Tahta Surya

Tahta Surya
Penggelapan


__ADS_3

Akhirnya sekotak kue rangin habis ditangan Gina. Merasa perutnya sudah kenyang, ia jadi tidak nafsu makan apa-apa lagi. Sebotol air mineral yang tadi dibelinya juga habis meninggalkan botol kosong, Gina memutar mobilnya untuk kembali ke kantornya.


Saat tiba di R-Company, Gina tidak segera kembali ke dalam ruangannya. Ia memilih duduk di bangku taman R-Company, di bawah pohon flamboyan. Kali ini pohon flamboyan tidak berbunga. Yang ada hanya daunnya yang hijau dan rimbun yang memberi keteduhan disiang hari seperi ini.


Saat sedang bersantai menikmati angin semilir, Gina melihat Bayu melintasi koridor yang terlihat dari taman. Melihatnya berjalan, Gina teringat saat acara pernikahan Hanna, Bayu tidak ada di sana. Dia tidak datang. Gina tahu kenapa. Pastilah sangat menyakitkan melihat orang yang disukai menikah dengan orang lain. Gina sudah pernah melakukannya dan tidak akan mengulangnya lagi. Melihat Faris menikahi Sunday, Gina merasa ia telah menyiksa dirinya sendiri. Ia fikir akan bisa bertahan melihat Faris berbahagia bersama Sunday dan ia bisa memamerkan pada banyak orang bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi nyatanya ia tidak bisa menahannya dan harus pergi saat acara bahkan belum dimulai. Ia harus melarikan diri dari lokasi pernikahan Faris dan Sunday sebelum ada orang yang melihatnya menangis.


Karena pengalaman itu, ia berterima kasih kepada Surya yang telah menghilang darinya. Ia tidak akan melihat hal menyakitkan semacam itu lagi. Ketika Surya menikah dengan Siska, mereka tidak akan mengundangnya karena mereka sudah tidak memiliki koneksi satu sama lain.


Waktu itu Gina sempat pergi ke rumah Surya untuk memastikan dia tidak benar-benar ingin pergi darinya tapi rumah itu terkunci dan bertuliskan bahwa rumah itu dijual. Ia tidak tahu harus mencarinya kemana lagi. Nomornya sudah diblokir oleh Surya, menandakan ia benar-benar ingin menghindari Gina. Sehingga Gina merasa harus menyerah. Ia bisa saja menyuruh orang untuk mencari keberadaannya tapi apa itu bisa merubah keingian Surya untuk menjauhinya? Bagaimana kalau Surya malah merasa tidak nyaman dengan aksi Gina yang mengejarnya begitu dan kemudian merasa terganggu? Gina tidak mau seperti itu.


Oleh karena itu Gina berusaha untuk menerima keputusan Surya dengan tidak mencarinya, tidak mengganggu hidupnya dan akan melupakannya meskipun itu butuh waktu yang Gina sendiri tidak tahu akan berapa lama. Karena saat ini perasaannya kepada Surya masih sangat kental ia rasakan.


Gina melihat jam ditangannya dan waktu menunjukkan jam makan siang hampir habis. Ia lalu beranjak dari taman untuk kembali ke ruangannya. Saat bertemu Feby di mejanya, sekretarisnya itu menyerahkan sebuah file case.


"Apa ini?" Tanya Gina melihat Feby dengan ragu-ragu menyerahkan file itu.


"Nona, itu adalah rekap data penemuan dari divisi keuangan."


"Lantas?"


"Ada sesuatu yang salah. Oh, maksud saya, ada sesuatu yang..." Feby tidak melanjutkan kalimatnya dan membuat Gina penasaran harus melihat isinya.


Gina membaca dengan saksama laporan yang berisi angka-angka itu lalu terbelalak ketika matanya terpaku pada sebuah angka bernilai besar.


"Apa ini benar?" Tanya Gina kepada Feby.


"Divisi keuangan sudah memastikan bahwa laporan mereka benar seperti itu adanya, Nona." Mendengar itu Gina tampak gusar.


"Kumpulkan semua orang untuk ke ruang rapat."


"Baik Nona."


Tidak butuh waktu lama semua kepala divisi sudah tergopoh-gopoh untuk datang ke ruang rapat. Setelah semua orang datang, Gina pun datang bersama Feby.


"Anda semua pasti sudah tahu untuk apa aku mengumpulkan semua orang di sini." Gina meminta laporan yang dibawa oleh Feby.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa kita tiba-tiba kehilangan begitu banyak seperti yang tertulis disini?" Gina mengangkat laporan yang ada di tangannya.


"Divisi keuangan, bagaimana ini terjadi?" Tanya Gina pada kepala bagian keuangan.


"Itu adalaha data yang kami temukan. Kami sudah memvalidasi bahwa data itu benar adanya. Ada pembengkakan pada gaji karyawan dan pembelian bahan baku di beberapa bulan terakhir. Tapi setelah kami mengkonfirmasi dengan pihak HRD dan bagian produksi, data yang kami dapatkan tidak sinkron. Sehingga kami menemukan selisih yang begitu besar."


"Kenapa baru sekarang ini muncul?"


"Sebenarnya pegawai di bidang ini beberapa minggu yang lalu  mengundurkan diri dan pegawai baru menemukannya."


"Apa?"


"Dan juga, setelah kami menganalisa, ada orang yang cukup berkuasa dibalik ini, Nona." Kepala divisi keuangan menundukkan kepala karena merasa sudah sangat bodoh hingga terjadi hal semacam ini.


"Apa maksudnya?"


"Kami akhirnya menemukan kembali pegawai yang mengundurkan diri beberapa hari lalu." Kepala divisi keuangan meminta seseorang masuk ke dalam ruangan itu.


"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Perintah kepala divisi keuangan kepada mantan bawahannya yang sudah memasuki ruang rapat. Semua mata tertuju padanya.

__ADS_1


"Saya hanya mendapatkan perintah untuk memalsukan laporan keuangan. Dengan imbalan. Saya minta maaf telah melakukannya." Jelas pegawai pria berperawakan pendek dengan wajah pucat karena takut itu.


Semua orang bergumam satu sama lain mendengar penuturannya sebagai bentuk respon atas penjelasan pegawai itu.


"Siapa dia?" Tanya Gina dengan sangat gemas. Nada bicaranya sudah sangat dingin sejak tadi. Gina sudah marah sejak melihat laporan itu.


"Pak Indrawan."


"Kau yang benar saja. Pak Indrawan sudah mengundurkan diri."


"Itu sudah menjadi bagian dari rencananya, Nona."


"Kalau begitu, temukan Pak Indrawan."


"Kami sudah berusaha mencarinya, Nona. Pak Indrawan pergi ke luar negeri dua hari yang lalu. Kami mencari di rumahnya rumah itu sudah terjual. Semua saudara tidak ada yang tahu kemana Pak Indrawan dan keluarganya pergi." Ujar kepala divisi keuangan yang telah mengumpulkan banyak data sebelum akhirnya melaporkan tindakan Pak Indrawan.


"Tidak mungkin." Gina meremas tangannya. Kemarahannya benar-benar sudah hampir sampai di ubun-ubun.


Pertemuan darurat itu sudah ia bubarkan. R-Company yang menderita kerugian lebih dari 300 miliar rupiah membuat Gina merasa kacau. Untuk sementara waktu ia harus merahasiakan hal ini dulu dari para dewan direksi eksternal agar tidak mempengaruhi harga saham di R-Company. Meskipun ia adalah pemegang sahan tertinggi, tetap saja ia harus membuktikan kinerjanya dalam menyelesaikan masalah ini.


Gina berjalan menuju ke ruangannya bersama sekretaris yang mengikuti di belakang saat Mamanya menelepon.


"Iya, Ma?" Jawab Gina begitu mengangkat telepon.


"Papa pingsan. Aku sedang menuju ke rumah sakit sekarang." Kalimat Bu Marina di seberang membuatnya tercengang.


Ada apa dengan hari ini. Kenapa semua harus terjadi bersamaan?  Batin Gina diam di tempatnya. Gina menarik nafas panjang.


"Ada apa, Nona?" Tanya sekretarisnya melihat Gina mematung di tempatnya.


Gina setengah berlari menuju Instalasi Gawat Darurat dimana Papanya mendapat penanganan saat ini. Di depan pintu IGD tampak Bu Marina sedang berdiri sendirian. Gina segera berlari menghampirinya.


"Apa yang terjadi, Ma?" Tanya Gina saat sudah berada di dekat Mamanya.


"Seseorang menelepon Papa dan kemudian pingsan. Tapi Papa sempat mengatakan tentang R-Company. Hanya saja suaranya tidak jelas. Jadi, ada apa dengan R-Company?" Tanya Mamanya serius.


Surya sedang berada di salah satu warung angkringan miliknya saat Hanna menelepon.


"Ya Hanna..." Sapa Surya dengan senyum lebar ingin menggoda Hanna yang masih sempat menghubungi walaupun dirinya sedang berbulan madu. Tapi saat Hanna mulai membuka suara, Surya segera merubah raut wajahnya. Setelah Hanna menutup telepon, ia pun segera mengambil kunci mobil dan bergegas pergi.


Di dalam mobil yang ia kendarai, Surya memikirkan saat ini Gina pasti sangat bingung. Berita penggelapan dana perusahaan yang dilakukan oleh salah seorang mantan pegawainya pasti sangat membuatnya resah. Apalagi Gina baru saja masuk ke dalam R-Company dan berada pada jabatannya. Belum lagi Hanna pun sedang tidak ada di dekatnya. Ia pastilah butuh dukungan dari orang yang mengenalnya dan juga mengenal R-Company.


Pintu ruang IGD terbuka. Sebuah ranjang troli rumah sakit terlihat dari balik pintu. Perawat mendorong troli itu keluar. Mama Gina mengikuti kemana suaminya yang akan dibawa ke kamar perawatan. Sedangkan Gina tampak berbincang dengan dokter yang menangani Pak Rangga.


"Jadi, bagaimana keadaan Papa saya, Dok?"


"Dari pemeriksaan awal, pasien tidak mengalami hal yang serius tapi sepertinya beliau sedang mengalami syok berat sehingga membuatnya pingsan. Untuk memastikan kondisi yang sebenarnya, pasien akan melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut."


"Saya mohon berikan perawatan yang terbaik untuk Papa saya."


"Pasti, Nona." Setelah itu dokter kembali ke dalam ruang IGD dan Gina berjalan ke kamar Papanya di tempatkan.


Perlahan Gina membuka kamar tempat Papanya dirawat. Di samping ranjang pasien, Mamanya sedang duduk sambil menatap Papanya yang masih terlelap. Tapi kemudian ia menoleh kepada Gina yang masuk ke dalam kamar inap.


"Bagaimana keadaan Papa?" Ucap Gina lirih agar Pak Rangga tidak terganggu dengan suaranya.

__ADS_1


"Dia baru saja terbangun menanyakanmu. Ku katakan padanya kau sedang berbicara dengan dokter. Dia mengatakan ingin berbicara denganmu. Tapi aku membujuknya agar besok saja karena dia harus banyak istirahat." Gina tidak mengatakan apapun dan hanya menatap tubuh lemah Papanya di atas ranjang pasien dengan selang infus yang terhubung di tangannya.


Papanya yang biasa terlihat bugar dan kuat, kali ini harus jatuh pingsan karena berita buruk mengenai R-Company. Seorang dari divisi keuangan melapor kepada Pak Rangga tanpa sepengetahuan Gina.


"Ma, aku harus kembali ke kantor. Semua keperluan Mama dan Papa akan diantar oleh Mbak Yuyun." Ujar Gina akhirnya.


"Gina..." Panggil Bu Marina tepat sebelum Gina membuka pintu.


"Mama akan membantumu. Tunggu hingga Papa sedikit lebih baik."


"Tidak. Mama harus menemani Papa. Mama bisa membantuku dari sini." Gina mengangkat ponselnya dan tersenyum kepada Mamanya. Bu Marina tahu senyum itu begitu dipaksakan. Ia tahu seberat apa fikiran Gina sekarang. Anak gadis yang tumbuh sendiri tanpa dukungan kedua orang tua dan hanya dimanjakan dengan kemewahan, sekarang harus berjuang menyelamatkan perusahaan yang hampir tumbang.


Gina berjalan menuju area parkir rumah sakit. Tidak terasa hari sudah mulai gelap. Gina lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Ia tidak segera menyalakan mesin mobil tapi menelungkupkan wajahnya pada setir yang ia pegang. Hari ini adalah hari yang sangat buruk bagi Gina. Semua terjadi bersamaan dan cukup mengejutkan. Dan jalanan lengang malam ini nyatanya tetap membuat Gina merasa sesak. Ia tidak tahu harus kemana. Ia ingin kembali ke R-Company tapi harus melakukan apa? Ia ingin menghubungi Hanna tapi ia sedang mengajukan cuti. Ia ingin pulang tapi Gina pun tidak yakin akan bisa beristirahat dengan nyaman. Fikirannya saat ini hanya dipenuhi dengan R-Company.


Akhirnya tanpa ia sadari sudah berada di parkir basement R-Company. Gina menghentikan mobilnya dan mematikan mesin. Ragu-ragu ia membuka pintu mobil. Ia tidak tahu akan melakukan apa di sini tapi setidaknya ia bisa menyendiri di dalam ruangannya. Memikirkan solusi selain mencari Pak Indrawan menggunakan orang-orang yang sudah ia kerahkan.


Gina berjalan memasuki lobi R-Company yang sepi. Hampir semua pegawai sudah pulang. Yang tersisa hanya para security yang berjaga di beberapa bagian gedung. Tapi Gina merasa dirinya mungkin sedang berhalusinasi sekarang. Seseorang yang sangat ia kenal keluar dari dalam lift dan berjalan ke arahnya.


"Surya..." Gumam Gina dengan perasaan yang tidak bisa membedakan apakah ini nyata atau hanya imajinasinya saja.


"Apa kabar, Nona?" Gina baru yakin bahwa itu benar-benar adalah Surya saat pria itu tersenyum kepadanya dengan sudut bibir khas miliknya.


Entah apa yang Gina rasakan saat ini tapi hanya dengan bertemu Surya ia merasa ada sebuah kelegaan yang membuat dadanya tidak sesesak sebelumnya. Ada perasaan yang sudah lama tidak Gina rasakan tapi seperti akrab sekali dibenaknya.


Hanna sedang menenteng tas miliknya dan Marco mendorong troli berisi kopor milik mereka. Beberapa kali Marco melihat wajah istrinya yang tampak tegang sejak tadi. Ada rasa khawatir yang tergambar jelas diwajahnya. Ia tahu, Hanna pasti sangat mengkhawatirkan atasannya yang masih sangat baru menjabat sebagai presdir itu.


"Iya Feby..." Hanna menjawab telepon dari sekretaris Gina.


"Apa? Penggelapan? Bagaimana dengan Nona Gina? Baiklah aku akan segera pulang." Marco yang sedang menikmati sarapannya tertegun memandang Hanna yang menerima telepon dengan raut muka panik seperti itu.


"Ada apa?"


"R-Company sedang dalam bahaya."


"Bahaya apa?" Marco meletakkan sendok di tangannya.


"Divisi keuangan melaporkan sebuah data asli dan ditemukan adanya penggelapan uang perusahaan."


"Oh ya?"


"Kita harus segera berkemas dan pulang."


"Tapi kita baru beberapa hari di sini. Biarkan yang disana menyelesaikannya."


"Baiklah, kau tetap saja di sini. Aku akan pulang sendiri." Jawab Hanna sambil beranjak dari duduknya di sebuah restoran di tepi jalan itu.


"Tapi, nasib pegawai outsourcing yang ada di R-Company juga sedang dalam bahaya."


"Apa? Pegawaiku?" Hanna mengangguk.


"Kalau begitu ayo kita pergi dari sini segera." Marco segera berdiri dan berjalan meninggalkan meja yang Hanna masih ada di sana memandangnya dengan menahan tawa. Hanna merasa suaminya sangat konyol, yang semula tidak peduli kepada R-Company, hanya dengan sedikit ancaman yang bahkan tidak ia sadari, lalu berubah sangat bersemangat seperti itu.


"Hei, ayo. Tunggu apa lagi?" Marco berbalik karena merasa Hanna belum mengikutinya.


Hanna lalu berjalan dengan cepat menyusul Marco yang menunggunya. Ia kemudian menggandeng lengan Marco dan berjalan di sebelahnya meninggalkan restoran.

__ADS_1


__ADS_2