Tahta Surya

Tahta Surya
Jangan Gelap-Gelapan


__ADS_3

"Ingat, jangan berani macam-macam terhadapku."


"Iya Nona."


Gina tetap menegaskan hal itu berulang-ulang meskipun ia sendiri sebenarnya tahu Surya tidak akan berani macam-macam kepadanya. Orang seperti Surya yang pendiam dan tidak banyak tingkah tidak akan kurang ajar padanya. Apalagi Gina mengusai ilmu bela diri dan Surya tahu itu. Surya pasti harus berfikir ribuan kali dan harus memiliki nyawa berlapis kalau ingin melewati batasan yang Gina tentukan.


Surya meletakkan bantal yang disodorkan oleh Gina di atas sofa kamar Gina. Kemudian ia berjalan menuju kamar mandi. Gina naik ke atas tempat tidur dan bersiap tidur. Ia meletakkan kepala di atas bantalnya yang nyaman. Badannya benar-benar lelah. Seharian ia tidak bisa bersantai. Atau jangan-jangan kelelahannya sebagian besar disebabkan karena otaknya yang tidak rela hari ini ia menikah dengan orang yang sama sekali diluar 'hitungannya'. Atau mungkin juga karena perasaannya yang gusar apakah ia bisa bertahan sampai akhir untuk R-Company? Melihat sikap Papanya barusan membuatnya seperti telah dikerjai olehnya. Seenaknya saja Papanya menentukan aturan permainan.


"Harusnya aku percaya pada firasatku kalau Papa akan berbuat curang." Pandangan Gina masih lurus ke atas langit-langit kamarnya.


"Baiklah, mari kita buat permainan ini jadi lebih menarik. Kecurangan harus diimbangi dengan kecurangan. Lihat saja, Tuan Ranggahadi." Gina tersenyum sinis memikirkan tantangan yang ia hadapi dengan rencana pembalasan kepada Papanya.


Gina menarik selimut hingga keatas dada saat Surya keluar dari kamar mandi. Aroma harum dari sabun mandi tercium semerbak saat Surya melewati tempat tidur Gina untuk menuju sofa di sudut kamar. Sabun mahal yang Gina beli memang seharum itu. Sabun yang hanya bisa didapatkan di rumah kecantikan biasa ia melakukan perawatan tubuh dengan wangi honey milk yang lembut tapi menyegarkan.


"Surya... kau benar-benar tidak menyesali ini?" Tanya Gina penasaran dan bangun dari berbaringnya. Surya yang sedang menggosok rambutnya yang basah dengan handuk lalu berbalik memandang Gina. Sejenak Surya memandang Gina yang menunggu jawabannya.


"Saya baru memulainya. Saya belum memiliki alasan untuk menyesal." Jawabnya dan membuat Gina memanyunkan bibirnya.


"Jawaban apa itu." Gerutu Gina sambil kembali membaringkan tubuhnya.


"Awas kalau kau macam-macam." Ulang Gina lagi. Tapi Surya tidak menjawabnya. Ia sedang serius menatap layar ponsel.


"Suryaaaaaa... kau tidak mendengarku?" Gina setengah berteriak.


"Ahh, iya Nona. Saya tidak akan mendekati Anda."


"Bagus." Lalu Gina memejamkan matanya dan tertidur karena lelah. Tapi rasanya baru sebentar memejamkan mata, Gina terbangun karena merasa ada yang aneh. Ia membuka matanya tapi yang terlihat adalah kegelapan. Ia mengusap-usap matannya tapi tetap tidak bisa melihat apa-apa.


"Lampu... kenapa lampunya mati? Kenapa gelap? Mbak Yuyun... mbak Yuyun..." Gina histeris dari atas tempat tidurnya dan mulai menangis. Tapi kemudian sebuah tangan meraih bahunya.


"Nona, aku disini. Aku di sini." Surya berusaha menenangkan Gina. Mendengar suara Surya, Gina lalu melompat ke arahnya. Surya hampir jatuh dari tempat tidur saat Gina tiba-tiba memeluknya karena takut.


"Surya, kenapa lampunya mati?" Tanya Gina masih membenamkan wajahnya.


"Saya mematikannya, Nona."


"Apa?" Gina melepas pelukannya dan mendorong tubuh Surya.


"Kau sengaja melakukannya? Cepat nyalakan lagi." Perintah Gina.


"Baik Nona." Surya beranjak dari tempat tidur Gina dan berjalan mendekati saklar lampu di dekat pintu. Setelah memencet tombolnya, lampu kembali menyala.


"Kau ingin mencari kesempatan dalam kesempitan? Kau sengaja mematikan lampu agar aku ketakutan?" Omel Gina.

__ADS_1


"Atau kau mematikan lampu agar kau bisa berbuat macam-macam kepadaku setelah aku benar-benar tertidur?" Tuduh Gina.


"Jangan harap kau bisa menyentuhku atau aku akan membunuhmu."


"Tidak Nona, Saya tidak bermaksud begitu."


"Lalu apa? Kau pasti memiliki pikiran-pikiran kotor saat bersamaku. Aku bisa membaca itu. Orang sepertimu memang terlihat diam tapi pasti memiliki pikiran-pikiran yang sangat diluar dugaan. Kau tidak tahu kalau aku tidak suka gelap?"


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu kalau Anda takut kegelapan."


"Oh ya? Kau tidak tahu? Kenapa kau tidak tahu? Bukankah kau sudah cukup lama menjadi pesuruh Papa. Kenapa kau tidak tahu kalau aku tidak suka tidur di tempat gelap?"


"Karena baru kali ini saya tidur sekamar dengan Anda." Jawab Surya.


"Jadi menurutmu aku harus tidur sekamar dulu denganmu agar kau tahu kebiasaanku?" Ucapan Gina semakin memojokkan Surya tapi sangat tidak berdasar. Surya menarik nafas menghadapi omelan Gina yang semakin tidak masuk akal.


"Baiklah, Saya tidak akan mematikan lampu lagi saat Anda tidur, Nona."


"Iya, jangan sekali-sekali melakukan apapun di kamarku tanpa seizinku apalagi bergelap-gelapan seperti itu."


"Baik Nona." Surya masih tetap sopan seperti biasanya.


"Kau benar-benar mengganggu tidurku saja." Gina kembali berbaring dan mulai memejamkan mata. Tapi baru beberapa detik ia membuka mata lagi untuk memastikan bahwa lampu tidak padam. Lalu ia memejamkan mata lagi dan tidur.


Bukannya marah, Surya malah tersenyum melihat tingkah Gina seperti itu. Ia tahu Gina selalu marah kepadanya karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia sadar pasti tidak mudah menjadi Gina yang tiba-tiba harus menikah dengannya, orang yang sama sekali tidak ia cintai. Seandainya pernikahan mereka bukan karena adalah syarat, Gina pasti tidak akan sudi menikah dengannya.


🌸🌸🌸


"Indah sekali setiap pagi bisa melihatmu seperti ini."


"Benarkah?" Wajah istrinya tersipu.


"Mari kita nikmati hari-hari kita seperti ini." Pak Rangga memandang wajah istrinya yang duduk disampingnya setelah selesai menyiapkan sarapan untuknya.


"Kau yakin akan selalu seperti ini? Apa si gila kerja ini benar-benar akan pensiun?"


"Tentu saja. Aku punya pengganti yang profesional di perusahaan jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun."


"Maksudmu Surya?" Bu Marina mengerutkan kening.


"Tentu saja. Apa mungkin Gina bisa diharapkan? Gadis seperti dia hanya bisa bermain-main saja."


"Tapi akhir-akhir ini ia sangat berambisi untuk menempati posisi presdir R-Company."

__ADS_1


"Itu karena ia tidak mau kehilangan yang dianggap miliknya dan jatuh kepada orang lain." Jawab Pak Rangga sambil mengunyah makanannya.


"Andai saja R-Company ku limpahkan kepadamu pasti dia tidak sepanik ini karena itu tidak akan membuatnya merasa takut kehilangan. Tapi jika R-Company ku alihkan kepada Surya maka dia akan takut mungkin saja Surya menguasainya dengan tamak dan tidak memberinya apapun." Bu Marina diam dan berfikir. Pak Rangga masih santai menikmati sepiring nasi goreng di depannya.


Semetara itu sinar matahari pagi mulai menerpa wajah Gina dalam lelapnya. Ia memicingkan mata dan merasa terusik.


"Siapa yang berani membuka gorden kamarku." Keluhnya sambil membalik badannya menjadi tengkurap menghindari sinar matahari lurus ke matanya.


"Matahari pagi baik untuk kesehatan, Nona." Sebuah suara membuat Gina terjingkat dan segera bangun dari posisi sebelumnya.


"Ahh iya, kau..." Gina akhirnya ingat bahwa sekarang dia berbagi kamar dengan Surya.


"Kenapa kau ahli sekali dalam hal menyengsarakan hidupku." Ujar Gina masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya.


"Ini sudah siang, Nona. Matahari sudah mulai tinggi. Tidak baik hanya menghabiskan waktu di tempat tidur saja."


"Jangan sok tahu apa yang baik dan tidak baik untukku. Aku sangat lelah jadi aku ingin tidur sepanjang hari ini." Gina meletakkan bantal di atas wajahnya untuk menghalangi sinar matahari. Surya tersenyum melihatnya.


Sampai di lantai bawah Surya bertemu dengan kedua mertuanya di meja makan.


"Surya, kemarilah dan sarapan bersama kami." Ajak Pak Rangga saat melihat Surya usai menuruni tangga. Bu Marina mengalihkan pandangan ke arah dimana Surya berada. Surya mengangguk hormat dan mendekati meja makan.


"Bagaimana tidurmu semalam? Apa nyenyak?" Tanya Pak Rangga setelah Surya duduk di salah satu kursi yang berseberangan dengan Bu Marina.


"Iya Pak." Jawab Surya singkat lalu menyendokkan nasi goreng ke atas piringnya.


"Sudah ku katakan aku bukan lagi bosmu. Aku sekarang adalah ayah mertuamu. Jadi berhentilah memanggilku Pak."


"Jangan terlalu memaksanya, Pa. Mana bisa dia terbiasa dengan cepat setelah selama bertahun-tahun menjadi asistenmu." Timpal Bu Marina sambil beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan.


"Bagaimanapun juga kau harus segera membiasakannya. Kita sudah menjadi keluarga jadi ubahlah tingkah lakumu selayaknya keluarga juga."


"Baik Pa." Jawab Surya patuh.


"Apa Gina bertingkah lagi semalam?"


"Tidak, Pa."


"Bagus. Aku harap kau tidak mudah menyerah dalam menghadapinya." Pak Rangga mengusap bibirnya dengan tisu.


"Dan untuk rencana yang yang ku katakan padamu, bagaimana?"


"Saya kurang yakin akan berjalan dengan baik."

__ADS_1


"Pikirkan cara agar Gina mau tapi jangan sampai membuatnya curiga."


"Untuk apa?" Suara Gina tiba-tiba dari arah tangga. Surya dan Pak Rangga seketika menoleh pada sumber suara dengan wajah pasi karena obrolan mereka tertangkap oleh Gina.


__ADS_2