mengabaikan mereka.


"Berbeda bagaimana?" Tanya Surya.


"Rasanya lebih enak saat makan di warung daripada membuatnya sendiri di rumah."


"Oh, itu mungkin karena tingkat kematangan air yang dipakai berbeda saat memasak." Jawab Surya.


"Sehingga tingkat kematangan mie instan juga akan dipengaruhi dan membuat rasanya juga berbeda jadinya."


"Ahh iya benar." Dinda tampak puas dengan jawaban yang dilontarkan Surya.


"Atau mungkin saat membeli di warung sudah mengandung jampi-jampi penglaris dari penjualnya sehingga rasanya bisa menjadi lebih enak." Jawab Gina asal sambil mengelus taddy bear di sebelahnya. Surya dan Dinda bengong mendengar jawaban Gina. Si pemilik warung menahan tawa mendengar ucapan Gina yang seenaknya sendiri itu.


Beberapa saat kemudian mie rebus pesanan mereka pun datang. Mangkuk yang mengepulkan uap panas dan aroma yang sangat menggoda. Mata Gina berbinar melihat itu. Ia lalu menyendokkan mie itu ke dalam mulutnya. Sekali suapan rasanya sangat nikmat. Beginilah makanan jika dinikmati ketika lapar. Rasanya menjadi jauh lebih nikmat.


Surya dan Dinda juga sudah mulai memakan mienya. Setelah mangkuk pertama, tidak perlu menunggu, mangkuk kedua pesanannya pun sudah siap. Si pemilik warung seolah tahu kapan harus menyiapkannya dan sangat tepat waktu. Gina memakan juga mie keduanya dengan lahap. Ia memang kelaparan karena makanan terakhir yang masuk ke perutnya adalah saat makan siang tadi.


Gina sudah selesai dengan mangkuk keduanya menyusul Surya dan Dinda yang telah selesai lebih dulu. Saat makan tadi tidak ada percakapan apapun diantara mereka bertiga. Mereka sama-sama menikmati makanan dengan hikmat.


"Bagamana, Nona?" Tanya Surya.


"Enak. Rasanya seperti makan ramen."


"Ini adalah ramen kampung, Nona." Ujar Surya yang saat mendengarnya Dinda langsung tersenyum kecut menanggapi.


Surya yang memiliki istri seseorang dari kota jadi menamai apapun yang ada di kampung menggunakan tambahan nama kampung juga untuk Gina. Ia terlihat sangat perhatian sekali terhadap Gina. Dinda bisa melihat itu.


"Kau Yu. Pesanlah mi rebus. Kami baru saja makan." Tawar Surya.


"Tidak terima kasih, Mas. Aku sudah kenyang. Sudah habis jagung bakar di sana."


"Kau sendirian?" Tanya Dinda.


"Tidak mbak, bersama teman."


"Mana temanmu?" Tanyanya lagi.


"Itu dia di sana, mbak. Di bawah pohon randu." Tunjuk Ayu pada seseorang yang berdiri di bawah pohon randu sedang memainkan ponselnya.


"Wah, temanmu pria?" Celetuk Surya.


"Awas, aku adukan pada bulek."


"Adukan saja. Kita juga tidak melakukan apa-apa."


"Dia bukan anak kampung ini ya?" Surya memperhatikan teman Ayu.


"Iya Mas. Dia teman sekolahku." Jelas Ayu.


"Baiklah, aku pergi dulu ya. Silakan nikmati pasar malamnya. Terutama mbak Gina. Yang seperti ini tidak akan ada di kota, Mbak." Gina yang masih meminum teh hangatnya hanya bisa mengangguk saja. Perutnya terlalu kenyang untuk berbicara lagi.


"Dasar anak itu." Gumam Surya.

__ADS_1


"Ayu sudah menjadi gadis ya." Dinda masih melihat punggung Ayu yang berjalan menjauhi mereka.


"Dulu dia yang paling kecil tapi selalu yang ingin menang sendiri saat kita bermain bersama." Dinda mulai mengenang masa lalu mereka lagi. Gina tahu harus melakukan apa agar ia tidak selalu mengajak Surya bernostalgia.


"Surya, aku mengantuk. Ayo kita pulang." Potong Gina sambil menguap seperti tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh Dinda.


"Iya Nona." Surya membayar sejumlah uang kepada pemilik warung lalu berdiri dari bangku panjang warung itu. Gina dan Dinda mengikuti.


"Terima kasih mie rebusnya, Sur. Kapan-kapan gantian aku yang akan mentraktir."


"Kau ini. Itu seperti sebuah balas dendam saja."


"Iya, biar impas."


"Bukan hal penting untuk bisa dianggap hutang dan impas." Surya tertawa setelahnya.


Gina sudah kesal karena mereka masih saja berbincang dan sepertinya Surya tahu Gina sudah malas berbicara pun akhirnya mengajaknya pulang. Dinda masih ingin di sana. Katanya ia ingin menikmati pasar malam dulu.


Lokasi pasar malam dan rumah Surya tidak telalu jauh. Hanya butuh sebentar saja akhirnya mereka sampai. Gina turun dari atas motor dan berjalan langsung masuk ke dalam rumah yang pintunya masih terbuka itu.


"Dari mana saja, Nduk?" Tanya ibu Surya yang melihat baru saja Gina masuk. Gina menghentikan langkah seketika.


"Tadi kami terjebak hujan, Bu."


"Lalu kalian berteduh dimana?"


"Di gudang pupuk, Bu."


"Ya Tuhan..." Ibu Surya tampak kasihan kepada Gina.


"Eh ini dia." Ibu Surya melihat Surya masuk.


"Kau ini sama saja seperti Bapakmu. Kalau sudah di sawah selalu lupa waktu. Kau tidak kasihan istrimu mencarimu begitu. Sudah tahu mendung gelap, kenapa masih juga tidak pulang. Untung saja kalian tidak kehujanan. Bagaimana kalau istrimu kehujanan lalu masuk angin. Apa kau tidak kasihan?" Ibu Surya mengomel. Gina yang melihat itu tidak jadi kesal kepada Surya. Ia malah menjadi kasihan kepada Surya. Sedangkan Surya masih bengong di depan pintu mendapat sambutan 'ceramah' oleh ibunya.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya memang ingin menjemputnya sekalian berjalan-jalan melihat sawah." Gina malah membela Surya. Surya yang mendengar itu menjadi bingung. Baru saja ia melihat Gina melipat wajahnya menjadi jutek, sekarang malah membuat sebuah pembelaan untuknya.


"Oh, baiklah kalau begitu. Ibu masuk dulu ya." Ibu Surya lalu masuk ke dalam kamarnya. Gina juga masuk ke kamar mandi untuk mandi.


Selesai mandi, Gina masuk ke dalam kamar. Surya duduk di atas kasur lipatnya sambil membuka ponsel.


"Ngomong-ngomong, terima kasih, Nona." Ucap Surya saat Gina duduk di depan cermin untuk memakai krim malamnya. Surya sudah meletakkan ponselnya. Sekarang berganti ia menatap Gina dari pantulan cermin yang sedang ia hadapi.


"Terima kasih untuk apa?" Gina masih sok cuek sambil meratakan serum diwajahnya yang bersih dan terlihat bercahaya.


"Sudah membela saya tadi di depan Ibu."


"Siapa yang membelamu? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Jadi jangan terlalu percaya diri."


"Iya Nona, tapi tetap saja apa yang Anda katakan membuat ibu berhenti mengomel."


"Ya, baiklah. Ku terima rasa terima kasihmu agar kau bisa tidur nyenyak malam ini." Ucap Gina kemudian sambil berjalan menuju tempat tidur. Surya tersenyum menanggapinya sambil juga bersiap untuk meletakkan tubuhnya di atas kasul lipatnya.


"Selamat malam, Nona." Ujar Surya. Gina membuka matanya kembali.


Ini adalah pertama kalinya Surya mengucapkan selamat malam padanya walaupun mereka sudah tidur satu kamar akhir-akhir ini. Tapi itu kenapa terdengar sangat indah ditelinga Gina. Ia benar-benar merasa bahwa efek pelet itu sungguh dahsyat sehingga bisa membuat hal yang sangat sederhana menjadi terasa luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2