Tahta Surya

Tahta Surya
Penolakan


__ADS_3

"Menikahlah dengan saya, Nona." Wajah Surya berubah serius seketika. Kilatan matanya menampakkan kesungguhan yang membuat Gina merasa kurang nyaman.


"Surya... apakah ini sebuah lamaran?" Tanya Gina dengan nada suara pelan dan tatapan mata tidak lepas dari Surya.


"Ya, saya melamar Anda." Surya bahkan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik badannya yang entah dimana dia menyimpannya sejak tadi tapi yang jelas benda itu Gina sudah bisa menebak apa isinya.


Saat Surya membuka kotak itu, sesuai dengan apa yang ada di dalam fikiran Gina, sebuah cincin berlian solitaire berbentuk bulat yang sangat indah. Kilauannya sangat terlihat dengan kualitas potongan yang sangat baik sehingga sangat reflektif dan cemerlang. Tapi itu justru membuat Gina merasa tidak nyaman entah kenapa.


"Ehhemm." Gina mendehem untuk menghilangkan sedikit perasaan tidak nyamannya. Ia tahu kenapa merasa seperti itu tapi ia berusaha menguasai dirinya dengan tetap bersikap tenang.


"Kau serius?" Tanya Gina yang mengalihkan tatapannya dari cincin berlian yang indah itu ke wajah Surya.


"Saya serius, Nona."


"Kau yakin ini yang kau inginkan? Ku fikir kau hanya bercanda." Dengan tertawa kecil Gina masih berusaha mencoba mencandai Surya. Mendengar pertanyaan Gina kali ini, Surya mengerutkan kening. Kalimat Gina seperti mengandung arti bahwa mungkin saja Surya belum yakin dengan apa yang ia katakan padanya.


"Apa Anda tidak yakin dengan apa yang saya katakan?" Surya malah balik bertanya karena ia merasa Gina meragukannya.


Gina memalingkan wajahnya ke tempat lain. Ia tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang. Tapi yang sangat jelas ia ketahui bahwa ia tidak tahu harus menjawab apa demi menanggapi pernyataan Surya barusan.


"Kita sudah saling mengenal. Saya tahu bagaimana Anda dan begitu pula sebaliknya. Kita pernah tinggal bersama, pernah menjalani hidup bersama dan sekarang saya rasa kita memiliki perasaan yang sama. Apakah itu masih belum memenuhi kriteria untuk saya mengatakan hal yang tadi?" Nada suara Surya membuat Gina takut. Nada suara itu begitu tegas.


"Aku tahu, tapi ku rasa ini terlalu tiba-tiba. Oh tidak, maksudku ini terlalu cepat untuk kita. Kita baru memulai hubungan berpacaran dan itu baru sebentar tapi kita sudah berbicara tentang pernikahan. Aku merasa ini terlalu terburu-buru. Maafkan aku..." kata maaf Gina ia ucapkan dengan bada rendah menyesal. Menyesal karena kali ini ia tidak sefaham denga Surya.


"Saya yang seharusnya meminta maaf, Nona. Saya memang terlalu terburu-buru." Ujar Surya lemah dan membenahi letak duduknya untuk memalingkan wajah dari Gina.


Gina sangat yakin saat ini Surya kecewa karena ia telah menolak lamarannya. Tapi harus bagaimana lagi, Gina memang belum siap dengan pernikahan yang Surya tawarkan. Perlahan Gina menyesal karena mengabaikan kekhawatiran sebelumnya yang ternyata hari ini membuat Surya semakin mempertegas maksudnya. Bahkan ternyata ia pun telah mempersiapkan cincin berlian yang cantik sekali.


Awalnya Gina memang berfikir sebuah hal wajar jika sepasang kekasih membicarakan tentang pernikahan. Tapi jika pernikahan yang Surya bicarakan adalah pernikahan yang harus mereka lakukan dalam waktu dekat, Gina merasa keberatan dan tidak ingin menerima lamaran Surya lebih dulu.


🌸🌸🌸


"Nona..." Panggil Hanna perlahan tapi Gina seperti tidak mendengarnya dan asyik memandang ke arah lain.


"Nona..." Sekali lagi Hanna memanggil nama atasannya itu tapi masih sama. Gina masih diam membisu dengan tangan yang berada di dagunya untuk ia gunakan menyangga kepalanya.


"Nona Gina..." Sepertinya kali ini berhasil. Gina mengalihkan pandangan kepada Hanna sambil menatap bengong.


"Iya." Jawab Gina gugup seolah terbangun dari tidur tapi matanya tidak pernah terpejam.


"Nona sakit?" Tanya Hanna dengan sedikit khawatir.


"Tidak... aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah. Kita lanjutkan saja nanti. Kau bisa kembali ke mejamu. Aku akan keluar sebentar." Gina menutup PC tablet di mejanya yang ia gunakan untuk pencocokan data dari berkas yang Hanna jelaskan.


"Kemana, Nona? Biar saya temani."


"Jangan. Kau beristirahatlah. Aku hanya akan berada di sekitar gedung R-Company. Aku tidak akan pergi jauh."


"Baik Nona." Hanna membiarkan Gina keluar dari ruangannya. Hanna menatap pintu yang baru saja Gina tutup kembali dengan khawatir. Ia yakin ada yang terjadi dengan atasannya itu. Entah dia sedang tidak enak badan atau ada hal yang mungkin mengganggunya, beberapa hari ini Gina terlihat berbeda. Ia seperti sedang sulit berkonsentrasi dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


Gina berjalan keluar dari dalam lift. Ia menuju ke taman di samping R-Company dan mendekati bangku panjang favoritnya ketika bosan dengan pekerjaannya. Setelah duduk dibawah bangku panjang di bawah pohon flamboyan yang berbunga itu, Gina menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Ia mengambil ponsel di saku celana panjang warna ivory yang ia padukan dengan kemeja warna baby pink miliknya. Melihat layarnya dan tidak menemukan apapun di sana. Tidak ada pesan chat yang masuk sama sekali. Terutama dari Surya.


Gina memejamkan matanya beberapa saat dan mengingat kembali saat terakhir kali mereka berjumpa beberapa hari yang lalu.


"Menikahlah dengan saya, Nona. Saya melamar Anda. Saya serius."


Ekpresi wajah Surya saat mengatakan itu terbayang jelas di dalam ingatan Gina. Matanya menginsyaratkan keseriusan. Tapi memang dirinya yang belum siap dengan hal itu sehingga kesungguhan Surya terpaksa harus ia tolak. Entah jahat atau egois, tapi dia pun tidak bisa memaksakan dirinya untuk menerima lamaran Surya ketika hatinya belum siap. Ia belum siap menjadi seorang istri. Ia masih ingin menjadi dirinya sendiri dan melakukan apapun sesuka hatinya. Kalau dia memutuskan untuk berpacaran dengan Surya, itu karena memang Gina mencintai Surya. Tapi Gina tidak yakin perasaan cintanya harus ia bawa ke pelaminan juga. Ia pernah berpacaran dengan banyak pria tapi itu pun ia jalani dengan santai. Ia tidak pernah berfikir tentang mengakhiri hubungan pacaran dengan pernikahan bahkan hingga sekarang. Ia masih merasa itu hal yang belum ingin Gina lakukan.


"Apa dia marah karena aku telah menolaknya? Kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali?" Gina menekuni ponselnya dari tadi.


"Apa dia boleh marah ketika aku menolaknya? Dia benar-benar membuatku terlihat seolah menjadi wanita jahat." Lagi-lagi Gina menarik nafas panjang memikirkan Surya yang sedang marah padanya.


"Apa aku menghubunginya lebih dulu?" Gina mulai membuka layar ponselnya dan menombol nama Surya dari menu kontak.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak boleh melakukannya. Bagaimana kalau dia mengejarku lagi dengan mengajakku menikah? Aku harus menjawab apa?" Gina mengurungkan niatnya menelepon Surya.


"Ya Tuhan, Surya... kenapa kau ini?" Gina memandang foto yang ada pada detail kontak Surya yang ia simpan di ponselnya dengan gemas. Tapi kemudian ia mengangkat wajahnya saat mendengar sebuah langkah kaki mendekatinya. Gina juga bisa melihat jika itu adalah sebuah langkah kaki seorang pria, terlihat dari sepatu yang ia lihat menuju ke arahnya.


Hanna keluar dari dalam ruangan Gina dan melihat ke arah Feby yang juga sedang memandangnya. Hanya sekilas lalu Feby kembali melanjutkan pekerjaannya mengetik di atas papan keyboard laptop di depannya. Hanna lalu duduk di kursi depan meja Feby. Melihat itu, Feby mengerutkan kening, heran.


"Nona Gina kenapa lama sekali." Gumam Hanna yang seolah ingin memberitahu Feby juga.


"Kemana Nona Gina pergi? Tumben kau tidak pergi bersamanya?" Tanggapan Feby.


"Dia mengatakan hanya akan keluar di sekitar sini sebentar. Tapi ini sudah hampir satu jam dan Nona Gina belum kembali juga."


"Nona Gina mengayakan padamu apa yang sedang dikerjakannya?"


"Entahlah, Nona Gina hanya ingin pergi keluar dan tidak mengatakan akan pergi kemana atau akan melakukan apa."


"Kita tunggu saja. Mungkin ada pekerjaan yang harus ia kerjakan tanpa sepengetauan kita." Ujar Feby santai sambil melanjutkan pekerjaan di laptopnya. Tapi beberapa saat kemudian ia memandang Hanna yang juga telah memandangnya juga. Sepertinya mereka memiliki satu fikiran yang sama.


"Mana mungkin Nona Gina melakukan pekerjaan tanpa sepengetahuan kita." Kalimat Feby terdengar khawatir.


"Jadi, pergi kemana Nona Gina?" Sebagai asisten pribadinya, Hanna malah terlihat sedikit panik karena seharusnya apapun yang Gina lakukan, ia harusnya selalu menemaninya.


Hanna pun beranjak dari kursi dan berjalan mendekati lift. Seharusnya menelepon saja cukup, tapi Gina adalah atasannya, jika tidak ada hal yang urgent dan hanya karena ia ingin mengetahui keberadaannya, rasanya tidak sopan menghubunginya dari sambungan telepon.


"Kau fikir ini kantormu? Seenaknya saja kau keluar masuk di sini." Ujar Gina culas.


"Aku adalah relasi R-Company jadi apa salahnya aku kemari." Jawab pria yang sekarang duduk disamping Gina.


"Apa ada agenda resmi yang membuatmu harus melakukan kunjungan di sini? Apa sebegitu tidak percayanya kau pada R-Company sehingga harus selalu turun langsung mengawasi orang-orangmu yang bekerja di sini?"


"Bukan, bukan begitu. Aku hanya..."


"Hanya ingin bertemu istrimu?" Sela Gina tepat sasaran. Marco yang mendengar itu jadi tersenyum malu karena telah ketahuan oleh Gina.


"Apakah ini benar-benar dirimu?" Tanya Gina sambil memandang Marco lurus.


"Hei, apa maksudmu? Kau fikir aku memiliki kembaran?" Marco terkekeh.


"Hebat sekali bayimu bisa membuat dirimu berubah sejauh ini."


"Bukan, aku memang seperti ini. Aku sangat mencintai Hanna dan selalu perhatian padanya. Ya, walaupun kadang aku masih sering terbawa kebiasaan buruk bermain dengan para wanita."


"Dasar bodoh, itu sama saja dengan kau tidak sungguh-sungguh mencintai Hanna. Karena kau masih sering membelokkan hatimu kepada wanita lain."


"Tidak, aku tidak pernah membelokkan hatiku pada wanita manapun kecuali kepada Hanna. Hanya saya, mereka selalu saja mengajakku pergi sehingga aku merasa tidak enak kalau menolak ajakan mereka."


"Kau fikir Hanna adalah kuncianmu sehingga kau bisa bermain dengan para wanita itu dan kembali pulang kepada Hanna saat kau lelah. Coba saja kau lakukan itu, aku akan menghajarmu."


"Tidak, aku tidak begitu lagi. Aku sudah merasa cukup dengan kebiasaan buruk itu. Sekarang aku harus menjadi suami yang baik dan saat anakku lahir nanti aku juga akan menjadi Papa yang baik untuk bayi kami."


"Bagus, jangan sampai aku mendapatimu bertindak bodoh lagi seperti yang terakhir kali kau lakukan kemarin."


"Iya..." Jawab Marco meyakinkan Gina.


"Kau tahu, tidak mudah bagi seorang pria untuk menikahi seorang wanita dan berhenti dari kebiasaannya saat sebelum menikah. Mereka pastilah adalah pria-pria yang memiliki banyak cinta untuk wanitanya. Aku yakin tidak ada seorang priapun yang tiba-tiba ingin menikah ketika ia tidak yakin dengan perasaannya." Jelas Marco untuk mempertegas pernyataannya.


"Aku pun demikian. Aku sangat mencintai Hanna dan akan selalu mencintainya walau ada banyak wanita yang ada disekitarku. Sehingga aku yakin bahwa yang ku rasakan adalah cinta dan itu pula yang membuatku yakin untuk menikahinya. Hai, sayang..." Gina sontak memandang Marco yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dengannya dan menyebut kata sayang dengan suara lantang.


Gina melihat Marco menatap ke suatu arah dan membuat ia pun mengikutinya. Disana, di teras samping lobi berdiri Hanna yang tersenyum pada Marco dan sekarang berganti tersenyum padanya juga.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Hanna kepada Marco yang berdiri menyambut Hanna yang sudah ada di depannya.


"Apa kau sudah makan siang?" Tanya Marco dan dijawab dengan anggukan oleh Hanna.

__ADS_1


"Bagus. Tidak mual bukan?"


"Mual, bahkan lalu muntah." Jawab Hanna dengan nada sedikit mengeluh.


"Baiklah, aku membawakanmu bento. Makan saja bento ini. Aku yakin ini tidak akan membuatmu mual. Aku memesan bento tanpa bahan ikan dan daging. Semua lauknya berasal dari protein nabati. Ada nugget tempe dan tahu yang rasanya enak sekali." Marco mengambil sebuah kotak yang tadi dibawanya yang diletakkan di bangku panjang itu.


"Kau membelinya?" Tanya Hanna dengan mata berbinar mendapatkan perhatian Marco.


"Ya, salah seorang pegawaiku membuka usaha sambilan dan menawarkannya kepada para pegawai. Kebetulan aku tahu itu dan sudah mencicipinya kemarin. Jadi hari ini aku memesannya untukmu."


"Terima kasih, Papa." Ujar Hanna memberi panggilan sayang untuk calon bayi mereka. Marco tersenyum senang melihat istrinya tampak bahagia seperti itu.


"Ehhemm..." Gina mendehem memberitahukan keberadaannya diantara mereka berdua.


"Apa aku tidak ada di sini?" Sindir Gina kepada Marco dan Hanna yang sejak tadi mengobrol dengan manis hingga seperti melupakan keberadaannya di sana.


"Oh, maaf Nona." Ujar Hanna merasa tidak enak karena telah mengabaikan atasannya yang berada di sana. Dibalik tubuh Marco.


"Ngomong-ngomong, apa Marco mengganggu Anda? Saya meminta maaf jika dia melakukannya." Mendengar itu Marco menggelengkan kepala membela diri bahwa ia tidak melakukan gangguan apapun kepada Gina.


"Tidak, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menyapanya. Aku menyapa atasan istriku untuk bersikap sopan." Jelas Marco tidak ingin Hanna salah faham dan mengira telah melakukan sesuatu yang bisa mengganggu Gina.


"Benarkah?" Tanya Hanna tidak percaya.


"Ya Tuhan. Seharusnya kau tidak mencurigaiku karena mengganggu mantan pacarku tapi harusnya kau berfikir mungkin saja aku dan dia melakukan hal tidak baik dibelakangmu."


"Hei, enak saja. Siapa juga yang akan melakukannya denganmu." Gina tidak terima Marco mengatakan itu walau hanya sebuah perumpamaan.


"Aku tidak mungkin bisa berfikir begitu. Nona Gina tidak akan melakukan itu." Mendengar itu Gina mengangguk mendukung apa yang Hanna ucapkan.


"Kenapa kau malah berfihak padanya, bukan padaku?" Marco memanyunkan bibirnya mendapati sikap Hanna yang diluar dugaan.


"Bukan begitu, tapi aku percaya kau tidak akan melakukan itu lagi padaku. Kau calon Papa yang baik jadi kau akan selalu menjaga hatimu walau dengan wanita manapun, bukan?" Kalimat Hanna kali ini ganti membuat Gina terperanjat. Hanna tampak mendukung suaminya sekarang. Tapi lalu Gina memahami situasi Hanna dan tersenyum. Bagaimanapun kelakuan Marco dahulu, karena Hanna mencintainya, maka semua hal buruk itu akan Hanna kesampingkan jika Marco telah menunjukkan sikap baiknya.


"Baiklah... Marco memang tidak menggangguku. Tapi kalau aku berada di sini terus, ku rasa akulah pengganggu sebenarnya. Jadi, aku akan masuk." Gina berpamitan dan beranjak dari duduknya. Hanna pun memberi kode Marco untuk berpamitan juga padanya. Tapi Gina melihat itu.


"Hei, kau mau kemana?" Tanya Gina kepada Hanna yang mulai berbalik badan hendak mengikutinya.


"Saya juga akan masuk, Nona."


"Tidak. Kali ini aku memberimu tugas untuk tetap di sini." Mendengar kalimat Gina yang mengandung perintah itu, Hanna menjadi bingung. Marco pun sama.


"Kau ku beri tugas untuk memakan bento yang dibawakan oleh suamimu. Makanlah bersamanya."


"Tapi Nona..." Hanna masih bingung dengan tugas yang diberikan oleh atasannya itu.


"Marco, pastikan Hanna memakan semua makanannya sampai habis. Akan lebih baik lagi kalau kau menyuapinya."


"Siap, komandan." Marco meletakkan tangan kanannya di dahi seolah melakukan hormat ala TNI. Gina tersenyum lucu melihat tingkah Marco. Lalu ia pergi meninggalkan sepasang suami istri itu dengan hati tenang karena sepertinya Marco benar-benar telah menepati janjinya untuk mencintai Hanna dengan baik dan benar. Gina berjalan menjauhi Hanna dan Marco yang menggantikan tempatnya sekarang.


"Surya benar-benar mendiamkanku." Keluhnya dengan hati sesak karena ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat hubungannya dan Surya kembali seperti sedia kala.


🌸🌸🌸


Gina membaca isi pesan chat pada grup pengusaha dari ponselnya saat Hanna datang menghampiri mejanya.


"Nona, sudah sore." Ujar Hanna mengisyaratkan bahwa jam kerja mereka sudah habis.


"Ya, kau pulanglah lebih dulu." Jawab Gina sambil mengalihkan pandangan dari ponsel ke wajah Hanna di depan mejanya.


"Aku akan pulang setelah ini.


"Baiklah, Nona. Sampai jumpa besok." Gina mengangguk dan memberi senyuman kepada Hanna yang kemudian berlalu dari hadapannya. Gina kembali melihat isi pesan yang tadi sempat diabaikannya.

__ADS_1


Disana tertulis pemberitahuan bahwa besok adalah jadwal rutin pertemuan serikat pengusaha di adakan. Tiba-tiba Gina memiliki sebuah ide untuk memulai percakapan kembali dengan Surya.


__ADS_2