Tahta Surya

Tahta Surya
Hujan


__ADS_3

Gina merasakan tangan Surya ada di pipinya. Mendadak air mata yang mengalir menjadi berhenti. Ia tidak percaya apa yang dilakukan oleh Surya membuatnya merasa tenang. Tapi kemudian Gina berdiri untuk menghindari tatapan mata Surya. Mata kecoklatan yang sangat ia sukai membuatnya terpesona bila berada sedekat ini.


"Ehhmm.... Jangan salah faham. Sebenarnya aku tidak sedang menangis." Gina mensedakapkan kedua tangannya.


"Ini... ini karena mataku sensitif. Iya mataku menjadi sensitif karena mengiris bawang tadi. Sehingga mataku jadi mudah berair." Ujar Gina beralasan.


"Mari kita ke dokter, Nona." Surya panik dan mendekati Gina.


"Anda harus segera mendapat mengobatan. Jangan abaikan hal ini."


"Tidak, aku tidak apa-apa. Ini pasti akan berhenti. Aku memang tidak pernah mengiris bawang sebelumnya jadi wajar saja aku mengalami hal ini." Gina lalu mengusap sisa air mata yang menggenang.


"Tapi Nona, kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Sudah ku katakan ini tidak apa-apa. Kenapa kau bersikeras memaksa."


"Saya khawatir Anda kenapa-kenapa, Nona."


"Kau ini cerewet sekali. Sudah ku katakan aku baik-baik saja."


"Tapi saya khawatir, Nona."


"Kau mulai lagi. Kenapa semua hal yang aku alami selalu membuatmu khawatir. Kau ini pandai sekali mengkhawatirkan orang lain."


"Saya tidak sedang mengkhawatirkan orang lain. Saya mengkhawatirkan istri saya, Nona." Surya meninggikan suaranya. Gina membelalakkan matanya memandang Surya. Surya seperti menyadari sesuatu dan menjadi salah tingkah setelahnya.


"Apa?" Tanya Gina meyakinkan pendengarannya. Akhir-akhir ini Surya sering sekali memakai alasan itu.


"Maksud saya, masih tentang rahasia hubungan yang kita jalani, Nona." Surya mengecilkan volume suaranya.


"Saya harus terlihat memiliki rasa khawatir pada Anda karena itulah yang dilakukan oleh hampir semua suami di bumi ini, Nona. Saya harap Anda memahami itu dan tidak menjadi salah faham." Jelas Surya. Dan anehnya, mendengar semua itu membuat Gina merasa sedikit kecewa. Bahwa perhatian Surya masih dalam konteks sandiwara yang mereka lakukan.


"Oh, baiklah. Aku mengerti." Jawab Gina dingin karena ia merasa kecewa.


"Awww... awww... sakit, Bu." Gina dan Surya secara bersamaan memalingkan pandangan ke arah suara. Terlihat Ayu yang berjalan disamping ibunya dengan telinga yang dijewer.


"Kenapa dia?" Tanya Gina. Surya tersenyum menanggapi Gina.


"Dasar anak itu!" Komentar Surya. Gina tidak tahu apa yang sedang terjadi sehingga ia menjadi penasaran.


Sebuah telepon masuk ke ponsel Gina. Ia melihat nama Hanna di layarnya.


"Ya Hanna." Gina menjawab telepon.


"Nona, saya memerlukan persetujuan Anda untuk berkas pembelian bahan baku."


"Tapi aku masih belum bisa kembali. Bagaimana kalau aku memberimu kuasa untuk melakukannya. Aku akan mengirimkan file-nya ke email-mu."


"Ahh, baiklah kalau begitu." Jawab Hanna kemudian.


"Bagaimana keadaan Ayah Pak Surya, Nona?"


"Sudah lebih baik."


"Syukurlah."


"Tapi kami belum bisa kembali karena harus memastikan Bapak benar-benar sembuh."


"Iya, baik Nona."


"Jadi, apapun yang terjadi, tetap selalu hubungi aku."


"Baik Nona."


"Terima kasih, Hanna."


"Untuk apa, Nona?" Hanna heran.


"Karena kau sudah menggantikanku di sana." Jawab Gina.


"Ahh, tidak apa-apa, Nona. Ini sudah menjadi tugas saya."


"Tapi kau jangan terlalu keras dalam bekerja. Pulanglah tepat waktu. Makan sianglah bersama pacarmu selagi aku tidak ada. Pergilah bersama pacarmu setelah pulang bekerja."


"Ahh, Nona..." Suara Hanna malu-malu. Mendengar nada itu Gina tersenyum lebar. Ia bisa membayangkan bagaimana raut wajah asisten pribadinya itu jika sedang tersipu.


"Ada lagi yang mau kau bicarakan?"


"Tidak Nona, sementara itu saja."


"Baiklah, setelah kembali dari sini aku akan membawakanmu banyak sekali oleh-oleh. Aku juga akan mentraktirmu ke spa karena kau pasti sangat lelah telah menggantikanku."


"Ahh, tidak perlu repot, Nona. Saya tidak apa-apa dan senang melakukan itu."

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih, Hanna. Aku merindukanmu." Lalu Gina menutup telepon tanpa sempat Hanna membalas ucapannya.


Hanna tersenyum melihat ponselnya. Atasannya itu sangat lucu. Ia sangat supel dan tidak ragu untuk mengungkapkan apa yang ada dalam kepalanya.


"Jadi, Hanna memiliki pacar?" Tanya Surya.


"Ya, ku rasa begitu." Gina memasukkan ponsel ke dalam saku celana denimnya.


"Dia mengatakannya kepada Anda?"


"Awalnya dia tidak ingin bercerita tapi lalu aku berhasil membuatnya mengaku." Gina tertawa setelah kalimat itu.


"Kau tahu, pacar Hanna adalah pegawai R-Company juga."


"Benarkah?"


"Ya. Pria itu tampan."


"Anda pernah bertemu dengannya?"


"Tentu saja."


"Benarkah? Siapa dia?"


"Bayu. Dia pegawai dari divisi marketing."


"Bayu?" Mengulang dari apa yang Gina ucapkan.


"Hanna tidak pernah benar-benar mengatakan Bayu adalah pacarnya. Tapi cara mereka berbicara dan berpandangan aku tahu mereka punya hubungan yang spesial."


"Oh ya? Anda menyimpulkan dari itu?"


"Tentu saja. Aku bisa melihat saat mereka berbicara Bayu tidak pernah melepaskan pandangannya dari Hanna. Senyumnya tulus dan matanya menatap lurus ke arah mata Hanna seperti tidak ingin melewatkan apapun darinya."


"Anda mengamati mereka?"


"Hmm..."


Surya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lucu mendengar Gina melakukan itu. Dari mana dia mendapatkan keahlian itu sehingga bisa menganalisa dan membaca raut wajah lalu membuat kesimpulan juga dengan itu.


🌸🌸🌸


Gina merasakan angin yang masuk dari cendela kamar Surya menjadi sangat dingin. Ia membuka mata dan melihat mendung menggantung dan sangat gelap. Ia melihat pepohonan di samping rumah Surya bahkan seperti terhuyun mendapat terpaan angin itu. Gina memutuskan untuk keluar dari rumah. Ia berdiri di teras rumah dan melihat ke samping. Ibu Surya sedang mengangkat jemuran dengan buru-buru sebelum hujan benar-benar datang. Gina yang melihat itu lalu menghampiri untuk membantu.


"Kemana dia, Bu?"


"Katanya tadi ke sawah mau melihat tanggul yang jebol."


Mendengar itu tanpa berkata apa-apa, Gina meletakkan jemuran di keranjang yang dibawa ibu mertuanya.


"Aku pergi dulu, Bu."


"Kemana, Nduk?"


"Ke sawah."


"Mau hujan ini."


"Tidak apa-apa, Bu." Gina menyahut payung digantungan ruang tengah dan kunci motor lalu meluncur menuju sawah yang pernah Ayu tunjukan saat perjalanannya ke pasar waktu itu.


Angin berhembus sangat kencang. Mendung juga semakin pekat. Gina kesal kepada Surya yang tidak juga kelihatan batang hidungnya dijalan itu. Ia berharap akan bertemu Surya di perjalanan tapi hingga ia sampai di jajaran sawah yang ditunjukkan oleh Ayu, Gina tidak menemui Surya. Gina lalu memarkir motornya di pinggir jalan dan ia berjalan di pematang sawah mencari letak persis sawah Surya berada.


"Kau tau Mbak, sawah-sawah itu adalah sebagian besar milik mas Surya." Ujar Ayu menuju ke pasar.


"Yang mana?" Tanya Gina sambil memelankan laju motornya.


"Yang itu, itu, itu, dan aku rasa yang itu. Di sebelah sana juga ada. Lalu tadi kita juga sudah melewatinya disana. Banyak, Mbak." Tunjuk Ayu. Tapi karena Gina fokus pada pandangan didepannya, ia tidak menyimak dengan baik dimana persisnya sawah Surya.


"Mas Surya itu sudah seperti tuan tanah di sini, mbak."


"Tuan tanah." Ulang Gina sambil tersenyum geli. Sebutan itu memang tidak asing baginya. Ia pernah mendengarnya pada dialog film-film lama.


Sebelumnya Gina merasa abai pada apa yang dimiliki Surya seperti kata Ayu tapi kemudian ia merasa menjadi masuk akal Surya memiliki sawah sebanyak itu pasti karena Papanya yang memberikan gaji besar seperti yang Surya katakan waktu itu.


Tapi sekarang yang paling penting bagi Gina bukanlah menghitung seberapa banyak sawah yang Surya punya. Nyatanya banyak sawah membuatnya sulit untuk menemukan Surya. Cuaca semakin terasa buruk dan Gina berjalan semakin jauh tapi ia tidak juga menemukan Surya.


"Kenapa orang ini tidak takut akan hujan. Kenapa dia tidak juga pulang." Gina sangat khawatir.


"Atau dia sedang tidak ada di sawah sebelah sini?" Gina lalu merogoh sakunya mencari ponsel. Dan sempurna, ia lupa membawa ponselnya. Tapi sebelum berbalik, ia melihat seseorang bangun dari duduknya. Gina melihat Surya mengangkat cangkul di tangannya.


"Suryaaaaa..." Panggil Gina dari kejauhan. Surya mendongak pada sumber suara. Gina berjalan tergesa mendekati Surya yang sekarang menaiki pematang sawah.


"Kenapa Nona ke sini?"

__ADS_1


"Kenapa ke sini? Lihatlah mendung itu. Kau ini memang workaholic yang sejati. Tidak di R-Company saja, bahkan di sawah pun kau tidak peduli panas dan hujan.


"Saya belum kehujanan, Nona."


"Jangan membalas ucapanku. Kau benar-benar tidak memgerti aku mengkhawatirkanmu? Ayo cepat pulang, sebentar lagi hujan." Omel Gina. Surya mengerutkan kening melihat pertama kali Gina mencerewetinya dengan khawatir seperti itu.


"Baik Nona." Hanya itu yang Surya katakan. Gina berjalan cepat di depannya.


"Hati-hati, Nona."


"Aku tahu. Cepatlah. Atau kita bisa kehujanan."


"Kalau hujan, kita bisa memakai payung, Nona."


"Kau pikir payung ini untukmu? Aku membawanya untuk diriku sendiri." Omel Gina. Surya menahan tawa melihat Gina bertingkah aneh seperti itu.


Baru selesai bicara, hujan pun turun. Gina lalu membuka payungnya. Lalu ia berhenti dan menoleh ke belakang.


"Ya Tuhan, apa kau ini siput? Kenapa jalanmu pelan sekali." Gina menghampiri Surya lagi untuk akhirnya membuat mereka berada dalam satu payung.


"Kenapa dirumahmu hanya ada satu payung? Kau ini tuan tanah di sini tapi payung saja hanya memiliki satu buah. Dasar pelit." Gina berjalan didepan sedangkan Surya berjalan dibelakangnya sambil memegang payung karena pematang sawah itu hanya cukup untuk berjalan satu orang. Surya tersenyum lucu mendengar Gina menyebut dirinya 'tuan tanah'.


"Iya Nona, besok saya akan beli lagi."


"Kalau sudah begini kau baru akan beli. Lihatlah, aku tetap saja basah walaupun memakai payung."


"Iya, maafkan saya, Nona."


Angin bertiup sangat kencang sampai Surya kesulitan memegang payung. Akhirnya payung yang diterpa angin itu pun tertarik ke atas.


"Ya Tuhan, Surya. Apa ini?" Omel Gina. Surya tampak sangat sibuk mempertahankan payungnya agar kembali ke bentuk semula. Tapi usaha Surya sia-sia karena payung itu telah rusak. Surya menarik Gina untuk berjalan ke pematang yang menuju ke arah lain.


"Kita mau ke mana?" Surya tidak menjawab dan hanya lebih cepat menarik tangan Gina agar mengikuti langkahnya berjalan lebih cepat.


Kemudian Gina tahu maksud Surya saat ia melihat sebuah gubuk di depannya. Surya mengajaknya berteduh disana.


"Sementara kita berteduh di sini saja dulu, Nona. Kalau kita pulang sekarang pasti akan lebih basah kuyup." Ujar Surya sambil membuka pintu gubuk.


"Ini semua salahmu. Kenapa kau tidak juga pulang padahal hujan akan segera turun." Omel Gina untuk kesekian kalinya sambil mengibaskan bajunya yang sedikit basah.


"Maafkan saya sudah membuat Anda khawatir."


"Siapa yang khawatir padamu. Aku hanya... hanya... aku hanya kasihan padamu kalau kau kehujanan. Kau bisa flu." Ujar Gina yang jika diartikan memiliki makna yang sama, khawatir. Surya hanya tersenyum saja menanggapi Gina yang lupa bahwa tadi dia sudah sempat mengatakan bahwa telah mengkhawatirkannya.


"Ngomong-ngomong, tempat apa ini? Kenapa kau punya kuncinya?" Gina melihat sekeliling gubuk yang berisi tumpukan karung-karung.


"Ini adalah gudang pupuk, Nona."


"Milikmu?"


"Iya Nona."


"Wah, dilihat dari banyaknya stok pupuk yang kau punya, aku jadi semakin yakin apa yang dikatakan Ayu benar bahwa kau memang memiliki banyak sawah." Surya tidak menjawab tapi hanya tersenyum sambil melebarkan sebuah karung untuk ia duduk dan Gina.


"Kita duduk di sini, Nona." Ajak Surya. Gina melihat karung itu sebentar lalu dengan terpaksa mendekati Surya untuk ikut duduk juga.


"Ini benar-benar menyebalkan, kau tahu." Gumam Gina.


"Maafkan saya, Nona."


"Berhentilah selalu meminta maaf. Itu tidak akan membuat hujannya menjadi reda."


"Iya Nona." Jawab Surya masih dengan santai walau mendapat omelan Gina sejak tadi.


Hujan diluar terasa semakin deras. Atap gubuk pupuk itu menjadi sangat berisik karena hujan yang jatuh diatasnya. Angin juga bertiup dengan sangat kencang. Itu bisa dirasakan dari celah-celah papan sebagai dinding gubuk. Gina memeluk lutut untuk menghindari udara dingin. Bajunya yang basah membuat ia merasa kedinginan. Bibirnya hingga membiru dan sesekali terdengar suara gemerutuk dari giginya yang berusaha ia tahan agar Surya tidak tahu. Tapi nyatanya Surya melihat itu sejak tadi dan mulai tidak tahan. Ia meraih tangan Gina.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Gina berusaha menarik kembali tangannya.


"Biarkan saya membuat Anda lebih hangat."


"Tidak, terima kasih."


"Anda bisa membeku kalau saya tidak melakukannya."


"Lakukan apa? Kau mau melakukan apa?" Gina memelototi Surya. Tapi tenaga Gina pastilah kalah jauh dari Surya. Dan hanya dengan sekali tarikan, akhirnya tangan Gina sudah ada dalam genggaman tangan Surya yang hangat.


"Biarkan seperti ini, Nona. Tangan Anda sangat dingin." Surya menggenggam tangan Gina dengan meniup-niupnya. Hawa hangat menghinggapi tangan Gina. Anehnya itu bisa benar-benar mengurangi rasa dingin di tubuhnya.


Gina memandang Surya dalam. Menelusuri rambutnya yang berkilau terkena pantulan lampu remang-remang lalu pada matanya yang kecoklatan, pada hidungnya yang mancung dan kemudian pada bibirnya. Bibir yang belum pernah ia tahu menghisap rokok itu saat meniup membentuk sebuah huruf O. Gina merasa tiba-tiba sesak nafas diperlakukan seperti itu dan berharap Surya bisa memberinya nafas buatan.


Apa ini rasanya? Benarkah ini rasanya? Kenapa begini rasanya? Gina lalu menggeser tubuhnya untuk menjadi lebih dekat kepada Surya. Melihat itu Surya menatap Gina tidak mengerti. Tapi Gina tidak peduli dan ia hanya semakin dekat dengan tubuh yang sudah melekat pada tubuh Surya. Kepalanya ia miringkan sehingga menyentuh bahu Surya.


"Aku lelah. Aku juga mengantuk. Aku akan begini sampai hujan reda." Gina semakin membuat dirinya nyaman bersandar pada Surya. Surya menjadi salah tingkah tidak tahu harus bagaimana. Tapi tak urung senyumnya mengembang juga mendapati perlakuan Gina padanya. Gina menggenggam tangan Surya erat seperti tidak pernah ingin melepaskannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2