Tahta Surya

Tahta Surya
Mantan "Terindah"


__ADS_3

Seorang pria muda berjalan memasuki sebuah restoran. Ada sebuah pertemuan dengan relasi bisnis yang mengharuskan ia datang malam ini. Restoran mewah yang dipilih oleh rekannya sangat tepat untuk acara makan malam. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sepasang pria dan wanita yang duduk di sebuah meja. Sepertinya itu adalah makan malam romantis milik mereka. Ia bisa melihat dari bagaimana seorang pria menggenggam jemari si wanita yang menampakkan sikap malu-malu tapi bahagia. Pria itu tersenyum kecut.


Saat menuju sebuah meja ia terpaku pada seorang gadis yang duduk sendirian di mejanya. Ia sangat mengenalnya. Tanpa ia sadari senyumnya melebar seiring langkah kakinya mendekati gadis itu.


"Gina sayang..." Sapanya. Gadis itu mendongak padanya yang berdiri disampingnya. Tapi tampaknya gadis itu tidak mengenali dirinya.


"Jangan katakan kau lupa padaku."


"Anda siapa?" Tanya Gina acuh.


"Sudah ku duga kau akan mengatakan hal itu. Itu artinya kau mengenaliku." Pria itu masih tersenyum pada Gina.


"Sudahlah, percuma saja kau berpura-pura. Sebagai mantan terindahmu, aku mengenalmu dengan cukup baik." Gina memalingkan wajahnya.


"Mantan terindah?" Gina menatap pria itu tajam.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Apakah disini boleh bermain bola?" Pria berwajah indo itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Kau masih saja tetap gila." Gina masih mengawasi Surya dan Faris di meja seberang sana.


"Tentu saja. Kalau tidak gila, mana mungkin aku tidak memacarimu waktu itu. Seorang playboy dan seorang playgirl. Bukankan itu sangat serasi?"


"Sudah, jangan lanjutkan... kau bisa membuat suasana hatiku jadi tidak baik." Gina mengarahkan telapak tangannya kepada Marco.


"Hei, ini pertemuan kita setelah sekian lama. Mari kita rayakan. Bergabunglah dengan kami."


"Apa maksudmu?" Gina memandang pria yang bernama Marco itu tak mengerti.


"Kau menunggui calon suamimu, bukan?"


"Apa?"


"Ya, Pak Surya. Bukankah kalian akan menikah sebentar lagi?"


"Darimana kau tahu?" Gina semakin penasaran.


"Tentu saja dari undangan yang dikirimkan padaku."


"Bagaimana bisa?"


"Ikutlah bergabung ke sana, akan ku beritahukan kepadamu." Gina salah tingkah. Bagaimanapun juga aksinya di sini adalah secara diam-diam, tanpa ingin diketahui oleh Surya dan Faris.


"Tidak." Tolak Gina tegas.


"Jangan-jangan... kau..." Marco menggantungkan kalimatnya.


"Apa?" Gina memelototkan mata.

__ADS_1


"Kau sedang memata-matai calon pengantinmu? Tenang saja, ini bukan sebuah pesta lepas lajang. Ini hanya sebuah pertemuan bisnis."


"Bicara apa kau ini."


"Baiklah, aku akan menjaga rahasia. Aku tahu bagaimana seorang wanita yang sangat posesif. Aku juga pernah memiliki pacar seperti itu." Goda Marco.


"Kau ini banyak bicara. Sudah pergi sana." Usir Gina.


"Oke... aku akan pergi. Dan juga ku pastikan kami hanya akan mengobrol. No alcohol." Marco mengerling kepadanya.


"Terserah apa maumu. Sudah pergilah." Desak Gina. Marco semakin girang mendapati Gina terlihat kesal.


Mereka memang adalah sepasang kekasih saat masih duduk dibangku SMA. Seperti kata Marco, saat SMA dirinya adalah playboy di sekolah. Dan begitu pula Gina yang memiliki hobi sama yaitu berganti-ganti pacar. Untuk itu mereka dijuluki pasangan paling fenomenal. Dan karena memang mereka adalah seorang playboy dan playgirl hubungan mereka pun tak berjalan dengan baik. Hanya beberapa saat saja, setelah itu mereka pun putus.


Gina masih menyembunyikan wajahnya dari balik buku menu mengawasi meja Surya dan Faris yang sekarang bertambah personil, Marco. Gina penasaran, apa hubungan mereka bedua dengan Marco. Apa mereka adalah teman. Atau mereka benar-benar rekan bisnis seperti yang Marco katakan? Tapi bagaimana mereka jadi saling kenal? Untuk urusan bisnis apa Marco bertemu mereka. Setahunya dulu ia adalah anak pemilik pabrik pengemasan seafood yang distribusinya hingga keluar negeri.


Pesanan Gina datang. Segelas jus jeruk, sama seperti yang Faris pesan. Gina tahu Faris menyukai jus jeruk. Dan saat meneguk jus jeruknya, tiba-tiba ia teringat Hanna yang tidak juga menyusul masuk.


"Hanna, kau dimana? Kenapa lama sekali? Kau memarkir mobilmu di Hongkong? Ya Tuhan, siapa yang menyuruhmu menunggu di mobil? Cepat kemarilah." Gina menutup teleponnya kembali. Tak berapa lama Hanna menghampiri mejanya.


"Maaf, saya fikir saya hanya harus menunggu." Ujar Hanna sopan.


"Kau ini asistenku, jadi kau harus selalu bersamaku. Nanti kalau aku membutuhkanmu bagaimana."


"Baik Nona. Saya akan selalu bersama Anda."


"Tampan sekali... Hmmm..." Gina terpukau memandangi Faris meskipun dari jauh. Hanna ikut mengalihkan pandangan ke arah Gina memandang. Ia tahu yang Gina pandangi adalah Faris dan meskipun hanya dengan membatin, ia setuju dengan apa yang dikatakan Gina. Faris memang setampan itu. Wajar jika Gina mengagumi Faris sampai begitu. Sebagai wanita dengan penglihatan normal, wajah Faris memang paling menonjol diantara tiga pria di meja itu.


Meskipun Marco memiliki garis wajah khas ras kaukasoid yang tampan dengan mata biru dan rambut kecoklatan, tapi Faris memiliki kulit yang bersih dan garis wajah yang tegas. Sedangkan Surya, seorang pria yang tidak banyak bicara itu memiliki tone kulit khas Indonesia tapi dengan pandangan mata tajam.


Berada dalam satu meja seperti itu Gina bisa membandingkan dengan jelas antara Surya dan Faris. Faris yang sudah terlihat jelas ketampanannya dan Surya yang berwajah biasa saja. Faris yang berpenampilan stylish dan Surya yang berpenampilan sederhana. Faris yang berkepribadian menyenangkan serta ramah dan Surya yang memiliki sifat cenderung pendiam. Lalu bagaimana Gina akan bisa bersama Surya jika kriteria pria idaman tidak terdapat padanya tapi pada Faris.


Dari caranya memandang, Hanna tahu Gina menyukai Faris walaupun Gina tidak menceritakan kepadanya. Beberapa hari bersama Gina, sedikit demi sedikit ia mulai mengenal bagaimana Gina, apa yang Gina suka bahkan sifatnya mulai tampak. Lagipula Gina juga tidak berniat merahasiakan apapun dari Hanna, termasuk bagaimana perasaannya kepada Faris.


"Kalau dilihat dari sini, Faris paling bersinar diantara mereka bertiga." Gina masih dengan pandangan kagumnya. Sesekali Marco memandang ke arahnya seolah mengancam akan melaporkan keberadaannya kepada Surya dan Faris. Dan itu membuat Gina melotot kepadanya berharap Marco tidak membuatnya malu.


Gina ikut memperbaiki letak duduknya saat Faris berdiri dari perkumpulan kecil itu. Ia memalingkan pandangan agar Faris tidak bisa melihatnya.


"Hanna, palingkan wajahmu." Hanna yang sedang menyuapkan spageti jadi reflek menoleh dan spageti yang ia sruput jadi belepotan kemana-mana. Ia sempat mengusap sekitar mulutnya yang terasa basah oleh saos spageti itu.


Faris berjalan diikuti Surya meninggalkan meja mereka. Gina menutupi wajahnya dengan buku menu yang masih dibawanya. Ia sengaja tidak mengembalikan buku menu kepada pelayan karena ia menggunakan sebagai senjata untuk pengintaiannya.


Tak lama setelah itu Gina pun ikut meninggalkan restoran. Tapi kali ini ia benar-benar bermaksud untuk pulang. Aksi membuntuti sudah ia akhiri. Tentang rasa penasaran akan pertemuan apa itu, ia bisa mencari tahu lebih jelas nanti.


"Hanna, aku ingin kau menyelidiki kenapa pria itu bisa bersama Surya dan Faris. Apa hubungan diantara mereka." Ujar Gina di samping Hanna yang sedang menyetir.


"Maksud Anda Pak Marco?" Hanna melirik Gina sekilas memastikan bahwa orang yang dimaksud Gina adalah Marco.


"Kau tahu tentang dia?" Gina membelalakkan matanya melihat Hanna sepertinya sudah mengenal Marco.

__ADS_1


"Iya, Nona. Pak Marco adalah pemilik perusahaan jasa outsourcing yang bekerja sama dengan R-Company dan juga Font."


"Apa dia pemilik Citra Karya Outsourcing?"


"Iya Nona."


"Ya Tuhan." Bertahun-tahun ia bekerja di Font dan baru hari ini ia tahu jika Marco adalah pemilik perusahaan jasa outsourcing yang juga bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja dulu.


Gina akhirnya sadar dari mana Marco tahu semua tentang dirinya. Tentang rencana pernikahannya dan bagaimana ia terlihat sangat akrab dengan Surya dan Faris. Semoga mantan pacarnya itu benar-benar tidak bercerita yang macam-macam tentang dirinya saat pertemuannya dengan Surya dan Faris tadi seperti pengakuannya sebelum Gina keluar dari restoran.


"Sampai berjumpa lagi saat acara pernikahanmu." Goda Marco sambil membarengi langkah Gina meninggalkan mejanya. Gina tidak menghiraukan.


"Tapi, bukankah mantan tidak seharusnya datang di acara pernikahan? Itu pasti sangat menyakitkan." Marco tersenyum tapi mirip sebuah ejekan.


"Terserah." Jawab Gina acuh dan tetap berjalan.


"Jangan jahat padaku seperti ini. Bukankah kita pernah saling menyanyangi dulu."


"Malas sekali denganmu."


"Baiklah, bagaimana jika ku katakan kepada Pak Surya bahwa aku adalah mantan pacarmu."


"Lakukan sesukamu."


"Benarkah? Apa itu tidak akan membuatnya cemburu?"


"Asal kau tahu, dia tahu persis siapa saja mantan pacarku."


"Termasuk aku?"


"Tentu saja."


"Wah, kalian memang pasangan yang demokratis. Kalian bahkan berbagi informasi tentang mantan pacar." Marco mensejajari Gina sekarang.


"Pantas saja sikapnya terasa berbeda tadi. Ini pertemuan pertama kami setelah rencana pernikahan kalian. Apa dia cemburu terhadapku?"


"Entahlah... tapi yang jelas jangan membual apapun tentang hubungan kita dulu."


"Hei, aku ini pria sejati. Pantang bagiku untuk membual."


"Wah, gayamu seolah itu benar-benar dirimu."


"Tentu saja itu memang diriku. Aku bahkan tidak memberitahukan kepadanya tentang keberadaanmu menguntitnya di sini."


"Benarkah?"


"Ya."


Gina berharap ucapan Marco memang benar. Itu artinya Faris juga tidak tahu bahwa dirinya sedang mengawasinya dari jauh

__ADS_1


__ADS_2